RONGGENG

RONGGENG
Mobil Mogok


__ADS_3

Mobil yang kami tumpangi mulai melewati area hutan. Jalan yang sempit, sepi dan sunyi. yang hanya muat satu mobil. Dikanan kirinya terkepung pohon-pohon besar rindang menjulang.


Pak Udin tampak lincah mengendarai. Walaupun usianya sudah 35 tahun, namun jiwanya seperti anak muda. Beliau mengendarai mobil, seperti adegan di film fast and furious.


Mobil Sedan hitam, melaju dijalan yang begitu sempit dan berkelok kelok membuat membuat siapa saja yang ada didalamnya, merasa jantungnya mau copot.


‘’ Jangan kenceng-kenceng dong Pak nyupirnya. ’’ sahut Anggi was-was.


‘’Maaf non, Pak Udin terbawa suasana saat masih muda dulu. Biasa nyupir seperti ini ‘’ jawab Pak Udin tertawa kecil.


‘’ Inget anak istri dirumah dong Pak. Nggak sayang nyawa apa. ‘’ lanjut Anggi sedikit bergurau.


‘’ memangnya Pak Udin pernah muda? ‘’ tanya Vito sambil bermain handphonenya, ia mulai menggoda supirnya itu.


‘’ Sembarangan kamu ya, gini gini mudanya Pak Udin dulu banyak yang naksir, nggak kaya kamu.’’ Jawab Pak Udin bergurau.


Vito yang memang jail, masih saja menggoda Pak Udin. ditimpali Anggi yang dikenal cerewet. Roni yang sedari tadi kulihat mendengarkan gurauan mereka, namun hanya tertawa kecil. sementara diriku, ikut dalam suasana yang heboh sekaligus bahagia itu.


Vito, Anggi dan Pak Udin yang sedari tadi masih saja berdebat, tak mau kalah satu sama lain. layaknya anak kecil. Ketika kami sedang asik-asiknya bergurau, Pak Udin menancap rem secara mendadak dan kami pun sontak terdorong ke depan. Hingga membuat kesal dan bertanya-tanya.


Seketika itu, Pak Udin langsung turun dari mobil dan mengecek keluar. kami yang ada di dalam mobil, menjadi bertanya-tanya. Apa yang telah terjadi. Dan kami pun ikut turun dari mobil.


‘’ Ada apa Pak?’’ Tanya Roni mendekati Pak Udin


‘’ Saya nabrak orang barusan. Tapi kenapa sekarang, orangnya nggak ada yaa.’’ Jawab Pak Udin sambil melihat lihat sekitar


‘’ Ada apa sih Ron’’ lanjut Vito menimpali pembicaraan.


‘’Pak Udin barusan nabrak orang katanya. tapi pas dicek, nggak ada siapa-siapa.’’ Jawab Roni menjelaskan


Pak Udin yang masih mengecek keadaan sekitar. Mendapati ban yang tampak kempes dan ternyata bannya bocor.


Kami kebingungan bagaiamana melanjutkan perjalanan. Sementara kami memutar otak, namun tak menemukan jawaban.


kami telah jauh, tidak mendapati sebuah desa. Dan kini sedang menuju desa Silurah, yang tak kunjung sampai. Kalaupun ada bengkel, itu sudah sangat jauh dibelakang.

__ADS_1


Pak Udin segera melihat handphonenya untuk mencari bantuan. namun tak ada sinyal sama sekali. Diikuti oleh kami ber empat dan sama saja, tak ada sinyal satu pun yang tersangkut dihandphone kami.


Kami tak mendapati orang yang lewat sedari tadi. jalanan sangat sepi, padahal keadaan siang bolong seperti ini.


Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu ditepi jalan. Berharap ada seseorang yang lewat. Sudah sekitar 45 menit kami menunggu dijalan, masih saja tak ada orang yang lewat.


Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara Kakek-Kakek bertanya kearah kami.


‘’ wonten nopo nggeh’’ tanya Kakek itu


( persimis, ada apa ya )


Kakek itu berbicara menggunakan bahasa jawa, sedangkan kami tak mengerti bahasa jawa sama sekali. Hanya Roni yang mengerti apa yang ditanyakan kakek itu, Roni memang bisa berbahasa Jawa, Kakek nya asli orang Jawa.


Roni mendekati Kakek itu dan tengah berbincang bincang denganya. Kakek itu kulihat tersenyum sumringah.


‘’ Apa kata Kakek itu Ron?‘’ tanyaku pada Roni


‘’ kakek itu kebetulan warga desa Silurah. Katanya habis dari ladang dan mau pulang. kakek itu mau nganter kita ke desa Silurah. gimana kalo kita bareng sama kakek itu aja. jalan kaki, udah deket kok dari sini’’ Tukas Roni.


