Saat Hati Memilih

Saat Hati Memilih
# Mengambil Alih Tanah Jaminan


__ADS_3

" Opa, Oma,Aung ,Uti, kakek, nenek..!! " seru Sasa mengabsen semuanya mungkina biar nggak iri.


" Ada apa sayang, bunda nggak papa kan? " tanya Mama Hanna melihat cucunya kalang kabut.


" Ini minum dulu, atur nafasnya.. " ucap Nyonya Bastian


" Oke,, Sasa mau kasih tau.. kalau aku sebentar lagi mau punya adik.. Yeaaayyyy !!!" seru Sasa tanpa peduli orang melihat sikap polosnya yang bikin gemes.


" Alhamdulillah.. " Seru keenam nya kompak.


" Sasa kata siapa,kalau Sasa mau punya adik? " tanya Umi Maryam.


" Kata daddy sama bunda, abis Sasa tadi khawatir sama bunda, udah gitu.. aku denger suara orang nangis di kamar mandi. Eehhh...ternyata bunda sama Daddy nangis sambil pelukan,trus aku tanya...apa ada yang jahat sama mereka, dan mereka jawab Sasa mau jadi kakak,, wahhhhh... ini bener-benar amazing Omaa.. " Cerocos Sasa.


Semua yang mendengar penuturan Sasa sontak mendokan semoga selalu sehat untuk Aisyah, juga calon anaknya. Namun, disisi lain ada seseorang yang sangat iri dengan kebahagiaan Aisyah dan Barra.


" Seandainya aku tidak bodoh, menganggap cinta semu sebagai cinta yang manis,, namun.. ternyata hanya tersisa penyesalan semata. Sekarang orang yang tak kuanggap ternyata sudah bahagia." batin Arya mendengar semua celotehan Sasa.


" Mas.. kamu baik-baik saja kan? " tanya Anne melihat wajah suaminya yang terlihat mendung.


" Kita pamit pulang." ucap Arya dan mendekat pada kedua mempelai juga keluarga mempelai.


Berhubung Aisyah harus istirahat, jadi mereka tidak sampai bertemu Aisyah kembali.


" Selamat menempuh hidup baru Gus Dimas,, semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warohmah." Ucap Arya pada Dimas dan Lia.


" Terima kasih Arya, kalian juga semoga langgeng sakinah mawadah warohmah,cepet nyusul punya baby kayak Aisyah sama Barra." ucap Dimas


Bukan nya menjawab,Arya dengan cepat pergi dari hadapan Dimas dan Lia.

__ADS_1


" Terimakasih, maafin Mas Arya yaa..? " ucap Anne yang melihat tingkah suaminya.


Dalam mobil Arya masih saja diam, hatinya kesal dengan kenyataan bahwa Aisyah yang mengandung.


" Mas, seharusnya kamu jangan begitu .Sikap kamu tadi sama Dimas kayak bukan anak seorang Kyai tau."ucap Anne memprotes sikap suami nya tadi.


" Anak kyai juga manusia, bisa berbuat salah ,dan juga dosa, rasa marah juga ada." jawab Arya.


" Setidaknya kamu tunjukkan sifat-sifat kamu yang baik, yang diajarkan Umi sama abi." ujar Anne.


" Nggak usah ribet, itu namanya munafik ,,di depan aja baik penjilat." ujar Arya tak mau kalah.


" Terserah kamu mas aku capek." ucap Anne.


" Capek ngapain, capek hidup sama saya.. kalau iya..ya gampang, tinggal...


" Mas,, bisa nggak kamu jangan bilang pisah sama aku, oke... aku ijinkan kamu nikah lain. Tapi, jangan ceraikan aku." ucap Anne dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


" Emang mau kamu gitu kan? " ucap Anne dengan sinis


Di tempat Kyai Syam, kini terlihat sudah mulai sepi tamu, dan Kyai Safi dan Umi Ratih masih di sana, karena memang Kyai Syam berpesan akan ada pembicaraan soal tanah jaminan.


Kini mereka sudah berkumpul di pendopo tempat khusus untuk kumpul keluarga besar.


Acara Walimahan memang tak sehari penuh, cuma sampai jam empat sore.


Setelah mendapat kesepakatan, mereka berembug setelah makan malam. Dan kini mereka suda selesai dengan makan malam mereka dan duduk santai dengan di temani kopi dan makanan ringan.


" Oke Ji, bisa kamu sampaikan gimana rencana kamu? " ucap Prof Bastian pada Kyai Syam yang memanggil Kyai Syam dengan Haji atau singkat dengan Ji.

__ADS_1


" Safi,maaf sebelumnya kita bicara gini.. kita tanggalkan masalah latar belakang kita selama ini dengan ***** bengek soal pesantren. Bagaimana pun kita juga manusia biasa, yang punya nafsu,marah, mungkin benci atau sifat manusia umumnya." ucap Kyai Syam.


