RONGGENG

RONGGENG
Teror


__ADS_3

Roni mencari bayangan yang bergerak dengan cepat itu. mendapati belakang rumah Pak Surip yang sangat gelap. kakinya bergerak maju dibarengi tubuhnya.


Matanya mencoba menatap lurus dikeegelapan. Ia sudah tak bisa melihat apa- apa lagi. Semuanya gelap, Hingga telinganya mendengar seseorang memanggil manggil dirinya dari arah belakang. Ia langsung membalikan badan dan sosok seorang Bapak-Bapak berdiri ditengah jalan.


Ia mengurungkan niat untuk pergi kebelakang rumah, perlahan menghampiri sosok Bapak itu dengan tanpa ekspresi diwajahnya, bukan manusia yang berdiri ditengah jalan di tengah malam ini. namun roh manusia yang ingin menyampaikan pesan atau ingin meminta bantuan atau sekadar ingin berkenalan atau hanya ingin membuat bulu kuduk Roni meremang.


Roni yang biasa bertemu dengan mahluk-mahluk gaib, kali ini tubuhnya harus merasakan gemetaran yang tiada henti. Dengan nada yang terbata bata dan serak ia memulai berbicara pada sosok yang ada dihadapanya itu.


‘’ Apa ada yang bisa saya bantu? ‘’ tanya Roni pada sosok itu.


‘’ Saya adalah Bapaknya Sri Rahayu.’’ Jawab sosok itu


Roni tersentak kaget.


Bapak itu berkata ‘’ Sri Rahayu anak saya adalah gadis desa yang lugu, gadis desa yang mencintai seorang laki- laki yang salah. Hingga anaku belum merasakan cinta semasa hidupnya, ia harus mati atas nama cinta. Cinta yang menjadi kebencian, yang amat dalam, kebencian akan seseorang yang dicintainya. Namun cinta itu berubah menjadi cinta yang menyesatkan, cinta yang berubah menjadi kebencian, cinta yang berubah menjadi kemarahan dan akhirnya ingin balas dendam kepada laki- laki bernama Adi Kusuma yang membunuhnya itu, Sri ingin membuat keturunanya menderita. Hari ini adalah hari kematin anaku, Sri Rahayu.‘’ memandang wajah Roni lekat


‘’ Nak Roni, ngapain malam- malam begini keluar. Nak Roni sedang apa? Sahut Pak Surip dari teras


Roni tidak menjawab pertanyaan Pak Surip. namun sempat ia memandang ke arahnya, dan Ketika memutar kepala ingin memastikan sosok yang mengaku sebagai Bapaknya Sri Rahayu masih ada dihadapanya atau tidak.


Pak... Panggilnya


Namun Bapak nya Sri Rahayu telah menghilang, Padahal Roni ingin hendak bertanya.


Roni segera menghampiri Pak Surip yang sedang berdiri diambang pintu. Roni hanya tersenyum ke arah Pak Surip dan tampaknya Pak Suripun enggan menanyakan apa-apa lagi.


Tubuh Roni seperti remuk, Roni merebahkan tubuhnya kembali dikursi, melanjutkan tidur. kali ini ia langsung terlelap saat menyentuh kursi.


Pak Suripun sama, segera masuk ke kamarnya untuk tidur.


***


Anggi menyandarkan tubuh lelahnya dipagar rumah salah satu warga. Ia seperti melihat bayang-bayang semu, namun dirasa itu adalah nyata. Bapak-Bapak itu tengah mempermainkanya, tiba- tiba terlihat di ujung, lalu akan lenyap seketika.


Anggi sudah sangat jauh dari rumah Pak Surip, melewati jalan warga, berputar putar melewati rumah warga, berputar putar masuk ke dalam kebun. sesekali memberhentikan langkahnya, menghirup napas, tampak tergesa gesa. Napasnya tersenggal senggal.

__ADS_1


Tanganya memegangi dengkulnya, menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Ia tak peduli lagi dengan keadaan yang gelap gulita, ia tak mempedulikan waktu tengah malam itu. yang ada dipikiranya saat ini bukanlah rasa takut, namun rasa ingin menyelamatkan Vito.


‘’ Vito, belum mati. Vito belum mati. Hiks ... ‘’


Lailahailallah...Lailahailallah... Lailahailallah


terdengar bunyi khas ketika seseorang telah meninggal dibawa menggunakan keranda, dan akan akan dimakamkan. Anggi mendongak, mencari sumber suara.


'' Vito belum mati, Vito belum mati '' bicara sendiri


suara itu semakin keras, keras sekali sampai membentak ke telinga Anggi.


