RONGGENG

RONGGENG
Pindah Ke Rumah Vito


__ADS_3

Awalnya Bi Marni menolak,karena takut terjadi apa-apa dengan Bu Sara dan sebaiknya menunggu Bu Sara bangun.


Dengan terpaksa, Anggi menghubungi Om Rio kembali dan Bi Marni nampak mengangguk ngangguk mendengar penjelasan Om Rio dari sebrang sana.


Akhirnya Bi Marni hanya pasrah.


Vito bergegas pulang untuk mengambil mobil bersama Roni.


Sedangkan Anggi dan Bi Marni menyiapkan barang-barang Ratih yang sebelumnya sudah dipersiapkan Ratih jauh jauh hari.


****


Sementara itu, dirumah yang berbentuk seperti joglo tampak sunyi.


Kakek Jamal masih membaca buku ditemani oleh secangkir kopi. Sesekali menengok keluar,kalau-kalau Roni pulang.


Jika tidak ada tanda tanda dari cucunya itu muncul, beliau kembali fokus pada bukunya.


Dan tak lama kemudian, terdengar deru suara motor, semburat lampu motor menembus masuk kedalam rumah. Beliau bangkit dari tempat duduknya dan bergegas membuka pintu.


‘’Dari mana saja sih, Nang. ‘’


tanya Kakek Jamal pada Roni


‘’Dari rumahnya Ratih kek ‘’


Jawab Roni dengan nada datar


Kakek Jamal menghela napas panjang, Sepertinya beliau tak suka jika cucunya itu berurusan dengan masalahnya Ratih. Entah apa yang membuat beliau tidak bisa membantu Ratih.


‘’ kakek sudah mengingatkanmu Ron, untuk tidak mencamuri urusan mereka lagi.’’ Ucapnya, Kali ini dengan nada sedikit marah lalu duduk kembali dikursi


‘’ Kek,sebenarnya apa yang terjadi. Sampai-sampai kakek tidak bisa membantu Ratih. Kalau kakek tidak mau membantu Ratih, Biar aku yang membantunya.’’ Ujar Roni sambil ikut mengambrukan badanya dikursi


‘’ Sudah kakek peringatkan. kakek tak mau kehilanganmu Nang, kau mencampuri urusan yang berbahaya, itu taruhanya nyawa ‘’ Bentak kakek Jamal


‘’Bukanya kakek yang bilang,kalau kita harus membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan orang-orang seperti kita.’’


Kakek Jamal tampak diam membisu. beliau tertunduk.


‘’ Keadaanya Ratih tambah parah kek, dia sekarang pingsan dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Besok Roni dan teman-teman akan berangkat ke desa Silurah.’’ Ucap Roni dengan nada yang agak kesal


kakek Jamal mengangkat kepalanya, guratan kecemasan saat ini memenuhi wajahnya.

__ADS_1


‘’Jangan berangkat Ron, Itu terlalu berbahaya buat kamu. Kakek tidak mau kehilangan kamu.’’ Jawab Kakek Jamal


‘’ Kek, Roni janji. Roni akan kembali dengan selamat. Apa kakek tega membiarkan Ratih menanggung semua ini. Yang Ratih butuhkan saat ini, adalah orang-orang seperti kita.’’ Ucapnya lagi dengan meyakinkan kakeknya,berharap kakeknya dapat mengerti


Kakek Jamal sembab. Lalu beliau diam lagi. Beranjak dari kurisnya dan melangkah ke kamar.


Sebelum masuk kamar, Beliau memutar badan. Mengatakan kepada cucunya bahwa beliau mengijinkanya pergi, namun jika terjadi hal-hal yang membahayakan harus segera keluar dari desa itu.


Roni menghampiri kakeknya seraya memeluk untuk terakhir kalinya. Dan menyuruh kakeknya untuk tidak usah khawatir.


Sementara itu Roni tengah bersiap siap mengemasi barangnya dan pergi lagi menuju ke rumahnya Vito.


****


Roni dan Vito tampak tertidur pulas, tubuhnya tergeletak begitu saja diruang tengah.


Vito tidur sambil memeluk bantal gulingnya. Di sofa yang ada dirumahnya.


Nampaknya mereka sangat lelah, sedangkan Anggi dan Ratih tidur dikamar tamu.


Anggi yang masih takut dengan Ratih, memilih tidur dibawah. dengan menggelar tikar. Sementara Ratih, tergeletak dikasur belum sadarkan diri sejak siang tadi.


