SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 9


__ADS_3

Rose memasuki mobil Van diikuti dengan Jessica yang duduk disampingnya dan Alex yang sudah duduk dibalik kemudi.


"Apakah kita langsung pulang Nona??" tanya Alex sebelum mengemudikan mobil tersebut.


Jessica menganggukkan kepalanya.


"Iya kita langsung pulang saja" Jessica menjawab mewakili dirinya dan Rose yang saat ini masih berdiam diri.


Alex pun mengemudikan mobil membelah jalanan ibukota menuju kediaman kedua perempuan yang sedang berada dibelakangnya saat ini.


Diawal perjalanan hanya ada suatu kesunyian, seperti yang Alex lihat lewat kaca yang tergantung diatas kepalanya itu. Jessica seperti tengah mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada Rose.


"Rose, kamu tidak apa-apa??" tanya Jessica pelan, ia takut jika pertanyaan dan suaranya mengganggu Rose saat ini.


"Gimana tadi penampilan ku, apakah sudah membuat wanita buas itu kalah??"


Jessica menepuk jidatnya.


Bukannya merasa terganggu ataupun menjawab pertanyaan dari Jessica, namun rose malah bertanya bagaimana tanggapan Aurel ketika berdebat dengan dirinya tadi.


Dirinya bahkan menganggap itu seperti sebuah kompetisi yang dimana ada yang harus kalah dan ada yang menang.


"Kamu ya udah keterlaluan" Jessica menjewer telinga Rose seperti tindakan ketika seorang ibu memberi hukuman karena anaknya telah membuat kesalahan.


"Aduh Kak sakit. Kenapa pake jewer telinga aku sih. Sakit Kak, lepasin" Rose memegangi telinganya yang masih berada ditangan Kakaknya.


"Ngga ada pake sakit segala. Kakak takut terjadi apa-apa sama kamu, ini kamu malah dibuat bercanda. Kamu tau kan Aurel itu orangnya seperti apa, dia itu wanita nekat" Jessica berusaha memberi penjelasan kepada Rose yang telah membuat dirinya mengkhawatirkan sesuatu yang percuma.


"Lepasin dulu telinga Rose Kak, Rose ngga akan bisa nangkap apa yang Kakak bicarakan kalau sambil nahan sakit kaya gini" Rose masih berusaha untuk lepas dari jeratan Jessica.


Jessica menghembuskan nafasnya dengan kasar, menghadapi Rose bukan seperti ini caranya namun harus dengan penuh kasih sayang. Begitu pikir Jessica.


Akhirnya telinga Rose dapat kembali bernafas dengan lega setelah sedari tadi terjerat mematikan diantara jari jemari Jessica hingga membuatnya berwarna kemerahan.


Rose masih mengusap-usap telinganya yang memerah itu.


"Kakak ngga mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, Aurel itu bukan perempuan yang bisa diajak berkompromi, kamu tau sendiri kan bagaimana sifatnya" jelas Jessica.


"Aku tau Kak, maka dari itu aku mau ngasih dia pelajaran. Aku mau ngasih tau sama dia kalau aku itu bukan orang yang mudah ditindas" sahut Rose yang juga menjelaskan alasan dari tindakannya tadi.


"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan. Kalau memang Aurel sangat menginginkan peran itu lebih baik kita mundur dari pada hanya akan menghasilkan masalah dikemudian hari"


"Iya Kak, aku tau apa yang akan aku lakukan. Besok aku akan memberikan keputusan tentang film tersebut kepada Pak David"


Jessica menganggukkan, sepertinya Rose mengerti akan perasaan dirinya sekarang yang selalu takut jika hal buruk menimpa adiknya itu.


Ketika asik berkelahi dan saling lempar pertanyaan antara Rose dan Jessica, interaksi mereka berdua tidak luput dari pengamatan seorang Alex.


Alex sungguh menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat kelakuan dua orang wanita yang usianya tidak berbeda jauh itu, namun sifatnya sangat bertolak belakang.


Rose dengan sifatnya yang apa adanya, kekanakan, namun selalu menebarkan sebuah keceriaan untuk sekitarnya. Sedangkan Jessica seorang wanita yang selalu bersifat dewasa dalam menyikapi segala hal, orang yang serius namun penuh jiwa kekeluargaan.


Seandainya Alex disuruh memilih antara kedua wanita tersebut, sungguh dia akan dilema dibuatnya. Karena Alex menyukai sifat keduanya belum lagi wajah mereka yang sangat cantik itu.


Namun sayang Alex hanya bisa bermimpi dalam hal tersebut.


