
Pagi ini Rumah Alfarizh begitu sibuk dengan persiapan mengantar Dimas untuk menikah dengan Yulia.
Semua keluarga turut bahagia dengan pernikahan Dimas. Untuk acara ngunduh mantu akan di selenggarakan di Jogja sekalian juga resepsi untuk Aisyah dan Barra seminggu kemudian.
Semua sangat bahagia akhirnya Aisyah juga sudah menentukan pilihan pada pria yang baik dan ke sholehan seseorang bukan si lihat dari siapa dia lahir dan pergaulan di luar pesantren pun bisa menjadikan seseorang menjadi sholeh dengan bimbingan dan belajar dari mana saja untuk menjadi laki-laki yang baik dan sholeh.
Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih tiga jam mereka sampai di rumah besar keluarga Lia.
Dari sanak saudara mempelai wanita sudah menyambut dengan binar bahagia dan para tetangga dekat pun tak ketinggalan untuk hadir di acara keluarga Lia .
Dimas sudah duduk di depan ayah Lia dan menjabat tangannya dengan erat, satu tarikan nafat Dimas mengucap janji setia dihadapan Allah.
Semua yang mendengar pun terharu apa lagi Aisyah sang adik yang begitu dekat dengan sang kakak.
" Selamat ya nak, kamu sudah mejadi suami..bimbing istrimu di jalan Allah, jangan pernah bertindak kasar baik dalam bentuk perkataan juga jangan pernah main tangan, istrimu mulia dia calon ibu dari anak-anak mu." ucap Kyai Syam.
" Umi titip Dimas ya nak, dia memang sedikit beda dengan kakaknya, jika dia salah tegur lah dan jagalah makan minumnya,, semoga kalian selalu memberikan kebahagiaan " ucap Umi Maryam.
"Abang,,selamat.. adek sayang abang,semoga bahagia selalu.. terima kasih jadi abang yang selalu menjadi tameng buat adek mu ini, terima kasih kasih sayang mu selama ini.. " ucap Aisyah memeluk sang kakak.
" Sampai kapanpun kamu adik kesayangan ku, dan jika suamimu menyakiti mu datang padaku, akan aku buat bonyok dia. " ucap Dimas dengan candaannya
" Selamat bang..semoga langgeng, kamu juga Lia terimankasih sudah jadi sahabat ku selama ini,, bahagia selalu." ucap Barra pada kedua mempelai.
" Iya adik ipar, sekarang kalian adik ipar aku.. lucu kan... hahaha.. " ucap Lia mengingat percintaan mereka.
Hahahaha.
Aisyah, Barra, juga Dimas ikut tertawa mendengar penuturan Lia.
Acara di lanjutkan malam hari di sebuah hotel di bandung, dengan meriah,semua pun larut dalam kebahagiaan dirasakan ke dua mempelai.
.
.
Setelah pernikahan Dimas dan Lia, tiga hari setelahnya, keluarga besar itu pun meluncur ke Jogja guna mengadakan ngunduh mantu.
__ADS_1
Kyai Syam dan Umi Maryam sangat di sibukkan dengan berbagai macam persiapan, walaupun sudah ada WO yang ikut membantu., namun.. memang sudah tradisi jika mereka mempunyai hajat pasti sanak. saudara dan juga para tetangga sekitar pondok pesantren akan berbondong bondong membantu menyiapkan segala macam sajian makanan untuk menjamu para tamu ndalem.
Kedua anak kyai Syam yang punya hajat memang pergaulannya sangat berbeda dengan kedua sauadara nya apalagi menantu mereka pun dari luar kota dan luar dari kehidupan pesantren.
Di kediaman Kyai Safi kini berkumpul setelah menerima tamu utusan dari Kyai Syam untuk menyampaikan undangan walimahan dari ndalem Kyai Syam.
" Kyai Syam mengundang kita semua untuk hadir di acara Walimahan Dimas dan juga Aisyah..,,tolong siap kan segala sesuatunya Umi jangan sampe kita terlihat tak menghargai undangan saudara ku itu.
" Baik bi, Anne nanti tolong bantu umi yaa.." ucap Umi Ratih ada menantunya.
" Baik umi." jawab Anne dengan singkat.
" Kamu kenapa, kok kayaknya ada masalah,, apa ini karena Arya? " tanya Umi Ratih sedikit tak enak hati.
" Hiks.. hiks.. Umi, Abi.. kata mas Arya dia akan poligami.. hiks hiks.. " ucap Anne dengan air mata yang jatuh dari matanya
" Sabar Anne,, nanti kita bicarakan kembali dengan Arya, mungkin dia sedang emosi." ucap Umi Ratih memeluk menantunya.
