
Alex masih dengan dunianya sendiri yaitu sedang berkhayal dengan banyak pikiran terkait apa yang baru saja ia lihat.
Amplop, iya hanya sebuah amplop namun dengan logo Brawijaya Group tercetak disana. Hanya beberapa orang penting saja yang mengetahui kegunaan dari logo tersebut yang menandakan jika apa yang dikirimkan dengan menggunakan logo tersebut adalah sesuatu yang bersifat sangat penting dan rahasia.
Tidak sembarangan orang bisa menerima logo tersebut, namun kini nyatanya apa. Seorang Ibu pengurus panti asuhan bisa memegang amplop dengan logo tersebut dan ya perlu di curigai juga jika seseorang seperti Jessica lah yang telah menyuruh Alex mengambil amplop tersebut.
Apa hubungannya amplop yang bersifat sangat penting dan rahasia tersebut bisa bersinggungan dengan Jessica. Majikan yang baru saja ia layani karena perintah langsung dari David dan Sekertaris Ren.
Apakah ada sesuatu yang terlewat dalam beberapa minggu ini hingga membuat Alex yang sangat teliti bisa merasa kecolongan seperti sekarang.
"Ini nak Alex barang yang di minta nak Jessica untuk memberikannya kepadamu.." ucap Ibu Risma sambil mengulurkan amplop yang berada ditangannya kepada Alex namun yang diberi malah melamun dengan menatap kosong ke sembarang arah.
"Nak Alex.." panggil Bu Risma setelah di rasa kalau dirinya berbicara tidak di hiraukan.
Alex tersentak ketika tangan Ibu Risma menyentuh pergelangan tangannya, rupanya Ibu Risma tengah menyadarkan dirinya dari dunia khayalan yang sempat menyita perhatiannya tadi.
"Ah maaf Bu saya jadi kurang fokus, sampai mana kita tadi??" tanya Alex sopan merasa tidak nyaman akibat keteledoran dirinya yang sempat-sempatnya melamun tidak tahu waktu dan tempat.
"Ini" Ibu Risma kembali menyodorkan amplop yang tadi sudah ia sodorkan namun tidak kunjung di sambut oleh Alex.
Alex mengambil amplop yang sedang di arahkan kepada dirinya. "Terima kasih Bu, karena urusan saya sudah selesai maka saya undur diri terlebih dahulu" pamit Alex kepada Ibu Risma selaku kepala panti asuhan tersebut.
"Iya silahkan nak Alex, lain kali sering-seringlah mampir kesini bersama nak Jessica dan Rose" senyum ibu Risma kepada Alex sembari mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu keluar panti asuhan.
"Apakah Nona Jessica dan Nona Rose sering kesini Bu??" tanya Alex penasaran.
"Iya mereka sering sekali kemari lebih tepatnya adalah karena mereka berdua berasal dari sini" ungkap Ibu Risma.
Ibu Risma berpikir tidak ada salahnya memberitahukan hal ini kepada laki-laki yang baru pertama kali ia temui karena ketika Jessica berbicara kepadanya lewat telpon tadi mengatakan bahwa laki-laki yang sedang bersamanya ini adalah laki-laki yang baik, dan Jessica juga sudah memberitahukan kepada Ibu Risma jika Alex tidak akan mengecewakan mereka.
"Maksudnya bagaimana Bu??" tanya Alex bingung sekaligus penasaran.
"Apakah nak Alex tidak tau jika nak Jessica dan Rose adalah seorang yatim piatu, mereka berdua memutuskan meninggalkan panti ini ketika sudah beranjak dewasa dan beradu nasib disana hingga akhirnya usaha dan kerja keras mereka saat itu sudah terbayarkan sekarang, Ibu bangga kepada mereka berdua" lirih Ibu Risma.
__ADS_1
Alex dapat melihat binar kebahagiaan yang nampak terpancar di dalam sorot mata ibu Risma wanita paruh baya yang sangat lembut dalam bertutur kata meskipun dengan orang yang baru saja ia kenal.
"Jadi nona Jessica dan Nona Rose adalah yatim piatu, bahkan sampai sekarang saya tidak menyadarinya" tutur Alex kembali menegaskan apa yang baru saja ia dengar.
Satu lagi dirinya kecolongan, kenapa ketika diperintahkan oleh Sekertaris Ren untuk menjaga Jessica dan Rose dirinya hanya menuruti saja tanpa mencoba menggali informasi kedua perempuan itu sebelumnya.
Harusnya Alex menggunakan kekuasaannya sebagai ketua dari sebuah Geng besar dalam hal ini, mencari informasi hanyalah pekerjaan yang mudah bagi dirinya namun lagi-lagi dirinya merasa bodoh saat ini.