Membuatnya perlahan mundur, tubuhnya gemetaran tak terkendali. Matanya kemana mana, tangan seseorang seperti menepuk pundaknya, Anggi segera menoleh ke arah pundaknya, tak ada siapa siapa.


Dengan tubuh yang lelah, ia bangkit. Anggi segera menyiapkan seluruh tenaganya. Mencoba mengatur napas lalu berlari sekencang kencangnya, mengejar Bapak- Bapak itu.


Sampailah Anggi diarea pemakaman, beratus ratus,beribu ribu batu nisan seperti mengintainya. Tanganya mendekap, kakinya melangkah namun urung. memalingkan pandangan dari batu nisan tersebut.


Matanya terbelalak kaget, tanganya bergetar saat mengetahui keranda yang membawa Vito tergeletak di tengah-tengah pemakaman.


Berkali kali Anggi terjatuh menyandung batu nisan, ketika hendak menuju arah keranda. lalu membenarkan dengan tak berani membuka mata. Ia sangat ketakutan, tanganya pun gemetar saat memegangi batu nisan tersebut.


Dilepasnya kain hitam itu, Namun Vito sudah tidak ada didalam keranda.


Tubuhnya lemas seketika, pandanganya menjadi kabur, Anggi terhuyung huyung dan hampir jatuh. Akhirnya ia terjatuh diatas keranda, seorang diri dipemakaman.


***


Jam dinding yang terpapang diruang tamu, menunjukan pukul 02.10 dini hari. Suara jangkrik,burung,anjing menggonggong memecah keheningan.


Ratih tertidur pulas, sangat pulas. Ia sangat kelelahan menghadapi misteri yang membuatnya mau gila.


Ratih...


Ratih...

__ADS_1


Ratih...


‘’ Ini mama sayang, mama sangat khawatir dengan kamu. ‘’ suara itu memanggil manggil Ratih diatas langit langit rumah


Suara memanggil nama Ratih, suara yang menyebut mamanya. namun tidak menampakan diri. Suara itu datang dari langit- langit rumah Pak Surip.


Sesekali Ratih mengigau, matanya tetap terpejam.


‘’ Mama... mama dimana? ‘’ ucap Ratih dengan mata terpejam


ia segera bangkit dari ranjang, lalu berdiri keluar dari kamar.


Ia berjalan pelan, melewati ruang tamu disitu ada Roni yang mendengkur keras. Ia melewati Roni begitu saja, lalu memutar gagang pintu, ditariknya pintu depan. Ia melangkah lagi keluar rumah, masih dalam keadaan menutup mata.


‘’ Kesini Ratih, ikut mama. Mama akan tunjukan sesuatu. ‘’ ucap suara itu dari kegelapan


‘’ Mama,mama... ‘’ hanya itu yang keluar dari mulut Ratih


Ratih berjalan dengan mata terpejam. Ia tidak tersandung, tidak terjatuh seperti berjalan normal. Nampaknya ada sesuatu yang mengarahkanya.


Suara mamanya seperti menuntun Ratih mengajak ke suatu tempat, suara- suara mistis yang terdengar ditelinga Ratih yang tidak sadar. Ratih mengikuti suara mamanya yang terus mengajaknya bicara, padahal Ratih berjalan seorang diri.


Sangat tidak mungkin seorang manusia berjalan dengan mata tertutup, namun bisa berjalan tanpa menyandung apapun. Ia seperti dibawa oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Tiba tiba Ia telah berada di pemakaman desa Silurah. Ia masuk ke dalam pemakaman desa, ia berjalan diantara kuburan yang terbentang luas, batu nisa menyambut kedatangan Ratih.


Area pemakaman desa Silurah, didominasi oleh pohon bambu.


Tak.. tak... tak..


Ada sesuatu melempari pohon bambu itu menggunakan kerikil kecil, membuat Ratih menangkap suara itu, menoleh ke belakang, namun segera berbalik, karena suara mamanya terus memanggilnya.


Pohon – pohon besar, pohon pinus tumbuh diarea pemakaman menjadikan suasana mencengkam. Ratih telah keluar dari area pemakaman, Ia berjalan di hutan yang ditumbuhi pohon pinus dan pohon besar-besar.


Tiba- tiba ia sudah berada diatas gunung Raga kusuma. Disekelilingnya terdapat pohon-pohon bambu lagi. ia sudah berada diatas kawasan ngelarangan.

__ADS_1


Suara mamanya itu menyuruh tidur dipangkuanya, Ratih menurut. Namun Ratih tertidur diatas undukan tanah.


__ADS_2