
Ibu itu berkata, menggunakan bahasa sehari hari desa Silurah ‘’ Pergilah kau orang kota, kau sudah menyakiti hati anak saya,kau telah membunuh Anak saya, anaku ... huhuhu anaku sudah mati. Hahaha ‘’ Ibu itu tiba- tiba tertawa sendiri
Ibu itu awalnya tidak suka akan kedatangan kami, menyuruh kami untuk pergi, lalu tiba-tiba meratapai nasib anaknya itu, sampai sampai menyumpah serpahi seseorang hingga kini Ibu itu tertawa lepas, memecah keheningan malam. Kami semua berpandangan satu sama lain. Aku mendekatinya sedikit, lalu bertanya kepadanya.
‘’ Apa anak Ibu bernama Sri Rahayu? Tanyaku sedikit takut
‘’ Berani beraninya kau sebut nama anaku hah.’’ Mengretak, lalu melanjutkan berbicara ‘’Oh Sri, kasian sekali nasibmu. banyak sekali pemuda yang mencintaimu, tapi kenapa kau pilih Adi. Adi telah membunuhmu huhu’’ kini pandanganya entah kemana,terus menangis meratapi nasib anaknya
Peluhnya berjatuhan, kedua tanganya memegangi pintu itu. Kepalanya mendongkak keatas, tidak tau apa yang sedang dilihatnya.
‘’Adi... Adi Siapa ya nek?’’ aku bertanya
Nenek itu memandangku lagi, Matanya tajam seperti mau menerkamku. Aku melihat sesuatu dibelakang ibunya Sri Rahayu, katup mataku tiba tiba naik ke atas, aku terbelalak melihat Ronggeng Sri Rahayu ada dibelakang Ibu nya.
Aku berbisik kearah Roni,dengan nada terbata bata ‘’ Ron... Sri... Raha...yu ‘’
Aku berhenti sejenak, kurasakan mengucapkan nama Ronggeng itu sangat susah sekali ‘’ ada dibelakang, Ronggeng itu ada dibelakang Ibunya, ada dirumah itu Ron ‘’
‘’ Mana Rat? Aku nggak lihat ‘’ sambil mencoba mencari sosok Sri Rahayu yang kumaksud
‘’ Kamu beneran nggak lihat ‘’ Aku bertanya sekali lagi
‘’ Nggak ada siapa- siapa Rat didalam ‘’
‘’ Itu, dibelakang Ibunya, didalam sana sedang berdiri Ron. ‘’ sambil menunjuk nunjuk kedalam,tenggorokanku terasa kering
‘’ Bu, Adi siapa ya kalau boleh tau?’’ Tanyaku pada Ibu itu, sambil melirik Ronggeng Sri Rahayu,yang masih berdiri dibelakang sambil memandangiku
‘’ Jangan kau ganggu, anak saya yang sudah tenang dialam sana.’’ gretaknya
Aku sungguh merasakan ketakutan luar biasa, Ronggeng itu terus menatapku tajam, tanpa berkedib. Aku pura pura tidak melihatnya, aku memalingkan muka, seharusnya Roni bisa melihatnya. Roni bisa melihat hantu, Tapi kenapa Roni tak bisa melihatnya. Aku menjadi gusar.
__ADS_1
Brakkk...
seketika itu pintu ditutup oleh Ibunya Sri Rahayu dengan keras.
Aku menghela napas.
Papa... tidak mungkin. Sungguh tidak mungkin, jika papa sampai membunuh wanita yang tak bersalah itu ratapku
‘’ Ayo Rat, Kita pulang. Kita coba kesini lagi besok ‘’ Ajak Roni
Aku mengikuti apa kata Roni. Kami ber tiga, akhirnya pergi meninggalkan rumah itu.
Namun aku sempat memandangi kearah jendela, Ronggeng Sri Rahayu masih menempel dijendela. Wajahnya cantik terus memandangiku. Seraya mengangguk pelan.
Apa maksud anggukanya? Apakah benar bahwa Papaku yang telah membunuh Sri Rahayu?
Batinku bergejolak. Dadaku terasa sangat sesak. Aku ingin cepat cepat pergi dari desa ini, aku ingin pagi segera tiba. Aku tidak kuat lagi, aku tidak akan sanggup jika mengetahui kalau Papaku lah yang membunuh Sri Rahayu. Tapi kenapa sampai-sampai Papa membunuh Sri Rahayu?
Amir pulang ke rumahnya, sebelum ia masuk ke dalam rumahnya ia berkata jika butuh bantuan, jangan sungkan sungkan datang kerumahnya. Dirinya siap membantu. Roni tampak berbincang sebentar, aku hanya tersenyum ke arahnya.
