SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 18


__ADS_3

Ketika keheningan dan kesenyapan sedang mengambil alih ruangan keluarga di rumah tersebut, sebuah suara terdengar hingga membuat ketiga lelaki yang sedang diam tersebut menjadi saling menoleh dan melemparkan pandangannya.


"Siapa yang bertamu kerumah ini, tidak mungkin para tetangga tau jika seorang Artis besar yang tinggal disini" David merasa aneh.


"Apakah salah satu teman dari mereka berdua yang sedang membunyikan bel tersebut dan ingin bertamu" Sekertaris Ren pun ikut menduga-duga.


"Siapa ya?? selama aku tinggal disini tidak pernah ada satu orangpun yang bertamu kerumah ini" Alex juga merasa ada yang tidak beres.


Ketiganya kemudian saling pandang dan merasa jika mereka bertiga memliki pemikiran yang sama.


"Siapa??" teriak sebuah suara dari dapur.


"Kami saja yang membukakan pintunya, kalian lanjutkan saja acara memasaknya" sahut David.


"Baiklah".


Ketiga laki-laki itupun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju arah pintu masuk rumah tersebut.


Alex berjalan lebih dulu memegang ganggang pintu tersebut dan menariknya.


Terbuka, namun tidak ada siapa-siapa disana yang semakin membuat ketiga laki-laki itu merasa ada sesuatu yang aneh dan janggal.


"Ada sebuah kotak" ucap Alex dan memungut kotak tersebut dari lantai depan pintu.


"Cepat buka" perintah David.


Alex pun membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya mereka bertiga melihat isi didalamnya.


Sebuah foto yang sudah tercetak dengan jumlah beberapa lembar, dan yang menambah anehnya lagi adalah foto tersebut. Foto itu memuat David, Sekertaris Ren, Rose dan Jessica yang sedang berbelanja tadi pagi di supermarket.


"Apa-apaan ini" geram David.


"Sepertinya ini adalah perbuatan orang yang sama Pak" sahut Sekertaris Ren dengan mengingat kembali kejadian ketika mereka menemukan kiriman tikus mati untuk Rose.


Kemudian ketiganya menggeledah lagi isi dari dalam kotak tersebut dan benar saja seperti dugaan Sekertaris Ren bahwa ada surat didalamnya seperti kiriman sebelumnya.


Menambah kuat dugaan mereka jika memang pengirimannya adalah orang yang sama.


Dengan hati yang geram dan marah David merampas surat yang terdapat di dalam kotak tersebut dan dengan rasa tidak sabar David membuka surat yang di kemas dengan sangat rapi tersebut.


Perlahan tapi pasti David mulai membaca surat itu begitupun dengan Sekertaris Ren dan Alex yang juga ikut membaca surat tersebut dengan David yang memegangnya.


"Hai Rose sayangku,


Berapa kali harus aku katakan kalau kamu tidak boleh berdekatan dengan pria lain, sungguh itu membuat aku sakit hati.


Kamu tau kan kalau aku sangat mencintaimu dan aku tau kalau kamu juga mencintaiku.


Ingat Rose sayang kalau aku akan selalu mengawasi mu dan orang sekitarmu.


Salam cinta kekasih mu".


Kegeraman serta kemarahan David menjadi bertambah setelah selesai membaca surat yang tidak terlalu panjang itu namun sarat akan makna ancaman serta pengiriman surat itu bahkan masih sama yaitu merasa kalau Rose adalah miliknya.


Sungguh seorang psikopat, aneh dan sungguh tidak waras.


Berbagai macam sumpah serapah keluar dari mulut David ketika selesai membacanya.


"Ini bertambah gila, bagaimana dia bisa membuntuti kita Ren dan aku pun bahkan tidak merasa aneh sama sekali ketika kita berbelanja tadi" David pun berbicara dengan merasa bingung akan dirinya sendiri yang tidak merasa ada yang aneh terjadi pada saat mereka berbelanja.


