RONGGENG

RONGGENG
Kejadian di Dalam Bus


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, sebenarnya aku dihantui oleh rasa penasaran. Kenapa dengan ekspresi Om Rio itu. Kenapa Om Rio sangat kaget ketika mengetahui umurku. Atau yang lebih membuatnya kaget adalah ketika aku menceritakan mimpiku kepadanya.


Aku berusaha menerka- nerka. Apa yang disembunyikan oleh Om ku.


Sepertinya om Rio telah mengetahui bahwa memang seharusnya aku harus pergi ke desa itu. Sepertinya Omku juga menyimpan rahasia.


Aku tau dari bagaimana Om tadi bicara dan tampak dari gelagat wajahnya. menunjukan kepanikan dan kekhawatiran.


Ah itu urusan om ku. Yang penting sekarang mempersiapkan semua keperluan yang hendak dibawa ke desa Silurah. Dan aku akan segera sembuh dari penyakit aneh ini.


***


Dihadapanku telah tersedia berbagai macam menu Sarapan pagi. aku lebih melirik roti tawar dan kuambil selai coklat lalu kulapiskan ke roti tawar yang ada ditanganku.


‘’ Pagi Bi, mama uda berangkat ya?’’ tanyaku pada Bi Marni, Seraya ku lapiskan selai coklat itu.


‘’ Pagi juga non, iya non, Ibu sudah berangkat pagi banget tadi. Sampai tidak sarapan.’’ Ucapnya sambil kembali ke dapur


Aku melahap roti sambil memikirkan mama yang selalu sibuk. Jika aku bangun,maka mama sudah tidak kulihat. Jika aku malam hari, mama juga tidak kulihat. Karena mama selalu pulang ketika aku sudah tertidur.


Aku mencoba memaklumi keadaan. Hingga sepertinya melihat mama hanya sekilas- sekilas saja. Hari libur pun, mama selalu sibuk dengan laptopnya.


Terkadang aku merasakan belalaian mama ketika aku sedang tertidur. Aku tak tau, apakah aku mengigau atau memang benar mama membelaiku.


Kenapa om Rio belum kesini juga. Pikirku. Padahal kan tinggal beberapa hari lagi berangkat ke desa Silurah. Apa aku bilang sendiri aja kali ya sama mama. Pikirku dalam hati


Ah tidak mungkin! Jelas tidak mungkin! Yaudah deh biar omku saja, yang bercerita dengan mama. Timpalku pada diri sendiri.


Aku buru-buru melahap roti tawar yang tinggal kunyahan terakhir dan kulanjutkan meminum susu yang tampak segelas penuh. namun aku hanya meminum setengahnya.


Lalu aku menjabat tangan Bi Marni dengan penuh segan. Walaupun Bi Marni hanya pembantu dirumahku, aku menganggap Bu Marni adalah bagian dari keluargaku.

__ADS_1


Aku sangat merasakan kasih sayang Bi Marni dengan tulus. Setidaknya, telah menemani hari-hariku yang kesepian, jika mama belum pulang.


Aku melangkah keluar rumah dan hendak berangkat ke kampus. Dan tentunya membahas perjalanan ke desa Silurah bersama Anggi dan Vito.


Tanpa aku menunggunya. Bus berwarna biru yang menjadi langgananku, telah sampai dikomplek perumahanku.


Aku langsung naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Dan mataku tertuju pada tempat duduk disebelah wanita berjilbab coklat, kosong ...


Aku langsung menuju ke arahnya dan wanita itu mempersilahkanku duduk disampingnya.


Bus melaju dengan kecepatan normal. Pikiranku kembali terbayang-bayang dengan mama. Bagaimana caranya supaya mama bisa percaya padaku? Menceritakan mimpi yang aku alami saja mungkin tidak akan tertarik. Apalagi harus kuceritakan rencanaku hendak pergi ke desa Silurah. Pasti akan ditentang habis-habisan olehnya. Dengan alasanku yang menurutnya tidak masuk akal.


Semoga saja Om Rio dapat membujuk mama dan hatinya akan luluh. Sehingga mengijinkanku untuk pergi ke desa itu. Tanpa khawatir dengan mama.


