
Sejenak kami diam. Lalu kualihkan pandanganku ke api unggun, yang masih setia menemani malam ini. Tak terasa tangan kami bersentuhan, saat hendak mengambil jahe secara bersamaan. Aku menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Roni. kulihat Roni tampak tersenyum.
‘’ngomong-ngomong , orang tua kamu dimana? Kok selama ini aku nggak lihat orang tuamu. Malahan kamu tinggal sama kakekmu.’’ Tanyaku padanya segera menguasai diri.
‘’kedua orang tuaku sudah meninggal Rat‘’ sambil memandang entah kemana
‘’Ya ampun Ron, sorri aku nggak bermaksud menyinggung perasaanmu. ’’
‘’ nggak papa kok. Orang tuaku juga udah meninggal lama sekali. Orang tuaku, meninggal sejak aku masih kecil. Saat itu, aku masih berumur 6 tahun. Aku harus menyaksikan mamaku, meninggal dengan tragis. Sedangkan Ayahku, meninggal karena kecelakaan. Orang tuaku meninggal juga karena dunia gaib, Semenjak saat itu, aku benci sama diriku sendiri. Aku benci sama bakat khusus yang aku miliki. Aku sempat marah, kenapa harus aku yang punya bakat khusus itu. Kemampuanku bisa lihat hantu, menjadi aku sempat membenci kakek saat itu, Namun dengan seiring waktu, aku bisa mulai menerima itu semua. dan aku mulai berfikir, mungkin bakat khususku ini suatu saat bisa menolong orang. Dan benar, sejauh ini aku bisa membantu banyak orang. ‘’ kata Roni bercerita
Cerita Roni, membuatku hanyut. Aku benar-benar tidak menyangka, Roni bisa semandiri itu. Sejak kecil, dia sudah hidup tanpa kedua orang tuanya. Diam-diam aku kagum padanya.
Aku ingin malam tak segera usai. Malam yang penuh dengan bintang, yang ditemani oleh bulan. Namun aku tak dapat melihatnya. Mungkin tertutup oleh dahan dan daun pohon pinus. udara sangat dingin, hingga angin malam berhasil menembus ke dalam tulang-tulangku.
Malam yang belum pernah ku rasakan sama sekali. Didalam hutan, bersama orang-orang yang menyayangiku. Mereka meluangkan waktunya hanya untuk menemaniku dan membantu mencari sebuah celah kebenaran.
yang aku sendiri, masih ragu. Semoga keraguanku ini, tak berlangsung lama. Bahwa aku kesini adalah untuk mencari kebenaran. Kebenaran akan kesembuhanku. Sembuh dari penyakit aneh ini.
Aku sudah memakai jaket, namun sepertinya masih tetap saja dingin. Aku menggosok-gosokan tangan dan ku arahkan ke api unggun yang ada dihadapanku. Walaupun api unggun telah memanasi tubuhku, angin dari arah belakang sungguh membuatku masih terasa dingin.
Roni yang melihatku kedinginan. Tiba-tiba saja dia melepas jaketnya dan memakaikanya ditubuhku.
‘’ pakai jaketku, biar nggak kedinginan ‘’ seraya kembali duduk ditempatnya
Aku hanya tersenyum, kalimat terima kasih yang kulontarkan padanya. Malam ini juga, adalah malam bersama Roni. Hanya tinggal kami berdua.
__ADS_1
Aku menghela napas, tubuhku sudah hangat. Kini aku beranjak dan berkata padanya bahwa aku akan masuk kedalam tenda untuk tidur.
Roni menggangguk pelan
‘’ semoga mimpi indah, Selamat malam.’’ tukasnya
Hatiku kembali merasakan keanehan. entah kenapa aku merasa harus senyum-senyum sendiri.
Kulihat Anggi telah terlelap, didalam tenda yang sunyi ini Menjadikanku teringat mama. Apa yang sedang dilakukannya saat ini. Mungkinkah mama sedang dikantor, atau sudah pulang. Pasti mama sangat khawatir denganku.
Maafin Ratih ma, Ratih terpaksa melakukan ini semua. Aku tidak mau membuat mama khawatir sebenarnya. Kataku dalam hati
Dan setelah pikiranku dipenuhi dengan mama. Kini Om Rio lah, seseorang yang terlintas dibenaku. Om Rio yang sampai sekarang ini belum juga memberikan kabar.
