SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 32


__ADS_3

David masih memikirkan bagaimana cara agar terlepas dari kesepakatan yang sedang Ibunya bicarakan saat ini. Padahal kesepakatan ini belum David terima tapi Ibu seakan membuat David berada diantara dua pilihan yang harus ia pilih.


Ah David baru ingat jika Sekertaris Ren sudah menemukan siapa Vero sekarang, jadi David tidak perlu ambil pusing karena dirinya akan membawa Vero menjadi pasangannya dan David pun tidak perlu berpura-pura seperti dalam kisah novel maupun film yang selalu saja membuat kesepakatan hanya karena tidak ingin dijodohkan.


Benar sekali, David akan menerima kesepakatan dari Ibunya sekarang juga dan ini akan mempermudah langkahnya untuk memiliki Vero seutuhnya. Perempuan yang sangat ia cintai selama bertahun-tahun sejak dirinya bersekolah di sekolah dasar.


"Baiklah Bu, aku terima kesepakatan dari Ibu tapi dengan satu syarat.." David mengajukan sebuah syarat kepada Ibu untuk melancarkan aksinya.


"Katakan apa syarat mu??" tanya Ibu.


"Syaratnya tidak sulit, siapapun yang akan aku bawa sebagai pasangan ku maka Ibu harus merestuinya" ucap David.


David tersenyum penuh kemenangan, dirinya begitu pintar untuk membuat Ibunya sendiri masuk kedalam sebuah rencana yang sedang ia buat. Jika Ibunya menyetujui syarat yang David berikan maka David tidak perlu susah payah untuk membujuk sang Ibu untuk merestui hubungan dirinya dan Vero nanti.


Hal itu memang sudah David pikirkan semenjak dulu, semenjak dirinya masih belum menemukan siapa sosok Vero wanita yang ia cintai. David percaya jika membawa Vero masuk kedalam kehidupannya nanti pasti tidak akan mudah karena Vero adalah wanita yang belum pernah ia temui sama sekali seumur hidupnya.


"Baiklah Ibu setuju dengan syarat yang kamu ajukan, dan ingat waktu yang Ibu beri hanya satu bulan dan tidak lebih. Kamu paham??.." Ibu kembali mengingatkan batas waktu kesepakatan antara mereka berdua.


David tersenyum hangat kepada Ibunya. "Tentu saja David akan mengingatnya Bu" sahut David.


Setelah kesepakatan itu selesai dan tidak seberapa lama David juga sudah menyelesaikan sarapan paginya.


"Ayah, Ibu.. David ijin berangkat kerja dulu" ucap David kepada kedua orangtuanya dan mengambil satu per satu tangan Ayah dan Ibunya untuk ia cium.


"Assalamualaikum" ucap David dan berlalu pergi meninggalkan kediaman mewah milik keluarga Brawijaya.


"Walaikumsalam" sahut Ayah dan Ibu bersamaan.


Sepeninggal David putra tunggal mereka, Ayah dan Ibu pun lantas membahas sesuatu tentang putra mereka sendiri.


"Ibu beneran mau nyuruh David buat nikah??.." tanya Ayah yang sedari awal sarapan hanya mendengarkan istri dan anaknya yang sedang membuat kesepakatan tentang sebuah pernikahan.


"Iya, Ibu beneran pengen itu anak cepat nikah yah, Ayah kan tau sendiri seumur hidup anak kita itu tidak pernah berkencan barang hanya sekali seperti kebanyak pria pada umumnya. Ibu khawatir anak kita itu ada kelainan" jawab Ibu apa adanya bahkan dirinya sampai berpikir kalau anak tunggalnya itu memiliki sebuah penyakit yaitu kelainan.


Ayah hanya bis geleng-geleng kepala mendengar ucapan istrinya barusan, bagaimana bisa istrinya itu sampai memikirkan hal sejauh itu.


"Astaga Ibu kenapa mikirnya sampai jauh kesana, anak kita itu masih normal Bu" ucap Ayah yang merasa tidak terima anaknya disangka istrinya sendiri sebagai pria yang menyimpang dalam ****.


