RONGGENG

RONGGENG
Nama Ronggeng Itu Sri Rahayu 3


__ADS_3

Aku ingin menyampaikan kegusaranku pada Roni saat itu juga. Namun kuurungkan, aku sendiripun belum mengetahui dengan pasti, benar atau tidaknya.


Aku merasa hubunganku dengan Ronggeng Sri Rahayu sangat erat. Sepertinya Ronggeng itu ingin menyampaikan sesuatu atau malah ingin mencelakaiku. Ada sesuatu yang harus aku gali didalamnya. Tidak mungkin Ronggeng Sri Rahayu, menerorku tanpa ada sebab akibat.


‘’ Trus tadi, aku dijalan berinteraksi sama mahluk yang menjaga kamu. Katanya kamu dalam bahaya Rat, secepatnya kita harus keluar dari desa ini Rat, sekarang juga ‘’ wajahnya sangat cemas


‘’ Malam ini juga Ron? Pake apa? Roni dan Anggipun sudah tidur. kita nggak mungkin pergi malam ini juga.’’ jawabku


‘’ Oh iya, Malam ini kita tidur dirumah Pak Surip, besok pagi kita harus pergi dari sini. Kamu tetap disampingku ya, kita jangan sampai berpisah, kalau kita berpisah. Ronggeng itu akan dengan mudah mendatangimu, mungkin akan berbuat sesuatu yang buruk padamu ‘’ sembari menatapku panik


‘’ Ron... aku perlu bicara sama orang tuanya Sri Rahayu, kira kira mereka masih hidup apa enggak ya. ‘’ sambil kupegang tanganya Roni


‘’ Ibunya masih hidup, tadi kata Pak Darmo, kalau Ibunya masih hidup, tapi Ibunya jadi gila sekarang, setelah ditinggal pergi Suami dan anaknya ‘’ Jelas Roni sambil menatapku lagi


‘’ Aku ingin menemui Ibunya ‘’ dengan penuh harap


‘’ Aduh... aku tadi lupa, nggak nanya sama Pak Darmo rumahnya dimana. ‘’ sambil memegangi kepalanya


Tiba-tiba Roni berbinar, seperti menemukan ide.


‘’ Kita tanya sama Pak Surip aja ‘’


Aku mengangguk dan kami segera melangkah masuk ke dalam rumah. Belum sampai kami masuk rumahnya Pak Surip. Pintu tiba-tiba terkunci dan tidak bisa dibuka. Lalu kami mengetuk pintu itu, seraya memanggil manggil Pak Surip.


‘’ Pak Surip... Buka pintunya. ‘’ teriak Roni dengan keras.


Ratih...


Ratih....


Ratih....


Telingaku menangkap seseorang memanggil namaku. Namun suara itu sangat lirih sekali, bahkan Roni pun tak mendengarnya. Kulihat Roni masih mengetuk pintu, seraya memanggil Pak Surip.

__ADS_1


Aku menghentikan mengikuti apa yang tengah dilakukan oleh Roni. Aku memandang jauh kearah kebun yang ada disamping rumah, suara itu berasal dari sana.


Roni yang melihatku sedang menuju arah kebun itu, menjadi memanggilku.


‘’ Rat... kamu mau kemana. ‘’ sahut Roni


Aku memandang sekilas kebun itu. Lalu kembali menghampiri Roni. tanpa kujawab pertanyaan Roni.


‘’ Kamu barusan mau ngapain?’’ Tanya Roni sekali lagi.


‘’ Nggak papa kok Ron. ‘’jawabku


Pak... Pak Surip... Bu... Bu Turah...


Tok tok tok tok.


Kami kembali memanggil manggil Pak Surip dan Bu Turah.


‘’ Belum Ron, Pak Surip sama Bu Lurah tadi ada didalam. Baru saja, sebelum aku menemuimu. ‘’ ucapku meyakinkan


‘’ Coba kamu ketok-ketok jendela kamar Vito sama Anggi. Aku akan ke belakang, mencoba masuk dari pintu belakang ‘’ memandangku lalu pergi


Aku langsung bertindak cepat dan tangkas, seperti apa yang dikatakan oleh Roni. Namun ketika aku memandang hendak melewati samping rumah Pak Surip, bulu kuduku merinding. Aku tak berani melangkahkan kaki.


