
Sementara di pesantren Al-Hikmah setelah kepergian Aisyah dan Barra.
Kyai Safi mohon pamit pada sahabatnya.
" Aku rasa kami harus undur diri dulu, maaf jika kedatangan kami membuat ricuh, dan untuk pernikahan Aisyah saya ucapkan selamat, semoga Aisyah mendapatkan suami yang baik dan juga sholeh. Bisa membimbing Aisyah dengan baik." ucap Kyai Safi dengan senyum yang terlihat terpaksa.
" Terima kasih masih sudi ke tempat kami, alhamdulillah Aisyah sudah menemukan bahagianya dengan orang yang bisa menghargai wanita dengan baik, dan juga tidak harus menjadi alim untuk memperistri anak saya, cukup dia yang mau belajar lebih baik dari pada bisa teori tidak bisa praktek." ucap Kyai Syam yang sungguh menghujam hati Kyai Safi.
" Kami manusia biasa, punya rasa marah, kecewa, bahagia, sedih, dan itu juga berlaku pada saya sebagai ayah pada umumnya.
Saya bukan Kyai yang luput dari dosa, banyak sekali kekurangan saya, apalagi rasa egois saya dulu,,rela kehilangan seorang anak hanya untuk dikatakan orang baik dan orang beriman dihadapan manusia, tapi.. bukan di dihadapan Allah.
Semua itu sia-sia Safi, jangan selalu ingin di hormati tapi, sikap kita masih jauh dari kata terhormat.
Aku bukan Syam yang di kenal orang sebagai Kyai,gelar ku ini hanya gelar dari orang -orang yang mengenalku sebagai pengurus ponpes,tapi..sejatinya aku hanya manusia biasa yang bisa tersinggung dengan kata-kata kamu barusan.
Menantuku memang terlahir dengan kulit putih dan tidak menutup kemungkinan di tubuhnya ada coretan masa kelamnya. Namun, yang paling aku salut dia mau belajar dan dia sangat menghormati kedua orang tuanya dan terutama ibunya.
Aku kenal betul keluarganya sebelum aku mengenalmu jauh di masa mudaku aku sudah mengenal ayahnya yang sangat baik dan ilInsyaallah didikannya pun baik-baik ,jadi kamu jangan khawatir anakku Insyaallah akan bahagia setelah ini.
Walaupun mungkin ada badai yang menerjang Rumah Tangga nya dia adalah wanita juang, dia akan bertahan untuk itu." ucap Kyai Syam mengucapkan segala keluh kesahnya selama ini yang dia pikirkan.
Sekarang dia menempatkan diri menjadi seorang ayah tanpa embel-embel Kyai.
Terserah orang mau bilang apa, dia hanya ingin membuat anak-anaknya bahagia.
" Baiklah kalau memang begitu, tapi.. aku rasa kamu perlu ingat siapa mertuamu dan kamu pasti bisa jaga nama baik mertuamu itu.
Aku nggak ingin apa yang kamu capai saat ini akan diambil alih saudara Maryam, pastinya akan terjadi kekisruhan." ucap Kyai Safi mengingatkan.
" Terima kasih, semua yang di gariskan Allah barang tentu itu yang terbaik buat hambanya." balas Kyai Syam.
Tak mau membuang waktu lagi, Kyai Safi berpamitan untuk pulang. Di lain sisi terlihat Arya yang seperti tak bisa terima dengan apa yang terjadi padanya saat ini.
Mobil yang Kyai Safi dan keluarga tumpangi bergerak meninggalkan Pesantren Al-Hikmah menuju Darul-hikmah.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di Darul-Hikmah .Arya langsung masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Anne.
" Kenapa kamu kelihataj sedih,setelah tahu bahwa Aisyah sudah menikah dengan Barra?" tanya Anne menatap Suaminya penuh selidik.
" Bukan urusan kamu, yang perlu kamu tahu.. aku menyesal sudah memperjuangkan hubungan aku sama kamu, dan samai menikahimu. Tapi, setelah empat tahun kita menikah kamu pun belum bisa hamil, apalagi yang kamu sembunyikan padaku sebelum kamu menjeratku" ucap Arya menatap tajam pada Anne.
__ADS_1
Anne melihat Arya yang terlihat berbeda dengan Arya yang dulu sebelum menikah.
Setelah malam pertama mereka, Arya di kagetkan dengan kenyataan bahwa bukan Arya yang pertama bagi Anne. Disanalah Arya merasa tertipu selama ini. Dengan cara tindak tanduk Anne selama ini terkenal baik dimata Arya, dan juga tidak suka dengan hingar bingar kehidupan. Beda dengan Aisyah yang seperti seorang pemberontak, dan selalu argument jika bicara bersamanya.