" Hahh... Arya selalu bertindak semaunya, setelah mencampakkan Aisyah dan memilihmu, trus kamu punya kekurangan bukannya nguatin hati istri malah minta kawin lagi.. bocah gendheng,nanti kita bicara tentang itu dengan Arya,,bersabarlah. Untuk semua yang terjadi di hidupmu juga bisa di bilang apa yang kau tanam itulah yang akan kamu tuai."ucap Kyai Safi dengan wajah yang terlihat tak terbaca.
.
.
" Mas,, kita dapat undangan untuk walimahan ndalem Kyai Syam, Walimahan Ning Aisyah juga Gus Dimas dua hari lagi." ucap Anne menyerahkan sebuah undangan pada suaminya.
" Huft... aku nggak akan datang, kamu saja." ucap Arya dingin.
" Kata Abi kita berangkat semua mas." ucap Anne.
" Abi bilang begitu, buat apa ? menyaksikan kebahagiaan mereka sementara aku nggak ada bahagianya hidup sama kamu." ucap Arya tanpa rasa bersalah.
" Masss... apapun itu, memang ini sudah jadi jalan hidup kita, takdir kita mas.. " jawab Anne dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ucapan Anne pun tak Arya tanggapi. Arya langsung kekamar dan membanting pintunya dengan keras.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di Pondok Pesantren milik Kyai Syam sedang sibuk dengan berbagai persiapan.
" Abah maaf Barra sama Aisyah ingin bicara sesuatu pada abah." ucap Barr saat dia melihat sang abah yang duduk sendiri di pendopo.
" Ada apa,terjadi masalah kah? " tanya Abah Syam dengan wajah khawatir.
" Nggak ada abah, cuma kita mau bicara soal Sasa, dia ingin pindah kesini mondok disini, bagaimana menurut abah?" tanya Aisyah melihat sang abah.
" Wahhh,, beneran Sasa mau pindah kesini,, abah sangat seneng denger nya,, nggak masalah buat abah kalau itu ning" ucap Abah Syam
" Alhamdulillah kalau begitu." ucap Barra dan Aisyah.
" Soal ibu kandungnya Sasa bagaimana? " tanya Abah Syam mengingat bagaimana Sasa menolak untuk kenal sang ibu.
" Kita nggak bisa maksa bah, dan yang terpenting dia sedang berusaha ikhlas dengan jalan hidupnya." ucap Aisyah
" Kalau begitu berikan dia pengertian, dan kalian jangan biarkan ada celah untuk orang ketiga masuk diantara kalian, mengerti maksud abah kan? " tanya Abah Syam pada anak dan menantunya.
" Insyaallah kalau maslah itu kita tahu apa yang akan kita perbuat." ucap Barra.
" Oh iya Ais, ayah dan ibu angkat kamu sudah di beri tahu soal acara kamu, alangkah baiknya jangan putuskan silaturahmi " ucap Abah
" Alhamdulillah kita sudah ngasih tahu beliau kok bah, Insyaallah beliau hadir sekalian mau stay di sini dan akan membahas soal tanah yang abah gadai itu sama Kyai Safi, niat mas Barra kita akan kembangkan untuk balai kesehatan untuk warga sekitar pondok dan juga untuk santriwan santriwati juga,dan kita nanti akan ada program untuk anak. didik disini memeriksakan kesehatan mereka per berapa bulan sekali." terang Aisyah.
" Soal itu kemarin kebetulan Kyai Safi telpon abah dan menanyakan soal tanah itu.Abah belum bisa menjawab dan jika kamu ingin menebusnya, abah ada sedikit simpanan dan bisa nanti Dimas dan kakak mu pun membantu, sebenarnya soal ini sudah sempat abah rembug saat kalian bulan madu dan mendapatkan kesepakatan itu." ucap Abah.
" Abah.. maaf jika saya lancang, untuk urusan menebus tanah itu, biar Barra yang melakukannya dan meneruskan niat abah untuk Aisyah bisa membangun balai kesehatan ,dan nanti saya juga akan kerja sama dengan Prof Bastian sebagai orang tua angkat Aisyah dan berdiskusi soal pembuatan balai kesehatan itu, dan nanti abah juga saya libatkan sebagai penasehat disini." terang Barra.
" Masyaallah ,baik nak.. abah hanya bisa mendoakan rumah tangga kalian rukun dan selalu berjalan dijalan Allah." ucap Abah
Barra dan Aisyah pun meng amini apa yang diucapkan sang abah.
Bersambung.
__ADS_1