
Jessica sangat malu sekali saat ini, bagaimana bisa ia menjawab permintaan dari Sekertaris Ren tadi secara semangat, ketahuan sekali jika dirinya juga tertarik kepada Sekertaris Ren.
Memang tidak Jessica tampik jika dirinya juga telah tertarik kepada Sekertaris Ren hanya saja ia tidak berani untuk melangkah mendekati Sekertaris Ren. Jessica bukannya tidak ingin berusaha, hanya saja dia cukup sadar diri untuk menyukai seorang Sekertaris Ren yang menurutnya sangat sempurna dari segi manapun.
(Potret Jessica)
Jessica sangat sadar jika dirinya hanya seorang yatim piatu yang sedang berjuang keras di ibukota, tidak ada tempat sandaran untuk dirinya kecuali Rose.
Iya, mereka berdua saling bersandar dan selalu saling menguatkan jika salah satu sedang ada masalah.
Jessica juga yakin tidak akan mudah untuk orang tua manapun yang mau menerima dirinya yang seorang yatim piatu tanpa asal usul yang jelas, bahkan dia saja sampai sekarang tidak tau siapa orang tua kandungnya.
Namun sekarang bolehkah dia berharap?
Bolehkah Jessica memberikan perasaannya untuk pertama kali kepada laki-laki yang saat ini berada didepannya?
Bolehkah Jessica berharap dan harapannya itu akan terkabul dengan laki-laki itu yang akan mewujudkannya.
Sekertaris Ren tersenyum memandang ke arah Jessica yang sepertinya sangat antusias sekali, terlihat perempuan itu sekarang sedang menundukkan pandangannya mungkin karena malu.
Sekilas dapat Sekertaris Ren lihat jika wajah perempuan itu tengah memerah, ternyata benar dia sedang malu sekarang.
Sekertaris Ren tau jika Ibunya sudah jatuh hati kepada Jessica dan sebelum itu juga Sekertaris Ren telah jatuh hati juga kepada perempuan itu dan dengan langkah berani serta waktu yang dirasa sangat pas maka Sekertaris Ren dengan mantap mengutarakan isi hatinya.
Sekertaris Ren melangkah mendekati Jessica yang duduk diseberang dirinya saat ini, ia kemudian mendudukkan tubuhnya disamping wanita itu.
Tangan Sekertaris Ren terulur memegang dagu runcing itu dan menaikannya agar wajah cantik wanita yang ia sukai dapat terlihat.
"Kenapa??" tanya Sekertaris Ren ketika wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat.
Jessica menggelengkan kepalanya.
Jessica langsung memutus kontak mata diantara mereka ketika kedua pasang mata itu saling bertemu, ia masih sangat malu untuk melihat kearah Sekertaris Ren.
"Apa kamu malu??" tanya Sekertaris Ren lagi.
Jessica mengangguk, sungguh ia sangat malu sekarang apalagi tangan Sekertaris Ren masih saja sangat betah bertengger di dagu nya.
"Hei, tatap aku.." ucao Sekertaris Ren nadanya sarat akan perintah namun masih terdengar lembut.
Tentu saja Sekertaris Ren tidak akan bisa menggunakan nada yang keras dan kata-kata yang kasar untuk wanita yang ia cintai.
Jessica memberanikan diri meskipun kurang yakin, namun kedua matanya bergerak perlahan untuk melihat kearah Sekertaris Ren dan hal pertama yang Jessica dapat ketika melihat wajah seorang laki-laki didekatnya adalah tampan, sungguh sangat tampan.
Cup..
Adegan itu sangat cepat hingga membuat Jessica tidak dapat menghindar.
Iya, Sekertaris Ren baru saja mencium Jessica dan lebih parahnya laki-laki itu mencium tepat di bibir indah milik Jessica.
Sekertaris Ren tersenyum melihat wajah Jessica yang saat ini sedang terbengong dengan mata yang melotot.
"Hei.." ucap Sekertaris Ren dengan mengelus salah satu pipi dari Jessica yang sontak saja membuat perempuan itu kembali ke dunia nyatanya.