Waktu baru menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka bertiga sampai dirumah. Alex pun langsung undur diri ketika sudah mengantarkan Jessica dan Rose yang selamat sampai tujuan.


Rose dan Jessica memasuki rumah mereka, Jessica berlalu langsung menuju dapur untuk memasak sesuatu yang berguna untuk mengisi perut keduanya. Namun tanpa Jessica sadari jika bahan-bahan untuk memasak sudah banyak yang habis. Ia pun memutuskan untuk belanja sebentar kesupermarket terdekat untuk membeli bahan-bahan dapur.

__ADS_1


"Rose, Kakak mau ke supermarket sebentar, kamu ada yang mau di titip ngga??" tanya Jessica yang berada diambang pintu kamar Rose dengan tangan masih memegangi handle pintu itu.


Terlihat Rose yang masih rebahan di atas kasur dengan handphone yang sedang ia mainkan sekarang.


"Em.... Apa ya??" Rose nampak berpikir.


"Ayolah, nanti keburu kemalaman Kakak ke supermarketnya" kesal Jessica melihat adiknya itu yang sedang berpikir dengan lama.


"Belikan Rose cheese cake aja deh Kak" sahut Rose cepat sebelum Kakaknya itu datang menghampiri dirinya dan memukul pantatnya lagi seperti yang sering ia lakukan.


"Baiklah. Kakak berangkat sekarang. Kalau ada apa-apa kamu cepat hubungi Kakak ya" pesan Jessica sebelum meninggalkan rumah.


* * *


Untung saja di jam seperti ini supermarket masih ada yang buka meskipun Jessica berjalan kaki ke sana yang menghabiskan waktu lumayan lama. Tapi kalau dia memakai mobil malah akan tambah lama waktu yang diperlukan nantinya karena kemacetan di jam sibuk pulang kerja seperti ini. Dan lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Jessica, ia hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menitan dengan berjalan kaki melewat berbagai jalan pintas yang sudah ia hapal.


Sampai di supermarket, Jessica lantas saja segera menuju bagian barang-barang yang ia perlukan. Memerlukan waktu sekitar tiga puluh menitan untuk mengisi troli belanjaannya tersebut agar penuh.


Jessica memilih mengelilingi lagi supermarket itu bermaksud melihat-lihat kalau saja ada barang yang tertinggal. Namun dari kejauhan Jessica melihat seorang ibu yang sepertinya dalam bahaya.


Dan benar saja apa yang Jessica rasakan, dengan cepat ia pun berlari meninggalkan troli belanjaannya dan menghampiri ibu-ibu tersebut yang nampaknya sedang tidak sadar akan situasi yang hampir menimpa dirinya.


"Ibu awas....!!!!!" teriak Jessica di sela berlarinya.


Untung saja Jessica sudah memeluk ibu tersebut dan melindunginya dari barang-barang yang sedang terjatuh dari atas akibat susunan barang yang terlalu tinggi dan tidak rapi hingga membuat barang-barang itu berjatuhan.


Naas sekali barang yang berjatuhan itu berupa kaleng-kaleng yang sangat keras. Ikan kaleng yang lebih tepatnya jatuh menimpa punggung Jessica yang melindungi ibu tadi.


Sang ibu yang dipeluk dan dilindungi Jessica sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi.


Berjatuhannya barang-barang tersebut menimbulkan suara yang sangat gaduh hingga mengundang beberapa pengunjung dan pegawai supermarket datang ke sumber suara dan melihat dengan jelas kejadian tersebut. Tidak ada yang berani mendekat karena mereka takut kaleng itu juga akan melukai diri mereka.


Di rasa kaleng-kaleng ikam tadi sudah tidak lagi berjatuhan, banyak orang yang mendekati Jessica dan ibu-ibu tadi.


Ibu itu pun langsung berteriak meminta tolong kepada orang-orang disana.


"Tolong??.." teriak ibu tersebut.


"Tenang bu, saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan ibu, apakah ada yang sakit" ucap Jessica dengan mengusap aliran darah di keningnya menggunakan baju lengan panjang yang sedang ia pakai saat ini.


Mata ibu itu nampak berkaca-kaca. "Kamu kenapa menyelamatkan saya, lihatlah sekarang kamu yang jadinya terluka. Ayo sekarang kita kerumah sakit sekarang" ajak ibu tersebut.


"Tidak bu, tidak usah, saya benar-benar tidak apa-apa sekarang" tolak Jessica secara halus.


Namun usahanya sia-sia, ibu tersebut nampak ngotot dengan ucapannya.