Harusnya gue ikut Roni aja tadi. Gumamku dalam hati


Dengan langkah pelan, aku menyusuri samping rumah Pak Surip, keadaanya gelap, sangat gelap. Hanya ditemani cahaya rembulan, tapi cahayanya tidak sampai menyinari samping rumah Pak Surip. karena diatasnya ada galeng yang cukup tinggi. Aku segera melangkah menuju jendela kamar, tanpa mengamati keadaan sekitar yang gelap itu.


‘’ Anggi... Vit... ‘’ panggilku pada mereka


Sambil kuketukan jendela kayu, yang tidak terasa sakit ditangan.


‘’ Nggi... Vit ini gue Ratih,tolong bukain pintunya. ‘’ sambil kuketuk ketuk jendela

__ADS_1


tak ada jawaban dari mereka, lalu kutunggu beberapa menit. Masih tak ada jawaban. Aku mengulanginya sampai pasrah. Perasaanku tidak tenang saat berdiri, seperti ada sesuatu yang mengamatiku dari kebun itu. Akhirnya aku kembali ke depan.


Kulihat Roni belum kembali. Ketika aku hendak menyusulnya ke belakang, suara-suara memanggil namaku terdengar lagi. Berasal dari arah dan tempat yang sama. Seperti yang tadi aku dengar. untung saja Roni segera datang. Aku menghela lega.


‘’ pintu belakang juga tidak bisa dibuka Rat, udah aku panggil- panggil mereka, tidak ada sahutan ‘’ sembari melangkah mendekatiku


‘’ Padahal tadi kita ngobrol didepan nggak terlalu lama deh dan kulihat Pak Surip dan Bu Turah tadi masih ada didalam, waktu aku keluar, terus tidak lama kamu pulang. Aneh banget.’’ ucapku


‘’ rumah ini dikendalikan oleh sesuatu gaib Rat, Ikut aku Rat, aku tau apa yang harus kita lakukan. ‘’ Roni menggandeng tanganku dan mengajaku entah pergi kemana.


***


Aku dan Roni telah sampai dirumah yang dindingnya kayu, namun atapnya sudah menggunakan seng. kata Roni itu rumah Amir, yang tadi dirinya diajak kerumahnya.


tak lama setelah itu, tampak seorang pemuda yang sepertinya sebaya dengan kami. Membukakan pintu dan telah berdiri dihadapan kami. Kudengar Roni tengah menanyakan rumahnya Sri Rahayu, Ronggeng dari desa ini, yang mati secara tragis.


Sedikit, pemuda itu menggulungkan bibirnya. Lalu masuk ke dalam rumah, kami disuruh menunggunya sebentar. Tak lama kemudian, Pemuda yang kata Roni bernama Amir itu telah berdiri lagi dihadapan kami. Dengan membawa senter, dan jaket tebal membungkus tubuhnya.


Kami berjalan lurus, melewati jalan yang sepi. Disepanjang perjalanan menuju rumahnya Ronggeng Sri Rahayu, Aku memilih diam.


Pikiranku terfokus dengan Ronggeng Sri Rahayu dan memastikan bahwa Adi Kusuma yang membunuh Ronggeng itu bukan Papaku. Kini hatiku tak tenang, Sedangkan Amir dan Roni tengah bercerita kesana kemari.


**


Kira kira tidak ada 10 menit, Kami telah sampai dirumah yang tampak sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan didalam sana. Amir segera mengetok pintu dan menunggu tuan rumah membukakanya.


Seketika itu, pintu terbuka perlahan. Lalu dari balik pintu kayu itu, muncul seorang Ibu Ibu yang tidak terlalu tua. Ibu itu terlihat tak terurus, badanya kurus sekali, rambutnya acak acakan, wajahnya murung dan matanya layu.


Dengan tidak memberanikan diri untuk keluar. hanya sebatas kepala dan tanganya yang tampak keluar. Sedangkan tubuhnya berada didalam, tanganya memegang erat pintu itu, seakan akan tidak boleh ada orang yang masuk ke dalam rumahnya.


Lalu Amir menanyakan kabar Ibu itu. Ibu tersebut mengangguk pelan, menandakan baik baik saja. Setelah itu Amir memperkenalkan kami pada Ibu itu.


Perlahan Ibu itu menoleh ke arahku dan Roni. Terutama diriku, Ibu itu terus memandangiku dari bawah sampai atas.

__ADS_1


__ADS_2