Saat Hati Memilih

Saat Hati Memilih
#Adek sayang Kakak


__ADS_3

Acara makan siang bersama itu terasa sederhana namun,penuh kekeluargaan.


"Om Arya.. Sasa mau tanya boleh? " ucap Sasa memecah kekhusukan menikmati makan siang mereka.


" Ada apa nak? " tanya Arya yang terlihat terkejut dengan tiba-tiba Sasa bertanya padanya.


" Apa wanit itu masih ada di rumah om Arya? "


Perkataan Sasa seketika membuat semua orang menatap Sasa dan Arya.


" Ma_maksudnya apa Sa,Inggrit wanita yang om hampir tabrak ? "tanya Arya memastikan dan Sasa pun mengangguk.


" Sasa kamu...


" Sasa tahu Dad, wanita itu diajak ke rumah Kakek Safi kan,kenapa..apa keluarganya nggak ada yang mencarinya?"


" Nak.. Sasa denger dari siapa, terus kok Sasa tanya begitu sih? " kini Aisyah mengusap punggung putrinya.


" Sasa denger waktu daddy bilang sama bunda, Sasa nggak sengaja denger. Tadinya Sasa pengen bilang ke bunda kalau hari ini aku mau pergi sama Aunti Citra sama Om Rezky tapi, aku denger kalau wanita itu masih disini. Kenapa sih, Om Arya bawa dia ke rumah Om.. kenapa nggak biarin dia di Rumah Sakit?"


Pertanyaan Sasa membuat semua tercengang, pertanyaan model apa Sasa lontarkan. Sebegitu bencinya kah dia pada sosok ibu kandungnya.


" Om Arya menolongnya, karena di Rumah Sakit dia nggak mau, akhirnya Om bawa ke rumah Kakek Safi biar ada yang jaga. Om Arya nggak tinggal disana, meman kemaren Om nginep semalam. Tapi, kenapa tanya tante Inggrit,Sasa kenal? "


Sasa menggelang cepat dan menatap daddy dan bundanya.


" Sasa nggak kenal, cuma daddy yang kenal.. aku nggak mau hidup om kacau karena wanita itu seperti hidup daddy. " ucap Sasa dan tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan berlari sekencang ke dalam kamarnya.


Barra meneriaki putrinya yang pergi begitu saja, namun tak di hiraukan oleh Sasa teriakan sang Daddy. Ada rasa khawatir tentang putrinya. Entah kenapa Sasa setelah tahu kebenaran soal Inggrit terlihat berbeda, lebih banyak diam tak seperti dulu..


" Sudahlah mas, nanti biar aku yang coba bicara sama Sasa." bujuk Aisyah.


Barra akhirnya mau mendengar perkataan istrinya, dia kembali menyuapkan makan nay walaupun sudah tak berselera karena melihat sang putri yang bersikap dingin dan terkesan dewasa sebelum waktunya.


" Saya sarankan jangan banyak ikut campur urusan menolong kamu dengan kehidupan pribadi wanita itu." ucap Barra dengan wajah tak berpaling dari makanan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


" Kenapa, apa kamu cemburu,bukan kah dia hany mantan istri mu.. " ucap Arya dengan nada mengejek.


" Kamu tidak tahu apapun dengan apa yang terjadi pada kami, jadi.. jangan terlalu ikut campur. Perlu aku ingatkan, jangan pernah berfikir untuk membatu wanita itu untuk mendekati anakku..camkan itu!! " ucap Barra dengan wajah yang sudah memerah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Aisyah yang melihat keadaan yang sangat membuatnya pening pun akhirnya meminta sang abah untuk melakukan pembicaraan ditemani Dimas, karena tak mungkin Barra akan bisa menekan amarahnya jika terus berhadapan dengan Arya.


Aisyah menyusul suaminya yang masuk ke dalam kamarnya.


" Mas.. " tegur Aisyah yang melihat suaminya berdiri di depan jendela kamarnya yang terbuka.


" Hehh.. yang, kok kamu kesini. Kamu sudah selesai makannya?" tanya Barra dengan menarik pelan tangan istrinya dan memeluknya.


" Bagaimana aku akan makan tenang, sementara anak dan suamiku mereka pun belum makan." ucap Aisyah dengan menatap sorot mata Barra yang terlihat sendu.


" Tapi, dia butuh makan sayang.. kmu sedang hamil. Jangan menyiksa dirimu." ucap Barra dengan lirih.


