
Alex begitu merasa bersyukur karena telah di berikan kepercayaan dari Jessica dan juga Rose karena kedua Nona nya itu sudah memperlakukan dirinya selama ini dengan baik, mereka tidak pernah membedakan posisi mereka dengan Alex yang hanya bawahan bagi mereka.
Bahkan untuk rahasia seperti ini saja Jessica mau memberitahukan kepada dirinya yang semata-mata hanyalah orang luar bagi mereka. Alex sangat bersyukur telah mengenal kedua perempuan yang sangat baik itu dan berjanji kepada diri sendiri bahwa dia akan menjaga kedua Nona nya itu dengan seluruh jiwa raganya.
"Lagi ngapain??" tanya Rose yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah Jessica dan Alex.
"Ah kami hanya sedang berbincang-bincang sedikit" sahut Jessica. "Oh iya, ini surat mu.." Jessica memberikan amplop yang berisikan surat tersebut kepada Rose.
Rose nampak berbinar sekaligus bahagia mendengar ia telah mendapatkan surat balasan dari sang pujaan hati.
"Wah sudah ada balasan rupanya" Rose tersenyum manis hanya dengan sebuah surat.
"Ternyata Nona Rose memang sangat mencintai Tuan David, buktinya saja hanya dengan mendapat surat balasan wajah Nona Rose terlihat sangat bahagia. Anda sangat beruntung Tuan David telah di cintai oleh perempuan seperti Nona Rose.."
Alex yang melihat pemandangan tersebut sangat bahagia meskipun yang terlihat di luar adalah wajah datarnya.
Jessica pun ikut tersenyum menatap wajah bahagia adiknya, ia pun sangat tau jika Rose memang sangat mencintai sahabat penanya itu.
"Iya, kemarin Ibu Risma ada mengabari Kakak kalau surat untukmu sudah tiba makanya tadi Kakak minta tolong sama Alex untuk mengambilkannya" sahut Jessica menjelaskan.
"Benarkah, terimakasih Alex" Rose memberikan ucapan terima kasih dengan senyuman manis mengikutinya.
"Gila, Nona Rose memang sangat cantik apalagi kalau sedang tersenyum tulus seperti itu.."
"Tidak perlu berterima kasih Nona, karena itu memang sudah menjadi tugas saya" sahut Alex merendah.
"Tidak, kamu memang telah membantu ku jadi sudah sewajarnya aku mengucapkan terima kasih.."
"Baiklah Nona, sama-sama. Saya juga senang bisa berguna untuk Nona Jessica dan Nona Rose" sahut Alex.
Mereka pun saling melempar senyuman karena merasa berterima kasih satu sama lain.
Alex merasa seperti menemukan sebuah keluarga kecil yang hangat dengan sebuah ketulusan di dalamnya.
*
*
*
"Kapan kamu akan membawa calon menantu Ibu kesini??" tanya Ibunda David kepada anaknya yang saat ini tengah duduk santai bersama sang ayah setelah mereka menyelesaikan makan malam bersama.
__ADS_1
(Potret David)
"Akhir pekan ini David akan membawanya Bu" sahut David tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi di depannya.
"Nak, jika kamu merasa keberatan dengan permintaan Ibu mu lebih baik tidak usah, ayah tidak mau hal ini menjadi beban bagimu" ucap ayah yang bisa di bilang sangat pengertian terhadap anak semata wayangnya.
"Ayah mau tidur di luar malam ini..!!" ucap Ibu tiba-tiba dengan tatapan tajam menusuk dan mematikan.
Siap-siap lah untuk ayah yang malam ini akan merasakan tidur diluar yang penuh dengan kedinginan tanpa pelukan hangat dari Ibu.
David tersenyum mendengar ancaman dari ibunya untuk sang ayah dan dapat David lihat juga jika ayahnya saat ini tidak dapat berkutik sama sekali. Apakah keluarga Brawijaya memang di takdirkan untuk tidak berani melawan istri.
Ingin sekali David menertawakan dirinya sendiri, belum jadi istri juga David sudah tidak berani dengan Rose apalagi kalau seandainya perempuan itu nantinya akan menjadi istrinya bisa David bayangkan jika nantinya dirinya akan bertekuk lutut sepertinya.
"Tidak usah membela ku kalau ayah masih tidak berani tidur sendirian" tawa David mengejek ayahnya sendiri.
"Iya kau benar nak, ayah tidak akan membela mu lagi" sahut ayah sembari memalingkan muka nya ke arah ibu yang saat ini masih setia menatapnya tajam.
"Apa lihat-lihat??" tanya ibu ketus.
"Ngga sayang, ayah tadi ngga maksud belain David kok cuman iseng aja" sahut ayah memelas. "Dan untuk kamu David, cepat bawa calon menantu Brawijaya kerumah ini.." lanjut ayah memberikan perintah.
"Iya kan David udah bilang tadi kalau calon menantu kalian sebentar lagi akan David bawa kesini" sahut David.
Kedua orang tua itu pun manggut-manggut mendengarkan penuturan sang anak tunggal.
