
Saat malam kian larut namun, di kompleks pesantren masih terlihat ramai, karena santri - santri baru pulang kajian jam sepuluh malam.
Saat itu Aisyah juga baru kembali dari asrama putri sehabis memeriksa seorang santri putri yang demam.
" Aisyah.. " sapa Lia saat melihat Aisyah mau masuk ke pendopo.
" Ehh.. iya, ada apa kak Lia? " tanya Aisyah berusaha sesopan mungkin.
" Aku mau bicara, sebentar saja." ucap Lia dengan senyuman menghiasi bibir Lia.
" Bicara soal apa yah?" tanya Aisyah dengan perasaan bingung.
" Penting,please..sebentar saja di sana bisa..? " Lia menunjuk sebuah bangku taman yang ada tak jauh dari rumah kyai Syam.
" Boleh, mari.. " ucap Aisyah melangkah ke arah kursi taman.
Yulia pun akhirnya mengekor di belakang Aisyah.
" Ada hal penting apa yang buat kak Lia nggak bisa nunggu sampai besok? " tanya Aisyah saat merek telah duduk di sebuah kursi panjang di taman itu.
" Aku mau tanya soal kamu dan Kak Barra, apa kalian ada hubungan? " tanya Lia
Aisyah mengernyitkan dahinya, mendengar penuturan Lia membuat dia heran dengan pertanyaan barusan.
" Hubungan, maksudnya hubungan apa yah.. kak? Ais dan mas Barra nggak ada hubungan apapun, dan Ais dekat karena ada Sasa..Aisyah sayang Sasa dengan tulus, kalau misal Kak Lia ingin menjadi istri Mas Barra silahkan saya nggak ada hubungannya dengan mas Barra, cuma buat jauhin Sasa saya nggak bisa." ungkap Aisyah dengan pandangan yang susah di artikan.
" Trus kamu sudah punya pacar atau orang sudah menghitbah kamu? " tanya Lia lagi.
" Maaf sebenarnya dari pertanyaan kakak, sebenarnya apa tujuan utama dari pertanyaan itu? " tanya Aisyah dengan wajah yang mulai serius.
" Kalau ada yang ingin mengkhitbah kamu, apa boleh? " tanya Lia dengan rasa khawatir dengan respon Aisyah.
__ADS_1
" Kalau menurut Aisyah, lebih baik jika ada yang berkenan ingin dekat dengan Ais, bisa langsung sowan ke abah." jawab Aisyah dengan memandang Lia dengan intens.
" Jika yang mengkhitbah kamu seorang duda, apa yang akan kamu lakukan? " tanya Lia.
" Duda, maksud kakak.. yang ingin menkhitbah ku seorang duda? " tanya Aisyah memastikan.
" Iya, dia benar-benar ingin menjadikan mu sebagai istrinya ,namun.. karena masa lalunya dia takut untuk melangkah ke jenjang tersebut."ungkap Lia.
" Kenapa mesti takut, jalan cerita dia dengan masa lalunya dengan jalan masa depannya itu nggak akan sama, lika likunya, cobaan nya, ke bahagiaanya., perjalanan hidup yang kelam dulu bisa menjadi warning buat hubungannya kedepan." ungkap Aisyah.
" Jadi, siapa yang akan mengkhitbah saya?" tanya Aisyah akhir nya.
" Barra, dia yang akan mengkhibah mu.. jika kamu setuju besok dia akan sowan langsung ke abah. " ucap Lia dengan senyuman manis yang dia tampilkan.
" Barra, mas Barra..? bukannya...
" Kami tak ada hibungan apapun, dia pria bebas dan dia ingin menjadikan mu makmumnya dalan suka duka bersama." ungkap Lia.
" Nggak, aku cuma membantu sedikit agar kamu sama dia juga bisa ngobrol.. boleh kan dia ngobrol sebentar, aku disini sama Bang Dimas kok.. " ungkap Lia.
" Bang Dimas, modus..!! " batin Aisyah
Aisyah dengan senyuman mengangguk kepalanya tanda setuju.
Tak lama Dimas dan Barra muncul dan duduk menghampiri dua orang wanita yang duduk di taman mini itu.
" Mas Barra, apa yang mau kamu bicarakan? " tanya Aisyah dengan wajah datarnya.