"Iya nak Alex, mereka berdua adalah yatim piatu. Terkadang Ibu kasian kepada mereka berdua namun Ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka malah sekarang malah mereka yang telah banyak membantu perekonomian panti asuhan ini".
Alex menghentikan langkahnya ketika mendengar apa yang baru saja Ibu Risma sampaikan, apa jangan-jangan mereka berdua lah donatur panti ini. Jika sampai itu benar maka mereka berdua memanglah seorang bidadari berwujud manusia.
"Kalau boleh saya tau, apakah mungkin kalau nona Jessica dan Nona Rose adalah donatur panti asuhan ini??" tanya Alex kemudian.
"Benar sekali nak Alex, nak Jessica dan Rose lah yang menjadi donatur utama panti asuhan ini karena merekalah anak-anak di panti ini dapat bersekolah semua dan mendapatkan kehidupan yang layak seperti teman sebaya mereka. Ibu sangat senang dan bersyukur sekali karena mereka tidak melupakan asal usulnya meskipun sekarang mereka sudah berada di tempat yang tinggi.." Ibu Risma menengadahkan kepalanya keatas seperti tengah membayangkan sesuatu.
"Pantas saja saya lihat dari dekorasi dan furniture yang berada didalam panti tadi seperti bukan barang-barang murah dan sekarang saya sudah menemukan jawabannya" senyum Alex kearah Ibu Risma yang juga di balas oleh senyuman hangat wanita paruh baya tersebut.
"Sungguh mulia hati nona Jessica dan Nona Rose bahkan meskipun mereka sudah berada di tempat yang sangat tinggi namun tidak melupakan dari mana asal usul mereka dan bahkan mereka tidak pernah malu untuk mengakuinya. Terimakasih, karena di jaman sekarang masih ada perempuan seperti mereka tidak seperti kebanyakan Artis yang lainnya yang terkadang berpura-pura lupa akan kampung halamannya sendiri.."
"Ah kalau begitu saya pamit dulu Bu maaf jadi membuat Ibu menceritakan sesuatu yang sangat penting seperti ini kepada saya.." ucap Alex sungkan.
"Tidak apa nak Alex, Ibu percaya kepada mu karena Ibu lihat kamu sepertinya adalah anak yang baik" ibu Risma mengelus pergelangan tangan Alex seperti seorang ibu yang sedang menyayangi putranya sendiri.
Alex pun yang sudah diantarkan Ibu Risma hingga depan panti pamit undur diri setelah berpamitan ia pun berjalan melewati halaman panti yang luas hingga bertemu dengan gerbang masuknya panti tersebut.
Berjalan beberapa langkah lagi hingga Alex kini sudah mendaratkan tubuhnya di dalam mobil, hal pertama yang di lakukan Alex ketika di dalam mobil bukanlah menghidupkan mesin mobil tersebut namun mengambil handphonenya dan mengetikkan suatu nama setelah itu menelpon nama yang tertera di layar handphonenya tadi.
"Bisa kita bertemu sekarang??" tanpa berbasa-basi lagi Alex langsung saja berbicara ke intinya.
"Apakah ada hal yang penting??"
"Iya, sangat penting dan aku harap kau dapat menjelaskan semuanya nanti ketika kita bertemu"
__ADS_1
"Apakah harus??"
"Aku tidak sedang bercanda Ren" sahut Alex nampak kesal.
"Ah baiklah, aku tunggu kau ditempat biasa.."
Sambungan telpon itu lantas terputus dengan Sekertaris Ren yang mematikannya terlebih dahulu.
Iya, seseorang yang baru saja ditelpon oleh Alex adalah Sekertaris Ren yang mana adalah tangan kanannya David. Alex berpikir hanya Sekertaris Ren yang dapat menjelaskan segala kebingungan yang sedang menimpanya saat ini.
Alex pun dengan cepat menghidupkan mesin mobilnya dan bergerak menuju tempat pertemuan dirinya dan Sekertaris Ren.
Sementara dilain tempat nampak Sekertaris Ren tersenyum manis dan imut membayangkan wajah salah satu sahabatnya yang akan terkejut nantinya karena Sekertaris Ren sepertinya tau apa yang akan ditanyakan oleh sahabatnya itu nanti.
(Potret Sekertaris Ren)
"Mungkin sudah saatnya aku memberitahukan keseluruhan ceritanya kepada mu agar kau tidak akan terkejut lagi jika semua ini akan terbongkar nantinya.."
Sekertaris Ren hanya bisa memberikan teka-teki saja kemarin kepada Alex karena menurut Sekertaris Ren belum saatnya Alex untuk mengetahui semuanya saat itu.
*
*
*
*
*
Selalu nantikan setiap episodenya ya 😁😘
__ADS_1
Tekan Like Komen dan Vote setelah selesai membaca, terima kasih 🙏🙏🙏