SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 19


__ADS_3

Setelah selesai makan siang semua orang menuju ruang keluarga untuk sekedar saling berbincang. Para pria tampan sudah lebih dulu meninggalkan meja makan karena para wanita menyuruh mereka untuk tidak membantu dalam membereskan sisa makan siang tadi.


Padahal David sudah menjadi orang pertama yang menyodorkan diri untuk menolong atau bisa dibilang sekalian modus.


Namun Rose dan Jessica bersikukuh untuk tidak mau dibantu karena tentu saja hal itu hanya akan memperlambat kerja mereka dikarenakan sudah pasti David tidak bisa apa-apa.


Sementara di ruang keluarga David, Sekertaris Ren dan Alex nampak berbincang serius setelah percakapan mereka tadi sempat terputus karena kedatangan Rose yang tiba-tiba saja mengagetkan mereka.


"Jadi bagaimana, apakah sudah kau suruh anak buah mu untuk melacak siapa penguntit itu??" tanya David kepada Alex.


"Menurut saya kita jangan terlalu gegabah dahulu Pak, kita lihat saja sampai dimana penguntit itu melaksanakan aksinya selama itu tidak membahayakan Nona Rose"


Sekertaris Ren menyela pembicaraan antara David dan Alex sekaligus memberi saran untuk langkah selanjutnya.


"Tapi kita tidak bisa diam begitu saja Ren" David masih tidak tenang setelah membaca surat yang baru saja mereka temukan di depan rumah tadi.


"Tapi Pak kalau kita gegabah dan membuat rencana yang salah hanya akan membuat situasi sekitar tambah panik terutama untuk Nona Rose dan Nona Jessica" Sekertaris Ren kembali memberikan sebuah saran dan bujukan kepada David agar lebih tenang dalam melewati hal ini.


"Saya tau Pak anda sangat khawatir dengan keselamatan Nona Rose"


"Saya rasa yang diucapkan oleh Sekertaris Ren ada benarnya Tuan, karena hal seperti ini tidak dapat kita anggap remeh. Terlebih lagi ini menyangkut keselamatan seseorang" Alex ikut mendukung apa yang sejak tadi diutarakan oleh Sekertaris Ren.


David menghela nafasnya, sesuatu yang sangat berat seperti sedang menimpa kepalanya.


"Baiklah aku akan mengikuti saran kalian berdua dan aku harap kalian dapat menemukan pelakunya secepat mungkin" tegas David.


Sekertaris Ren dan Alex dengan segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti akan perintah atasannya tadi.


Sunyi senyap menghampiri ketiga pria tampan itu hingga sebuah suara membuat mengalihkan suasana tadi.


"Makanan penutupnya sudah siap" ucap Jessica dengan membawa sebuah mangkuk besar yang berisi salad buah dengan diikuti Rose dibelakangnya.


Siang-siang panas seperti ini memang paling pada makan salad buah untuk mencairkan suasana. Dingin, segar, rasa manis asamnya sangat dapat membuat seseorang menghilangkan badmood nya.



(Hanya ilustrasi)


"Wah sepertinya kelihatan enak sekali" sahut Alex begitu salad tersebut sudah ada diatas meja yang berada didepan mereka.


"Ini" Rose memberikan kepada mereka masing-masing satu sendok yang akan digunakan untuk menikmati salad buah tersebut.


David menautkan alisnya dan merasa heran mengapa mereka diberi masing-masing satu buah sendok, lalu mana tempat lainnya.


Ketika Alex sudah hendak menyendok salad buah tersebut, aksinya itu lantas dengan segera dihentikan oleh David.


"Tunggu dulu, apa maksudnya kau hanya memberi kami masing-masing sendok saja" tanya David.


Semua mata memandang kearah dirinya. Mereka yang bodoh atau David yang aneh.


"Memangnya kenapa, ada yang salah??" tanya Rose balik.


Lagi-lagi tatapan perempuan itu kembali tajam dan menakutkan.


"Tentu saja, bagaimana mungkin kau hanya memberiku sendok tanpa sebuah tempat kecil atau semacamnya" David juga tidak mau kalah, dirinya juga melayangkan tatapan tajam kearah Rose.