" Mas, aku tahu jika aku nggak berhak ikut campur tentang masalah kamu dengan Ingrrit tapi, aku ingin masalah kalian cepat selesai.Kalian sudah punya Sasa walaupun kalian sudah pisah tapi, jangan egois dengan pikiran kalian. Aku nggak mau Sasa merasakan dendam pada kedua orang tuanya,aku nggak mau Sasa merasakan trauma dalam hidupnya." ungkap Aisyah membelai rahang kokoh suaminya yang ditumbuhi bulu lebat itu.


" Hahhhh... aku sebenarnya tidak ingin lagi berurusan sama dia Ais, aku pun nggak menganggap ada masalah antara kita. Aku ingin kembali damai bersama Sasa, tanpa dia harus memaksa untuk menemui Sasa."


" Lalu aku harus bagaimana, aku juga ingin dia dan Drew datang padaku minta maaf dan menyelesaikan masalah yang selama ini mengganjal."


" Hubungi dia, jika dia ingin menemui Sasa.. dia harus bawa suaminya." ucap Aisyah.


Barra mendengar ucapan sang istri menatap intens sang istri. Apa maksud dari rencana Aisyah sebenarnya.


" Kamu menyembunyikan sesuatu dari mas? "tanya Barra penuh selidik.


" Mas, kamu tahu nomer telpon Drew..atau emailnya? " tanya Aisyah tanpa menjawab pertanyaan sang suami.


" Sayang, jangan macam-macam.. aku nggak mau kamu disakiti."


" Mas, ini bukan hanya untuk keluarga kecil kita tapi, ada seseorang yang akan terselamatkan dari niat suaminya berpoligami." ucap Aisyah


Barra mengernyitkan dahinya " maksud kamu? " tanya Barra.

__ADS_1


Aisyah mengurai pelukan suaminya dan menjauh." Pokoknya hubungi dulu Drew demi Sasa, aku lakukan demi dia.Aku ke kamarnya dulua pasti akan butuh aku." ucap Aisyah


" Kalau kamu nggak bergerak juga aku akan suruh Kevin melakukannya untukku." sambung Aisyah sebelum benar-benar keluar kamarnya.


Aisyah melangkah menuju kamar Sasa dia ingin Sasa tahu jika semuanya akan baik-baik saja.


Tok tok tok.


" Sasa.. ini bunda nak, please kasih bunda masuk.. " ucap Aisyah saat di depan pintu kamar anaknya.


" Bunda" gumam Sasa yang sedang menangis di kamar sendirian.


" Ayo sayang, bunda capek berdiri terus, adek kamu mau sama kakaknya"teriak Aisyah


" Ya Allah ,adek masih di perut bunda aja nggak biarin kakak tenang.. haissstttt." gerutu Sasa dan akhirnya membuka pinty kamarnya


Ceklek.


" Alhamdulillah akhirnya dibuka juga, adeknya pengen peluk kakaknya." ucap Aisyah saat masuk ke kamar Sasa.


" Bunda jangan ngadi ngadi deh, adek aja masih di perut bunda masa bisa ngomong sama bunda mau peluk kakak sih, nggak percaya Sasa bun..." ucap Sasa mencebikkan bibirnya


" Hiks.. hiks... daddy, kakak nggak mau di peluk adek... kakak nggak sayang adek dad. " adu Aisyah memainkan dramanya supaya Sasa yang masih sedih bisa tersenyum


" Ihhhh... bunda bukan gitu, Kakak sayang kok sama adek, beneran dad.. Sasa nggak bohong." ucap Sasa menatap sang daddy dan melihat bundanya yang sepertinya sedih.


" Makanya kakak peluk adeknya, biar bunda nggak sedih. Kasihan lho, adeknya juga ikut nggak makan kayak kakak."ucap Barra yang masih berdiri di pintu dan bersandar di tembok.


Sasa mendengar penuturan sang daddy akhirnya dia langsung peluk sang bunda dan mengelus perut Aisyah yang sudah terlihat menyembul walau hanya sedikit nggak rata lagi


" Adek sayang sama kakak, bunda juga sayang sama kakak, Kakak nggak sendirian." ucap Aisyah dengan memeluk putri sambungnya dengan erat.


" Daddy juga sayang kaliaaaaan... " ucap Barra langsung memeluk dua perempuan yang dia sayangin dan mendaratkan kecupan pada keduanya.


Sasa yang seperti sangat berharga pun akhirnya tersenyum dalam dekapan kedua orangtuanya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2