
‘’ Biarin aja deh, daripada disini ganggu. Palingan lagi cari kembang desa disini hehe ’’ gerutunya
‘’eh, gue laper banget,Rat ‘’ lanjutnya sambil memegangi perutnya
‘’Sama. Coba cari warung di sekitar sini yuk, mungkin aja ada ‘’ ajaku pada Anggi
Aku pun bilang pada Roni dan Pak Surip untuk jalan-jalan sebentar. Pak Surip memperbolehkanya dan berpesan agar tidak terlalu lama dan segera pulang, karena hampir mau hujan.
Aku pun mengangguk. Kami segera berjalan untuk mencari warung. Sesekali kami tersenyum kearah warga, yang berpapasan dengan kami dan merekapun membalas tersenyum ke arah kami.
Namun ada pula bapak-bapak yang memandangi kami lekat-lekat. Kami mencoba menunduk dan tersenyum, namun bapak-bapak itu tetap tak membalas senyum kami.
Membuat kami mempercepat langkah. Tak lama setelah itu, mata kami tertuju pada warung dipinggir jalan yang terletak di sebelah kiri. Disampingnya berdiri rumah yang agak modern.
Dindingnya sudah bertembok, lantainya pun keramik dan atapnya sudah genteng. Sejauh ini, hanya rumah ini yang paling bagus, mungkin orang paling kaya didesa ini. Gumamku.
Kami langsung melihat lihat makanan yang ada dietalase, tak ada yang menggugah selera. Terpaksa kami memesan mie rebus untuk mengganjal perut. Ibu itu tersenyum mengembang lalu menyuruh kami untuk duduk dan menunggunya.
Aku dan Anggi telah duduk dibangku yang telah disediakan. Dari kejauhan tampak dua bapak-bapak berjalan setengah berlari masuk kedalam rumah tersebut. Aku memperhatikan kearah bapak- bapak itu sekilas. Lalu berbalik badan.
‘’ Nggi, Om Rio waktu itu bilang gimana? ‘’ aku bertanya
‘’ katanya sih, Om lo mau nyusul kesini, kalo kerjaanya uda beres. tapi sampai sekarang kok, belum sampai-sampai sih ‘’ Jawabnya sambil memainkan handphonenya
Kenapa Om Rio juga belum datang kesini, pikirku. Padahal Om Rio lah orang yang aku butuhkan saat ini. Aku malah kebingungan telah sampai didesa ini.
‘’ Sial! Masih nggak ada sinyal lagi ‘’ gerutu Anggi sambil mengangkat ngangkat handphonenya
‘’ Masih belum ada sinyal? Tanyaku.
Aku mengikuti Anggi mengecek handphone dan kudapati batraiku habis.
‘’ yahh... baterai gue abis. ‘’ ucapku kesal
__ADS_1
Aku tak mendapat petunjuk apapun. Dan harus menunggu besok, sampai Ronggeng datang dan sialnya disini tidak ada sinyal dan bateraiku pun habis. Kalau seperti ini, bagaimana aku caranya memberitahu Om Rio. Atau jangan-jangan Om Rio telah menelponku.
‘’Silahkan ndok, monggo’’ suara Ibu itu mengagetkan kami berdua
‘’ Oh iya bu, makasih. ‘’ jawabku
‘’ Mau kemana,mbk-mbknya ini?’’ tanya Ibu itu
‘’Kita memang sengaja kesini Bu, emmm Bu, apa didesa ini sudah ada internet? Tanyaku sembari menatap wajah Ibu itu.
‘’ Belum mbk, la wong sinyal aja masih susah mbk. ‘’
Duh.. kalau begini caranya, aku tidak bisa memberitahu Om ku, kataku dalam hati.
Ibu itu telah masuk kedalam lagi dan Kami langsung menyantap makanan yang ada didepan kami. Karena kami sangat lapar sekali.
Sambil makan, aku kembali mengamati dua bapak bapak tadi yang tengah keluar dari balik pintu, diikuti oleh Bapak yang masih terlihata muda, mungkin pemilik rumah tersebut.
Adi Kusuma? Aku langsung meneguk minuman disampingku. Lalu berhenti makan sejenak.
