
" Kenapa kamu nggak jujur pada ku kalau rahim kamu sudah diangkat,, Kenapa..!!! " bentak Arya.
" Ma_maaf.." ucap Anne yang sudah menangis dan hanya bisa menunduk.
" Maaf kamu bilang,, kamu itu sudah menipuku,,menipu keluarga ku,,kamu sudah menjeratku,,aku terlalu bod*h buat cinta sama kamu.. " ucap Arya yang terlihat sangat frustrasi.
" Inilah yang abi takutkan,, dulu Aisyah yang memiliki sedikitnya sifat pembangkang.. tapi,, abi lihat dia sosok yang tak mudah di berikan iming-iming soal duniawi,,makanya Abi jodoh kan kamu sama Aisyah,, tapi.. kamu malah menghancurkan kesetiaan nya,, mengkhianati Aisyah yang jelas-jelas calon istrimu,ini seperti karma buat keluarga kita." ucap Abi. Safi.
" Abi.. sudahlah,, kita juga harus bisa terima dengan ikhlas takdir yang di berikan Allah untuk keluarga kita." ucap Umi Ratih menenangkan sang suami.
" Tapi,, kenapa dia nggak mau jujur sama Arya umi,, sebenarnya apa tujuan kamu ?" tanya Arya memandang wajah Anne dengan menyelidik.
" Apa maksud kamu mas,, kamu mau nuduh aku menjebak kamu,, aku benar-benar mencintai kamu.. baiklah memang aku perempuan penuh dengan dosa,, semasa aku kuliah aku terjerumus dalam se* bebas dan aku pernah keguguran karena waktu itu aku hamil dengan kekasih ku,, saat itu hujan deras dan jalanan pun licin kekasihku menghindari mobil di depannya dan mobil kami menabrak pembatas jalan,, karena kecelakaan itu kekasihku meninggal di tempat dan aku yang sedang hamil pun mengalami keguguran,, karena ada masalah dalam rahimku akhirnya dengan berat hati aku relakan rahim ku diangkat.. dan aku bertemu kembali dengan mu disini dan memulai mengajar disini dan jujur aku cinta sama kamu saat aku masih mondok di sini,, dan aku sangat mencintaimu aku takut jika aku jujur kamu akan membuangku.. " terang Anne dengan penuh dengan rasa sakit dalam hatinya.
" Maaf nak,, bukan maksudnya kami ingin mengungkit kejadian lampau kamu.. tapi,, alangkah baiknya sewaktu itu kamu jujur pada Arya, umi sangat kecewa dengan kamu, tapi..umi bisa mendoakan rumah tangga anak umi semoga kalian tetap baik-baik saja." ucap Umi Ratih mengungkapkan perasaannya.
.
.
Sementara Arya,, berubah menjadi cuek dengan Anne,, kekecewaan yang sangat dalam selama hidupnya.
" Mas, kamu jangan giniin aku dong.. memang aku salah, tapi.. kita bisa adopsi anak , ya kan? " ucap Anne yang sudah tak tahan dengan sikap Arya yang semakin dingin padanya.
" Apa adopsi,, aku ingin anak kandung.. bukan adopsi, kalau senadainya kamu jujur dari awal, aku nggak akan sia-siakan berlian seperti Aisyah dan memilih batu kali macam kamu.. "
" CUKUP mas..!! tolong jaga perasaan aku,, kamu kan anak kyai trus berilmu juga kan,, tapi iman kamu tipis,, memang aku salah, tapi.. aku mohon kamu jangan diam kan aku seperti ini."
" Lalu ,apa yang harus aku lakukan,,mengasihani kamu,atau akan aku lepaskan kamu? " ucap Arya dengan tanpa perasaan.
__ADS_1
" Mas,, aku nggak mau pisah sama kamu, aku mohon jangan buang aku mas." ucap Anne memohon pada sang suami
" Baiklah, siapkan dirimu untuk menerima madumu." bisik Arya pada Anne.
Deg.
" Tapi....
" Nggak ada bantahan, jika kamu tidak setuju bisa ajukan gugatan atau kalau kamu masih ingin jadi bagian dari pesantren ini kamu siapkan hati mu untuk menerima kenyataan bahwa kamu akan siap di madu." ucap Arya dengan tegas dan setelah itu Arya meninggalkan Anne yang sudah menangis karena mendengar kenyataan menyakitkan.
