SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP12


__ADS_3

Jessica terjatuh, terlihat wanita itu sepertinya tidak mempunyai tenaga lagi untuk hanya sekedar berdiri. Sepertinya apa yang sedang dialami oleh Rose tadi membawa dampak yang sangat besar bagi Jessica.


Nampak terlihat jika kedua sosok perempuan itu saling menyayangi satu sama lain.


Segera Sekertaris Ren mendekat kearah Jessica dan berjongkok dihadapannya, kedua tangan Sekertaris Ren memegangi kedua sisi bahu Jessica.


Tatapan Jessica sekarang berpusat pada lantai yang berada dibawah tubuhnya masih dengan pandangan yang kosong.


"Anda tidak apa-apa Nona Jessica??" tanya Sekertaris Ren khawatir namun yang terlihat hanya ekspresi datar.


Sekertaris Ren tidak pernah melihat Jessica yang lemah seperti ini, meskipun mereka baru saja bekerja sama namun Sekertaris Ren dapat melihat jika perempuan itu ialah perempuan yang tegar dan kuat.


Buktinya saja ketika Jessica menyelamatkan ibunya dengan berbagai luka dan memar yang ia terima namun Sekertaris Ren tidak melihat sedikitpun rasa sakit yang tergambar di wajah cantiknya.


Namun sekarang lihatlah betapa lemah sosok perempuan yang sedang duduk lemas didepannya itu.


"Nona Jessica, apakah anda tidak apa-apa??" Sekertaris Ren kembali mengulangi pertanyaannya yang sempat diabaikan oleh Jessica sebelumnya.


Namun hal serupa terjadi, Jessica masih juga mengabaikan pertanyaan dari Sekertaris Ren yang membuat laki-laki itu menjadi bingung sekaligus khawatir.


Sekertaris Ren berusaha membantu Jessica untuk bangun dari posisi duduknya sekarang namun perempuan itu benar-benar seperti tidak memiliki tenaga dan tulang yang dapat menopang dirinya sendiri untuk berdiri.


Dengan satu kali gerakan, Sekertaris Ren menggendong Jessica seperti pasangan pengantin.


"Berpegangan lah, saya tidak ingin anda terjatuh" ucap Sekertaris Ren sebelum dirinya melangkah sembari menggendong Jessica.


Jessica tidak menjawab atas kata-kata yang Sekertaris Ren ucapkan namun tubuhnya memberikan reaksi dengan mengalungkan kedua tangannya dileher Sekertaris Ren.


Sekertaris Ren membawa Jessica keruangan pribadinya yang letaknya tidak jauh dari ruangan David.


Dengan perlahan dan hati-hati Sekertaris Ren membuka pintu ruangannya agar tidak membuat Jessica yang berada didalam gendongannya menjadi terjatuh.


Pelan-pelan Sekertaris Ren mendudukkan Jessica di sofa ruangan miliknya dan sepertinya perempuan itu terlihat tidak menolak sama sekali.


Setelah menaruh Jessica di sofa , Sekertaris Ren bangkit berniat untuk mengambilkan gadis itu minuman namun hal itu dicegah oleh Jessica dengan menangkap salah satu tangan Sekertaris Ren.


Jessica menatap sosok laki-laki tampan sekaligus imut yang sedang berada didepannya dengan posisi jongkok itu.


"Terimakasih atas bantuannya tadi, maaf membuat anda melihat sisi lain dari diri saya" Jessica pun beranjak berdiri hendak meninggalkan Sekertaris Ren.


Namun bergantian, kali ini Sekertaris Ren yang menahan Jessica dengan menarik tangan wanita itu.


Sekertaris Ren pun berdiri dari posisi jongkoknya tadi, kini kedua insan tersebut saling pandang dengan tangan yang berpegangan.


Hal yang tidak terduga kembali terjadi, Sekertaris Ren menarik tangan Jessica membuat wanita itu tertarik dan menubruk tubuh tegap Sekertaris Ren.


"Bodoh.. Kenapa aku melakukan hal semacam ini"


Sekertaris Ren mengutuk dirinya sendiri yang melakukan hal di luar batas wajarnya.


Namun karena hal itu sudah terjadi alangkah lebih bagus diteruskan saja, lagi pula sepertinya wanita yang sedang berada di pelukannya saat ini tidak mempermasalahkan hal ini.


Lihatlah, wanita itu malah tenang berada didalam pelukan Sekertaris Ren, bahkan Jessica dengan mudahnya memegang kedua sisi jas Sekertaris Ren seperti seorang wanita yang sedang malu-malu untuk memeluk kekasihnya.


