
Aku berdiri tepat didepan jendela. Pandanganku jauh memandang keluar jendela. Sembari tanganku mendekap, karena udara sangat dingin menembus tulang- tulangku.
Jendela dihadapanku kini tergebrak oleh angin yang berhembus dengan kencang. Bergegas aku langsung menutupnya, sembari membayangkan mama.
Aku sangat khawatir denganya, apalagi dengan hujan lebat seperti ini. Apa yang sedang dilakukanya dikantor?
Aku beralih menatap jam dinding yang terpapang dikamarku. jam menunjukan pukul 09.30.
Sebentar lagi Mama akan pulang. Lirihku dalam hati. Aku menghela napas lega.
Sekali lagi aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres. rasanya aneh sekali hari ini, sepertinya aku baru saja tidur siang dan mandi untuk menyegarkan tubuhku kembali.
Aku merasa waktu serasa begitu cepat berlalu. apakah aku tidur terlalu lama tadi? Pikirku.
Sembari menunggu mama pulang, aku bermain dengan laptopku. lalu menatap tajam layar laptop. kuarahkan kesembarang tempat ke berkas movie,music,document. melihat apa saja yang bisa aku lihat.
__ADS_1
Sesekali meminum teh hangat, yang sepertinya sudah agak dingin. lalu tiba - tiba aku menguap, rasa kantuk tiba-tiba saja merundungku. aku segera mematikan laptop dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Aku menundukan muka kebawah. ku pejamkan mata dan kusiramkan air dingin ke mukaku, saat sedang melakukan itu. aku berfikir kalau-kalau saat aku membuka mata ada penampakan dicermin.
Aku segera membuka mata dan tak ada apa apa, hanya ada diriku dicermin. aku menghirup napas dalam dalam.
Tenang Rat, lo harus bisa tenangin diri lo, nggak ada siapa siapa dikamar mandi ini. Ayolah lo jangan takut seperti ini. Lirihku dalam hati. Aku menyemangati diriku sendiri.
Namun rasa was was tetap merundungku. Aku menjadi lebih sedikit takut dari sebelum sebelumnya.
ketika aku hendak meraih sabun muka yang berada tepat disampingku, mendadak sabun muka itu jatuh dengan sendirinya.
Pandanganku hanya sebatas sampai lutut itu saja. Sehingga aku tidak melihatnya semuanya. Dengan sangat pelan, aku mencoba menegadahkan keatas, ingin memastikan sosok apa yang kini sedang berdiri didepanku.
Belum sampai pada lutut dan paha. Napasku kembali tidak teratur, hilang... kaki itu telah hilang. Aku segera menoleh ke berbagai sudut, tak ada kaki itu lagi.
__ADS_1
Aku segera mengambil sabun muka yang tergeletak dilantai dan buru buru menuangkanya. Dan kuusap usapkan diwajah. Aku melakukanya secepat mungkin, agar cepat selesai dan cepat kembali ke kamar.
Setelah itu aku menundukan kepala lagi dan kubilas mukaku dengan sangat buru-buru.
Ketika aku mengangkat kepala.
Tarrrrr...
Cermin kamar mandi mendadak retak. Aku perlahan mundur.
Aku melangkahkan kaki hendak keluar, namun sekujur tubuhku gemetaran tak terkendali. Aku tak bisa menggerakan kaki. Kaki ini seperti ada yang menahanya.
Pada saat itulah, ada seorang wanita menjerit melengking seperti mau merobohkan bangunan ini , hingga membuat gendang telingaku mau pecah. aku menutup telingaku rapat-rapat, menggunakan kedua tanganku.
Betapa terkejutnya aku, ternyata akulah yang sebenarnya menjerit. Kulihat mulutku habis ternganga Dan cermin yang ada didepanku, kenapa masih utuh.
__ADS_1
Pindah cerita ya :
Judulnya "The Cursed Of Ronggeng"