
Keluarga kedua mempelai menyambut dengan bahagia kedatangan Prof Bastian sebagai orang tua angkat Aisyah.
Sementara Aisyah tak tau kenapa, dia memeluk sang ibu angkat dengan sangat erat seperti takut terlepas.
Namun, tiba-tiba mereka di kejutkan denga Aisyah yang tiba-tiba jatuh pingsan,untung saja Aisyah masih memeluk sang ibu angkat.
" Ais... Aisyah, pah Aisyah..!! " pekik Istri Bastian.
" Ais...!!" seru mereka semua saat melihat tubuh Aisyah yang akan merosot dari pegangan mama angkatnya
" Barra bawa Aisyah kedalam dulu..!!" ucap Papa Iman.
Dengan cepat Aisyah di angkat oleh Barra ala bridal style masuk ke kamar mereka.
" Barra tolong ambilkan alat kerja Ais, biar papa periksa." ucap Prof Bastian.
" Iya pah." jawab Barra dan segera mengambil tas kerja Aisyah yang selalu Ais bawa.
Bastian langsung dengan cepat memeriksa sang putri dan mengecek tekanan d\rahnya dan denyut nadinya, sepintas Bastian tersenyum tipis.
" Bagaimana pah? " tanya Barra yang melihat khawatir.
Bastian menepuk bahu Barra dan tersenyum pada menantunya itu.
" Tolong kamu belikan test peck buat Aisyah,, dan setelah itu kamu baru tahu langka apa yang akan kamu ambil." ucap Bastian
" Oke pah, Barra beliin Ais test pack segera.
Hehhh..test peck pah,, bukanya itu alat tes kehamilan,, jangan bilang Ais.. Ais hamil pah..??! Barra baru menyadari ucapan mertuanya yang memintanya membeli test peck.
" Atas apa yang Papa periksa dari nyut nadinya dan tekanan darahnya pun, indikasinya kesana,, cuma kita perlu pastikan,, kalau kamu bisa setelah Ais siuman kita bawa Ais ke Rumah Sakit untuk menjalani serangkaian pemeriksaan,selama ini dia punya keluhan mungkin? " kata Bastian.
" Cuma tadi pagi katanya dia pusing sama lemes aja si pah, Barra kira itu biasa karena memang sebulan ini sibuk dengan persiapan pernikahannya Dimas trus tambah acara sekarang ini pah,untuk test peck.. asisten Barra sudah OTW pah." ucap Barra.
" Oke.. kamu tunggu dia disini, biar papa yang menjelaskan pada semuanya, acara juga belum selesai kan." ucap Bastian
" Terima kasih pah." ucap Barra
" Nggak perlu sungkan, kalian anak-anak papa.. " ucap Bastian dan berlalu dari kamar Aisyah.
Sementara Bastian membetikan pengertian pada keluarga, Kevin dengan cepat masuk dengan test peck di tanganya. Bukan hanya satu, tapi sekantong dia bawa test peck.
" Bro, ini test pecknya ." ucap Kevin saat masuk ke kamar Ais
__ADS_1
" Mana... Astaghfirullahal'azim,, busett.. kenapa kamu beli banyak gini ,cukup lima pc.. ya..sudahlah kamu keluar, tolong lihat-lihat Sasa yah.. " Ucap Barra.
Kevin yang kena semprot Barra hanya nyengir kuda, dan langsung keluar saat menyangkut Sasa pasti sigap.
" Eeuehhh.."
Terdengar lenguhan ,membuat Barra mendekati istrinya,benar saja Aisyah sudah siuman dari pingsannya.
" Sayangg.. kamu sudah sadar,, mau apa,, kamu jangan terlalu banyak gerak.. kamu minum dulu yaa.. " Aisyah yang masih diam dan memandang suaminya akhirnya ikut kata-kata suaminya.
" Mas,, aku kenapa?" tanya Aisyah yang masih terbaring lemah di atas ranjang
" Nggak papa, kamu tadi pingsan,, trus papa Bastian perikasa kamu ,,trus kamu suruh coba ini." ucap Barra dengan menunjukkan test pack pada Aisyah.
" Test pack?" tanya Aisyah bingung
" Iya, kata papa kamu kelelahan trus ada faktor karena kamu sedang hamil,coba kamu test ." ucap Barra
" Kalau aku nggak hamil gimana? " tanya Aisyah dengan mode manjanya.
" Yah.. nggak papa, kalaulah belum ada dia diperut kamu nggak masalah.Berarti,,itu belum rezeki kita.. anggap saja kita masih dikasih waktu untuk menikmati masa pacaran halal kita, semua harus kita terima apapun yang Allah takdirkan untuk kita." ucap Barra menyelami hati sang istri.
" Baiklah kalau gitu aku test dulu." ucap Aisyah dan beranjak dari tempat tidur namun, belum sampai di menginjak lantai tubuhnya sudah melayang karena memang Barra membopongnya.
" Sudahlah kamu jangan cerewet,, kalau perlu aku bantu buat test." ucap Barra dengan sedikit menggoda istrinya.
" Mass... No,mas cukup di luar,, aku bisa melakukannya sendiri." tolak Aisyah.
