
hahahaha....
tiba tiba Bu Sara dikejutkan dengan suara tertawa seorang bapak bapak. Suara itu terdengar sangat berat. Padahal dikamar itu, hanya ada dirinya dan Ratih. Kenapa ada seorang bapak bapak yang tertawa?
Ia segera membalikan badan dan Ia dibuat kaget oleh suara tertawa berat yang berasal dari mulut putrinya.
Bu Sara dengan langkah tergesa gesa menarik tangan Ratih dan memegangi tubuhnya. Namun Ratih malah mencekik leher Mamanya kuat-kuat.
‘’ Hahahaha.... suara berat itu keluar lagi dari mulutnya Ratih.
Matanya melotot memandang dalam dalam Mamanya. matanya berwarna merah, seakan dipenuhi amarah yang menggebu- gebu.
Ratih tak memperdulikan dengan apa yang tengah dicekiknya. Bahwa yang dicekik adalah Mamanya.
‘’Kau Ibu tidak berguna, kau biarkan anakmu menderita. ‘’ ucapnya
‘’Ratih... ka- kamu ke-na-pa.’’ Jawab Bu Sara serak, kehabisan suara karena tercekik oleh tangan Ratih yang kuat
Cekikan tanganya semakin kuat, membuat Bu Sara susah untuk bernapas. Bu Sara berusaha melepaskan tangan yang mencekik dirinya. Tangan yang begitu kuat, namun bukanlah tangan Ratih melainkan tangan mahluk yang ada pada tubuh Ratih.
Bi Marni yang tengah mempersiapkan apa yang akan dibawa Bu Sara kerumah sakit, tiba tiba mendengar suara-suara aneh berasal dari kamar Ratih.
Bi Marni langsung menaiki tangga untuk mengecek apa yang tengah terjadi.
Setelah membuka pintu, Bi Marni mendapatinya Bu Sara sedang dicekik oleh Ratih.
Bi Marni berteriak seketika itu lalu berjalan setengah berlari kearah mereka. Bi Marni membantu melepaskan cekikan Ratih dari leher Bu Sara.
Bu Sara dan Bi Marni terpental ke lantai. Mereka mencoba bangkit dan berhasil berdiri. Bergegas keluar, lalu mengunci pintu rapat- rapat.
Bu Sara terbatuk-batuk hebat ketika berhasil lepas dari cekikan putrinya. Ratih tengah dikuasai oleh sesuatu yang gaib.
Dan suara berat itu, memang keluar dari mulut Ratih. Namun itu bukan Ratih, Ratih tengah kerasukan setan.
''Bi ... Ratih kenapa? ‘’ tanya Bu Sara dengan suara serak.
‘’Non Ratih kesurupan setan bu.. itu bukan non Ratih.’’ Jawabnya dengan bibirnya bergetar.
‘’Cepat cari bantuan Bi.. ‘’ perintahnya pada Bi Marni dengan masih terbatuk batuk
__ADS_1
Lalu dengan langkah yang terpongah-pongah Bi Marni turun untuk mencari bantuan. Saat itu juga, Roni telah memarkirkan motornya didepan rumah.
Bi Marni dengan napas yang masih tersenggal senggal,menceritakan apa yang sedang terjadi kepada Roni.
Walaupun cerita Bi Marni tidak begitu jelas dan berbicara dengan terbata-bata. Roni langsung paham apa yang dimaksudkan oleh Bi Marni, buru buru ia melepas helm nya dan berlari menuju ke dalam.
Menaiki tangga,setengah berlari dan segera meraih pintu kamar.
sial! Kenapa tidak bisa dibuka. Gerutunya Lalu didorong pintu itu menggunakan tubuh kekarnya, namun tak kunjung terbuka.
Roni mengumpulkan semua tenaganya dan kali ini pintu berhasil terbuka.
Bukan Ratih lagi yang ia lihat, setengah Ratih, setengah mahluk yang sangat menyeramkan. Matanya kembali melotot kearah Roni, suaranya meraung-raung seperti tak suka akan kehadiran Roni.
Tanganya mengepal kuat sekali, melempar apa saja yang diraihnya. Hingga benda benda berserakan dilantai. Kamar menjadi berantakan terporak poranda.
tiba- tiba tubuh Ratih terpental ke tembok dan jatuh tak sadarkan diri. Tubuhnya tergeletak dilantai.
Roni bergegas mengahampirinya dan membopong tubuhnya. ketika masih membopong tubuhnya hendak keluar.
