Saat Hati Memilih

Saat Hati Memilih
# Siapa Aisyah dan Dimas sebenarnya


__ADS_3

" Abah, mas.. kalian ternyata lama juga perginya." ucap Aisyah dengan wajah cemberutnya melihat suami dan abanhnya yang baru sampai rumah.


" Iyaa maaf sayang, mas bukan bermaksud buat ninggalin kamu lama. Cuma,mas sama abah harus melakukan beberapa pemeriksaan soal data yang di berikan Arya sama kami,maaf yaa..?" bujuk Barra menatap istrinya dengan wajah memelas.


" Iya aku maafin, tapi.. mas harus buat bumbu rujak buat aku, terus.. abah harus ambil Jambu sama belimbing di depan rumah." ucap Aisyah dengan sikap yang begitu menggemaskan.


" Kamu yakin suruh abah kamu naik pohon jambu nak? " ucap Umi Maryam meyakinkan keinginan sang putri.


" Yakinlah umi, kapan lagi abah nyenengin Ais.. bukan Ais juga yang minta abah manjat,tapi..jabang bayi yang ada di perut Ais Umi.. "


" Iya.. iya ..umi ngerti, tadi.. umi cuma mastiin aja."


Ucap Umi Maryam pasrah dengan tingkah putrinya yang seperti mengerjai suaminya.


Abah yang mendengar permintaan putrinya malah tersenyum lebar, karena dia diikutsertakan dengan acara mengidam Aisyah. Rasa berasalah di hati Kyai Syam memang belum sepenuhnya hilang rasa yang membuat Aisyah pergi jauh darinya.


" Sudahlah, abah malah seneng di repotin cucu abah ini... sehat-sehat kamu nak" ucap Abah membelai kepala sang putri.


" Abah, peluk.. " ucap Aisyah dengan manja.


Abah hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya yang dulu selalu manja padanya.


Abah Syam pun memeluk tubuh Aisyah dengan erat dab mencium pucuk kepala Aisyah bertubi-tubi.Karena memang baru kali ini dia memeluk nya lagi seperti beberapa tahun lalu.


Umi dan juga saudara Aisyah yang melihat tingkah Abah dan putri bungsunya itu hanya bisa tersenyum bahagia dan juga haru, malah mereka tak sadar sudah menitikan air mata karena melihat kedekatan ayah dan anak itu kembali terjalin.

__ADS_1


Sasa melihat sang bunda begitu manja pada sang eyang pun mendekati sang Daddy dan memeluk Daddy nya.


" Dad.." ucap Sasa lirih.


" Iya sayang, Daddy sama bunda akan selalu sayang sama kakak. " ucap Barra dan memeluk putrinya dengan erat dan mengecup kening sang putri.


Barra sadar jika putrinya sudah beranjak remaja, apalagi dia akan jarang bertemu sang putri. Tapi, dia bersyukur melihat putrinya sekarang terlihat lebih bahagia diantara keluarga besar Kyai Syam dan juga nyaman di lingkungan pesantren.


" Jadi anak sholehah yaa.."ucap Barra dengan lirih namun,terdengar oleh sang putri.


" Maafin Sasa dad, Sasa belum bisa maafin semuanya." ucap Sasa


" Semua butuh proses, kamu harus selalu bersyukur atas apa yang terjadi di hidupmu nak, maafin daddy yang selama beberapa tahun lalu buat Sasa jauh dari daddy. Yang jelas daddy akan selalu dukung Sasa, kamu anugrah terindah buat daddy." ucap Barra.


" Kok bunda nggak di peluk dad?!" ucap Aisyah sudah ada di samping kedua orang yang dia cintai.


Melihat kebahagiaan keluarga kecil itupun semua berayukur karena saat memilih jalan hidupnya Aisyah mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya dia inginkan.


Suasana hangat keluarga Kyai Syam dan juga Sulaiman terus berlanjut, apalag sekarang terlihat Barra yang sedang duduk membuat buat sambal rujak buat sang istri di bantu Umi dan mamanya.


Sedang Kyai Syam yang naik ke atas pohon Jambu di bantu oleh besannya serta Dimas dan Sasa yang menunggu du bawah pohon jambu menyemangati kedua orangtua itu, sambil sesekali mengunyah Jambu yang mereka kumpulkan.


Melihat semua orang yang berusaha menuruti keinginan Aisyah, merasa hatinya bahagia. Aisyah dan Lia duduk di dipan bambu yang Dimas buat di taruh di bawah pohon mangga yang rindang terasa adem duduk di bawah nya.


