
Sepeninggal David kelantai atas sang ibu masih memperhatikan punggung anaknya yang perlahan berjalan menjauh dari dirinya.
"Ibu tau nak kalau kamu menyukai gadis itu, tidak mungkin kamu mau membawa seorang perempuan ke rumah ini jika kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya. Dan juga tatapan matamu tadi sangat menyiratkan suatu kekhawatiran atas apa yang terjadi pada perempuan itu. Mama akan membantumu nak karena mama juga tidak sabar untuk memiliki seorang menantu"
Sinta tersenyum penuh maksud dan segala macam cara untuk membuat anaknya itu agar tidak sendiri lagi, sampai kapan ia harus menunggu untuk anaknya itu menemukan pasangan bahkan di umurnya yang sekarang saja tidak pernah sekalipun David membawa seorang perempuan untuk dikenalkan kepada dirinya maupun sang suami.
Sungguh Sinta tidak habis pikir bagaimana anaknya itu begitu betah sendiri disaat teman-temannya yang lain sudah mempunyai pacar bahkan istri dan anak.
Sinta tidak tahu saja jika teman David hanya satu yaitu Sekertaris Ren yang juga jomblo akut hingga sekarang, jadi tidak salah jika David juga jomblo hingga saat ini.
Setelah mendengar penuturan sang anak tadi, Sinta merasa kasihan dengan apa yang telah menimpa Rose, dia tidak habis pikir dengan orang yang mengirim hal seperti itu untuk seorang Artis, meski haters sekalipun juga jangan sampai kelewatan seperti itu. Sungguh anak-anak jaman sekarang sulit dimengerti jalan pikirannya pikir Sinta.
Sinta pun berjalan kearah Rose dan mencoba berbicara kepadanya.
"Hai sayang, perkenalkan nama ibu Sinta, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan ibu, kamu tidak keberatan kan sayang??" tanya Sinta berusaha menjalankan rencananya.
Deg...
Jantung Rose terasa pilu mendengarnya, seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibunya seandainya jika ia memiliki ibu. Ternyata wanita itu menyuruhnya untuk memanggilnya dengan sebutan ibu yang sangat tidak pernah terpikirkan sedikitpun didalam benaknya selama ini.
"Tapi bukankah itu tidak sopan jika saya memanggil anda dengan sebutan ibu" Rose merasa segan untuk memanggil seseorang yang baru saja ia temui dengan sebutan ibu.
Sinta menggenggam kedua tangan Rose dan ia satukan dengan kedua tangannya, Sinta menatap Rose dengan pandangan penuh rasa cinta, entahlah mungkin seperti itu.
"Tidak sayang, ibu tidak merasa keberatan sama sekali jika kamu memanggil aku dengan sebutan ibu, malah ibu akan sangat senang sekali. Kamu mau kan memanggil saya ibu??" tanya Sinta penuh harap.
Dengan masih diselimuti perasaan ragu, Rose pun menganggukkan kepalanya pertanda ia akan memanggil ibunya David dengan sebutan ibu juga.
"Terima kasih sayang, sekarang coba kamu panggil saya ibu, ayo ibu sudah tidak sabar" Nyonya Sinta sangat antusias ketika Rose mau menuruti permintaannya.
"Ibu..." ucap Rose pelan.
"Apa sayang, ibu ngga dengar, kamu terlalu pelan ngomongnya" goda Nyonya Sinta.
"Ibu..." Ulang Rose lagi dengan nada yang sedikit keras yang seketika membuat Sinta menghambur memeluk Rose.
"Terima kasih sayang, akhirnya ibu punya anak perempuan" Nyonya Sinta tidak henti-hentinya berbahagia atas kedatangan Rose di rumahnya.
Rose merasa segan untuk membalas pelukan ibu David, hingga dirinya hanya diam saja di pelukan hangat seorang ibu yang sudah sangat lama ia idamkan.
Nyonya Sinta melepas pelukan diantara mereka. "Ayo sayang, temenin ibu masak, sebentar lagi jam makan siang" ibunda David itu segera menarik tangan Rose dan membawanya ke arah dapur rumah mereka.
* * *
Setelah berganti baju David kembali keluar dari kamarnya dan turun kelantai dasar untuk menemui ibunya sekaligus melihat keadaan Rose. Namun ketika turun ke lantai bawah dirinya tidak menemukan sang ibunda, pandangan pun ia edarkan di dalam ruangan yang sangat luas tersebut namun tak kunjung membuahkan hasil.