"Ibu hanya takut yah, lagian apa salahnya kalau Ibu menyuruh David buat nikah cepat kan ngga ada ruginya sama sekali juga".


"Iya sih memang ngga ada ruginya, tapi memangnya Ibu punya teman yang anaknya perempuan ya. Ayah rasa teman Ibu cuman ada beberapa dan itu pun anak mereka laki-laki semua" tanya Ayah yang sedang bingung saat ini.


"Iya memang benar anaknya teman Ibu laki semua" sahut Ibu tanpa beban.


Astaga tuh kan Ayah ngga salah kalau berprasangka buruk kepada istrinya sendiri. Gimana bisa menjodohkan anak mereka kalau anak temannya sendiri laki semua. Ini sih bukan David yang menyimpang tapi istrinya sendiri yang akan membuat anaknya menyimpang.


"Astaga Bu, jadi Ibu mau anak kita dijodohkan sama laki-laki juga" Ayah sudah tidak habis pikir dengan istrinya saat ini.


"Apa sih Ayah, mana mungkin Ibu mau menjodohkan anak kita sama laki-laki juga, jangan ngaco deh yah".

__ADS_1


"Lah itu tadi Ibu bilang anaknya teman Ibu ngga ada yang perempuan dan semuanya laki-laki, berarti kan Ibu mau menjodohkan anak kita sama laki-laki" sahut Ayah masih dilanda kebingungan.


Ayah.. Ayah.. kalau sudah urusan beginian ngga ngerti sama sekali perlu dijelaskan panjang lebar, tapi kalau sudah urusan bisnis biar sambil tutup mata juga duit tetap ngalir terus.


Ibu sampai menepuk jidatnya sendiri mendengar pernyataan suaminya barusan. Ingin sekarang juga Ibu memukul kepala suaminya sendiri namun Ibu masih ingat akan dosa dan tidak ingin menjadi seorang istri yang durhaka.


"Ya engga gitu juga Ayah, Ibu tadi niatnya cuman mau ngancam si David eh ternyata ancaman Ibu mau dia terima. Dan sebentar lagi kita bakal punya mantu" Ibu senang bukan main karena sekarang sedang membayangkan bagaimana dirinya nanti akan punya seorang anak perempuan yang akan menemani dirinya dirumah ini.


"Ibu jangan senang dulu, kalau David masih ngga punya pasangan sampai batas waktu yang Ibu tentukan gimana??.." tanya Ayah kepada istrinya.


Ibu masih menampakkan senyumannya, sepertinya ada sesuatu yang Ibu sembunyikan sekarang.


"Ayah tenang aja, Ibu memang beneran punya calon buat David kalau seandainya anak kita itu masih belum memiliki pasangan" sahut Ibu percaya diri.


"Ibu beneran kan yang mau dijodohkan sama David itu seorang perempuan bukannya laki-laki.." tanya Ayah meyakinkan dirinya sendiri.


"Astaga Ayah, Ibu itu masih waras ngga bakal lah Ibu nikahin David sama laki-laki juga, kalau kaya gitu gimana kita mau punya cucu. Ayah tambah aneh deh" Ibu masih tidak percaya suaminya ini sangat buta dalam hal seperti ini.


"Baguslah kalau gitu, yasudah Ayah mau berangkat kerja dulu, bicara sama Ibu kalau kelamaan makin ngelantur" ucap Ayah yang menyodorkan tangannya kepada sang istri untuk di cium.


Ibu menyambut uluran tangan suaminya itu. "Ayah yang ngga nyambung malah nyalahin Ibu. Sudah sana Ayah itu kerja aja ngga usah ikut mikirin yang beginian" sahut Ibu setelah selesai mencium tangan sang suami.


"Yasudah Ayah berangkat sekarang, assalamualaikum.."


"Walaikumsalam.."


*


*


*


Ingin David memarahi Sekertaris Ren, kenapa juga harus menunggu dirinya datang ke Perusahaan baru memberitahukan tentang informasi Vero tadi, kenapa tidak Sekertaris Ren kirim saja informasi itu lewat handphone atau emailnya.


Ah David ingin segera sampai disana secepatnya, dan juga kenapa di saat seperti ini jalanan malah terkena macet segala.