Walaupun mereka sendiri sudah suami istri, sudah sering berbagi peluh, tetap saja Aisyah masih malu dengan Barra yang selalu menggoda Aisyah.
Setelah Barra keluar dari kamar mandi, dan Aisyah dengan sedikit gemetar dia menampung air seni nya dan mulai meneteskan nya ke test peck, dipikir-pikir dia memang sudah telat dua minggu dan karena siklus haid nya kadang acak, makanya dia tak banyak berpikir jika dia hamil.
Lima test pack dia coba dan semua hasilnya sama.
Tok tok tok
" Sayang,, are you okey?" Barra mengetuk pintu kamar mandi karena tak ada sahutan dari sang istri lalu dengan segera dia membuka pintu kamar mandi yang termyata Aisyah tak kunci.
Terlihat Aisyah duduk diatas closet dan terlihat Aisyah yang sedang terisak menangis.
" Mass.. " panggil Aisyah saat Barra mulai melangkah mendekati dirinya.
Tanpa pikir panjang Aisyah langsung memeluk sang suami dan tangisnya pecah, sambil menunjukkan lima test pack yang ada di tangannya.
__ADS_1
" Heiii.. it's okey,, aku ada untuk kamu,, apapun hasilnya..' ucap Barra yang belum paham arti dari sebuah dua garis.
" Mass... aku dua garis..!!" seru Aisyah.
" Iya,, apapun itu mas okey.. okey aja." jawab Barra yang terdengar menyebalkan
" Mas Barra.. ihhh,, kamu kok telmi sih,, aku dua garis berarti aku hamil.. kok reaksinya gitu doang." protes Aisyah melihat ekspresi suaminya
" Iya ,trus aku harus.. eehhh,,tadi kamu bilang kamu hamil hahh... jadi kamu hamil yang??" tanya Barra memastikan apa yang dia dengar.
" Iyaa,, emang kamu nggak tau arti dua garis, trus kamu kan sudah pernah ngalamin waktu Sasa.. " ucap Aisyah.
" Yahh,, waktu Sasa karena nggak pake test peck gitu,, langsung ke dokter karena mamanya Sasa muntah-muntah juga waktu itu, makanya aku bawa kedokter, dirujuk ke Obgyn dan langsung USG mereka bilang Mama Sasa hamil, udah gitu aja,, dan ekespresi aku seneng,, tapi.. dia nggak " ucap Barra dengan wajah terlihat bersedih.
" Maaf mas,, tapi.. sekarang kan ada aku,, aku sangat sayang sama Sasa,, dia anak yang manis,, pasti dia akan jadi kakak yang terbaik buat adik-adiknya nya nanti." ucap Aisyah.
" Terima kasih yang,, heii.. nak,, baik-baik di perut bunda,, Daddy sayang kamu juga bunda, dan ada kakak Sasa juga,, sehat-sehat di oerut bunda, jangan susahin bunda yaaa...??" ucap Barra mengelus perut rata Aisyah.
" Mas apa kita harus di sini terus, aku mau ganti gaun nya sama gamis aja,, ribet.. " ujar Aisyah.
" Oke,, mas gendong yaa..? "tawar Barra
" Tapi...
" Nggak usah protes, selama daddy bisa jaga kalian demgan baik,, bunda jangan protes." sela Barra dan menggendong Aisyah keluar kamarnya.
" Bunda... bunda kenapa,, Sasa khawatir sama bunda." seru Sasa saat Barra akan Aisyah ke tempat tidur Sasa muncul dari luar dengan wajah terlohat panik.
" Eeeeiii... heiii...Sasa, bunda baik-baik saja, nggak usah cemas nak... " ucap Aisyah menenangkan anak sambungnya.
Dengan cepat Aisyah melambaikan tangannya dan memberikan kode buat Sasa mendekat dan memeluk sang putri dan menciumi wajahnya dengan gemas.
" Bunda sama Daddy mau ngomong sama Sasa." tiba-tiba Barra dengan wajah serius menghentikan kegiatan istrinya yang sedang gemas dengan sang putri
" Ngomong aja sih,,kenapa pake acara kayak orang sidang." oceh Sasa.
" Sini, Sasa.. kalau bunda jujur Sasa marah nggak,, sebenarnya bunda sama daddy mau sampaikan jika Sasa mau jadi kakak, dalam perut bunda ada calon adik kamu." ucap Aisyah dengan masih mendekap sang putri.
" Hahhh... bunda serius, aku mau jadi kakak?" tanya Sasa memastikan dan dengan cepa tF mengurai pelukannya dari sang bunda. Aisyah pun mengangguk, Sasa melihat kearah sang daddy dan Barra juga bereaksi yang sama mengangguk dan memeluk putrinya menciumi wajahnya dengan gemas.
" Daddy... lepasin, Yeaayyyy.. makasih dad, makasih bunda.. akhirnya aku jadi Kakak.. ,,aku kasih tau smuanya yaa bun, dad,,dan Daddy harus disini jagain bunda aku sama adek.. bye..!!" terlihat jelas kebahagiaan di wajah sang putri, Aisyah dan Barra pun bisa bernafas lega.
Bersambung
__ADS_1