SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 44


__ADS_3

Tolong sadarkan Alex sekarang juga atau tolong bawa Alex secepatnya ke dokter THT untuk memeriksakan bagian telinganya yang sepertinya saat ini tengah mengalami masalah.


Karena baru saja Alex mendengar jika orang yang dicintai Tuannya selama ini adalah Nona Rose yang bisa dibilang adalah musuh bebuyutan dari Tuannya sendiri.


Jangankan untuk saling memberi cinta, saling memberikan senyuman saja rasanya sangat berat dan yang ada ujung-ujungnya hanya perdebatan saja yang terjadi.


"Ren, kau jangan bercanda. Ini sungguh tidak lucu" Alex masih tidak mempercayai pendengarannya barusan atau apa yang baru saja ia dengar.


"Kau tidak tuli kan jadi untuk apalagi aku mengulanginya" sahut Sekertaris Ren datar.


Sekertaris Ren memutar bola matanya malas karena melihat tingkah Alex yang seperti orang bodoh saja. Apa susahnya sih untuk percaya dengan apa yang baru saja ia katakan meskipun secara logika itu sangat sulit untuk diterima akal sehat.


"Kau mau mati..!!" sahut Alex dengan kesal.


"Memangnya kau berani.." tantang Sekertaris Ren balik.


Alex menelan ludahnya dengan susah payah karena kesalahan berbicara yang bisa saja beberapa menit kemudian membuat dirinya berakhir dengan masuk rumah sakit. Ingatkan lah Alex kalau yang sedang ia hadapi sekarang adalah Sekertaris Ren bukan pria sembarangan yang bisa dengan mudah ia kalahkan.


"Hei aku hanya bercanda, bagaimana mungkin aku berani mengajakmu berkelahi.." sahut Alex dengan wajah memelasnya demi menghindarkan dirinya dari ruang ICU rumah sakit.


"Memelas saja Lex, dari pada kamu berakhir di kamar mayat nantinya, mending cari aman sekarang.."


"Aku tidak akan membuat mu berakhir di kamar mayat rumah sakit" sahut Sekertaris Ren dengan sedikit melirik ke arah Alex.


Lagi-lagi Alex kesusahan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Bagaimana dia bisa tau, wah dia itu semakin hari semakin menakutkan saja".


"Lalu kau akan membuat ku berakhir dimana??" tanya Alex segan namun penasaran dengan jawaban sang sahabat.


"Di dalam koper".


"Apa hubungannya dengan koper??" tanya Alex bingung.


"Karena setelah aku membunuhmu, mayat mu akan aku mutilasi dan ku masuk kedalam koper.." sahut Sekertaris Ren.


"Astaga, apakah benar dia manusia normal. Jangan-jangan dia sebenernya adalah psikopat".


Sekertaris Ren yang melihat Alex memandangi dirinya dengan tatapan yang mencurigakan membuat dirinya merasa yakin kalau saat ini Alex sedang menghina dirinya di dalam hati.


"Jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang diriku jika tidak ingin apa yang baru saja aku ucapkan itu menjadi kenyataan" ancam Sekertaris Ren.


"Tuh kan dia itu memang paket lengkap yaitu paket mengerikan dan mematikan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti dirinya memiliki kekasih, pasti kekasihnya itu akan ia musnahkan dari muka bumi ini jika berani mengkhianatinya.."


Alex dengan segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pikiran negatifnya terhadap Sekertaris Ren.


"Mana ada aku berpikiran yang aneh-aneh, kau saja yang selalu berpikiran negatif dengan ku" elak Alex.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang apa yang sudah aku tau semuanya telah aku ceritakan kepadamu dan aku harap kamu dapat melaksanakan tugasmu dengan baik, jangan sampai mengecewakan David" perintah Sekertaris Ren.


"Baiklah kau tenang saja, mereka berdua dalam pengawasan terbaik ku" sahut Alex dengan membanggakan dirinya.


"Aku percaya padamu karena kau adalah sahabat kami yang tidak akan membuat kami kecewa kepadamu.." Sekertaris Ren berdiri dengan menepuk sebelah bahu Alex dan berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


Sepeninggal Sekertaris Ren dari apartemen dan hanya menyisakan dirinya saja sendirian disini, membuat pikirannya kembali berkelana.


Entah apa saja yang Alex pikirkan saat ini namun hal itu rupanya memakan waktu yang tidak sebentar hingga membuatnya tidak sadar jika dirinya saat ini sudah berada sangat lama di dalam apartemen yang sekaligus markas mereka.


Alex melihat ke jam tangan rolex milikinya.


"Shit, aku sampai lupa waktu hanya karena memikirkan hal ini, bisa-bisa Nona Jessica nanti curiga kepada ku.." Alex mengumpati dirinya sendiri akan keteledoran yang ia lakukan.


Bagaimana nanti jika Jessica sampai curiga kepadanya karena telah lama tidak kembali ke rumah mereka apalagi pada saat ini ia sedang di percayakan untuk mengambil sebuah barang berharga milik Nona nya.


*


*


*


Dengan kecepatan penuh Alex mengemudikan mobilnya, ia hanya berharap agar alasan yang telah ia susun selama perjalanan tadi dapat berguna jikalau nanti ketika sampai rumah dirinya mendapat pertanyaan dari kedua majikannya itu.


Terutama Jessica yang menurut Alex adalah seorang perempuan yang jeli dalam segala hal, pantas saja ia sangat hebat dalam mengerjakan tugasnya sebagai Manager sebuah Artis terkenal. Semua hal yang ia lakukan seakan sudah diluar kepala dan sangat mudah ia jalani.