" Iya benar Syam, sekarang apa yang akan kamu diskusikan dengan ku .Tadi kamu bicara soal tanah jaminan kamu itu, tapi.. kenapa mereka juga di libatkan." ucap Kyai Safi melihat Prof Bastian dan juga ada Papa Iman, juga Barra.


" Begini ..aku berniat menebus tanah itu, memang awalnya kita sepakat untuk membangun balai kesehatan, saat Aisyah menikah dengan Arya, namun.. kita tahu itu tak dapat terlaksana, maka dari itu kamu membatalkan kesepakatan kita,maksudku Arya memutuskan Janjinya pada Aisyah walaupun tak di sampaikan langsung pada Aisyah,jadi..janji itu akan Barra lanjutkan dengan tetap membangun balai kesehatan disana, dan dari itu aku ingin tahu berapa dana yang harus aku siapkan untuk menebus tanah itu." ucap Kyai Syam


Kyai Safi mendengar penuturan sahabatnya pun merasa terkejut, Awalnya tanah itu sebagai jaminan dana yang di pinjam Kyai Syam pada Safi untuk biaya Aisyah dan memang Aisyah mendapat beasiswa namun, untuk biaya hidup di asrama dan untuk peralatan medis itu pakai biaya pribadi. Untuk lanjut ke Spesialis beruntung Aisyah mendapat bantuan dari Bastian sebagai penanggung jawabnya.


" Ada rincian nya Syam, dan sedikit banyak Arya yang memegang soal tanah itu." jawab Kyai Safi.


" Maaf abah, Kyai.. saya menyela.Saya disini sebagain suami Aisyah ingin menebus tanah itu dan jika Arya yang terlibat, dan Kyai nggak tahu hitungan yang Arya pakai maka, saya dan kuasa hukum saya yang akan meluruskan pada Arya, jika Arya menggunakan pedoman tentang hutang piutang maka akan ada perhitungan harga lama dan harga baru, dan jika berpedoman dengan menilik masalah dengan kekeluargaan, kemungkinan besar Arya menghitung berapa besar dana yang dia keluarkan selama ini untuk Aisyah." ucap Barra dengan wajah seriusnya.


Disanalah Kyai Syam dan Safi yang belum pernah terlibat pembicaraan dengan Barra secara serius, kini mereka sudah melihat aura kepemimpinan Barra.


" Jadi,kapan saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan Arya Kyai? " tanya Barra lagi.


" Saya akan kabarkan pada Syam, kapannya kalaian bisa diskusi soal ini." ucap Kyai Safi.


" Kalau begitu, nanti kalau kamu butuh sesuatu bilang sama saya Bar.. " ucap Bastian.


" Baik pah.. Insyaallah nanti kalau sudah selesai semua saya kabarkan pada papa, mau seperti apa nantinya balai kesehatan itu di buat,karena Barra sudah buat beberapa design buat bangunan itu, Barra juga tanya sama Ais dia mau seperti apa, soalnya dia yang tetap akan menjadi tujuan kita kan." ucap Barra.


" Iya, Insyaallah semua niat baik kita di lancarkan. Apalagi Balai kesehatan itu satu keinginan menantu papa. Insyaallah kita semua akan membantu mu Bar." ucap Papa Iman.


" Begitu besar kasih sayang orang-orang ini ada mu nak, kesalahan Abah yang sampe saat ini abah sesalkan, kenapa abah dulu jadi orang egois, hanya ingin di pandang baik dimata masyarakat, tapi.. ternyata hatimu sangat terluka." batin Kyai Syam.


" Aku akan membahagiakan kamu Ais, dengan segala kemampuan ku hanya ingin membahagiakan kamu dan anak-anak kita kelak, karena kamu berhak bahagia dengan pilihanmu. Kamu sudah berani menetukan dan menjatuhkan pilihanmu padaku, Barra Ikram Alfarizh,akan berusaha untuk memberikan kamu kebahagiaan." batin Barra.


" Sungguh besar cinta Barra pada Aisyah, kebodohan Arya dan kebodohan ku melepas berlian dan lebih memilih batu kerikil.Mungkin,ini satu balasan atas kesombongan ku dan Arya. Aisyah mendapat berlimpah kasih sayang bukan hanya dari keluarga ,Suami, anak sambung, mertua, bahkan punya orang tua angkat yang tak main-main kecintaannya pada Aisyah dan juga sangat mendukung Barra untuk membahagiakan Aisyah." batin Kyai Safi.

__ADS_1


Dari hasil diskusi itu sepakat jika Kyai Safi akan menjadi perantara Barra dan Arya.Karena Safi tahu Arya tak serta merta melepas tanah itu lagi.


Bersambung.


__ADS_2