__ADS_1


Hahahaha semua orang yang berada disana tertawa melihat aksi bodoh David.


"Hei kenapa kalian malah tertawa, tidak ada yang lucu disini" sahut David kesal.


"Kau itu kenapa, memang seperti itu cara kami ketika memakan salad buah dengan satu wadah dimakan bersama. Hal itu akan semakin membuat suasana menjadi lebih akrab" Rose menjelaskan kepada David dengan pandangan mata yang tidak lagi tajam seperti tadi.


David melongo, bagaimana bisa perempuan dan laki-laki makan bersama dalam satu tempat. Bukankah itu seperti berciuman secara tidak langsung atau bahkan lebih karena mereka berbagi air liur bersama.


David tidak dapat membayangkan hal tersebut.


"Tidak, tidak mungkin. Kita ini laki-laki dan perempuan bagaimana mungkin berbagai makanan yang sama apalagi dalam tempat yang sama secara terus-menerus. Tidak, aku tidak mau"


David melepaskan sendok yang sempat ia pegang sedari tadi diatas meja. Sementara yang lain hanya bisa menyaksikan perdebatan tersebut.


"Baiklah jika kamu tidak mau, kami saja yang memakannya" Rose kemudian menjadi orang pertama yang memakan salad buah tersebut sembari memperlihatkan kepada David jika salad buah itu sangat enak.


"Ayo kalian makan juga, ini sangat enak apalagi dalam cuaca panas seperti ini" Rose lagi-lagi membuat David meneguk air liurnya sepertinya dirinya juga ingin mencicipi salad buah tersebut.


Kemudian yang lain pun ikut memakan salad buah tersebut dengan nyamannya.


"Wah benar apa yang dikatakan Nona Rose tadi, salad buah ini sangat enak" Alex menjadi orang pertama yang berkomentar setelah salad buah yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya terlebih dahulu.


Sekertaris Ren juga mengiyakan atas komentar dari Alex tersebut karena memang benar salad buah ini sangat enak.


"Rose memang handal dalam membuat salad buah dan kalian tidak perlu ragu lagi dalam masalah rasa" Jessica memuji kepandaian adiknya itu dalam memasak dan membuat sesuatu karena memang benar Rose memang suka membuat makanan dan mencoba resep-resep baru tentang masakan.


David sepertinya masih menjunjung tinggi egonya dengan tidak perduli akan komentar mereka yang menyebut jika salad buah tersebut sangat enak apalagi Rose lah yang membuatnya.


Rose yang berada tepat dihadapan David sedari tadi melirik kearah pria tersebut dan memang nampak jika David juga menginginkan makanan itu namun mulutnya sudah terlanjur berkata tidak akan ikut makan jika dalam satu tempat yang sama.


David pun menoleh ke sumber suara dan Rose dengan sigap menyodorkan satu suapan salad buah ke mulut David hingga meninggalkan saus dibibirnya.


Hahahaha Rose kembali tertawa minat wajah bengong David.


"Kunyahlah dan rasakan bagaimana rasanya" ucap Rose.


David pun mengunyah satu suap salad buah yang Rose sodorkan paksa kedalam mulutnya tadi.


Lagi-lagi David terkesima dengan rasa yang ada pada mulutnya. Ternyata benar apa yang dikatakan Alex tadi kalau rasa salad buah ini sangat enak.


"Ayolah tidak perlu malu, makanlah bersama kami" Rose memberikan sendok yang semula memang milik David tadi.


David pun mengambil sendok tersebut dan ikut makan bersama yang lain hingga membuat mereka yang ada disana menahan tawanya.


"Dasar, mulut dan hati tidak sejalan. Tadi saja bilang tidak mau berbagi dengan kami, tapi lihatlah sekarang betapa cepatnya dia memakan salad buah ini" Alex dengan segera ikut memakan salad buah tersebut sebelum David menghabiskannya.


Setelah salad buah tersebut habis dan mereka semua meletakkan sendok yang mereka pakai tadi didalam mangkuk besar tersebut.


David mengusap perutnya yang seperti akan meledak karena kekenyangan. Benar-benar berada dirumah ini membuat perut David serasa dimanjakan, ingin sekali dirinya seperti Alex yang ikut tinggal dirumah ini.


