
Rose memang merasa risih sedari tadi karena perilaku Angga yang akan menjadi lawan mainnya nanti di film tersebut. Angga yang sedari tadi selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Rose, bahkan tidak sedikit tangan Angga berusaha untuk menyentuh bagian tubuh Rose.
Ingin sekali Rose mematahkan tangan laki-laki tersebut sekarang juga namun situasi saat ini sangat tidak mendukung, jadi yang bisa Rose lakukan saat ini adalah selalu berusaha menyingkirkan tangan tersebut.
"Aku akan membunuhmu setelah pekerjaan ini selesai, lihat saja ketika kita sudah keluar dari sini maka akan aku buat perhitungan dengan mu wahai laki-laki murahan.."
Rose begitu geram, mengumpat sedari tadi didalam hatinya kepada laki-laki yang sedang duduk disampingnya saat ini.
Laki-laki itu tidak seperti David yang memperlakukan dirinya layaknya seorang wanita yang memang patut dihormati, Rose merasa dirinya saat ini sedang mengalami pelecehan meskipun yang disentuh oleh Angga hanyalah tangannya namun itu tetap membuat dirinya kesal setengah mati.
Rose jadi mengingat sosok David yang bagaimana sedang bersama dengan dirinya namun tidak pernah melakukan hal kurang ajar seperti yang dilakukan oleh Angga.
Nah kan Rose jadi kepikiran David, astaga ini tidak bisa dibiarkan lama-lama kesucian otak Rose nanti akan terkontaminasi dengan semua yang berhubungan dengan David, dirinya harus segera mensterilkan otaknya lagi dan mengembalikan isinya yang hanya terfokus kesatu pria yaitu Steve.
Tiba-tiba suara pintu terbuka yang membuat Rose melirikan bola matanya kearah pintu ruangan tersebut dan hal yang tidak terduga terjadi, seseorang yang masuk adalah CEO tempat ini yang mana bukan hanya Rose saja yang terkejut namun seluruh wanita diruangan ini menjerit memanggil namanya dan Sekertaris Ren.
Loh??
Kok berasa jadi mereka ya yang Artis, padahal sewaktu Rose datang tadi tidak ada teriakan histeris seperti itu menyambut kedatangannya meskipun Rose juga tidak menyukai hal tersebut namun tetap saja masa iya ketenaran dirinya dikalahkan oleh pemilik Agensinya sendiri yang beberapa waktu lalu memintanya untuk menjadi kekasih pura-puranya.
Namun kedatangan David sungguh membuat Rose tertolong dari cengkraman Angga yang sangat mengganggunya apalagi ketika mendengar David berucap tentang pelecehan yang langsung menatap dan mengarah kepada Angga membuat Rose semakin percaya jika kedatangan David kesini untuk menolongnya meski itu hanya prediksi dirinya saja.
"Benarkah dia kesini hanya untuk menolongku, tapi bagaimana mungkin?? dia bahkan tidak tau kalau aku sedang mengalami hal tersebut, ah sudahlah yang penting aku tertolong.."
Rose tetap menampilkan wajah dinginnya, bahkan ketika David berbicara dirinya hanya menatap sebentar dan setelah itu berpura-pura untuk berkonsentrasi kepada naskah yang berada tepat didepannya saat ini.
Disini ketegasan dan wibawa David sebagai Pimpinan dapat terlihat apalagi ketika dia menyampaikan sebuah kalimat yang dapat memberikan rasa aman kepada semua wanita saat ini.
"Jika selama kalian bekerja di Perusahaan saya dan kalian terutama para wanita kalau merasa ada yang melakukan suatu pelecehan atau pembullyan maka jangan takut untuk melaporkan hal itu kepada saya langsung dan saya akan dengan tegas menindak hal tersebut. Saya tidak ingin para pekerja saya mengalami hal seperti itu ditempat kerja yang akan mencoreng nama baik Perusahaan. Jadi saya mohon kepada kalian untuk kerjasamanya. Terimakasih".
Spontan hal yang baru saja David ucapkan membuat para perempuan yang ada di ruangan tersebut senang bukan main karena memang pada jaman sekarang hal seperti pelecehan dan pembullyan sangat marak terjadi apalagi dalam konteks junior dan senior yang seakan dengan mudah menindas yang lemah.
"Wah Pak David bukan cuman ganteng, tapi pengertian banget sama karyawannya. Beruntung banget orang-orang yang bekerja di Perusahaan beliau.."
Salah satu wanita mengangguk menyetujui hal tersebut.
"Iya, dan juga Pak itu sangat peduli sekali dengan kesejahteraan karyawan dan para Artis yang berada di dalam naungan Agensi miliknya, dan juga aku pernah mendengar cerita jika pernah ada seorang karyawan yang bertugas menjadi salah satu Manager Artisnya mengalami kekerasan oleh Artisnya sendiri karena telah melakukan kesalahan yang mengakibatkan Artis tersebut marah dan kau tau apa yang dilakukan oleh Pak David??" ucap salah satu wanita tersebut dengan seorang temannya yang sedang berada disebelah dirinya.
Temannya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau.
__ADS_1
"Tidak tau, memangnya apa yang Pak David lakukan, apakah Manager tersebut dipecat?? tanyanya.
Wanita itu menggeleng. "Tidak, bukan Manager itu yang pecat namun Artis itu yang di putus kontrak oleh Agensi ini, bukankah hal itu sangat menakjubkan. Jarang loh ada seorang Pimpinan Agensi yang lebih memilih seorang pekerjanya dari pada seorang Artis yang membawa keuntungan untuk Perusahaan" tutur wanita tersebut.