Kami pun menyetujui ide Roni itu dan Pak Udinpun mengiyakanya. Katanya akan menunggu bantuan lewat dan menyuruh kami untuk ikut dengan kakek itu saja.


Kami segera mengambil barang-barang dari mobil yang dirasa perlu. dan yang tidak dibutuhkan, ditinggal didalam mobil. Dalam sekejab, kami telah siap dengan tas ransel dipunggung kami masing-masing.


‘’ Ron, ngapain kamu bawa tenda? Kan sebentar lagi kita nyampe.’’ Tanyaku keheranan.


‘’ buat jaga-jaga aja. Kita kan nggak tau nanti yang akan terjadi, kaya saat ini nih misalnya tiba-tiba bannya bocor.’’ jawab Roni


‘’ Tapi lo yang bawa ya. Gue nggak mau.’’ Timpal Vito mengambil tasnya


‘’Iya, iya bawel ‘’ jawab Roni sambil melangkah mendekati kakek itu


Kami berjalan beriringan menapaki jalanan aspal yang agak panas. Namun tidak sepanas Jakarta, karena pohon-pohon yang besar menjulang tinggi, disamping jalan.


Roni berjalan mendahului kami dengan Kakek itu. Tampak mereka berbincang-bincang. Sedangkan Aku, Vito dan Anggi mengikutinya dibelakang.

__ADS_1


Kakek itu berhenti sejenak, Lalu berkata dengan bahasa Jawa. kalau dirinya hendak mencari rumput untuk makan kambingnya. Dan menyuruh kami untuk jalan terlebih dahulu.


Lalu Roni memandang ke arah kami bertiga. Kami berbisik-bisik dan memutuskan bagaimana selanjutnya. sepakat, bahwa kami akan menunggunya.


kakek itu justru menyuruh kami untuk melanjutkan perjalanan. kakek itu berkata untuk tidak perlu khawatir. tidak akan tersesat, karena sebentar lagi akan sampai. dengan mengikuti jalan yang ditunjuk kakek itu.


Kami pun mengikuti apa yang dikatakan kakek itu dan kakek itu telah turun, lenyap ditelan dedaunan.


Kami melanjutkan perjalanan. keringat telah membasahi wajah dan tubuh kami. Hingga kami tidak sadar, kalau sudah berjalan terlalu jauh dan berfikir apakah jalan yang dilaluinya benar-benar jalan menuju desa Silurah.


Tanpa kami sadari, Kami telah berjalan di jalan setapak. yang dikelilingi pohon pinus besar-besar. Kami seperti dipindahkan begitu saja, padahal kami tadi berjalan diatas jalan aspal dan kini jalanan seperti berubah jadi jalanan tanah setapak.


Vito sedang asik merekam dengan kameranya. Ia tak mempedulikan sama sekali, dengan jalanan yang tiba-tiba ditapakinya.


‘’ ini bener jalanya nggak sih. Kok kita jadi jalan di jalanan setapak gini sih, ‘’ ujar Anggi tampak kelelahan.


‘’ Iya aneh banget, perasaan tadi jalan aspal, kenapa sekarang jadi jalan setapak gini ‘’ sambung Vito baru tersadar


Kulihat Roni berkacak pinggang. Kebingungan dengan apa yang tengah terjadi. Akhirnya, Serempak kamipun menjatuhkan tubuh diatas tanah yang dipenuhi rumput-rumput.


Hari semakin sore, perlahan terik matahari telah sirna. matahari di ufuk barat tampak tinggal setengah. seakan mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Dan besok akan kembali menyinari.


Aku : Eh,kok uda petang gini ya, jam berapa sekarang?


Anggi : jam 6 Rat


Aku : Kayaknya nggak mungkin deh, kalo kita lanjut perjalanan. Dari tadi nggak sampai sampai. Malah kita ada dihutan gini.


Anggi : Iya gue juga udah capek, uda pegel-pegel juga nih Kaki. Wah... kita dibohongin sama kakek tadi. katanya bentar lagi nyampe, nggak ada 10 menit. Tau taunya masih jauh.


Vito : Eh Ron, bener nggak sih yang dikatakan kakek itu. Apa jangan jangan kakek itu sengaja, biar kita tersesat.


Roni : Gue juga nggak tau, Yaudah kita tidur disini aja. Besok pagi, baru kita lanjutin.


Anggi : Apa? Kita tidur dihutan ini? Yang bener aja Ron.

__ADS_1


Vito : Apa jangan-jangan lo sebenarnya uda tau, kalo kita bakalan tersesat. Buktinya lo bawa tenda.


Roni : terserah lo deh, gue bawa tenda buat jaga-jaga. Siapa tau ada apa- apa. Nah kebetulan, kaya sekarang ini nih. Yaudah ayo kita buat tendanya sebelum gelap.


__ADS_2