Hingga suara tawa yang agak keras sampai di telinga David, ia pun semakin menajamkan pendengarannya hingga menuntunnya ke arah dapur rumah mereka.
David menghentikan langkahnya agak jauh dari posisi ibu dan Rose yang ia lihat mereka berdua sangat asik dalam melakukan kegiatan memasak tersebut. Bahkan senyuman manis Rose terkembang di wajah cantiknya ketika candaan yang dilemparkan ibunya membuat perempuan itu tertawa.
Melihat pemandangan tersebut membuat hati David menghangat, sungguh selama ini dirinya tidak terlalu meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya itu yaitu ibunya sendiri. Dirinya seakan tersesat dengan kesibukan pekerjaan yang membuat diri seakan lupa akan orang yang berada disekitarnya.
Tidak salah jika dirinya hingga saat ini masih sendiri dan belum mendapatkan pasangan, tapi bukan karena itu alasan utamanya namun karena seorang perempuan yang sudah sejak dulu mencuri hatinya. Siapa lagi kalau bukan Vero, perempuan yang masih berjuang untuk ia temukan hingga sekarang.
__ADS_1
Mengingat nama Vero membuat David segera sadar akan apa yang ia lihat sedari tadi, bisa-bisanya dirinya begitu terlena akan seorang perempuan yang baru ia kenal hingga dirinya sampai melupakan dengan Vero perempuan yang sejatinya ia cintai sejak dulu.
"Ah aku pasti sudah gila barusan"
David meninggalkan dapur rumah mereka dan berjalan ke taman belakang rumah yang sangat luas dan asri, begitu menyejukkan hati dan membuat siapa saja akan suka bersantai di sana.
Meletakkan tubuhnya di kursi panjang yang tersedia di taman rumahnya David pun mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celana dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
Setelah beberapa saat telpon itupun tersambung.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu??"
"Kamu sekarang ada dimana Ren??" tanya David balik.
Iya, orang yang ditelpon David ialah Sekertaris Ren.
"Saya sekarang sedang berada dirumah Pak"
"Apa yang kamu lakukan dirumah, lalu bagaimana dengan Jessica. Apakah kamu meninggalkannya sendirian di kantor??" David memberikan pertanyaan beruntun.
"Justru itu Pak, saya sekarang membawa Nona Jessica kerumah saya agar membantu dirinya cepat pulih dari kejadian yang menimpanya barusan"
"Apa-apaan dengan alasanmu itu, bagaimana bisa kalian berduaan dirumah membuatnya cepat pulih. Jangan-jangan sekarang kamu sedang mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku ingatkan Ren, jangan coba-coba berbuat yang aneh-aneh" peringatan David.
Sekertaris Ren menepuk keningnya ketika mendengar bos nya itu curiga akan dirinya.
"Saya membawa Nona Jessica kerumah saya karena saya pikir Nona Jessica memerlukan teman bicara sesama perempuan dan yang terlintas di otak saya pada saat itu hanyalah ibu saya Pak, makanya saya bawa Nona Jessica kerumah saya. Lagipula kami di sini bertiga dengan ibu saya, tidak sedang berduaan seperti apa yang bapak pikirkan"
"Baguslah kalau begitu, aku titip Jessica kepadamu, tolong jaga dia"
"Baik Pak"
Sambungan telpon segera David putus sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri dihadapan Sekertaris Ren.
"Apa karena aku selalu bersama dengan Ren sehingga membuat kami memiliki pemikiran yang sama"
David tidak ingin dipusingkan dengan pemikiran semacam itu, dia akan berusaha berkonsentrasi untuk menikmati suasana nyaman yang sedang ia rasakan sekarang.
* * *
Sedangkan ditempat lain, setelah sambungan telpon terputus dari atasannya tadi yaitu David. Sekarang Sekertaris Ren kembali mendekati ibunya dan Jessica yang sedang duduk di sofa yang berada diruang tengah yang di hadapan mereka terletak televisi.
Sekertaris Ren ikut mendudukkan tubuhnya disebelah Jessica namun masih memberi jarak diantara keduanya agar tidak menggangu kesenangan yang sedang perempuan itu rasakan sekarang
Rupanya benar, saking senangnya Jessica bahkan tidak menyadari jika Sekertaris Ren berada disampingnya hingga membuat dirinya tidak mempedulikan Sekertaris Ren sama sekali.
"Apa yang sedang kalian bicarakan, sepertinya menyenangkan" tanya Sekertaris Ren ikut dalam pembicaraan mereka.