__ADS_1
Wajah Jessica sudah merona, dia tidak tau lagi seperti apa warna wajahnya sekarang namun yang dapat ia rasakan adalah wajahnya sekarang telah memanas akibat ciuman secepat kilat tadi.
"Apa aku mengagetkan mu??" tangan kanan Sekertaris Ren masih setia bertengger di pipi Jessica sembari ibu jarinya mengelus lembut pipi putih mulus tersebut.
"Aku malu.." akhirnya Jessica mengeluarkan suaranya, ia sangat malu sekarang. Bolehkah jika tenggelamkan saja dirinya saat ini ditengah lautan agar tidak ada lagi yang dapat menemukannya.
"Kenapa malu, apa harus aku ulangi lagi agar kamu terbiasa.." goda Sekertaris Ren.
Lihatlah, baru digoda seperti itu wajah Jessica sudah memerah lagi.
"Itu ciuman pertama aku, kamu telah mengambilnya" cicit Jessica memberanikan diri untuk memberitahukan perihal ciuman pertamanya.
"Wah benarkah, beruntung dong aku dapat ciuman pertamamu.." Sekertaris Ren tidak hentinya tersenyum melihat wajah cantik yang tengah malu didepannya saat ini.
Jessica refleks mencubit perut Sekertaris Ren karena sedari tadi laki-laki itu sepertinya sangat senang menggoda dirinya.
"Au sakit sayang.." Sekertaris Ren mengelus perutnya yang tadi di cubit oleh Jessica.
Eh apa tadi katanya?? sayang??
Astaga Jessica tambah malu ketika mendengar kata sayang yang barusan keluar dari mulut Sekertaris Ren.
"Kamu apa-apaan sih manggil aku sayang segala, kita kan ngga punya hubungan sama sekali" sanggah Jessica sekaligus ia ingin memperjelas perasaan Sekertaris Ren kepada dirinya.
"Loh bukannya tadi aku udah bilang tertarik sama kamu".
"Kamu bilang cuman tertarik, ngga nembak atau menyatakan perasaan sama aku. Itu ceritanya lain.."
"Memangnya berbeda??"
Jessica mengambek, dirinya duduk dengan membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Sekertaris Ren. Bisa-bisanya laki-laki itu menyamakan antara cuman tertarik dengan menyatakan perasaan. Anak-anak umur tujuh tahun juga tau kalau dua hal itu adalah berbeda.
Sekertaris Ren tersenyum mendapati Jessica yang tengah merajuk akibat dirinya.
Sekertaris Ren pun bangun dari duduknya dan melangkah kedepan Jessica, Sekertaris Ren menjongkokkan tubuhnya dengan kedua tangannya menggenggam kedua tangan Jessica wanita yang telah mencuri hatinya entah sejak kapan tepatnya.
"Jessica, entah sejak kapan perasaan ini mulai ada dan entah kapan tepatnya hatiku sudah dicuri oleh mu. Namun yang perlu kamu tau saat ini hanyalah aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Mau kah kamu menjadi kekasih ku..??"
Sekertaris Ren mencoba mengungkapkan perasaannya seperti apa yang diinginkan Jessica, ia tidak terlalu bisa merangkai kata-kata karena Sekertaris Ren memang tipikal laki-laki yang sarat akan bicara. Dia berbicara sedikit namun mengandung arti yang dalam.
Entahlah Jessica mau menerima dirinya atau tidak, yang pasti Sekertaris Ren saat ini sudah berpasrah diri dengan mengungkapkan segala isi hatinya.
"Aku memang tidak terlalu bisa berkata-kata, tapi aku akan melakukannya dengan tindakan. Aku akan selalu belajar dan terus berusaha untuk menjagamu dengan cintaku dan akan selalu berusaha untuk selalu membuatmu bahagia bersamaku. Kamu mau kan menerima perasaan aku??".
Jessica terharu, entah harus bagaimana ia menggambarkan perasaannya saat ini. Pertama kali ia dibuat jatuh cinta dan takdir seakan mendukung dirinya dengan cinta yang bersambut. Jessica bahagia, sangat bahagia karena orang yang dicintainya juga mencintai dirinya.