" Kamu pasti bahagia kan Ais? " tanya Lia.

__ADS_1


" Alhamdulillah kak, semua yang aku inginkan sedikit demi sedikit terwujud.Begitu juga kakak, jaga bang Dimas yaa.. kadang dia itu nggak mau buat orang sekelilingnya sedih, Dia terlalu sering menyembunyikan kesedihannya di balik sikap dan tawanya." ungkap Aisyah.


" Benar begitu Ais, aku memang belum terlalu mengenal bang Dimas, tapi.. aku yakin dia adalah pria baik." ucap Lia


" Oh iya kak, Bang Dimas kan nggak terlalu banyak terlibat di pesantren, boleh di katakan lebih banyak hidup di luar pesantren seperti aku. Menurut rencana Mas Barra akan mulai membangun balai kesehatan di sekitar pesantren ini, di lahan milik abah. Aku sama mas Barra pun akan sering di Jakarta, aku masih di harapkan di Salah satu Rumah Sakit milik Papa Bastian sebagai tenaga medis. Tolongin kita buat jaga Sasa juga abah dan Umi, serta selalu cek pembangunan Balai kesehatan disana." ucap Aisyah.


" Insyaallah Ais, aku sama bang Dimas akan membantu kalian mengontrol semuanya selama kalian tak bisa mengeceknya langsung." jawab Lia


" Alhamdulillah, kemungkinan besar Balai kesehatan itu nanti secara administrasi aku serahkan pada kalian berdua dan untuk tenaga medis nanti aku dan papa Bastian merundingkannya.Terus ,aku juga sudah lama bergabung di salah satu lembaga yang mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah Qur'an sementara ini di pegang oleh sahabatku Sheeren dan untuk lembaga Amal pun ada di pegang oleh Wisnu. jika kakak mau bergabung dengan mereka nggak masalah buat membatu operasional, dan kakak bisa tanya ke Kak Citra." ungkap Aisyah panjang lebar.


" Masyaallah.. aku baru tahu kamu terliba tF begitu banyak kegiatan yang Insyaallah membawa manfaat buat banyak orang." ucap Lia yang tak menyangka jika adik iparnya yang terlihat biasa namun, banyak rahasia kebaikan di dalam hidupnya.


" Sebuah kebaikan yang kita lakukan tak perlu orang tahu kak, dan aku hanya manusia biasa yang belum baik dan akan selalu punya kekurangan. Aku ingin kakak tak bosan di lingkungan sekeliling kakak, apalagi bang Dimas yang selalu sibuk dengan pekerjaan sosialnya." ungkap Aisyah.


" Oh yaa.. apa yang aku nggak tahu? " tanya Lia yang mulai penasaran dengan kegiatan suaminya.


" Aku dan bang Dimas punya satu usaha yang aku dan bang Dimas dirikan beberapa tahun lalu, kita masih dibilang UMKM skala kecil dan menengah. Kita punya toko batik yang ada di beberapa lokasi dan juga ada beberapa tempat kita buka usaha rental mobil dan motor dan juga ada usaha kuliner yang ada di beberapa lokasi di sekitaran Jogja.Semua usaha itu hanya aku dan bang Dimas yang tahu semua anggota keluarga beluam ada yang tahu, kalau -kalau kakak bingung pendapatan bang Dimas dari mana sedang kan dia terlihat santai dan selalu slengean itu adalah gayanya. Tapi, dia punya otak bisnis yang mumpuni." terang Aisyah mengungkapkan siapa abang nya itu.


" Ya Allah, kalian berdua ternyata banyak rahasia yang disembunyikan dari keluarga." ucap Lia.


" Yahhh.. aku dan ban Dimas punya pemahaman yang sama dengan kebahagiaan di luar pesantren. Sebenarnya aku juga bisa menebus uang gadai tanah abah, namun.. suami ku yang mengambil tanggung jawab itu hanya demi aku, dan itu yang membuat aku semakin mencintainya. Dia orang yang tak banyak bicara namun, dia selalu membuktikan bahwa dia bisa membahagiakan anak dan istrinya." ungkap Aisyah.


Lia yang mendengar penuturan Aisyah pun membenarkab omongan adik iparnya itu. Barra dan Aisyah dua orang yang sempurna ketika mereka si satukan.


Bersambung

__ADS_1


Di hari Senin saatnya Vote...


__ADS_2