Saat Hati Memilih

Saat Hati Memilih
# Perhatian Barra


__ADS_3

Setelah selesai dengan acara ijab qobul antara Barra dan Aisyah semua yang hadir menikmati hidangan sederhana yang si sediakan oleh keluarga mempelai.


Aisyah yang sadar dengan status nya saat ini, mendekati Barra suaminya.


" Mas,mau Ais ambilkan makan? " tanya Aisyah saat di dekat Barra yang sedang bercanda dengan putrinya.


" Boleh,, tapi.. dikit aja, sebentar lagi mau sholat jum'at juga." jawab Barra dengan senyum mengembang.


" Baiklah, Sasa mau makan sekarang atau nanti sama bunda?" tanya Aisyah pada Sasa sang anak sambung.


" Nanti aja deh bun, Daddy dulu makan..soalnya dari semalam Daddy nggak enak makan cuma makan buah doang." terang Sasa.


" Lho.. kok nggak makan sih, ya udah.. bentar bunda ambil makan dulu yaa.. " Aisyah dengan cepat meninggalkan Barra dan Sasa beranjak mendekati meja tempat peresmanan.


" Kenapa bilang sama bunda sih, bunda pasti khawatir kan? " ujar Barra pada sang putri.


" Yahh.. nggak papa kan bunda khawatir,jadi..kan tahu bunda bener sayang sama daddy." jawab Sasa dengan santai.


" Dasar bocah..!! " umpat Barra pada sang putri.


Terlihat Aisyah mendekat ke arah Barra dan Sasa membawa piring berisi makanan untuk suaminya.


Terlihat Barra yang sedang sibuk dengan ponselnya, Aisyah meletakkan piring itu di atas meja depan Barra. Namun, Barra masih fokus dengan pekerjaannya yang di kirim oleh Assistennya Kevin.


" Kalau Daddy udah kerja dia pasti lupa bun, parnah tuh.. daddy lupa sama aku." ungkap Sasa lirih.


Aisyah mengelus lembut rambut yang tertutup hijab milik Sasa dan mengambil piring yang tadi dia bawa dan dengan cepat mengisi sendok dengan nasi dan sayur serta lauk dan mengarahkan sendok itu ke depan mulut Barra.


" Bismillahirohmanirrohim...daddy sambil makan yaa.. biar bunda suapkan." ucap Aisyah dengan senyuman menghiasi bibirnya.


" Masyaallah ..maaf yah bun, habis pekerjaan nya mendesak.. biar mas yang makan setelah ini." jawab Barra.


" Nggak papa, tangan bunda pegel nih.. dad,,please ...aaa..." ucap Aisyah dengan mengarahkan sendok yang berisi nasi dan teman-temannya ke arah mulut Barra.


Barra akhirnya menerima suapan yang Aisyh berikan, dan membelai lembut kepala sang istri dengan sayang.Sementara yang melihat interaksi kedua pengantin baru itu terlihat bahagia dengan perlakuan keduanya.


" Pah.. Barra seperti baru jatuh cinta, tapi.. sikapnya jauh beda sama dia memperlakukan Inggrit juga Aisyah." ucap mama Hanna.


" Tergantung pasangan juga mah, Aisyah memperlakukan Barra dengan setinggi tingginya sedang dulu Inggrit hanya memandang Barra yang bisa memenuhi kebutuhan dia." ucap Papa Iman


Mama Hanna menanggapi perkataan suaminya dengan anggukan membenarkan apa yang dikatakan sang suami benar adanya.


" Bunda,kok Daddy doang yang disuapin? " protes Sasa yang melihat sang Bunda kesayangannya menyuapi sang Daddy.


" Ciee.. jeles yaa,, Sasa kan udah puas sama bunda dari kemarin.. sekarang giliran Daddy lah... " goda Barra pada sang putri.


" Nooo...ini bunda aku Daddy..!!" seru Sasa tak terima sang Daddy mulai memonopoli Aisyah.

__ADS_1


" Sudah-sudah.. bunda punya kalian kok, sekarang kalian makan bunda yang suapi" ucap Aisyah untuk melerai pertengkaran dua orang kesayanganya.


Akhinya Aisyah dengan kesibukannya menyuapi dua orang yang sedang bermanja dengannya.


Sementara di tempat tak jauh dari pesantren Al-Hikmah.. rombongan Kyai Safi yang akan berkunjung bersilaturami dengan Kyai Syam sedang ada di jalan menuju pesantren.


" Kamu yakin kalau Aisyah sudah kembali?" tanya Kyai Safi pada sang putra Arya


" Betul bi, kemarin Arya bertemu dengan Rezky di pengajian Kyai Baharuddin dia bilang Aisyah sudah kembali, dan Arya bilang kalau kita akan berkunjung,Rezky bilang dengan tangan terbuka mereka menyambut kita.


" Kita keburu nggak sekalian sholat Jum'at di Pesantren Al-Hikmah milik Kyai Syam? " ucap Kyai Safi pada sang supir.


" Insyaallah bisa, kyai.. ini tinggal belok lima menit sampe pesantren " jawab sang supir.