Anggi terbangun, ketika mendengar suara gemericik air. Ia tersadar dengan mata yang masih remang-remang.


Dasar cowokk lirihnya. Sambil mengucek ngucek matanya


Anggi menuju ke kamar mandi hendak mencuci mukanya. Setelah selesai, Anggi hendak ke kamar lagi.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara orang bernyanyi, suara itu berasal dari ruang belakang disamping kamar mandi.


Rasa penasaranya pun muncul begitu saja.


Sebuah ruangan yang sangat gelap. Ia mencoba mencari saklar yang menghubungkan lampu didalam ruangan itu dan saklar itu ditemukanya disamping kanan pintu.


Namun nampaknya saklar itu tidak befungsi, sudah ditekan berkali kali tapi tetap saja tidak menyala. ia mencoba mencari senter dan menemukanya.


Lalu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan senter digenggamanya. Didalam ruangan itu, tergantung batik-batik.


Orang tua Vito adalah pengusaha batik. Ia memang sering bermain kerumahnya. Namun belum pernah ia masuk ke ruangan ini, ia berjalan melewati batik- batik yang tergantung diatasnya.


Suara nyanyian itu semakin dekat hingga terdengar jelas olehnya.


Dari kejauhan, ia melihat Ratih terbaring disebuah tempat tidur namun terbuat dari kayu.

__ADS_1


Ia mendekati tubuh yang tergeletak itu yang diyakini sebagai sahabatnya, langkahnya semakin cepat, menuju ke arahnya.


Tapi langkahnya terhenti, ketika mata nya melihat Ratih sedang disirami dengan air bunga. Dan sosok yang menyiraminya itu adalah Ronggeng.


Sambil bernyanyi yang berhasil membuatnya tampak gemetaran.


Anggi berdiri kaku ditempat, lalu bersembunyi dibalik batik. hawa dingin tiba-tiba menyelimuti ruangan itu.


Lalu ia teringat untuk memberitahu Roni dan Vito, ia langsung bangkit dan berlari untuk memberitahukan dua temanya itu.


Namun ia terpleset sering kali dalam kondisi panik seperti ini, kerap kali ada saja halangan yang menyertainya.


buru-buru ia bangkit sambil menoleh kebelakang takut ronggeng akan mengejar dirinya.


Sampailah dipintu ketika hendak keluar, pintu tergebrak dan kini pintu tertutup dengan sendirinya.


Anggi menggedor-gedor pintu tersebut, seraya berteriak meminta bantuan kepada dua temanya itu.


Sementara itu, diruang tengah Roni tampak tersadar oleh suara seperti orang minta tolong. Namun suaranya tak begitu jelas, Ia memejamkan matanya kembali.


Namun suara itu terdengar lagi, dengan mata yang berkunang-kunang ia bangkit dari tidurnya. lalu mencoba membangunkan Vito, tapi Vito tak merespon sama sekali.


Dengan langkah yang masih lemas dan mulut yang masih terus menguap. Roni mengecek Ratih dan Anggi dikamar.


Ratih masih terlelap. Mau sampai kapan Ratih Sadar. Anggi? Kemana dia? pikirnya


Lalu ia teringat Anggi. Mungkinkah yang tadi berteriak minta tolong itu adalah Anggi.


Ia mencoba menelusuri sudut-sudut rumah,hingga sampailah ia dikamar mandi. Suara pintu tergedor-gedor masih jelas terdengar dari ruangan disampingnya.


‘’ Anggi… ‘’ panggilnya


‘’ Ron, tolongin gue. Pintunya nggak bisa dibuka’’ ucap Anggi setengah berteriak


Lagi-lagi dengan tenaga yang belum terkumpul sepenuhnya ia harus mendobrak pintu. Dan pintu akhirnya bisa dibuka.


Anggi yang tampak lemas lunglai, langsung menerocos bahwa ia melihat Ratih terbaring sedang dimandiin oleh ronggeng.


Namun Roni terheran-heran. Ia membantah semua perkataanya. kalau Ratih sedang didalam kamar. Kemudian Terjadi perdebatan diantara keduanya.


Anggi pun tampak tak percaya, ia langsung mengecek Ratih dikamarnya dan ternyata benar, Ratih masih dikamarnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Lirihnya dalam hati.


‘’ Mungkin kamu berhalusinasi. sekarang lanjut tidur sana, bentar lagi pagi dan kita harus siap-siap.’’ Kata Roni menenangkan Anggi

__ADS_1


__ADS_2