RONGGENG

RONGGENG
BAB 43


__ADS_3

Anggi mondar mandir mencari cangkul disetiap sudut ruangan rumah Pak Surip, namun tidak juga lekas ditemukan. Ia tidak menghiraukan lagi keadaan Bu Suntung dan Pak Surip yang terongok pingsan dilantai tanah begitu saja. Ada darah segar yang mengalir dari kepalanya Pak Surip. Ia sangat cemas dan bingung, mana yang harus ia selamatkan terlebih dahulu. Dan Roni? Seketika itu ia ingat Roni. Namun Roni seperti menghilang seperti Ratih.


Anggi lalu melongok kebelakang rumah, ada cangkul yang terongok bersama alat-alat perkakas lainya. Ia segera meraih cangkul Dan berlari lagi menuju kawasan ngelarangan.


Beberapa kali Anggi terjatuh dijalan, suasana tergenting seperti ini baru kali ini ia rasakan. Kejadian barusan benar-benar tidak bisa dipercayai begitu saja, orang-orang telah menghilang. mereka sibuk dengan teror mereka masing-masing.


Ia kerahkan seluruh tenaga untuk menggali tanah yang mengubur Vito hidup-hidup. Ia tak mempedulikan lagi Vito masih hidup apa sudah mati. Yang Ia lakukan hanya menggali dengan curahan kepedihan.


Bersamaan dengan hujan yang masih turun dengan deras, sedikit membuat tanah menjadi gembur memudahkan Anggi menggali tanah tersebut. Sepanjang penggalian, tak ada yang membantu menggali, tenaga yang dimilikinya terlalu rapuh untuk dapat menyelesaikan galian itu.


Ia benar-benar tidak tau, apa yang harus dilakukanya. Tenaga yang dimiliki tiba-tiba saja bertambah dengan balutan tekad, mengalirkan seluruh tenaganya. Hingga galian tanah sudah agak dalam.


Sekujur tubuhnya, bergelepotan dengan lumpur, ia terus mengeluarkan tanah yang menimbun tubuh Vito itu.


Akhirnya Ia dapat melihat baju Vito mencuat kepermukaan, Ia segera menyingkirkan tanah-tanah yang ada disekitarnya. Hingga ia berhasil menemukan tubuh Vito yang bercampur dengan lumpur,diam membeku tak berkutik sama sekali.


‘’ Vit... bangun... Vito... bangun ‘’ ratapnya


Anggi menyentuhkan jari telunjuknya pada bawah hidung Vito. Masih ada deru napas, Vito masih hidup. Anggi terus menggoyang goyangkan tubuh kaku itu. Memekik memanggil namanya.


Hujan sudah mulai reda, namun tetesanya masih terasa. Dingin sudah tak dipedulikan lagi oleh Anggi. Ia menunggu Vito tersadar, memeluk tubuhnya erat-erat. Meratapi kesedihan yang bertumpuk tumpuk. Bercerita seperti orang gila yang sudah kehilangan arah.

__ADS_1


Teman yang keseharianya membuat ia kesal, tapi sekarang adalah teman yang terkulai tak berdaya. Yang begitu membutuhkan pertolongan. Tidak lagi memaki maki dengan serapah padanya. Yang ada balutan rasa kasihan yang terlontar dari mulutnya.Yang ada hanya cucuran kesedihan, cucuran kepedihan untuk sahabatnya itu.


Hingga Suara lirih keluar dari mulut Vito, katub matanya perlahan terbuka.


Gue, gue dimana Nggi? Kita kok, ada dibawah lubang begini ‘’ lirih Vito dengan nada serak


Anggi tersentak, lalu segera menarik tubuh dan memandangi Vito yang sudah membuka mata. Tercenung sejenak. Lalu berkata ‘’ Jangan pikirin itu dulu, gue akan bawa lo kerumah Pak Surip. kita harus cepat-cepat pergi dari desa ini ‘’ seru Anggi, dengan linangan air mata


‘’ Kenapa Nggi, apa yang terjadi sama gue, kenapa kita bisa didalam lubang begini ‘’ lirih Vito lagi dengan suara serak. Mencoba memahami apa yang sedang menimpa dirinya.


Anggi tak menghiraukan pertanyaan yang terus memberondong dirinya. ia lalu membantu Vito yang masih lemas tak berdaya, untuk berdiri. lengan Vito melingkar pada pundak Anggi.