Roni tak sengaja memandangi sudut kamar Ratih. Ada sesuatu yang berdiri disana. membangkitkan suasana kembali mencengkang.
Wajahnya datar, yang membuat semua orang yang melihat akan bergidik.
Ronggeng itu menatap tajam ke arah Roni yang sedang membopong tubuh Ratih. Matanya senantiasa melirik ke arah mereka sampai Roni berhasil membawa Ratih keluar.
Bu Sara dan Bi Marni mengikutinya dari belakang sambil menangis. Lalu dibaringkan tubuh Ratih disofa ruang tamu.
‘’Apa yang terjadi sama Ratih nak. baru kali ini saya melihat Ratih seperti ini.’’ Tanya Bu Sara pada Roni
‘’Ratih kesurupan setan ya den.’’ Seru Bi Marni dengan bibir yang bergetar.
‘’Iya Bi, Bu Sara, Ratih kesurupan Setan. Tapi untungnya mahluk itu sudah pergi.’’ Jawab Roni dengan napas yang masih terengah engah
Bu Sara tak berkomentar apa- apa. Yang beliau lakukan hanyalah menangis.
Roni duduk termenung diteras rumahnya Ratih dengan sambil meminum air yang dibawakan oleh Bi Marni.
Dalam sekejap, air telah membasahi tenggorokanya. ada sesuatu yang mengganggu pikiranya.
__ADS_1
Ronggeng itu? Kenapa Ronggeng itu bisa dikamarnya Ratih. Mau apa ronggeng itu?
***
Matahari telah terbenam,seakan ditelan oleh bumi. Langit yang sebelumnya dihiasi oleh cahaya senja, kini berubah menjadi gelap gulita.
Yang seharusnya digantikan oleh gemerlapnya bintang bintang dilangit dan bulan yang bersinar terang.
Namun lagi lagi bintang dan bulan tak muncul dilangit Jakarta malam ini.
Menjadikan langit gelap itu bercampur dengan ratapan tangis Bu Sara dan Bi Marni yang melihat Ratih masih tergeletak dikasur.
Kehidupan memang menyimpan teka-teki yang harus dipecahkan oleh manusia.
Yang mana kita hidup tidak hanya dengan manusia saja. Tetapi ada jutaan, bahkan ribuan dan milyaran mahluk.
Dari mahluk yang kasat mata sampai mahluk yang tak kasat mata. Mahluk yang tak terlihat, sering kali masuk ke dunia kita.
Ratih kini sedang diperiksa oleh Dokter. Selang beberapa saat, Setelah selesai memeriksa. Dokter seperti kebingungan, berhenti sejenak mencoba mencari kata kata yang tepat untuk diucapkan.
Kemudian Dokter itu menghela napas panjang, lalu berkata kepada Bu Sara pelan.
‘’ Ratih mengalami shock berat, Silahkan Bu Sara menunggu sampai besok, kalau nak Ratih belum sadar, segera bawa ke rumah sakit. tubuhnya saat ini terlalu lemah, untuk bisa sadar’’ ucap Dokter dengan harapan bisa memberi sebuah ketenangan
Dokter hanya memberikan harapan yang tidak pasti. Toh Dokter juga manusia, bukan Tuhan atau Dewa.
Bu Sara memandangi wajah putrinya dengan isak tangis. Hingga saat ini,yang ia lakukan hanya menunggui putrinya dengan air mata yang terus mengalir, keluar dari bola matanya yang semakin layu.
‘’Bu.. sebaiknya Bu Sara makan dulu. Biar saya yang jagain non Ratih. Bu Sara kan seharian ini belum makan.’’ Ujar Bi Marni dengan wajah memelas
‘’Engga Bi, saya mau nunggu Ratih sampai sadar.’’ Timpal Bu Sara dengan sesenggukan.
Bi Marni tak bisa berbuat apa-apa. Bi Marni sudah membujuknya berkali-kali. Namun tak digubris sama sekali olehnya.
Hingga waktu sudah menunjukan pukul 19.20 dan Ratih masih belum membuka mata.
Bu Sara duduk disamping putrinya. yang tubuhnya terbaring bagaikan mayat. Membelai rambutnya, memegangi tanganya.
Sembari dengan keadaan yang kacau balau. Ia masih memakai seragam kantor.
__ADS_1
Wajah nya yang masih terlihat lebih muda dari usianya menjadi sangat tak terurus.