Akhirnya mobil yang dikemudikan Alex telah sampai di kediaman majikannya yaitu Rose dan Jessica, dengan segera Alex keluar dari mobil yang baru saja membawanya itu.


Dengan langkah tergesa Alex memasuki rumah tersebut dan mencari keberadaan Jessica.


"Nona, ini barang yang anda minta saya ambil tadi" Alex memberikan amplop yang baru saja menjadi sumber keterkejutan dirinya.


Jessica yang kebetulan saat ini berada di dapur karena sedang membuat minuman itu pun menoleh ke sumber suara yang tiba-tiba membuat dirinya terkejut.


Jessica mengambil amplop tersebut dari tangan Alex setelah menetralisir rasa terkejutnya tadi.


"Terima kasih" senyum Jessica. "Eh tapi kenapa lama sekali kamu mengambilnya, apakah ada kendala di sana??" tanya Jessica.


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak Nona, hanya saja saya sempat berbincang-bincang sedikit dengan Ibu Risma tentang panti asuhan dan dalam perjalanan pulang tadi sempat ada kemacetan karena sebuah kecelakaan" jawab Alex dengan datar agar Jessica tidak curiga kepada dirinya.


"Benarkah??" Jessica lalu memindai kondisi Alex. "Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa dan ya terimakasih atas bantuannya" ucap Jessica di barengi dengan sebuah senyuman tulus.


"Itu memang sudah tugas saya Nona" sahut Alex.


Jessica pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali berbalik membelakangi Alex karena kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda yaitu mengaduk minuman yang sedang ia buat tadi.


Ketika sudah selesai, Jessica membalikkan tubuhnya karena ingin meninggalkan dapur namun lagi-lagi ia di kaget kan oleh Alex.


"Alex, kamu mengangetkan ku lagi" keluh Jessica.


"Maafkan saya Nona" sahut Alex merasa bersalah namun ia juga tidak bergerak dari tempatnya saat ini.


Jessica melihat Alex yang seperti ingin mengucapkan atau mengatakan sesuatu kepada dirinya.


"Alex, ikut aku keruang tengah.." ucap Jessica dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Alex yang masih berada di dapur.


"Iya Nona".

__ADS_1


Alex dengan langkah cepatnya menyusul Jessica yang saat ini telah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tengah.


"Duduklah.." ucap Jessica ketika melihat Alex yang sudah berada di ruang tengah dengan posisi berdiri didepan dirinya.


Alex pun dengan sigap mendudukkan tubuhnya atas perintah Jessica barusan. Ketika melihat Alex yang sudah duduk lantas Jessica kembali melontarkan sebuah kalimat.


"Apakah ada yang ingin kamu tanyakan??" tanya Jessica karena melihat dari gelagat Alex yang memang sedari tadi sepertinya ingin menanyakan sesuatu kepadanya.


"Apakah tidak apa-apa Nona jika saya menanyakan sesuatu kepada anda dan ini pertanyaannya tentang masalah pribadi" Alex berkata dengan hati-hati karena takut menyinggung Jessica.


Biar bagaimanapun Jessica adalah majikannya yang harus ia jaga sekarang. Meskipun bukan Jessica yang memberi ia gaji.


"Tanyakanlah, selagi aku bisa menjawabnya maka akan aku jawab" sahut Jessica.


"Em.. Ini tentang masalah amplop tersebut, apakah amplop tersebut memang di tujukan kepada Nona Jessica??" tanya Alex lagi.


Jessica tertawa, tidak menyangka jika hanya itu pertanyaan yang akan Alex ajukan kepadanya karena menurut perkiraan Jessica tadi bahwa Alex akan mengajukan pertanyaan tentang hubungannya dengan Sekertaris Ren.


Karena yang Jessica tau dari pengamatannya selama ini kalau Alex dan Sekertaris Ren tidak hanya teman dalam pekerjaan namun sepertinya ada ikatan yang lebih dari itu.


"Jadi hanya itu yang ingin kamu tanyakan sedari tadi" ucap Jessica setelah tawanya sudah selesai.


Alex pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Amplop tadi itu bukan untuk ku tapi untuk Rose dan isinya hanyalah sebuah surat dari temannya" sahut Jessica. "Tapi kamu harus berjanji untuk merahasiakan masalah ini, jangan sampai orang lain tau selain kamu karena selama ini hanya kami berdua yang tau masalah ini, Rose ingin merahasiakan semua itu agar tidak ada yang membuat sebuah berita mengenai dirinya" lanjut Jessica.


"Ternyata benar apa kata Ren tadi kalau Nona Rose lah perempuan yang selama ini Tuan David cintai.."


"Baik Nona, saya berjanji tidak akan menceritakan ini kepada siapapun" sahut Alex tegas dengan wajah seriusnya.


"Baguslah, aku mengatakan semua ini kepadamu karena aku dan Rose sudah mempercayai dirimu meskipun kita belum lama kenal, namun kami percaya bahwa kamu tidak akan mengkhianati kami" tutur Jessica menjelaskan bagaimana posisi Alex di mata mereka.


"Terimakasih Nona karena sudah memberi kepercayaan kepada saya".


"Iya sama-sama".


*


*


*


*


*


Wah gimana ya kelanjutannya nih setelah Alex juga ikut mengetahui rahasia tersebut, tetap nantikan episode selanjutnya ya 😁


Jangan lupa untuk memberikan Like setelah selesai membaca, dan jangan lupa juga untuk meninggalkan Komentar dan Vote sebagai dukungan kepada author 😘😘😘


Terimakasih 🙏🙏🙏


Selamat membaca dan semoga suka sama kelanjutannya 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2