Saat mereka hendak bangkit, Dari dalam tanah, tiba tiba keluar tangan menjuntai yang begitu pucat dipenuhi dengan bulu bulu yang agak lebat memenuhi tangan itu. Mencuat mencengkram kaki Vito dengan ganasnya.


Anggi membantu menarik kaki Vito, namun juga sia-sia. Semakin Vito menggerang dan memberontak maka cengkramanya semakin kuat. Panik dan cemas kini menyelimuti mereka.


Selang beberapa saat, mereka terjerembab. Mereka pikir telah bebas dari cengkraman tangan seram itu. Namun, kejadian mengerikan dialami oleh Vito.


Vito berhasil lepas dari cengkramanya, namun harus merelakan kulit kaki kananya terkelupas. membuat Vito memekik keras. Membelalak, melihat keadaan kakinya. Menjerit dengan sepenuh tenaga untuk memberitahukan kepada alam bahwa ia benar-benar merasakan sakit yang begitu dahsyat. Anggi yang ada disampingnya tak kalah memekik. Darah mencuar dimana mana. Bercampur dengan lumpur yang ada disekitarnya.


Anggi panik dengan keadaan seperti ini. Tenggorokanya terasa kering, tubuhnya mendadak kaku. Ia mencoba menarik tubuh Vito berusaha untuk keluar dari lubang setan tersebut.

__ADS_1


Vito meranggak dibantu Anggi menahan kakinya, yang terasa sangat sakit. tidak bisa diutarakan dengan kata- kata. Luka pada kaki yang mengelupas tergaruk dengan lumpur membuatnya semakin tambah perih.


Hingga mereka berhasil keluar dari lubang setan tersebut. Pada saat itulah, Vito meraung raung kesakitan tak tertahankan.


Tiba-tiba terdengar desiran angin kencang dari langit yang seperti akan menerjang apa saja yang dilewatinya. seketika itu daun-daun yang ada disekeliling mereka Berputar putar, seperti angin ****** beliung, hingga membentuk pusaran dan dengan cepat, angin itu mendekat kearah mereka, tubuh Vito tertarik kedalam pusaran angin yang bercampur dengan daun itu.


Anggi mendelik, Menajamkan mencari Vito yang menghilang tertarik angin tersebut.


Tak lama kemudian, pusaran angin itu menghantam pohon antab. bersamaan dengan itu, Tubuh Vito menggantung dengan tali mencekik lehernya. Menggantung diatas pohon antab. Darah bercucuran keluar dari kaki dan tubuhnya.


Seketika itu, tangisan pecah menyeruak menembus atmosfer berkabung, Anggi meronta ronta menangisi sahabatnya. Air mata kembali bercucuran tiada henti. Hingga rasanya ia sudah tidak kuat lagi mengeluarkan air mata yang sedari tadi keluar. Ia tak bisa bernapas sedikitpun, nyawanya terasa telah direnggut oleh teror yang mencengkam.


Ia marah kepada keadaan, pada lingkungan, pada angin yang mendesir, pada segala pohon- pohon yang diam saja tak bersuara, pada desa ini, pada bumi yang dipijaknya seakan ikut larut dalam kesedihan.


Syaraf-syarafnya seakan berhenti bekerja, lolos satu persatu. Kepalanya mendadak seperti ditekan tekan oleh hujaman kengerian yang datang bertubi tubi. Ia seperti menanggung beban kepalanya yang sangat berat.


Memandang tubuh sahabatnya yang sedang tergantung dipohon antab dengan tanpa nyawa. Darah menetes netes, bergidik ngeri berkata ini tidak mungkin ini terjadi.


Saat Anggi sedang meratapi kesedihanya, Ronggeng memandangnya dari balik pohon antab. Membuat ia menghentikan isakanya, mengelap air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipinya.


Menyipitkan mata, menajamkan pandangan. Ronggeng sedang menari nari dibalik pohon antab. Diikuti suara lirih gamelan yang menyertainya.

__ADS_1


Perlahan, Anggi meraih cangkul yang ada sampingnya. Berusaha berdiri, lalu melangkah dengan tertatih, tanganya menggenggam cangkul. Matanya terus memandang kearah Ronggeng yang masih menari.


Hingga Ia sudah semakin dekat dengan pohon antab. Pohon antab diam membeku, sementara Vito masih menggantung diatasnya. Ronggeng menari dengan indahnya, tanpa mempedulikan apa yang tengah terjadi.


__ADS_2