"Menangis lah, jika itu bisa membuat mu lebih baik"

__ADS_1


Bahkan Sekertaris Ren juga terbaru suasana dengan tidak lagi menggunakan bahasa formalnya.


Sekertaris Ren sangat bisa menempatkan diri di situasi apapun, sekarang ia menempatkan dirinya sebagai seorang teman yang siap mendengarkan keluhan temannya sendiri.


* * *


Di lain tempat yaitu ruangan David yang masih menyisakan keheningan antara dirinya dan Rose yang sepertinya masih terkejut dengan kejadian yang menimpanya.


David juga bingung mengatasi hal yang berada tepat didepan matanya sekarang, bagaimana caranya membuat Rose mengalihkan perhatiannya dari kejadian tadi agar tidak mengguncang jiwanya nanti.


Tolonglah, David sungguh bukan laki-laki yang memiliki pengalaman dalam hal semacam ini. Dirinya bahkan seumur hidup tidak pernah pacaran ataupun berdekatan dengan wanita, paling dekat hanya sebatas teman sekolah dulu dan hingga sekarang kesehatannya hanya ditemani oleh Sekertaris Ren saja.


"Apakah saya bisa minta tolong kepada anda??" tanya David mencoba membangun suasana.


Namun Rose masih saja diam, bahkan memandang pun tidak kearah David yang membuat laki-laki itu makin frustasi akan situasi yang membuat dirinya seperti tercekik.


"Saya mohon, karena hanya anda yang bisa membantu saya" ucap David lagi mencoba meruntuhkan harga dirinya dengan memohon kepada seorang wanita yang tidak terlalu ia kenal.


Rupanya kalimat David barusan membuat Rose merespon dirinya dengan memandang kearah David, hal itu tidak disia-siakan David dengan kembali melancarkan rencana selanjutnya.


"Sekarang aku harus bicara apa lagi. Astaga aku terjebak dengan kata-kata ku sendiri"


Hingga sepertinya David menemukan sebuah ide, David berdoa semoga saja ide nya ini berhasil.


"Bisakah anda menemani ku sebentar ke suatu tempat dan saya pastikan anda akan aman dan tenang disana" David berusaha merayu Rose agar mau ikut dengannya.


"Kemana??" tanya Rose pelan.


David tersenyum. Astaga hanya satu kata yang keluar dari mulut Rose namun membuat David senang bukan kepalang. Entah apa, yang pastinya ada semacam perasaan lega karena bisa mendengar kembali suara Rose. Mungkin karena bujukan berhasil makanya David merasakan hal semacam itu, ya mungkin karena hal tersebut tidak ada alasan yang lain lagi.


"Saya akan memberitahu Anda ketika kita sudah sampai di sana" sahut David dengan wajah yang ia pasang penuh permohonan.


Sungguh sangat tidak mungkin seandainya Rose tidak mengenal laki-laki itu lebih dahulu.


Tanpa menunggu lagi David beranjak dari tempat duduknya menuju kearah Rose dan mengambil tangan kiri perempuan itu.


Rose menengadah ke arah David yang sedang berdiri didepannya, lalu David memberikan senyuman meyakinkan kepada Rose yang membuat perempuan itu seakan percaya dan ikut berdiri dari tempat duduknya.


David dan Rose kemudian beranjak meninggalkan ruangannya dengan sesuatu yang berbeda, ya sebuah tautan tangan membuat pandangan orang yang melihatnya seakan aneh, bingung, dan heran. Entah apa yang orang pikirkan sedari tadi melihat mereka hanya merekalah yang tau.


David membawa Rose ke basemen tempat ia memarkirkan mobilnya dan membawa mobil itu melaju ke suatu arah yang Rose juga tidak tahu. Namun sebelum itu, David melepas tautan tangan mereka yang sedari tadi tidak terlepas.


"Maaf, saya tidak sengaja dan tidak menyadarinya sedari tadi" David merasa bersalah dengan tanpa permisi menggenggam tangan seorang perempuan.


Dan hanya dibalas anggukan oleh Rose.


Lumayan memakan waktu yang lama di dalam perjalanan namun hanya keheningan yang menemani mereka.


Hingga sampailah Rose dan David disebuah rumah yang terlihat sangat megah dan mewah, bahkan hanya dari depan saja sudah bisa dilihat jika rumah ini milik orang yang sangat kaya.


Rose pun memandang rumah tersebut dengan takjub hingga melupakan David yang sedang bersamanya. David yang baru keluar dari mobil melihat Rose yang nampak terbengong melihat rumahnya hingga membuat laki-laki itu ingin sekalimenertawakan perilaku Rose tersebut jika tidak mengingat perempuan itu sedang dilanda musibah.