Sebenarnya bagaimana sih neneknya David dulu ketika mengandung ibunya, kok hobi banget ngancam. Ngga ayah, ngga anak semua di ancam, ngga sekalian di coret aja dari kartu keluarga biar nama ibu aja yang tertera disana.
"Coret aja Bu, bentar lagi juga David bakal bikin kartu keluarga sendiri" ejek David menatap sang Ibu yang juga sedang menatap dirinya namun dengan pandangan berbeda.
"Wah itu malah bagus, gimana kalau pernikahan kalian di majukan aja seminggu setelah pertemuan ibu sama calon menantu ibu nanti" usul ibu dengan antusias.
Uhukk.. uhuk..
David tersedak dengan apa yang baru saja ibu bicarakan, bagaimana bisa David mempunyai Ibu seperti itu yang seenaknya saja main nikahin anak orang.
Ini aja David membujuk Rose dengan segala rencana yang matang agar perempuan itu tidak curiga kepada dirinya yang saat ini memang sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
"Kamu kenapa??" tanya Ibu polos.
Lihatlah Ibu bertanya dengan wajah yang berpura-pura polos atau memang tidak mengerti apa-apa. Bagaimana David tidak tersedak, kalau ulah Ibunya saja seperti ini.
"Ibu jangan aneh-aneh deh, masa baru ketemu sekali udah langsung ajak nikah mana cepat lagi waktunya" keluh David dengan saran Ibu yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Sedangkan ayah jangan ditanya sedang apa, dirinya lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya sebelum dirinya benar-benar di usir dari kamar dan berakhir dengan tidur diluar sendiri.
Ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri dan anak tunggalnya itu.
"Loh, ngga apa-apa dong selama niat kita baik, lagian juga lebih baik langsung nikah dari pada kelamaan pacaran, bikin dosa aja tau ngga" nasihat sang Ibu dengan jiwa ustadzah yang mulai keluar.
"Kalau Ibu bisa membuatnya mau menikah cepat dengan aku, ya akunya sih oke aja" terserah lah pikir David lagian juga dirinya tidak akan pernah menang untuk berdebat dengan Ibunya itu.
"Beneran??" tanya Ibu seolah tidak percaya dengan pernyataan yang anaknya lontarkan barusan.
"Iya Bu, itu sih kalau dia nya mau juga tapi kalau dia nanti ngga mau menikah cepat jangan salahkan David ya.." negosiasi mulai dilancarkan David di dalam pembicaraan mereka seolah otak pintarnya itu sedang berpikir untuk menjebak Ibunya sendiri dengan kata-kata halusnya.
"Tentu.." ucapan Ibu terhenti ketika melihat wajah sang anak yang tidak seperti biasanya. "Kamu mau curangin Ibu ya.." lanjut Ibu dengan tangan kanannya yang sudah berada disalah satu telinga David untuk memberi pelajaran kepada sang anak yang telah berpikir secara licik.
David memegang tangan Ibunya yang sedang berada di telinganya saat ini. "Au sakit Bu, kok main jewer aja sih, memangnya apa salah David??" si anak polos yang bertanya pertanyaan yang tidak berfaedah.
"Ngga usah so polos kamu, bisa-bisanya kamu mau mencurangi Ibumu sendiri. Apa kamu lupa sama perjanjian kita jika kamu tidak membawa calon menantu kerumah ini maka kamu harus menerima perjodohan yang sudah Ibu atur.." ucap Ibu kembali mengingatkan David akan isi perjanjian mereka yang telah sama-sama telah mereka sepakati di meja makan waktu itu.
"Nah terus salah David dimana, Ibu cuman nyuruh David buat bawa calon menantu bukannya menyuruh David untuk cepat menikah dalam waktu satu bulan.." sanggah David cepat dengan penjelasan yang ia berikan.
Loh?? kok jadi kaya gini ya??
Ternyata Ibu terjebak dengan permainannya sendiri, sedangkan David sudah tersenyum penuh kemenangan saat ini meskipun posisi telinganya masih berada dalam genggaman sang Ibu.
"Maksud Ibu ya kaya gitu, kamu harus sudah punya istri dalam satu bulan kedepan bukan cuma mengenalkan calon menantu saja" sahut Ibu yang tidak mau kalah dengan sang anak.
"Ngga bisa gitu dong Bu, kok jadi berubah sih isi perjanjiannya.." keluh David yang merasa telah dipermainkan oleh Ibunya sendiri.
"Terserah Ibu, kalau kamu ngga mau ya tinggal terima aja perjodohan yang sudah Ibu siapkan.." ucap ibu dengan melepaskan tangannya dari telinga David dan berjalan meninggalkan David beserta suaminya yang masih berada di ruang keluarga rumah mereka.
"Gila, kenapa jadi lebih pinter Ibu dari pada aku.."
*
*
*
*
*
Nah gimana tu sama David yang niatnya mau ngejebak ibu malah dia yang kena jebak wkwk 🤣🤣🤣
__ADS_1
Selalu berikan Like setelah selesai membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar dan Vote untuk mendukung novel ini.
...Semoga suka sama kelanjutannya dan terimakasih 🙏🙏🙏...