RONGGENG

RONGGENG
BAB 42


__ADS_3

Orang-orang yang membawa Vito telah pulang kerumah masing-masing. Kini Vito terbaring tak berkutik diranjang. Dengan selimut yang membungkus dirinya.


Sementara itu, diluar rumah Anggi dan Roni sedang mondar mandir memanggil dan mencari Ratih yang seperti menghilang secara misterius dibalik hujan,angin dan petir yang menerjang saat ini.


‘’ Ratih... kamu dimana? ‘’ teriak Roni bersamaan dengan hujan yang masih mengguyur deras. Diikuti dengan teriakan Anggi setelahnya, Anggi merasa menginjak benda, mengalihkan pandangan kebawah, menyingkirkan kakinya lalu mendapati sepasang sendal milik Ratih terongok begitu saja ditanah.


‘’ Ron... sendalnya Ratih Ron ‘’ Kata Anggi sambil jongkok mengambil sendal tersebut.


Roni yang berada dijalan, segera berlari dan menghampiri Anggi ikut memandang sendal milik Ratih ditangan Anggi.


‘’ Ron... Ratih kemana? Apa dia diambil sama Ronggeng itu? ‘’ isaknya. Suaranya tercekat, air matanya seperti dihempas begitu saja oleh hujan, namun mengisakan kepedihan yang amat dalam.


Lidah Roni mendadak kelu, lalu berkata dengan tertunduk ‘’ Ra Ratih sudah dibawa sama Ronggeng ‘’ sekujur tubuhnya mendadak lunglai


Tangisan Anggi pecah membahana mengalahkan kerasnya angin yang bergerak kencang melewati pohon-pohon berlenggak lenggok seperti mau tumbang. Kilat tampak dilangit Silurah yang gelap,menggelegar bersamaan dengan hujan yang mengguyur kekelaman mereka.


Diangkatnya tubuh Anggi dan mentatih masuk kedalam rumah Pak Surip. Anggi masih menenggelamkan wajahnya ke dalam kesedihan, sendal milik Ratih dipeluknya erat-erat bagaikan mendekap sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kepalanya menyandar pada tubuh Roni yang masih setia ada disampingnya. tidak Seperti dua sahabatnya yang kini entah hilang kemana.


Matanya sudah tak mampu lagi untuk mengeluarkan air mata, mulutnya sudah tak mampu lagi untuk mengutarakan segala kepedihan yang sedang menimpa, kaki yang sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya. seketika itu, Anggi lemas tak berdaya. Pingsan dengan kondisi yang sangat mengenaskan.


‘’ Ya Allah ‘’ Ibu Suntung berteriak sangat keras, matanya berkaca-kaca ‘’ cobaan apa lagi ini kok sungguh berat sekali cobaan tidak ada habis-habisanya, ini Mbak Anggi kenapa lagi nak Roni kok sampai pingsan begini ‘’ ratap Bu Suntung sambil tergopoh gopoh membantu tubuh Anggi yang seperti tak bernyawa itu.


Masuk ke dalam kamar dan Membaringkanya diranjang.

__ADS_1


Sementara Ibu Suntung mengelap seluruh tubuh Anggi yang kebasahan oleh guyuran hujan menggunakan handuk. Lalu menyelimutinya.


Roni berjalan dengan terhuyung, sampai-sampai ia berpegangan pada dinding. Menyeka segala peluh yang bercampur dengan air hujan. Duduk seorang diri dikursi depan. Melingkarkan tanganya ketubuh, badanya menggigil kedinginan.


Aku harus ke atas gunung Raga Kusuma, Ratih pasti ada disana pikirnya


Lalu beranjak dari kursi dan menerjang lebatnya hujan yang menghantam jagat raya. sama sekali tak peduli dengan angin yang bertiup dengan kencang, berlari menuju kawasan ngelarangan hendak pergi ke gunung Raga Kusuma.


***


Nggi, Anggi lo dimana? Ucap suara lirih keluar dari mulutnya Vito, namun ia masih saja terpejam. Kepalanya tergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Lalu terdiam kembali.


Sementara Anggi sedang terkulai lemas diatas ranjang, merasakan kepalanya yang berat mencoba bangkit. Menyadari bahwa baru saja ia mendengar suara Vito memanggil dirinya. Menyingkirkan selimut, menginjak lantai tanah, berjalan dengan terhuyung. Matanya tertegun melihat Vito berusaha bangun. Namun dengan wajah tanpa ekspresi.