Tanpa terasa mataku perih Dan aku telah berkelana dalam dimensi gelap. namun didalamnya menyimpan beribu-ribu warna. Aku tertidur.
Tenda dibagi menjadi dua bagian. Yang dibatasi oleh sekat. yang berada didalam, untuk Ratih dan Anggi. Mereka telah tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya.
Sementara bagian luar, untuk Vito dan Roni. Vito telah mendekur, dengan jaket tebalnya. Sementara Roni, masih asik bermain dengan api unggun dan senar-senar gitarnya.
Sesekali terdengar bunyi jangkrik,bunyi sesuatu terjatuh,bunyi angin yang mendesir,bunyi burung, dan bunyi bunyi lainya.
Apalagi ketika burung hantu mendengkur berbunyi dengan jelas, Akan membuat siapa saja, yang mendengarnya pasti merinding ketakutan.
Roni yang sudah terbiasa bergulat dengan hantu. tidak sedikitpun merasa takut dengan suara-suara seperti itu. Baginya itu sudah tidak asing lagi. Bahkan sejak ia kecil, ia sudah kenyang asam garam mengenai hantu-hantu.
__ADS_1
Hantu yang menampakan sosoknya biasa-biasa saja. sampai sosok yang paling seram pun sudah ia lihat. Ia lebih menikmati kopi dan api unggun yang ada didepanya. dan menyanyikan beberapa lagu, yang hanya bisa didengar oleh dirinya.
bahkan mungkin bisa didengar oleh beberapa mahluk tak kasat mata, yang melintas saat itu. Matanya belum terlihat sayu. Masih tampak segar bugar seperti tadi siang. Lalu melirik jam tanganya, waktu menunjukan pukul 11.00 dan sebentar lagi tengah malam gumamnya.
Roni berhenti bermain gitar. Lalu menggerak gerakan kepalanya. ia merasakan seperti ditiup oleh seseorang. Ia langsung hapal. biasanya ada mahluk dari dunia lain,yang mencoba ingin sekadar menampakan diri atau mungkin mengajaknya bicara atau ingin meminta pertolongan. Lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Namun tak ada siapa-siapa.
Kali ini ia merasakan sentuhan tangan kecil di lehernya. Tangan itu terasa dingin sekali, hingga lebih dingin daripada dinginya malam.
Dan berhasil membuat Roni bergidik. Lalu memutar lehernya dan membalikan badanya kebelakang. tidak ada siapa-siapa lagi.
kemudian mulai terdengar suara seperti orang sedang berlari, suara tertawa anak kecil. kedengaranya seperti anak perempuan.
Tak lama kemudian, Roni dikejutkan dengan Sosok gadis kecil duduk didepanya. Pipinya yang tembem, Memiliki mata yang indah, Rambutnya dikepang dua, Memakai gaun putih bermotif bunga bunga.
Bibirnya tampak pucat, tubuhnya menggigil kedinginan. Ia tengah menghangatkan badanya. Dinyala api unggun yang dibuat Roni.
Roni telah menyadari apa yang dilihatnya itu bukanlah manusia. Bukan rasa takutlah yang dirasakan oleh Roni. Namun lebih rasa iba. Apalagi sosok didepanya adalah gadis kecil. Mungkin saja kalau Ratih belum tidur dan melihat hantu gadis kecil itu, akan menjerit ketakutan.
Mata mereka sekilas tampak bertemu dan bertatapan. hantu gadis kecil itu, mungkin mengetahui dirinya. Kalau ia bisa melihat dirinya.
Roni mencoba mengajaknya bicara terlebih dahulu. Ia telah paham bahwa sosok yang ada dihadapanya itu adalah sosok yang sedang membutuhkan bantuan.
Dengan jawaban yang singkat-singkat keluar dari mulut sosok gadis itu. Lalu bercerita sedikit lebih panjang, bahwa ia tersesat dihutan itu. ia ingin mencari kedua orang tuanya. Dengan sambil terisak isak.
Ia mencoba mengikuti gadis kecil itu. Menelusuri hutan belantara seorang diri dimalam hari. Angin malam yang dingin terasa membuntutinya.
__ADS_1
Roni merasa telah jauh dari tenda. Ia tak pedulikan itu, ia fokus mengikuti gadis malang itu.