
Hari berikutnya, Arya yang kebetulan menginap di rumah abinya membuat janji dengan Abah Syam soal tanah jaminan yang dulu pernah Abah Syam jaminkan.
Dan kebetulan Arya memutuskan untuk tidak berangkat bekerja untuk hari ini.
Dirumah Abah Syam beliau sedang bicara pada menantunya jika Arya ingin bertemu hari ini di pondok Pesantren milik Kyai Safi.
" Kalian yakin kesana berdua? " tanya papa Iman.
" Yakin Man, lagian juga ada hitam diatas putih perjanjian soal jaminan tanah itu. Jika Arya tak bisa diajak kompromi baru kita bisa lanjutkan konsultasi ke lawyer yang kita tunjuk." ucap Kyai Syam
Sedang Papa Iman manggut manggut tanda mengerti.
Akhirnya Barra dan Kyai Syam pergi ke tempat Arya, Barra sengaja membawa mobil mertuanya mengemudikan sendiri. Mobil sedan Civic yang dia belikan sebagai hadiah untuk mertuanya. Apalagi sang mertua yang punya kendaraan yang bisa di gunakan dengan sang istri, kendaraan yang menurutnya cocok untuk mereka berdua. Karena memang tiga mobil di garasinya jenis mobil yang bisa menampung keluarganya.
" Abah terima kasih yaa.. buat hadiah nya, sebenarnya abah sudah lupa sama keinginan abah dulu kalau anak abah sudah pada menikah mempunyai mobil pribadi buat abah sama umi jalan-jalan santai." ucap Abah Syam pada menantunya.
" Santai aja bah, lagian.. kadang abah juga umi perlu pivasi dan paling akan di ganggu sama Sasa nanti soalnya aku yakin kalau cucu abah yang lain itu sudah sibuk dengan orang tua mereka masing-masing." ucap Barra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Iya.. beruntung Sasa minta pindah kesini, bisa buat pelipur lara umi sama abah." ucap Kyai Syam.
" Kalau itu, Barra sama Aisyah juga nggak tahu bah.. tiba-tiba dia ngomong sama Barra juga Aisyah. Tapi, Barra bersyukur dia mau berbuat seperti ini untuk bekal nantinya, Barra dari dulu terlalu sibuk dengan masa lalu Barra yang buat Sasa terlantar tanpa bimbingan Barra sebagai ayahnya." ungkap Barra dengan wajah penyesalan
" Astagfirullah,jadikan itu pelajaran buat kamu nak.. tak selamanya apa yang kita harapkan itu terbaik buat kita." ucap Abah mengingatkan menantunya.
" Beruntung Sasa bertemu dengan Aisyah, wanita baik walaupun saat pertama kenal dia wanita bar-bar yang berani ngatain Barra dengan lantang, tak ada rasa takut. Perkataannya selalu terselip makna buat Barra, dia yang buat Barra sadar selama beberapa tahun membuang waktu percuma untuk meratapi nasib Barra yang ditunggal pergi oleh ibu Sasa. Barra anggap sudah mati, sampai Barra yang dengan sengaja bicara pada Sasa dia sudah mati. Tapi, dia sekarang muncul lagi ingin mengnal Sasa, dan Sasa dengan tegas menolak kehadiran mama nya." ungkap Barra dengan mata memandang fokus ke depan.
" Dia pasti butu waktu untuk menerima kenyataan bahwa mamanya masih ada, dan jangan lupa berikan dia pemahaman akan tidak membenci mamanya. Abah dan Umi pun Insyaallah akan selalu menyayangi anak kamu seperti cucu kandung abah sendiri. Sasa memang masih kecewa, Abah semalam mendengar Aisyah memberikan pengertian pada Sasa, namun.. Sasa masih enggan menerima ibu kandungnya." ucap Abah Syam
Barra dan Abah Syam sampai di Pesantren Darul-Hikmah milik Kyai Safi. Mobilnya masuk kedalam kawasan pesantren yang tak kalah besarnya seperti milik Kyai Syam.
Sampai di depan rumah pribadi Kyai Safi,Barra memarkir kendaraannya. Abah Syam keluar dari dalam mobil dan diikuti Barra keluar dari dalam mobil dengan tampikan santa dengan balutan kemeja panjang yang di gulung lenganya sampai siku dengan celana bahan, serta sendal santainya.
__ADS_1
" Assalamualaikum. " salam kedua tamu itu membuat Anne yang sedang sibuk dengan sang mertua pun terputus membuka pintu rumah itu
" Wa'alaikum salam,ehh..Kyai.. silahkan masuk " ucap Anne dengan sopan.