‘’ Pelan-pelan kenapa sih, mikirin Roni ya ? ‘’ ledek Anggi
Aku tak mengindakan ledekanya. Aku ingin memastikan bahwa Adi Kusuma yang dimaksud bapak itu adalah papaku atau bukan.
Semoga saja bukan papaku. Aku tidak terlalu paham pembicaraan mereka, karena mereka berbicara menggunakan bahasa Jawa.
***
Hujan mengguyur desa Silurah sore ini. hujan tak begitu deras, namun dalam sekejab telah membasahi apa yang dikenainya. Dibarengi dengan kabut putih, yang entah datang dari mana. yang mengingatkan kami pada kejadian ganjil didalam hutan.
Kata Pak Surip, kabut memang sering datang jika memasuki musim hujan. Membuat desa Silurah diselimuti oleh kabut hingga membuat pandangan menjadi kabur. Namun tak setebal saat kami tersesat dihutan.
Aku, Anggi dan Roni berdiri didepan rumah Pak Surip. Tangan kami mendekap kedinginan. Masing-masing dari kami memperlihatkan wajah yang begitu khawatir. Tak lain dan tak bukan karena menunggu Vito yang sedari tadi belum kelihatan batang hidunya.
__ADS_1
Ia pergi sejak sekitar jam 14.00 dan sekarang sudah pukul 15.30 dan dia belum pulang. Sesekali kami mengangkat kepala, jika tak ada tanda-tanda darinya muncul, maka kami akan tertunduk kembali.
Anggi yang sebelumnya tampak tak peduli dengan anak itu. kini berubah menjadi sangat khawatir. Walaupun sering membuatnya kesal, namun akan sangat khawatir jika terjadi apa-apa denganya. Akupun sama.
‘’ kemana sih, itu anak. Bikin khawatir aja ‘’ ucap Anggi
‘’ Kita coba tunggu sebentar, mungkin dia lagi berteduh gitu disuatu tempat, Nanti kalo hujanya udah reda,kita coba cari dia. ‘’ timpal Roni
Hujan semakin deras, Membuat kami semakin khawatir. Tiba-tiba mata kami dikejutkan dengan Vito yang sedang berjalan ditengah hujan deras.
Ia seperti tak peduli dengan hujan yang mengantam dirinya. Ia sangat pucat dan berjalan dengan tangan kosong. Bukanya berlari menerjang hujan, tapi ia malah berjalan pelan bahkan sangat pelan.
Anggi yang sedari tadi khawatir, kini berubah menjadi kesal.
‘’ Vit,lo dari mana aja sih. Kita semua itu khawatir sama lo tau nggak, lo kalo mau pergi bilang kek‘’ cerocos Anggi dengan nada kesal.
Namun Vito tak mengindakan omongan Anggi. Ia tak membuka mulut sama sekali. Ia hanya memandangi kami. Lalu nyelonong masuk kedalan rumah. Kami yang melihat Vito bertingkah aneh. Langsung berhambur masuk kedalam, untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.
‘’ Vit, lo...
Anggi tak melanjutkan kata-katanya dalam hatinya ia ingin menghardik sahabatnya itu, namun melihat sahabatnya menggigil. Ia mengurungkan niatnya.
Roni segera mencari handuk didalam tasnya. lalu mengeringkan wajahnya yang basah kuyub. diajaknya ke kamar untuk segera ganti baju.
Pak Surip langsung menanyakan apa yang terjadi dengan temanya itu. Aku menjelaskan kepada beliau, bahwa kamipun tidak tahu apa yang telah terjadi, pulang-pulang sudah dalam keadaan seperti itu.
Pak Surip lalu mengambil payung dan berlari dengan hujan yang masih mengguyur. Entah Pak Surip mau pergi kemana. Beliau tak bilang sebelumnya.
Selang beberapa saat, Pak Surip telah pulang dengan membawa bungkusan plastik. Lalu memanggil salah satu dari kami, untuk membantunya membuat minuman jahe dan teh. Akupun menyahut.
Aku mengikuti Pak Surip menuju ke dapur untuk membuat teh hangat dan minuman jahe untuk menghangatkan tubuh Vito yang menggigil.
Sementara itu Pak Supri mengecek Vito kedalam kamar. Aku bergegas menuju kamar, dengan membawa nampan berisi teh hangat dan minuman jahe. Namun langkahku tergesa-gesa hingga aku menyandung sesuatu.
__ADS_1