Suara Sekertaris Ren mengejutkan Jessica hingga membuat perempuan itu seketika menoleh kearah sumber suara.
"Maaf Sekertaris Ren, saya tidak sadar jika anda duduk disebelah saya" Jessica meminta maag atas ketidaksopanan dirinya.
"Tidak apa, saya juga baru duduk disini" jawab Sekertaris Ren.
__ADS_1
Jessica melihat ke penampilan Sekertaris Ren yang saat ini sangat santai dengan pakaian rumahannya yang tidak formal seperti biasanya. Lagi-lagi Jessica terpana akan ketampanan sekaligus keimutan yang di miliki Sekertaris Ren.
Bagaiman bisa laki-laki itu memiliki paket lengkap selain tampan dan postur tubuh yang bagus, dirinya pula memiliki wajah yang imut hingga membuat siapa saja tidak bosan untuk memandangnya.
Pandangan kagum Jessica terputus ketika mendengar suara dari ibunya Sekertaris Ren. Sungguh Jessica mempermalukan dirinya sendiri karena ketahuan sedang memandang Sekertaris Ren sedari tadi.
"Ibu tinggal dulu ya kedapur, kamu temenin Ren aja dahulu disini, jangan sungkan sayang, anggaplah seperti rumah sendiri" ucap ibu dari Sekertaris tampan tersebut.
"Iya bu" sahut Jessica singkat.
Sekarang dirinya sangat gugup karena sedang berdekatan dengan Sekertaris Ren apalagi mereka duduk di sofa yang sama dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Bahkan untuk menghirup dan menghembuskan nafas saja Jessica lakukan dengan pelan agar tidak terdengar oleh Sekertaris Ren.
"Apakah anda sudah lebih baik Nona Jessica??" tanya Sekertaris Ren kepada Jessica yang sedari tadi hanya melihat kearah lantai.
"Apakah lantai itu lebih bagus dari wajah ku hingga dia tidak berkenan melihat kearah diriku sedari tadi"
Jessica dengan gugup dan tangan yang saling tertaut meremas satu sama lain demi menetralisir suara degup jantungnya.
"Iya, saya sudah lebih baik Sekertaris Ren" jawab Jessica seadanya namun dengan pandangan yang tidak ubahnya dari lantai.
Sekertaris Ren menganggukkan kepalanya dan tersenyum samar.
"Ternyata keputusan diriku membawanya kesini tidaklah salah"
Sekertaris Ren ingin kembali melontarkan beberapa pertanyaan namun terhenti tatkala panggilan dari ibunya yang menyuruh mereka makan siang. Mau tidak mau Sekertaris Ren mengajak Jessica ke ruang makan sebelum dirinya kembali memberi pertanyaan.
Diruang makan tersebut nampak sangat kekeluargaan, jika saja ada yang melihatnya pasti mereka akan menyebut Jessica sebagai menantu si keluarga itu. Lihatlah sedari tadi bagaimana berbagai macam perhatian yang di berikan ibunda Ren kepadanya hingga membuat Jessica tidak bisa menolaknya sedikitpun.
"Sekertaris Ren makanlah ini" Jessica menyodorkan sebuah irisan daging ke sendok Sekertaris Ren tanpa ada kecanggungan sedikitpun, mungkin sepertinya Jessica sedang terbawa suasana sekarang.
Sekertaris Ren yang sempat bingung dengan apa yang baru saja Jessica lakukan namun tanpa berkata apapun dirinya memakan irisan daging yang Jessica tarus diatas sendok makan yang sudah ada nasi tadi.
Perlakuan Jessica seperti seorang istri yang menjalankan tugasnya sehari-hari, bahkan semua gerak-gerik tadi tidak lepas sedikitpun dari pandangan ibunya Sekertaris Ren.
Ia semakin yakin jika wanita yang berada didepannya ini sudah menjadi pilihan yang tepat untuk anaknya. Dari pandangan yang ibu lihat, Sekertaris Ren pun tidak menolak sedikitpun apa yang dilakukan Jessica kepada dirinya.
(Siap-siap deh yang bakalan di jadiin mantu 🤭🤣🤣)
* * * * * * *
Semoga suka sama kelanjutan ceritanya dan jangan bosan ya teman-teman 😁😁😁
Jangan lupa untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang ya buat author sebagai bentuk dari dukungan kalian untuk novel ini.
Terimakasih 🙏🙏🙏
Selamat membaca Readers 😘😘😘
Jangan lupa untuk follow ig author ya 😁😁
@muniy7
__ADS_1