Anne yang tadinya terlihat sombong sekarang terlihat lebih baik dalam bersikap, sejak masa lalunya terkuak Anne menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan umi Ratih.
" Kyai Safi sama Arya ada nak? " tanya Kyai Syam pada Anne
" Ada Kyai, silahkan duduk dulu ..biar saya panggilkan." ucap Anne di angguki Kyai Syam.
Tak berapa lama akhirnya Kyai Safi dan Arya pun datang.
" Assalamualaikum Ji" ucap Kyai Safi
" Wa'alaikum salam, maaf nih.. kami ganggu." ucap Kyai Syam
Mereka berjabat tangan dengan seperti biasa yang mereka lakukan.
" Jadi gimana Syam, Barra.. saya sudah bilang pada Arya dan dia pun sudah di urus oleh pengacara nya, kebetulan semua sudah di masukkan dalam penjagaan harta benda kami." ucap Kyai Safi
Barra dan abah pun mengecek, bukan karena tak percaya tentunya biar tidak terjadi kesalahpahaman, yang mengakibatkan permusuhan antar sahabat lama itu.
" Semua yang ada di bukti sama dengan laporan ini, dan semua sebesar 700jt, apa pengacara kamu besok sudah bisa serahkan surat tanah itu? " tanya Barra pada Arya.
" Bisa, besok saya ke tempat Abah.. sekalian pulang kantor." ucap Arya.
Arya sempat meragukan seorang Barra dan atas keinginan Anne yang ingin melihat siapa suami Aisyah sekarang, akhirnya mengetik nama lengkap Barra dan di sana ada sedikit informasi tentang siapa Barra. Walaupun hanya sedikit informasi mengenai siapa Barra namun, sangat jelas disana dia tercatat sebagai salah satu pengusaha muda yang sukses dalam bisnis Otomotif yang mengawali keberhasilannya dan juga bisnis property milik keluarganya.
Tercantum seorang Barra adalah ayah dari Sandrina putri cantiknya yang dikenal sebagai anak Barra bersama Aisyah seorang Dokter muda Spesialis Bedah. Disana memang hanya tercantum informasi itu.
Walaupun Sasa bukan anak Aisyah dengan Barra tapi, disana tercantumkan informasi demikian. Tak ada informasi yang membeberkan Barra seorang duda sebelum menikahi Aisyah. Berita tentang kegagalan pernikahan nya dulu tak pernah ada dan semua berita itu di tutup rapat oleh Kevin orang kepercayaan Barra sekaligus sahabatnya yang dulu pernah mergabung dengan CIA.
__ADS_1
Arya tak mau berurusan sama Barra yang terkenal kejam.Padahal Barra hanya seorang yang suka menggretak namun, gerakan sadisnya pada musuh itu dilakukan oleh Kevin dan anak buahnya.
Anne membawa beberapa camilan dan minum untuk tamu sang abi dan suaminya.
" Siapa yang datang An? " tanya Inggrit yang keluar dari kamarnya melihat Anne dan Umi sibuk siapkan hidangan untuk tamunya.
" Ohh.. ini tamu mas Arya sama Abi, Kyai Syam dengan menantunya." jawab Anne dengan santai
" Aku bantu yaa.. " tawar Inggrit.
" Boleh.. " ucap Anne dan menginstruksikan ada Inggrit untuk bawa camilan sementara dia membawa minuman.
Saat mereka sampai di ruang tamu, Inggrit menghentikan langkahnya. Dia terkejut melihat orang dimasa lalunya berada duduk dengan Arya dan Abi Safi.
" Abah, maaf Barra angkat telpon dari Ais.. " ucap Barra dan diangguki abah Syam.
Barra melangkah keluar rumah itu dan menerima panggilan dari sang putri dan istrinya.
" Assalamualaikum sayang.. "
Terdengar suara balasan salam dari sebrang telepon.
" Ada apa ini, udah kangen sama daddy..? "
" Oke, bilang sama bunda.. daddy segera pulang sama Eyang kung.. kamu jangan nakal., kasihan bunda sama dedek bayinya.,Daddy tutup telpon nya.. Assalamualaikum " ucap Barra dan menutup panggilan telponnya.
" Barr... " tegur seseorang
Barra yang akan melangkah masuk kembali kerumah, mendongakkan wajahnya terlihat seseorang yang dia tak harapkan.
Barra hanya bisa menghela nafas kasar dan cepat berlalu namun, saat akan masuk ke dalam rumah tangannya di cekal.
__ADS_1
Barra begitu terkejut dan kesal dibuatnya. Tatapan nyalang di layangkan pada sosok yang dia hindari.
Bersambung