Saat Hati Memilih

Saat Hati Memilih
# Merasakan Kehangatan


__ADS_3

Sasa dan Barra sudah duduk di sebuah kursi taman dekat dengan pendopo.


" Sasa,, Sasa sayang nggak sama daddy juga bunda? " tanya Barra membuka percakapan dengan sang putri.


" Sayang. " jawab Sasa singkat.


" Sasa bersyukur, punya bunda baik seperti bunda Aisyah,,mau terima Daddy dan Sasa.. berat tugas bunda untuk mengurus kita,, yang awalnya bunda sendiri,, trus ada kita,, setidaknya kita ikut bantu bunda biar bunda juga tambah sayang sama kita,, maksud Daddy kita punya ke wajiban kita punya tugas,, itu harus di laksanakan,, dari kemarin Sasa sudah tidur sama bunda ,,dan mulai malam ini Bunda tidur sama Daddy,, dan Sasa seperti biasa tidur sendiri karena kamu sudah dewasa, kalau nanti daddy harus ke luar kota dan bunda nggak ikut,, kamu bisa tidur sama bunda,, jagain bunda.. nkita nggak selamanya bertiga,, Insyaallah jika Allah mengijinkan Sasa punya adik,,Sasa harus jadi kakak yang baik juga." ucap Barra mengelus lembut rambut panjang sang putri.


" Adik,, beneran aku bisa punya adik?" tanya Sasa antusias.


" Yahh,, Insyaallah.. makanya Sasa berdoa sama Allah semoga Allah mengabulkan Sasa punya adik dari bunda,, makanya kalau Sasa tidur sama Daddy sama bunda kapan punya adiknya? " ucap Barra


" Emang ngaruh dad? " tanya Sasa masih penasaran.


" Nga_ngaruh lah,, suatu hari Sasa pasti tahu kok alasannya ,,nggak mungkin Daddy terangkan sekarang karena kamu masih di bawah umur. " ucap Barra dengan lembut.


" Okelah,, kalau kata daddy begitu.. kalau aku dapet adik nggak masalah aku tidur sendiri." Ucap Sasa.


" Jadi,, deal.. harus lebih mandiri dan juga belajar jadi kakak yang baik nanti buat adiknya gimana? " ucap Barra dengan menyodorkan kelingkingnya ke hadapan Sasa.


" Deal,, mulai sekarang.. Sasa mau di panggil kakak Sasaaaa...!! " ucap Sasa dengan polos.


" Astagfirullah.. maafin daddy Sasa,, kamu nggak mungkin manja-manjaan sama bunda terus, Daddy juga mau..Junior udah lama nggak diadu .. " batin Barra


Akhirnya selesai sudah perundingan antara ayah dan putrinya.


" Sasa nggak papa kok tidur sama bunda... ya kan Dad? " kata Aisyah saat kedua orang yang tadi terlihat serius.


" Nggak bun, Sasa tidur sama aunty Lia aja,, Sasa kan mau mandiri bisa jadi kakak yang baik buat adik-adik Sasa nanti ya ..kan dad? " ucap Sasa dengan polos dan menatap sang daddy.


Glek..


" Mati gw, ngapa Sasa bisa ngomong gitu sih.. " batin Barra.


" Anak kamu bukan anak kecil yang iya iya aja, dia sudah pinter ngomong." bisik papa Iman


" Anak kamu sudah pinter kalau di ajak konspirasi harus ada imbalannya." bisik Dimas pada adik iparnya.

__ADS_1


Barra hanya menanggapi perkataan Sasa dengan senyum kakunya.


Malam kian larut, Barra dan Aisyah pun sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Sekarang hanya ada perasaan canggung pada keduanya, padahal tadi siang mereka sudah sedikit rapat dan terbiasa dengan candaan-candaan mereka, namun.. entah bagaimana mereka berdua saling diam tanpa ada yang mau mulai pembicaraan.


" Mas...


" Ais..


Keduannya dengan bersamaan memanggil.


Keduanya sama saling tersenyum samar.


" Ais mau bilang apa?" tanya Barra pada melirik istrinya yang masih duduk di depan meja rias.


" Mas dulu aja, apa yang mau di sampein ke Ais? " ujar Aisyah pada suaminya, melihat suaminya dari pantulan cermin.


"Bisa Ais duduk sini?"kata Barra dengan menepuk nepuk sebelah nya di bibir ranjang.


Aisyah dengan sedikit ragu mengangguk dan beranjak dari kursi dan melangkah perlahan, duduk di samping sang suami.


" Bu_bukannya mas dulu..?" ujar Aisyah


" Kalau kamu lempar lemparan kayak gini siapa yang mau ngomong duluan sampai pagi kita kayak gini terus, sekarang sebagai suami Mas kasih kesempatan Ais bicara dulu." ucap Barra dengan memandang Aisyah.