Anggi segera meraih tubuh tersebut, lalu memeluknya erat-erat. Tubuh Vito menempel pada dekapan Anggi.


Vit... Vito... lo kenapa, lepasin gue ‘’ teriak Anggi sambil menepuk nepuk punggungnya.


Kuku Vito berubah memanjang, kuku yang kotor menusuk sampai menembus kulit Anggi. Seketika itu Anggi menjerit kesakitan, berusaha melepaskan pelukanya namun sia-sia. Tenaga Vito lebih kuat darinya. Menggerang gerang kesakitan hingga Bu Suntung dan Pak Surip mendengar erangan Anggi.


Mereka tergopoh gopoh menuju ruang tengah dan terbelalak mendapati Vito sedang mencengkram Anggi tanpa belas kasih. Bagaikan mencengkram seorang lawan, seakan tidak ada kata ampun untuknya.


Pak Surip dan Bun Suntung segera menarik tubuh Vito,Vito memberontak hebat. Hingga akhirnya berhasil dilepaskan. Pak Surip dan Bu Suntung memegang tangan Vito dengan kuat. Sementara Anggi terkulai lemas, menahan punggungnya yang terasa sakit.

__ADS_1


‘’lepaskan aku. Aku akan membunuh anak ini, aku akan menjadikanya penunggu pohon antab ‘’ ucap sang empu suara, namun suara yang keluar adalah suara berat seperti orang tua, lalu tertawa terbahak-bahak.


Hingga mereka saling pandang, keringat menetes dari dahi Pak Surip dan Bu Suntung. Sementara Vito masih tertawa terbahak-bahak, tubuhnya beberapa kali terkejang-kejang, memberontak mencoba melepas diri.


‘’ pergi kau dari tubuh anak ini, kembali ke asalmu ‘’ ucap Pak Surip membentak mahluk tak kasat mata yang sedang mendiami tubuh Vito.


‘’ Kau tidak bisa mengusir aku, anak ini sudah kelewatan. Aku akan membunuh anak ini ‘’ ujar mahluk tak kasat mata itu. Matanya melotot kearah Bu Suntung dan Pak Surip hingga mereka berdua nampak ketakutan, tanganya gemetaran.


Anggi masih menahan punggungnya menggunakan tangan yang menjulur ke belakang meraba-raba sesuatu yang terasa sakit. Dirasakanya ada sobekan pada baju, dan menyentuh sesuatu yang kental dan segera menarik tanganya.


Matanya terbelalak melihat darah segar ada ditelapak tangan, Ia segera bangun, dan membantu Bu Suntung dan Pak Surip yang kewalahan menangani Vito.


‘’ Vit, sadar Vit. Gue mohon, lo kembali. Ratih udah nggak ada dan lo mau ninggalin gue sendirian disini ‘’ bentak Anggi seraya memegangi tubuhnya


Pak Surip dan Bu Suntung terpelanting tak sadarkan diri, Vito melompat dengan cepat ketanah, berjongkok menoleh kearah Anggi dan menyeringai. Lalu berlari secepat kilat keluar dari rumah.


Anggi mengejar dengan tertatih, mencoba berlari sambil menahan sakit dibagian punggungnya. Vito menerjang hujan lebat dengan ganasnya. Ternyata, Vito berlari menuju kawasan ngelarangan.


Anggi segera menyusul Vito dengan berlari, tidak peduli dengan rasa sakit dibagian punggungnya.


Sampailah mereka dikawasan ngelarangan, mata Vito mendelik keberbagai arah lalu segera melompat kebawah tebing yang tidak terlalu tinggi didekat pohon antab.


Tanah disekitar pohon antab tiba-tiba bergerak gerak dan terhempas kebawah membentuk sebuah lubang kuburan. Vito langsung terjun kebawah lubang itu dan tanah yang diatasnya segera mengubur Vito hidup-hidup.

__ADS_1


Anggi yang melihat Vito terkubur hidup-hidup menjerit dan segera turun kebawah. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, ia mondar mandir tidak tau apa yang akan dilakukanya.


Apa yang harus gue lakukan untuk menyelamatkan Vito, selang beberapa saat, ia mendongak, seperti menemukan sebuah ide, gue harus mengambil cangkul dirumahnya Pak Surip bicara pada diri sendiri. lalu segera memanjat dan belari menuju rumah Pak Surip untuk mengambil cangkul.


__ADS_2