"Sepertinya kalau Tuan David memiliki istri seperti Nona Rose pasti akan dibuat kenyang tiap hari, apalagi makanan yang dibuat Nona Rose sangat enak" Alex mulai melancarkan serangannya untuk menggoda bosnya itu.


David yang semula menyandarkan punggungnya di sofa empuk langsung saja bangun dan duduk dengan tegap seraya memberikan tatapan mematikan untuk Alex.


"Iya kan Tuan David??" tanya Alex sambil menarik turunkan alisnya.

__ADS_1


Bahkan Alex menahan senyumnya saat melihat wajah David yang tegang akan pertanyaannya barusan.


David hendak menjawab dengan sudah membuka mulutnya namun hal itu ia urungkan lantaran Rose sudah terlebih dahulu berbicara.


"Tentu saja, bukan hanya dia tapi siapa saja yang nanti akan menjadi suamiku pasti akan selalu aku manja dan aku buat dia bahagia setiap harinya" sahut Rose dengan wajah yang bersinar dan berseri seakan dirinya saat ini tengah menghayal akan kehidupan rumah tangganya nanti.


"Hei, bagaimana bisa kamu yang berbicara seperti itu, harusnya seorang laki-laki yang berbicara seperti itu kepada perempuan. Dasar aneh" David merasa tidak terima akan jawaban Rose tadi.


Entahlah tidak terima dalam hal jawaban atau tidak terima dengan siapa yang akan menjadi suami Rose nanti yang pastinya akan disayang oleh perempuan itu.


"Terserah aku lah, itukan rumah tangga ku nanti. Urus saja rumah tangga mu sendiri" Rose seakan tidak mau kalah.


"Jelas saja itu menjadi urusanku, karena ..."


Ucapan David terhenti setelah dia merasa kalau apa yang barusan ia ucapkan adalah sesuatu yang salah.


Mengapa dia harus ikut campur dalam kehidupan pribadi perempuan itu, sungguh keanehan telah terjadi didalam diri David.


"Karena apa??" tanya Rose penasaran karena David tidak melanjutkan perkataannya barusan.


"Hah??"


David menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu seraya melirik kepada Sekertaris Ren dan Alex seakan ingin meminta bantuan kepada mereka berdua namun keduanya tidak ada yang perduli sama sekali dan berpura-pura sibuk dengan aktivitas masing-masing.


"Silahkan anda jawab sendiri Pak David, bukankah anda yang memulai semuanya tadi"


Sekertaris Ren menertawakan kebodohan atasannya itu dalam hati.


"Sialan, mereka berdua tidak ada yang mau membantuku, lihat saja nanti kalian"


David akan memberi perhitungan kepada Sekertaris Ren dan Alex nanti tetapi sebelum itu dirinya harus bisa menyelesaikan masalah yang berada didepan matanya ini lebih dulu.


"Karena apa??" tanya Rose lagi karena tidak mendapatkan jawaban sedari tadi.


"Em karena aku adalah CEO Agensi mu, aku tidak mau menanggung rugi jika nanti kamu akan berkencan dengan seseorang yang tidak jelas. Iya betul, aku tidak ingin perusahaan ku mengalami kerugian akibat skandalmu nanti"


Berhasil, David akhirnya memberikan jawaban yang masuk akan menurutnya.


"Oh begitu, tapi kau tenang saja karena aku tidak akan membuat perusahaan mu mengalami kerugian karena pasangan ku nanti adalah seseorang yang hebat"


Rose bangga memperkenalkan Steve sebagai pasangannya meskipun dirinya tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu namun Rose percaya dan yakin jika Steve adalah seseorang yang hebat dan membanggakan.


* * * * * * *


Promosikan dong novel author kepada teman-teman kalian siapa tau mereka juga suka 🤭😁😁


Jangan lupa ya untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang untuk novel author ini 😘😘😘


Jangan bosan ya dan semoga selalu suka sama kelanjutan ceritanya.


Terimakasih 🙏🙏🙏


Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️


Dan jangan lupa juga untuk follow ig author ya 😁😁😁

__ADS_1


@muniy7


__ADS_2