Dua sahabatku itu yang sepertinya sangat bersemangat. Mereka blak-blakan mengatakan katanya bisa sekaligus liburan, menikmati suasana pedesaan yang sangat alami.


Apalagi menurutnya itu adalah sebuah tantangan. bagimana mereka menjelajah tempat, yang belum mereka tau. Bagiku itu tak masalah, sedikit menghibur hatiku.


Lagi-lagi bus berhenti hendak menurunkan penumpang. seperti biasa, beberapa orang akan turun dan ada juga yang naik. Membuatku mendesis, karena panas mulai terasa.


Dan pasti nantinya akan banyak berhenti. seperti itulah tak enaknya naik kendaraan umum. dan yang hanya bisa aku lakukan, adalah memejamkan mata. sembari menunggu bus jalan kembali.


Aku tak mempedulikan suara keributan orang didalam bus, Tak terasa aku tertidur pulas. Suasana seperti ini, memanglah membuat kantuk.


***


Aku terperanjat kaget, karena kepalaku terbentur jendela bus. Kepalaku terasa sakit. Aku menghela napas sejenak, akhirnya sampai juga huh desisku. Aku langsung berdiri dan beranjak meninggalkan kursi.


Betapa terkejutnya diriku. Ketika mengetahui tak ada seorangpun didalam bus, kecuali diriku. Apakah orang-orang sudah pada turun? Tak mungkinlah, jika orang-orang sudah pada turun. kenapa tak ada yang membangunkanku. Trus,bus kenapa berhenti. Bahkan sopirpun kuliat tak ada ditempatnya.


Aku mengalihkan pandangan keluar. suasana diluar sangat sunyi. Tak ada satupun orang berlalu lalang.

__ADS_1


Tempat-tempat tampak sepi. Seperti sedang terjadi sebuah bencana, orang-orang telah meninggalkan tempat itu.


Aku mengurungkan niat untuk keluar. Sembari kebingungan, sebenarnya apa yang telah terjadi.


Tiba- tiba aku mendengar suara orang bernyanyi, suaranya pelan dan lirih. Menembus pendengaranku yang membuatku mendekapkan tangan.


Nyanyian itu seperti nyanyian Jawa. menembus pikiran ku yang sedang dirundung kebingungan, hingga membuatku merinding.


Suara itu perlahan terdengar semakin jelas. Suasana yang sebelumnya panas, kini berubah menjadi dingin. Hingga bulu kuduku berdiri seketika.


Suara nyanyian itu semakin mendekat Lalu terdengar langkah suara kaki. Langkah kaki itu berjalan naik bus. Pada saat itu lah, aku melihat sosok perempuan seperti Ronggeng dari kejauhan.


Ya itu Ronggeng seruku. Aku kembali duduk dikursi, memejamkan mata, menutup wajah menggunakan kedua tanganku. tubuhku bergetar.


Aku berusaha memanglingkan pandangan. Ronggeng itu terasa berjalan menuju kearahku. Aku merasa kini Ronggeng itu sedang berdiri disampingku.


Aku merasa Ronggeng itu memperhatikan diriku. Perlahan kubuka mata dan benar. aku melihat kaki yang begitu pucat.


Degup jantungku terasa tak terkendalikan. perlahan sosok itu berjalan lagi, diikuti suara detak jantungku kembali normal.


Namun dengan napas yang masih tidak teratur. aku memutar leher , mencari Ronggeng itu dan ternyata telah lenyap dibalik pintu bus. Betapa leganya diriku.


Tak henti-hentinya aku diperlihatkan sosok-sosok yang membuat jantung mau copot.


Kulihat sosok hitam yang kembali melambai-lambai. Persis dengan kejadian waktu lalu diperpustakaan.


Kali ini, memang diriku lah yang dilambainya. aku bergegas turun, lalu aku terbatuk-batuk karena asap yang tiba-tiba datang menyergapku.


Mengepung tempat itu, hingga aku tak melihat sosok hitam itu lagi. Aku berjalan tetapi seperti tak ada ujungnya. Kaki ini melangkah dengan sendirinya. Namun akal pikiranku sedikit sadar.


Aku menembus kabut- kabut putih, hingga mataku terasa perih. Kemudian aku tak tau apa yang selanjutnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2