Aku menitikan air mata sesekali terisak disepanjang berjalan. Roni yang mengetahuiku melamun dan menangis, langsung bertanya.
‘’ Kamu kenapa Rat? Kok kamu nangis? ‘’
Ron... Lirihku
Entah apa yang membuatku langsung memeluknya. Nampaknya Roni pasrah, lalu ia membelai rambutku, ia biarkan lama aku memeluknya. Rasanya sedikit lebih tenang dipelukan Roni. Lalu kulepaskan, menyeka air mataku yang sedari tadi keluar.
‘’ Heii, kamu kenapa Rat? Ada apa sebenarnya? ‘’ menatapku
‘’ Ron... Kayaknya Papaku yang membunuh Ronggeng Sri Rahayu, Papaku, laki laki yang dimaksud orang-orang, Pak Darmo,Ibu nya Sri. Makanya aku diteror oleh Ronggeng itu, aku dihantui sama Ronggeng itu terus. Aku rasa, Adi Kusuma yang dimaksud adalah Papaku. ‘’dadaku kembali sesak
__ADS_1
Lalu aku melanjutkan ‘’ Ron... aku ingin cepat-cepat keluar dari sini. Aku takut banget, aku nggak kuat menghadapi ini semua, Cuma aku yang bisa melihat Ronggeng itu. Cuma aku, kenapa Cuma aku, kamu kenapa tidak bisa lihat dia? harusnya kamu bisa melihat Ron. ‘’ isaku
Roni terdiam cukup lama, Ia kehabisan kata kata. Ia tampak kebingungan.
**
Listrik didesa Silurah masih saja padam. Lampu sentir masih menempel didinding-didinding rumah warga. Lampu sentir ditempatkan diberbagai sudut, ada yang diruang tamu, Diruang tengah,kamar dan pawon(dapur).
Suasana tampak sunyi, jalanan sepi tak ada orang yang lewat satupun. Apalagi ketika listrik padam, membuat warga desa memilih dirumah dan tidur.
Cahaya kekuningan menerangi setiap ruangan. Lampu sentir dirumahnya Pak Surip tampak diterpa angin hingga hampir padam.
Angin malam berembus ke celah celah rumah Pak Surip, Lampu sentir diruang tamu, menjadi padam diterpa angin. Sehingga membuat ruangan tamu tampak gelap.
Sementara itu, Anggi dan Vito telah terlelap disebuah amben dikamar anaknya Pak Surip. Vito terbaring pucat diatas amben, sedangkan Anggi terlelap disampingnya. Nampaknya Anggi tertidur, pada saat menjaga Vito.
‘’ Nggi, Anggi… ‘’
Sepertinya Anggi mendengar suara yang memanggil dirinya. Matanya tampak tergerak gerak, namun belum sepenuhnya terbuka. Perlahan ia membuka mata. dan melihat sekeliling. Dan Vito masih saja memanggil namanya. ia melihat mulut Vito masih terbuka, memanggil dirinya. Anggi langsung beranjak, lalu mencoba berbicara denganya. Namun Vito telah menutup mulutnya kembali, tidak bersuara lagi.
Anggi memegangi kepalanya yang terasa pusing, rambutnya yang begitu berantakan tak ia pedulikan. Ia kembali memejamkan mata, memikirkan Vito yang keadaanya sekarat. Lalu membuka matanya kembali. dan memandangi wajah sahabatnya itu dengan penuh iba. Ia tak lepas memandangi wajah yang pucat pasi itu.
Lalu tiba tiba mata Vito terbuka, terbelalak. Dan menatap tajam ke arah Anggi
‘’Vit, lo udah sadar… ‘’ ucap Anggi dengan senang, matanya berkaca kaca
Sepertinya Vito tak mengenali sahabatnya yang kini duduk didepanya. Anggi masih dengan tatapan sedih dan berlinang air mata. Namun Vito malah menarik selimutnya, Ia berusaha menutupi wajahnya menggunakan selimut, matanya masih menatap tajam kearah Anggi. Lalu dengan cepat bangun dan menggeser tubuhnya ke pojok. Ia tutupi wajahnya menggunakan tanganya lagi.
Seraya berkata,seperti tadi sore ‘’ jangan ganggu saya, jangan ganggu saya. Maafkan saya maafkan saya. ‘’ dalam dekapanya.
Anggi yang melihat Vito seperti itu, sangat kaget, tidak percaya Vito bertingkah seperti itu, lalu mendekat kearahnya.
__ADS_1
‘’ Vit… ini gue, gue Anggi,sahabat lo ‘’ gertaknya Anggi,lalu matanya kembali berkaca kaca.
Namun Vito masih melakukan hal yang sama seperti tadi. Seperti tadi sore, memohon maaf entah kepada siapa.