" Emmm.. Eeee,, mas Barra apa_apa mau minta hak mas malam ini juga?" kata Aisyah akhirnya.


" Maksudnya? " tanya Barra pura-pura tak paham apa yang dimaksud Aisyah.


" I_itu lho mass... itu,, ihhh... masa mas nggak tau sih.. " ucap Aisyah kesal dengan suaminya


" Lho.. mas emang nggak ngerti,, kamu kan nggak ngomong,,gimana mas tahu." jawab Barra dengan tersenyum samar melihat tingkah lucu sang istri.


" Itu mas...yang biasa di lakuin malam pertama." ujar Aisyah.


" Hahh.. maksud kamu ML? " kata Barra membuat Aisyah yang sedari tadi tak berani menatap suaminya,langsung menoleh pada suaminya.

__ADS_1


" Ihhh... mas pura-pura nggak ngerti omongan aku tadi.. ngeselin..!! " ucap Aisyah kesal dengan keisengan suaminya


" Lho.. kamu kan nggak ngomong secara jelas,, mas nggak bisa kode-Kode an,, mendingan kamu ngomong langsung biar mas paham." kilah Barra.


" Tapi,, mas kan..pasti tahu apa intinya yang Aisyah omongin, kan mas sudah pernah ML sama mamanya Sasa." ucap Aisyah kesal.


" Kok sampe kesanan sih,,ehh.. lihat aku.. " ucap Barra dengan menatap sang istri dengan pandangan mata teduhnya.


" Aisyah sayangg... dengerin,,mas nggak akan maksa Ais buat jalankan ke wajiban Ais malam ini, kalau Ais belum siap mas juga nggak maksa,, lagian kenapa kamu polos banget sih,, kan kamu dokter berhubungan dengan organ manusia,, tapi.. ngomong ML aja susah setengah mati." ungkap Barra dengan mencubit hidung Aisyah dengan gemas.


" Yaahh kan beda mas,, trus kamu maunya gimana.. kalau kamu mau minta malam Insyaallah Ais siap. " ucap Aisyah walau otaknya sedikit ragu dan jantungnya hampir copot saat bicara hal itu.


" Kita tidur saja,, pasti kamu lelah.. buat ML kapanpun bisa." ujar Barra


" Hahh.. bukan maksud ML itu malam yang pertama singkatannya kan gitu." ujar Aisyah.


" Sini.. " Barra menarik tangan Aisyah untuk naik ke ranjang.


" Hahh.. Masyaallah istri sholehah ku,, makasih sudah tahu dan tidak menolak mas,, tapi.. kita harus istirahat sekarang karena mas punya kejutan untuk kamu besok pagi." ucap Barra.


" Apaa?" tanya Aisyah


" Namanya kejutan, mana ada di omongin,,sekarang tidur.. tapi,,mas boleh peluk kamu kan ?"


Aisyah mengangguk dan wajah yang bersemu merah karena malu, ini pertama kalinya Aisyah satu ranjang bahkan satu ruangan dengan laki-laki lain, kecuali keluarganya.


" Peluk pelukan sama istri juga bisa buat tidur nyenyak." ucap Barra membuka kaos yang dia pakai.


" Mas.. mas ma_mau ngapain? " tanya Aisyah saat melihat suaminya membuka bajunya.


" Mas nggak bisa tidur pake baju Ais,, gerah." ucap Barra memberi alasan.


" Trus mas juga harus buka celana juga?" tanya Aisyah lagi saat melihat suaminya dengan bertelanjang dada dan memakai kolor saja.


" Hemmmm.. " jawab Barra dengan singat dan merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya.


Malam ini Barra kembali merasakan kehangatan yang lain dalam hidupnya, kembali menyandang sebagai seorang suami. Sementara Aisyah yang belum terbiasa dengan apa yang terjadi saat ini, dia mengatur nafasnya dan degupan jantungnya berdetak dengan cepat, dia merebahakan kepalanya masuk dalam dekapan suaminya dan kini Aisyah merasakan nyaman dalam dekapan Barra, Aisyah mulai menenggalamkan dirinya diatas Dada bidang suaminya yang ternyata sangat nyaman baginya.

__ADS_1


Barra yang membuka matanya setelah pura-pura tertidur memberikan kasempatan istrinya untuk menyesuaikan dirinya atas kehadiran Barra dalam hidupnya mulai hari ini dan malam ini dan seterusnya berbagi ranjang dengannya memberikan kehangatan penuh cinta, melihat istrinya dalam pelukannya yang terlihat nyaman, Barra tersenyum lebar menikmati pelukan istrinya .


Bersambung


__ADS_2