"Iya kamu benar, dan yang lebih beruntung adalah seorang perempuan yang akan menjadi pendampingnya nanti, sungguh wanita itu pasti akan menjadi wanita yang sangat bahagia".
Rose yang duduknya didepan mereka menjadi pendengar yang baik dan semakin merasa takjub dengan sosok laki-laki yang sedang berada didepannya sekarang. Mungkin Rose hanya belum mengenal laki-laki itu saja selama ini, namun mungkin juga Rose akan lebih baik untuk tidak mengenalnya secara dalam demi menghindari hatinya yang akan terpaut lebih dalam lagi nantinya.
Iya, Rose merasa memang mulai tertarik dengan David dan hingga sekarang Rose masih berusaha menyadarkan diri untuk mengingat jika hatinya masih dimiliki oleh seorang Steve.
"Silahkan kalian lanjutkan apa yang baru saja tertunda dan saya akan menemani kalian disini hingga selesai" ucap David yang membuat para sutradara dan penulis menjadi segan namun tidak dapat berbuat banyak.
"Silahkan Pak David, kehadiran anda ditengah-tengah kami saat ini membuat kami menjadi lebih bersemangat." ucap Pak sutradara. "Jadi Bapak mau duduk dimana, apakah Bapak mau duduk disini" Pak sutradara pun bangkit dari tempat duduknya untuk mempersilahkan David duduk disana.
"Ah tidak, saya mau duduk ditengah-tengah pemeran utamanya saja biar lebih dapat menghayati pembawaan mereka" ucap David yang langsung membuat Rose menoleh dengan mata yang melotot sedangkan hal itu malah dijawab senyuman oleh David tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dengan segera Sekertaris Ren membawakan sebuah kursi kosong yang mana memang ada diruangan itu, Rose dan Angga pun bangkit dari tempat duduknya karena Sekertaris Ren memasukkan kursi tersebut ditengah-tengah kursi mereka.
Mau tidak mau Rose harus duduk berdekatan dengan David dalam suasana yang banyak orang seperti ini, namun apalah daya dia tidak ingin ribet jadi menerima saja.
Setelah David duduk di kursi yang telah disediakan Sekertaris Ren tadi, semua orang yang berada disana pun juga ikut duduk. Sedangkan aura kemarahan di wajah Aurel semakin tidak terbendung karena melihat kedekatan Anatar Rose dan David.
Pandangan tajam nan mematikan Aurel berikan kepada Rose yang juga saat ini tengah menatapnya namun Rose malah semakin membuat Aurel marah, ekspresi rose dengan tersenyum miring kearah Aurel sungguh suatu penghinaan untuk Aurel yang merasa dirinya selalu tinggi dibandingkan orang lain apalagi hanya dengan Rose yang tidak mempunyai asal usul yang jelas seperti itu.
Acara pembacaan naskah pun kembali dilanjutkan dengan David yang duduk disamping Rose dan Angga yang duduk disamping David. Hatinya sangat bahagia, untung saja sepanjang jalan tadi otaknya sangat bekerja untuk menemukan ide seperti ini.
Tiba saatnya giliran Rose yang membaca dialognya.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu" ucap Rose dalam dialognya.
"Aku juga" bisik David dengan pelan yang hanya Rose bisa mendengarnya.
Rose menaikan sebelah alisnya, apa maksud dari ucapan David barusan, namun Rose tidak mau ambil pusing dan kembali melanjutkan dialognya.
"Bertahanlah disamping ku" dialog Rose.
"Baiklah" sahut David lagi membuat Rose kembali bingung.
"Mari kita menikah dan menua bersama" dialog Rose lagi.
__ADS_1
"Tentu saja" sahut David lagi yang langsung mendapatkan cubitan di salah satu pahanya.
Rose akhirnya sadar kalau pria disampingnya ini hanya datang untuk membantunya bukan untuk menolongnya, percuma Rose sempat bersyukur dan berterima kasih tadi atas kedatangannya.
"Aauu..." David mengaduh kesakitan yang membuat beberapa orang disampingnya menoleh kearah dirinya.
David tersenyum membalas tatapan keheranan yang menghujam kepada dirinya.
"Tidak, silahkan lanjutkan" ucapan David yang membuat beberapa orang jadi kembali fokus pada perannya masing-masing.
Sedangkan Rose saat ini sedang menahan tawanya karena telah membuat David menjadi tatapan banyak orang akibat dirinya.
"Sudah mulai berani ya sekarang.." goda David dengan mencondongkan badannya sedikit kearah Rose namun mata yang berpura-pura ikut melihat naskah didepan Rose agar kelakuannya tidak mencurigakan.
Rose menaikkan tangannya untuk menutup mulut yang pura-pura menguap namun malah membalas kata-kata David.
"Siapa suruh mengganggu" sahut Rose singkat dan kembali menurunkan tangan kanannya.
David suka saat berbisik-bisik seperti ini dengan Rose yang entah mengapa ada sebuah kenikmatan tersendiri bagi David.
"Itu tidak bisa dikatakan mengganggu, kalau mengganggu itu seperti ini" sahut David dan persekian detik kemudian tangan kanan David menggenggam erat tangan kiri Rose dan menautkan jarinya disela jari tangan Rose.
Rose membulatkan matanya kearah depan karena dia tidak mungkin menatap kearah David yang hanya akan mengundang kecurigaan orang disekitarnya.
Rose berusaha melepaskan tautan tangan mereka namun David malah semakin menggenggam erat tangan Rose yang mau tidak mau membuat Rose pasrah.
*
*
*
*
*
Semoga suka ya sama kelanjutan ceritanya dan terimakasih yang masih setia untuk membaca novel ini 😘😘😘
Selalu dukung author ya dengan tekan Like, berikan Komentar dan Vote disetiap selesai kalian membaca.
__ADS_1