Jessica pun mengambil kembali mengambil troli belanjaannya dan membawa barang-barang tersebut ke kasir bersama ibu yang tadi ia selamatkan yang juga ikut membayar barang belanjaannya.


Mereka berdua sudah keluar dari supermarket dengan menenteng belanjaan masing-masing, penampilan Jessica nampak lusuh dengan beberapa anggota tubuhnya yang kemerahan dan bisa saja sekarang sudah membiru.


Untunglah Jessica sekarang menggunakan baju dan celana panjang yang dapat menutupi memar di tubuhnya tersebut. Namun bagian atas keningnya nampak darah yang tadi sempat mengalir sudah terlihat mengering.



"Tunggu sebentar ya nak, anak ibu sedang dalam perjalanan untuk menjemput kita" ucap si ibu.


"Saya sudah tidak apa-apa bu, ibu jangan merasa bersalah. Lagian saya ikhlas menolong ibu tadi" jawab Jessica yang merasa tidak enak.


Ibu tersebut menggelengkan kepalanya dengan jari telunjuk tangan kanan yang juga ikut bergerak searah dengan kepala tersebut yang menandakan jika dirinya sedang tidak menerima penolakan.

__ADS_1


Akhirnya Jessica pun mengalah saja dan tidak lagi mau mendebat si ibu tersebut.


Tidak seberapa lama sebuah mobil terlihat berhenti tepat didepan mereka, Jessica yang menundukkan kepalanya tidak menyadari hal tersebut.


"Ibu tidak apa-apa, apa yang terjadi sebenarnya??" tanya seseorang kepada ibu yang berada di samping Jessica.


"Ibu tidak apa-apa karena perempuan ini yang tadi membantu ibu" jawab ibu tersebut.


Mendengar hal tersebut Jessica lantas mengangkat kepalanya dan memalingkan wajahnya kearah samping.


Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci.


"Nona Jessica??"


"Sekertaris Ren??"


Keduanya berbicara serempak, hingga membuat ibu yang berada ditengah mereka menjadi kebingungan.


"Kamu mengenal perempuan ini nak??" tanya sang ibu.


"Ah iya bu, kami bekerja di Perusahaan yang sama" sahut Sekertaris Ren yang tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Jessica.


Sedangkan Jessica yang di tatap intensif seperti itu menjadi malu dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Hal itu tidak lepas sedikitpun dari tatapan curiga sang ibu hingga memunculkan senyuman diwajah ibu Sekertaris Ren.


Bagaimana tidak malu jika sekarang saja ia terpesona dengan penampilan Sekertaris Ren yang sangat berbeda ketika bekerja. Berpakaian kasual begitu sangat menambah daya tarik bagi wanita mana saja yang melihatnya.



"Ayo nak, kita bawa perempuan ini ke rumah sakit, dia begini gara-gara menolong ibu tadi" ucap sang ibu.


"Benarkah, apa Nona tidak apa-apa??" tangan Sekertaris Ren refleks memegangi kening Jessica yang masih nampak darah kering disitu.


"Saya sudah tidak apa-apa, anda tidak usah khawatir" sahut Jessica sungkan atau lebih tepatnya malu karena harus berada di jarak sedekat ini dengan Sekertaris Ren.


"Ah maaf, saya tidak sengaja. Maafkan kelancangan saya barusan"


"Tidak apa-apa"


Disaat kedua insan tersebut saling melemparkan pandangan malu-malu, sang ibu yang sedari tadi diam pun angkat bicara karena sudah merasa gemas dengan tingkah mereka berdua.


"Ayo nak kita antarkan dulu dia kerumah sakit baru setelah itu kita antar dia kerumahnya" ucap ibu.


"Dan ibu tidak menerima penolakan" sahut ibu cepat ketika melihat Jessica yang sudah siap mengeluarkan suara.


Apalah daya, Jessica pun ikut masuk ke mobil Sekertaris Ren setelah barang belanjaannya di taruh Sekertaris Ren di bagasi bersama belanjaan sang ibu.


Jessica dan ibu Sekertaris Ren duduk di bangku penumpang dengan Sekertaris Ren yang mengemudikan mobil tersebut menuju rumah sakit. Tidak ada pembicaraan diantara ketiganya, mereka semua hanya fokus pada pikiran masing-masing.


* * * * * * *


Jangan bosan ya sama ceritanya author.


Semoga suka sama kelanjutannya 😁😁😁


Jangan lupa untuk selalu Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya sebagai bentuk dukungan buat author.


Terima kasih 🙏🙏🙏


Selamat membaca Readers 😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa follow ig author ya 😁😁😁


@muniy7


__ADS_2