" Ais..maaf ,mungkin ini mendadak buat kamu. Namun, aku nggak bisa buang waktuku lebih lama untuk mewujudkan maksud hatiku.Setelah kita bertemu di Budapest waktu itu, aku bertekad untuk menjadikan mu pendampingku dengan segala kekuranganku dengan segala masa lalu kelam ku." ucap Barra dengan wajah tertunduk.
" Apa yang buat mas yakin jika aku bisa jadi pendampingmu yang kamu harapkan?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Sifat lembut kamu pada Sasa, sifat kamu ke aku yang bukan mahrom kamu.. kamu bisa menempatkan diri kamu sesuai dengan cara yang baik, dan aku ingin membahagiakan anak ku yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, dia meninggalkan Sasa tanpa perasaan dia meninggalkan kami demi keegoisannya." ungkap Barra.
" Maksud mas, ibu kandung Sasa belum meninggal.. dia masih hidup? " tanya Aisyah mulai penasaran dengan sosok Barra dengan masa lalunya.
" Iyah.. dia belum meninggal, dia sekarang masih hidup dengan segala Kemewahan yang dia impikan dengan caranya, tanpa mau tahu kabar anak kandungnya. Inggrit pergi meninggalkan kami saat Sasa masih dua bayi, karena aku hanya seorang pria yang punya showroom sederhana, dia tidak pernah tahu siapa Barra sebenarnya nama besar papa nggak sebesar sekarang, memang usaha papa bukan di Indonesia. Saat aku berpisah dengan Inggrit Papa dan mama memutuskan untuk tinggal di Indonesia dan memindahkan pusat bisnisnya di sini dan aku mulai membantu papa di perusahaan, menjadi pria yang arogan dan juga workeholic sampai saat itu ada seorang gadis yang berani ngomong lantang di depan seorang Barra yaitu kamu bunda Aisyah Sandrina gadis kecil yang Barra punya." jelas Barra dengan memandang sekilas wanita pujaan hatinya
" Aku nggak bisa janji sama kamu, pernikahan kita akan selalu manis namun, sebisa mungkin aku akan membahagiakan mu dan anak kita nanti." sambung Barra.
Aisyah mendengar penuturan Barra hatinya mendadak menghangat, jantungnya berdetak kencang melihat sorot mata yang begitu beda dari Barra. Mata dengan penuh kejujuran dan ketulusan.
" Besok bicara dengan Abah, aku menunggu mu..memintaku dengan cara yang baik." ucap Aisyah dengan senyuman tipisnya dan cepat-cepat menunduk.
" Alhamdulillah.. baik, besok setelah sarapan aku akan bicara dengan abah dan semuanya.Terima kasih, kamu sekarang masuk tidur yah..? " ucap Barra dengan menatap sebentar wajah gadis itu.
" I_iya ..ayo, kak Lia kita masuk.. jangan kelamaan dekat sama bang Dimas ." Ucap Aisyah dengan senyuman mengejek
" Wahhh... adek durjana, masih mending aku restui kamu nglakahin aku.. nggak ada empatinya sama sekali." protes Dimas mendengar penuturan Aisyah.
" Lagian dari dulu di tarik ulur mulu, giliran nggak ada merana. " sindir Aisyah.
" Sudah sana, adik nggak ada akhlak.. "protes Dimas menekuk wajahnya dengan mode merajuk.
Melihat perdebatan kakak adik itu membuat Barra dan juga Yulia tak kuasa menahan tawa.
Akhirinya Aisyah dan Lia masuk ke dalam rumah dan dua laki-laki dewasa yang masih di tempat itu terlibat pembicaraan serius.
" Jika adikku mau dengan mu, aku titip dia.. jangan sakiti hatinya,tegurlah dengan bahasa yang baik, dia tak bisa di bentak apalagi main fisik jangan pernah, jika sampai kamu melukainya aku akan membawanya pergi jauh dari mu." ancam Dimas
Barra yang mendengar penuturan sang calon kakak ipar hanya bisa mengangguk tanda paham akan apa yang di uncapkan Dimas.
Bersambung.
__ADS_1
Like, vote terus kasih dukungan supaya othor lebih semangat nulis.