Benar saja, mereka sampai pesantren bertepatan dengan Kyai Syam, Papa Sulaiman, Barra, Dimas, Wisnu,Irwan dan Rezky keluar dari pendopo.


" Siapa itu? " tanya apa Iman


" Abah sepertinya, itu mobil Kyai Safi." ucap Dimas mengenali mobil Arya.


" Astaghfirullahal'azhim.. Rezky lupa bah, kalau kemarin abang ketemu sama Arya, dan. bilang Ais sudah pulang, dia bilang mau berkunjung,dan Rezky bilang dengan senang hati kita menyambutnya ,maksud Rezky sebagai sahabat Abah." ucap Rezky dengan senyuman kikuk melihat wajah sang abah tak seramah biasanya.


Barra dan papa Sulaiman saling pandang, memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi.


" Assalamu'alaikum Kyai.. semua..!! " salam ramah terlihat dari Kyai Safi.


Semua bersalaman dengan senyuman ramah mereka.


" Mau langsung ke masjid? "tanya Dimas


" Ohh.. iya,kita langsung ke masjid saja." ucap Kyai Safi.


Mereka melangkah beriringan ke arah masjid.


" Daddy... mana bunda, aku mau minta ijin ke ladang semangka sama aunty Kia." seru seorang gadis cilik berhijab mendekat ke rombongan Kyai Syam yang sedang berjalan.


" Gadis cilik ini, seperti aku pernah lihat tapi.. dimana? " batin Arya melihat Sasa


" Sayang, langsung ke rumah bunda kamu ada di dapur tadi sama eyang uti." bukan Barra yang menjawab malah Kyai Syam yang terlihat seperti sangat menyayangi Sasa.


" Oh..Oke Aung, makasih... Assalamualaikum." ucap Sasa segera berjalan menjauhi rombongan sang daddy.


" Wah.. siapa tadi, gadis cantik.. " ujar Kyai Safi


" Cucu ku, tepatnya cucu saya dan Sulaiman. " ucap Kyai Syam dengan merangkul bahu sahabatnya Sulaiman.


" Wah... Sasa sangat pintar menebarakan kasih sayang di hati abah." ucap Dimas pada Barra.

__ADS_1


" Alhamdulillah.. abah juga kalian menerima Sasa dengan baik, dia kelihatan sangat bahagia, selama ini.. dia. hidup dalam kesepian." ucap Barra.


" Gimana nggak langsung deket Bar.. anak itu pembawaanya ceria kayak nggak ada beban ." ujar Rezky.


" Gimana bundanya nggak langsung jatuh hati sama dia ,sampe bisa nyatuin dua keluarga bahkan mempertemukan dua sahabat yang sudah lama kepisah." ucap Wisnu.


Arya yang sedari tadi mendengarkan obrolan ke lima pria di belakangnya, bertanya-tanya siapa pria berparas bule bersama kakak dan suami sahabat Aisyah.


Sementara para lelaki sholat jum'at sementara di kediaman Kyai Syam ada Umi Ratih dan juga Anne yang bersama ibu mertuanya.


Anne dengan wajah yang terlihat begitu angkuh, masuk ke dalam pendopo sesaat Kia mempersilahkan tamunya masuk.


" Assalamu'alaikum Umi Maryam.. " salam terdengar dari bibir umi Ratih.


" Wa'alaikum salam mbak Ratih..monggo -monggo pinarak.. wah saya nggak nyangka kalian berkunjung kesini." ucap Umi Maryam dengan ramah


" Alhamdulillah kita bisa ketemu lagi mba Maryam." ucap Umi Ratih.


" Oh iya.. kenalkan ini jeng Hanna besan saya ,trus ini Mbak Ratih istri dari Kyai Safi yang punya ponpes Darul-Hikmah,trus ini siapa mbak? " tanya Umi Maryam melihat Anne.


" Ini Anne, istri Arya.. " ucap Umi Ratih.


Prangg...


" Aisyah..!! " seru mereka melihat Aisyah menjatuhkan gelas.


" Sayang..!! " seru Barra saat melihat istrinya menjatuhkan gelas


" Bunda..!! " teriak Sasa menghampiri sang bunda.


" Stop disitu Ais..!!" seru Barra menghentikan pergerakan sang istri.


Dengan cepat Barra memungut pecahan gelas yang ada di sekitar Aisyah.


" Bar.. ini plastik sama lap basah." Kia memberikan kresek dan juga lap basah pada Barra.


Setelah dirasa aman, Barra mendekati kedua orang wanita yang dia sayangi.


" Kalian nggak luka kan? " ucap Barra seraya membolak balikkan tubuh anak dan istrinya.


" I'm fine dad.. " ucap keduanya kompak.


Melihat perlakuan Barra pada anak istrinya membuat Kyai Syam dan Sulaiman tersenyum dan Kyai Syam dengan tanpa segan merangkul bahu sahabatnya.


Kyai Safi yang melihat interaksi Kyai Syam dan Sulaiman terlihat beda saat bersamanya, jika dengan Sulaiman seperti Irwan Syamsudin yang berbeda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2