"Ayo masuklah" ajak David dan dengan cepat Rose mengikuti David yang sudah beberapa langkah meninggalkan dirinya didepan.


Baru saja beberapa langkah memasuki rumah itu mereka berdua yaitu David dan Rose langsung disambut belasan asisten rumah tangga yang berbaris dengan sangat rapi hingga membuat Rose menjadi takjub dan serba salah.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya Rose, para asisten rumah tangga itupun kaget melihat siapa yang datang bersama Tuan Muda nya itu, seorang Artis papan atas yang sangat mereka kenal dan serba mereka lihat di televisi.


"Ternyata aslinya lebih cantik berkali-kali lipat dari pada di televisi"


"Seumur hidupku sepertinya hari ini adalah keberuntungan ku karena bisa melihat idola ku secara langsung"


"Sehabis ini aku akan minta tanda tangan dan berfoto bersama biar bisa aku pamerkan dengan orang-orang di kampung ku nantinya"


Begitulah bermacam-macam isi hati dari para asisten rumah tangga ketika melihat kehadiran Rose ditempat mereka bekerja.


Begitu para asisten rumah tangga bubar dari barisannya, terlihat seorang wanita paruh baya namun kecantikannya masih saja terlihat hingga diusia sekarang berjalan menghampiri David dan Rose.


"Siapa dia David? Apakah pacarmu? Oh astaga ternyata Allah memberi mama umur yang panjang hingga bisa melihat mu punya pasangan" seloroh Sinta yaitu Ibunda David.


Astaga, David sampai menepuk keningnya sendiri melihat kelakuan ibunya yang begitu membuatnya malu karena sang ibu yang membongkar aib anaknya sendiri.


Secara tidak langsung ibunya itu menyebutnya sebagai laki-laki yang tidak laku karena tidak pernah mempunyai pacar.


"Astaga bu, apa yang ibu katakan. Dia ini salah satu adalah Artis yang berada di Agensi milik David" ucap David dan segera menarik tangan ibunya agak menjauh dari Rose, sepertinya David ingin membicarakan sesuatu kepada ibunya itu.


Nyonya Sinta pun mengikuti langkah kaki sang anak yang menarik salah satu lengannya.


"Ada apa David??" tanya Sinta heran.


"Aku ingin minta tolong kepada ibu untuk membuatnya ceria" sahut David.


Sinta semakin heran.


"Ceria? maksudnya ceria bagaimana??" Sinta semakin heran dengan pernyataan anaknya barusan.


David pun menjelaskan perihal masalah yang sedang Rose alami di kantornya barusan, mulai dari kiriman tikus mati bersimbah darah hingga membuat Rose menjadi shock dan berdiam diri hingga sekarang. Tentunya David tidak akan menceritakan perihal surat ancaman yang Rose dapatkan, karena hanya merek bertiga yang mengetahuinya.


Nyonya Sinta tampak menganggukkan kepalanya tanda paham akan situasi yang dijelaskan oleh anaknya barusan.


"Tenang saja, serahkan masalah ini kepada ibumu, kamu tenang dan duduk saja. Ibu akan membuatnya kembali ceria dan kalau bisa ibu akan membuatnya menjadi menantu di keluarga ini" senyuman nyonya Sinta sepertinya mempunyai maksud tersembunyi yang membuat David yakin jika dirinya seperti sedang masuk kedalam sebuah masalah secara perlahan.


"Terserah lah bu, aku serahkan kepada ibu masalah ini" sahut David dan beranjak pergi meninggalkan ibunya untuk naik kelantai atas rumah mereka.


David memasuki kamar yang telah ia tempati bertahun-tahun itu untuk sekedar mengganti bajunya menjadi baju biasa karena sekarang ia tidak berniat ingin kembali lagi ke perusahaan.



Dengan baju kaos warna hitam dan berlengan panjang semakin membuat David memancarkan sinar dan aura ketampanannya. Apalagi jika serius seperti itu membuatnya makin tampan saja.


* * * * * * *


Semoga suka sama kelanjutan ceritanya dan jangan bosan ya teman-teman 😁😁😁


Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan cara Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang ya 😘😘😘


Bilangin juga sama teman-teman kalian untuk baca novel ini, karena dijamin bakalan seru 🤭🤭🤭


Terima kasih 🙏🙏🙏


Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


Jangan lupa untuk follow ig author ya 😁😁


@muniy7


__ADS_2