RONGGENG

RONGGENG
Setelah Sri Rahayu Meninggalkan Tubuh Ratih


__ADS_3

Kami telah sampai dirumah Pak Surip. Tubuhku direbahkan diamben ruang tengah.


‘’ Ya Allah Gusti, Mbak Ratih kenapa ini? ‘’ ujar Bu Turah,yang melihatku dibopong oleh Mbah Saan dan Roni dengan bersimpuh darah disekujur tubuhku


Mbah Saan dengan napas tersenggal senggal dan suara patah-patah menceritakan apa yang terjadi denganku pada Bu Turah. Roni segera membersihkan darah yang bergelepotan ditangan,wajah dan pakaianku. dengan keringat menetes netes dari dahinya.


‘’ Bu, bantu Ratih berganti pakaian ya ‘’ Ucap Roni memandang Bu Turah


Bu Turah mengangguk lalu memapah tubuhku masuk ke dalam kamar.


‘’ Pakaian dari mana ini Mbak, kok bisa bisanya sampean pakai pakaian Ronggeng begini ‘’ ujar Bu Turah sambil melepaskan pakaianku


Aku masih terdiam. Aku hendak menjawab pertanyaan Bu Turah, namun bibir ini seakan sangat berat untuk kuangkat. Pakaian Ronggengku telah dilucuti oleh Bu Turah dan aku telah berganti pakaian.


Lalu aku dipapah lagi keluar kamar dan duduk diamben ruang tengah. Roni menyodorkan air minum padaku dan kuraih dengan tangan yang masih terasa lemas, lalu meminumnya. Perlahan, air telah mengaliri membasahi tenggorokanku yang kering.


Bau darahku yang anyir dan amis masih tercium, aku memandang kearah Roni, Roni nampak mengempis-ngempiskan dada, lalu berbalik menatapku.


‘’ Ron… Anggi dan Vito dimana? ‘’ tanyaku memandang Roni dengan suara serak


Roni diam cukup lama, selang beberapa saat akhirnya menjawab ‘’ Mereka belum ditemukan Rat ‘’ menjawab dengan hati-hati


Pak Surip… Pak Surip…


terdengar suara seseorang memanggil Pak Surip dari luar.

__ADS_1


Roni bangkit dan menuju ke luar. Selang beberapa saat, Roni telah menghampiriku lagi


‘’ Rat, kamu disini dulu ya. Jangan kemana mana. Kata orang itu, Anggi dan Vito sudah ditemukan ‘’ Ujar Roni sembari melangkah pergi.


Aku menghela lega, akhirnya Anggi dan Vito sudah ditemukan.


Kulihat Bu Turah sedang berada didapur, aku merasakan semua anggota tubuhku masih tak berdaya. Pikiranku tertuju pada ucapan Sri Rahayu, aku menatap kosong kedepan. Dalam kesendirian,kesunyian,kepedihan aku kembali teringat suara Sri Rahayu yang membisikanku.


Haruskah aku menemuinya? Tanyaku pada diri sendiri. Ujung mataku terasa ada air mata yang mau keluar, dan akhirnya air mataku tak terbendung, mengalir begitu saja.


Aku mau mati huhuhuhu isaku membuncah, kututupi dengan kedua telapak tanganku.


‘’ Mbak Ratih kok menangis, ada apa ndok ‘’ Tanya Bu Turah sembari meletakan minuman dimeja, lalu duduk didekatku.


kurasakan dadaku semakin sesak, aku menangis terisak isak lagi. Bu Turah menyentuh pundaku, lalu memeluku. Rambutku terasa dibelai belai.


‘’ Kamu ngomong apa sih ndok, mati itu urusan Tuhan, kita tidak ada yang tau ‘’


‘’ Bu, Bapak saya telah membunuh Ronggeng desa ini, Bapak saya telah membunuh Sri Rahayu. Dan sekarang arwah Ronggeng itu menjadi arwah jahat, arwah yang dipenuhi dendam. Ronggeng itu menginginkan saya Bu, saya akan mati ditangan Ronggeng itu.’’ Aku menjelaskan, lalu tangisku menjadi jadi


‘’ Ya Allah ndok, nasibmu kok seperti ini. Sampean bisa minta tolong sama Mbah Saan untuk membantu Mbak Ratih. Mbah Saan kan orang pintar disini ’’


‘’ Percuma saja Bu, sudah tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi lagi Bu, bahwa saya akan mati ditangan Ronggeng itu ‘’


Bu Turah memandangiku dengan penuh iba. Lalu aku memeluknya, bagaiakan memeluk mama.

__ADS_1


Lalu dari luar, terdengar langkah kaki orang-orang yang masuk ke dalam rumah. Pak Surip bersama Bapak- Bapak lainya tengah membopong seseorang. Seseorang yang sangat kukenal, wajahnya pucat pasi, bibirnya biru, badanya lunglai, tak sadarkan diri.


Vito...


Tubuh Vito digeletakan diamben. Aku dan Bu Turah beranjak dari amben.


Lalu kudengar sesorang perempuan menangis dari luar, itu Anggi gumamku


Aku segera melangkah keluar, menyibak kelambu. Kulihat matanya sembab,wajahnya sangat murung,rambutnya acak acakan dan sedang menangis tersendu sendu.


Ratih...


Anggi...


Ucap kami secara bersamaan. Kami langsung berpelukan erat, ditambah isak tangis. kami terhanyut, dalam kepedihan yang tiada ada ujungnya.


‘’ Rat, Vito Rat ‘’ isak Anggi,suaranya tersendat


‘’Vito, Vito kenapa Nggi? ‘’ aku menatap tajam


‘’ Vitto, udah meninggal huhuhu ‘’ tangisnya kembali pecah.


Aku bagaikan mendapat sambaran petir dikepalaku, kepalaku terasa sangat berat, kepalaku seakan akan mau meledak. apa aku tidak salah dengar, bahwa Vito telah meninggal. Apa yang dikatakan oleh Anggi itu hanya omong kosong, namun Anggi menangis meronta ronta. Ia sama sekali tak berhenti menangis. Dan Vito terbaring tak sadarkan diri, dengan wajah yang pucat.


Aku mendongak, namun tetap saja air mataku berjatuhan tak terkendali.

__ADS_1


__ADS_2