Jessica menatap hari Sekertaris Ren yang masih berjongkok didepan dirinya. Laki-laki itu menatap dalam kearah Jessica dan sepertinya ia juga sedang tidak sabar dalam menanti jawaban dari dirinya.
Jessica mengangguk. "Iya, aku mau.." jawab Jessica lirih dan pelan.
"Mau apa.." goda Sekertaris Ren.
Jessica memukul pundak Sekertaris Ren karena sudah berhasil membuat dirinya malu lagi.
"Mau jadi kekasih mu.."
__ADS_1
"Beneran??"
"Iya.."
Jessica menganggukkan kepalanya lagi, mengapa laki-laki didepan saat ini seperti tidak percaya dengan jawabannya barusan.
"Kalau udah jadian gini, kira-kira boleh ngga cium lagi.." Sekertaris Ren kembali menggoda Jessica yang saat ini wajahnya sudah kembali memerah karena malu.
"Apaan sih, kok main cium-cium terus dari tadi" Jessica malu mengatakannya, iya malu mengatakan kata cium itu.
"Ngga papa kan sama pacar sendiri" sahut Sekertaris Ren.
Jessica memukul pundak Sekertaris Ren lagi dengan senyum malunya. Jessica tidak memberikan jawaban iya namun juga tidak melarang.
Sekertaris Ren berdiri dari posisi jongkoknya tadi diikuti dengan tatapan Jessica yang ikut melihat Sekertaris Ren yang sudah dalam posisi berdiri saat ini.
Karena memang Sekertaris Ren dalam posisi berdiri hingga membuat Jessica menengadahkan kepalanya untuk melihat pacar barunya tersebut.
Sekertaris Ren menundukkan kepalanya kearah wajah Jessica, naluri Jessica mengatakan untuk dirinya menutup mata saat ini dan ia pun mengikutinya dengan menutup kedua bola mata indahnya.
Diiringi senyuman dan keyakinan Sekertaris Ren semakin memangkas jarak diantara mereka hingga pertemuan kedua antara bibir mereka kembali bertemu.
Sekertaris Ren menyadari jika memang betul apa yang dikatakan Jessica tadi kalau dirinya baru pertama berciuman karena yang Sekertaris Ren rasakan saat ini adalah perempuannya ini sangat kaku dan bahkan tidak membalas dengan ciuman yang ia berikan.
Mencium, mengecap dan memperlakukan lembut kedua belah bibir Jessica, ia tidak ingin membuat kekasihnya ini menjadi ketakutan akan sikap agresifnya nanti.
Keduanya melepas tautan bibir mereka dengan kening yang disatukan, Sekertaris Ren dan Jessica sama-sama berusaha dan berebut untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Senyuman manis terukir jelas di wajah Sekertaris Ren yang juga disambut senyuman tak kalah manis dari Jessica. Kedua pasangan mata mereka saling berpandangan penuh arti hingga bibir keduanya kembali menyatu dengan penuh cinta.
Sekertaris Ren mencium Jessica dengan sangat lembut seakan bibirnya adalah sebuah benda yang mudah pecah dan hancur jika diperlakukan dengan kasar.
"I love you sayang.."
"I love you too.."
*
*
*
*
*
Nah kan si David kalah cepat sama Ren, lihat aja si Ren udah bisa ngedapatin Jessica. David kapan maju nya 🤣🤣🤣
Episode kali ini khusus Ren sama Jessica dulu, kira-kira dapat ngga sudah feelnya soalnya aku ngga terlalu berpengalaman dalam hal itu 🤣🤣
( si author so polos ya wkwk 🤣)
Jangan lupa untuk selalu menekan Like setelah selesai membaca dan jangan lupa promosikan novel author sama teman kalian ya hehe.. Berikan selalu komentar dan Vote untuk novel ini dan author sendiri tentunya.
Semoga suka sama kelanjutan ceritanya dan terimakasih untuk yang selalu setia membaca novel ini, jangan bosan ya hehee...
__ADS_1
Berikan selalu komentar positif untuk author supaya lebih semangat dalam menulis ceritanya dan jangan malah sebaliknya yang malah membuat author jadi down.