" Ini memang salahku, karma ku.. semua yang terjadi pada ku adalah takdirku. Aisyah,, aku sangat bersalah padanya." gumam Anne tubuhnya luruh tak berdaya di lantai kamarnya.
Sementara di Jakarta nan jauh disana,, Aisyah dan keluarga nya mulai menyiapkan keperluan untuk membeli seserahan untuk Lia.
Sasa juga terlihat senang dengan pernikahan Dimas dan Lia.
" Bun,, besok kan ajaran baru.. Sasa boleh pindah sekolah nggak? " tanya Sasa menatap sang bunda yang sedang serius dengan bukunya.
" Nggak apa-apa bun, cuma Sasa ingin masuk pondok eyang Aung,kan biar bisa nemenin eyang di pondok,, soalnya aku kasihan kata eyang uti Pakdhe Rezky mau pindah, Budhe Kia juga mau pindah,, ada Om Dimas sama tante Lia sih,,cuma beda rumah." ucap Sasa menjelaskan.
" Sasa yakin,, nggak terpaksa,, Bunda nggak mau kamu cuma angot-angotan lho.. " ucap Aisyah memperingatkan sang putri.
" Nggak lah bun,, Sasa juga pengen jadi muslimah yang baik,, Sasa rasa seneng kalau di pondok." jelas Sasa.
" Bunda nggak masalah,, nanti bunda coba bicara sama daddy yaa.. " ucap Aisyah.
" Oke bun,, makasih ya.. bun." ucap Sasa dengan memeluk sang bunda.
.
__ADS_1
.
Malam hari, Aisyah dan Barra sudah ada di kamar mereka.
" Mas, air jahe buat kamu.." ucap Aisyah menyodorkan segelas air jahe untuk suaminya.
" Makasih bun,, aku kerjain ini sebentar yaa? " ucap Barra masih fokus dengan tab nya.
" Mas, aku mau ngomong sama kamu. Ini mengenai Sasa." ucap Aisyah dengan hati-hati.
" Hemmm.. cerita aja, ada apa sama anak itu." jawab Barra yang tak terganggu dengan ucapan Aisyah.
" Sasa tadi siang bilang, dia pengen pindah sekolah,,trus aku tanya pengen pindah kemana,, dia bilang pengen pindah ke Pesantren Abah. " ucap Aisyah menerangkan pada suaminya.
Barra mulai meletakkan tab nya di nakas,, dan menyimak ucapan Aisyah.
" Pindah ke pesantren, yakin dia.. kehidupan di sana kan nggak kayak di luaran bun,, yah.. pastinya akan ada previlage buat dia tapi,, dia harus ekstra buat mengejar ketertinggalan,, yah walaupun.. dia disana akan MTS." terang Barra.
Yahhh... Sasa sekarang sudah lulus SD,, dan masuk SMP,, namun.. dia ingin pindah ke pondok punya sang kakek keluarga dari Aisyah,, dia mulai tertarik dengan dunia pesantren saat melihat sang bunda yang terlihat pintar akademi juga pintar mengaji,Sasa yang mulai nyaman dengan keluarga Aisyah apalagi sang eyang uti dan eyang aung nya yang sangat menyayangi nya,, walaupun hanya cucu sambung tak ada ikatan darah dengan mereka.
" Besok coba kita tanya lagi,, dan pastikan dan meyakinkan dia, kalaupun dia sudah memilih untuk dia pindah di pesantren,, aku nggak keberatan,, umi sama abah pilun pasti senang,ada yang bisa diajak ngobrol juga sama mereka karena setelah kak Dimas menikah juga mereka akan tinggal di beda rumah walaupun masih di lingkungan pesanten." terang Aisyah.
" Okelah,, aku juga nggak masalah,, trus aku besok mau bahas soal tanah abah yang waktu itu di gadai sama Kyai Safi aku akan menebusnya,, dan mulai akan memikirkan pembangunan balai kesehatan disana." ungkap Barra.
" Kamu yakin mas?"tanya Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca.
" Yakin lah sayang... sekarang kita tidur,, tugas kamu hanya doakan aku yaaa..? " Ucap Barra mencium pucuk kepala Aisyah.
Akhirnya mereka pun mulai masuk dalam alam mimpi,, dengan saling memeluk memberikan kehangatan.
__ADS_1
Bersambung