"Shit... Untuk mengetahui informasinya saja memerlukan perjuangan seperti ini, aku sungguh tidak sabar. Vero sayang aku akan datang sebentar lagi untuk menjemputmu.."


Namun tidak David pungkiri jika saat ini dirinya sangat senang sekali, bahkan sedari tadi senyuman tidak pernah luntur untuk menghiasi wajah tampannya.


Ketika sedang sibuk membayangkan bagaimana sosok Vero sebenarnya, David mengumpat karena sosok orang lain yang malah ia bayangkan sebagai Vero.


"Hehh... kenapa malah wajah wanita dingin itu yang terlintas dipikiran ku, tidak mungkin sosok perempuan baik hati dan kalem itu menjadi sosok dingin dan kejam seperti Rose. Aku tidak bisa membayangkan jika Vero adalah Rose yang sangat mustahil karena mereka berdua sangat bertolak belakang meski aku akui jika Rose itu memang cantik"


David kembali mengumpati dirinya sendiri karena telah berani memuji perempuan lain disaat dirinya sudah semakin dekat dengan masa depannya yaitu Vero.


Setelah berbagai macam pemikiran menemani David dalam perjalan dari rumah menuju Perusahaan, akhirnya sampailah David ditujuannya tersebut.


Dengan langkah pasti setelah memarkirkan kendaraan mewahnya David langsung saja bergerak menuju lobby untuk memasuki lift yang tersedia hanya untuk dirinya dan Sekertaris Ren.

__ADS_1


Berjalan dengan pasti setelah kakinya sudah menapak dilantai paling atas tempat ruangannya berada, semakin mendekati ruangannya semakin David merasakan kegugupan melanda dirinya.


Apakah ia siap untuk mengetahui sosok Vero??


Apakah ia tidak akan menyesal jika sosok Vero nanti tidak akan sesuai harapannya selama ini??


Ah sudahlah, David pasrah bagaimana nantinya seperti apa sosok Vero yang sebenarnya.


David memegang handel pintu dan mendorongnya kedalam untuk membuka pintu ruangan tersebut dan nampaklah Sekertaris Ren sudah berada diruanganya dengan sebuah amplop coklat ditangannya.


Berjalan menuju ke meja kerjanya dan menutupi wajah gugupnya dengan wajah yang serius agar Sekertaris Ren tidak berani untuk mengejeknya.



(Potret Sekertaris Ren)


"Mana informasi yang sudah kau dapatkan itu" ucap David dengan wajah seriusnya setelah baru saja ia dudukan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya.


Sekertaris Ren berjalan kearah David dengan membawa amplop coklat yang sedari tadi berada di dalam genggaman tangannya.


Sekertaris Ren pun menyerahkan amplop tersebut kepada David setelah dirinya kini berada tepat didepan atasannya itu. Dengan wajah yang gugup namun ia tutupi, David pun mengambil amplop yang sedang Sekertaris Ren sodorkan kepada dirinya.


Dengan hati yang gelisah dan merapalkan segala macam doa sebelum membukanya, biarlah David terlihat gila sekarang karena memang dirinya sedang dilanda kegugupan saat ini.


Degg... degg.. degg..


Amplop terbuka dan David dengan perlahan menarik isinya keluar.


"Ren, benarkah ini..???"


*


*


*


*


*


Bagaimanakah ekspresi David ketika mengetahui siapa Vero sebenarnya?? 🤔🤔


Setelah selesai membaca jangan langsung kabur tapi tekan Like dulu, jangan lupa juga untuk tinggalkan jejak lewat kolom komentar dan Vote.


Terimakasih 🙏🙏🙏


Semoga suka sama kelanjutan ceritanya barusan 😁😘😘😘


Perhatian!!!

__ADS_1


Cerita ini hanyalah karangan dan meskipun tingkat khayalan untuk cerita ini terlalu tinggi, saya harap kalian semua tidak meninggalkan komentar buruk untuk novel ini seperti seseorang yang meninggalkan komentar buruk pada novel saya sebelumnya.


Maaf jadi curhat 😁😁😁


__ADS_2