" Ra_rahasia ,,maksudnya?" tanya Anne terlihat seperti takut menatap Arya.
" Besok kita kedokter,aku akan buatkan janji dengan dokter kandungan." ucap Arya
" Be_sok ..aku..
" Nggak ada bantahan." ucap Arya tegas.
" Kita ke Dokter mana lagi Mas.?" tanya Anne.
Arya menatap sang istri dengan intens,dan mendekatkan wajahnya di telinga Anne.
" Besok, kita akan tau dimana kita periksa." ucap Arya dengan menyunggingkan senyum disudut bibirnya penuh maksud.
Jam tujuh malam Barra dan Aisyah sampai di pesantren Al-Hikmah, memberitahukan pada sang umi untuk menunggu mereka makan malam bersama, dengan menenteng beberapa kantong plastik, pengantin baru itu masuk ke dalam pendopo.
" Bunda.. Daddy..!! seru Sasa melihat kedua orangtuanya masuk pendopo.
" Wa'alaikum salam. " jawab semua orang yang sedang berkumpul di pendopo.
" Bunda sama Daddy kemana sih,,lama banget.. Sasa kesal sama uncle Dimas." adu Sasa pada sang bunda.
" Kok kesel, dari siang kamu ngintilin uncle terus lho.. " ucap Dimas tak terima
" Iyaa.. niatnya kan,, aku mau main sama aunty Lia ehh..uncle..sjshhshfrcva.. " ucapan Sasa terhenti karena Dimas sudah membungkam mulut gadis kecil itu.
" Kalau mau hadiah, harus jaga rahasia." bisik Dimas ,Sasa pun mengangguk dengan semangat mendengar kata hadiah.
" Aunty Lia kenapa, kamu nggak nyimpen rahasia kan? " tanya Aisyah pada Sasa.
" Nggak kok bun, abis tadi sempet kesel sama uncle Dimas minta nyusulin bunda nggak mau." ucap Sasa dengan mengedipkan matanya pada Dimas.
" Astaghfirullahal'azhim.. punya ponakan baru bukannya nguntungin, malah dibikin kere. " gumam Dimas.
" Apa Dim? " tanya Barra pada iparnya
" Ahhh... nggak, anak kamu gemesin.. bawelnya Masyaallah.. " ucap Dimas tersenyum kecut.
__ADS_1
" Udah sekarang kita makan, tadi Aisyah bawa sate sama sop kesukaan abah." ucap Aisyah mengalihkan pembicaraan mereka.
Akhirnya mereka makan bersama dengan suasana penuh hangat.
.
.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka berkumpul di pendopo dan untuk anak-anak sudah di giring ke tempat main di rumah besar di belakang pendopo
" Bagaimana, kegiatan jadi suami istri? " pertanyaan usil yang diajukan Dimas mendapat tatapan tajam dari Aisyah.
" Jangan ngledekin adenya bang, nanti omongan kamu di balikin mau? " kata Rezky mengingatkan sang adik.
" Happy dong tentunya, iya kan mas.. nggak kayak jomblo akut kayak Abang,,kalau suka bilang suka kalau bisa lamar secepatnya sebelum di rebut orang." sindir Aisyah dengan senyuman mengejek.
Semua yang mendengar ejekan Aisyah pada sang kakak hanya bisa menahan tawa mereka.
"Bunda.. Sasa ngantuk." ucap Sasa dengan merebahkan kepalanya pada paha Aisyah.
" Emmm.. sayang, kamu bobo sama Oma yaa? " ucap Mama Hanna dengan lembut.
" Nggak mau oma, kan aku udah punya bunda sama Daddy, kita bisa bobo bertiga." ucap Sasa dengan polos.
Aisyah menoleh pada suaminya yang duduk di sampingnya.
" Sasa.. boleh aung bicara, Sasa sudah besar.. trus ranjang bunda juga nggak muat buat bobo ber tiga gimana kalau Sasa bobo sama Oma, atau uti? " usul Kyai Syam
" Yahhh.. kan daddy bisa bobo di Paviliun Aung,dari kemarin kan gitu." ucap Sasa dengan mencebikkan bibirnya
" Sandrina.." Seru Barra dengan suara baritonnya.
Sasa mendengar namanya di sebut langsung diam menunduk
" Daddy perlu bicara sama Sasa.." ucap Barra dengan datar.
Melihat reaksi putrinya barang tentu membuat Aisyah sedikit khawatir jika Barra sudah mulai memasang wajah seriusnya
Sasa hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti langkah sang daa daddy.
Bersambung.
__ADS_1