"Tentu saja Pak anda tidak merasa ada yang membuntuti kita karena anda begitu sibuk berdebat dan berakting bersama Nona Rose dan yang lebih parahnya anda sangat menikmati itu semua"

__ADS_1


Sekertaris Ren ingin sekali rasanya menertawakan kebodohan atasannya tersebut. Lihatlah dibalik kemarahan yang berada di dirinya namun dengan jelas tersirat sebuah kekhawatiran yang berada di bola mata David itu.


"Dan kau Ren mengapa kamu tidak merasa ada yang mengikuti kita, bahkan dia sempat memotret kita semua. Aku sangat merasa bodoh di depan orang gila ini" David kembali menambahkan ucapannya dan menyalahkan Sekertaris Ren akan sebuah kecolongan yang terjadi kepada mereka.


"Maaf Pak, saya memang tidak merasa ada yang mengikuti kita tadi karena mungkin kita semua sangat asik berbelanja dan saling berdebat satu sama lain" Sekertaris Ren sungguh sangat bagus dalam hal menyindir atasannya sendiri.


"Apa berdebat? siapa yang kau maksud Ren?" tanya David langsung yang memang saat ini dirinya merasa tersindir akan ucapan Sekertaris Ren barusan.


Tidak David elak kalau selama berbelanja dirinya dan Rose memang selalu selalu saja berdebat bahkan untuk permasalahan yang tidak penting.


"Tunggu dulu, bahkan kalian berdua yang sangat terkenal akan kepekaan terhadap musuh saja tidak merasa sedang dibuntuti. Tidak salah lagi bahwa pelakunya ini bukan orang biasa atau amatiran, bahkan dia bisa sangat berbaur dengan sekelilingnya hingga tidak membuat siapapun curiga dengan keberadaannya" terang Alex menghentikan perdebatan David dan Sekertaris Ren.


David dan Sekertaris Ren menganggukkan kepala secara bersamaan karena membenarkan ucapan Alex barusan.


"Alex benar Pak, sepertinya orang yang sedang kita cari ini bukan orang sembarangan yang dengan mudah ditemukan seperti penjahat kelas teri. Sepertinya sekarang kita mulai mendapatkan musuh yang selevel dan sepertinya ini lumayan menarik" Sekertaris Ren memberi tambahan lagi kepada David.


"Kau benar Ren, aku harap kalian berdua bisa dengan cepat menemukan pelakunya bahkan dia saja sudah mengetahui dimana Rose tinggal" David tidak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran yang ada pada dirinya.


"Baik Pak, saya dan Alex akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan pelakunya sebelum masalah ini semakin besar" ucap Sekertaris Ren dan diangguki oleh Alex.


Ketiganya hening beberapa saat dengan pikiran yang masing-masing berkelana entah kemana.


Sampai suara dari dalam rumah mengagetkan ketiga laki-laki itu.


"Apa yang sedang kalian lakukan diluar??" tanya seseorang yang semakin dekat berjalan menuju kearah ketiga laki-laki tersebut.


Dengan cepat Alex merapikan kotak yang menjadi sumber masalah diantara mereka tadi.


"Ah tidak apa-apa Nona Rose, kami hanya sedang mencari udara segar makanya kami keluar dari rumah sebentar" jawab Alex dengan tangan ke arah belakang yang sedang memegangi kotak tadi agar tidak terlihat oleh Rose.


Rose merasa aneh dan mendelik tajam satu persatu kearah David, Sekertaris Ren dan Alex.


"Benarkah??" tanya Rose lagi yang dengan cepat dan bodohnya ketiga laki-laki itu mengangguk secara bersamaan.


"Lalu siapa yang memencet bel tadi, bukankah ada orang yang datang" tanya Rose lagi dan membuat mereka bertiga kelimpungan akan jawabannya.


Ketiganya saling melirik seakan meminta jawaban sebelum menjawab pertanyaan Rose tadi.


David menarik nafas sebelum berbicara agar tidak kelihatan kegugupan dan kebodohan yang ada pada dirinya.


Karena beberapa kali David terlihat seperti orang bodoh jika bersama dengan Rose.


"Itu bukanlah orang yang ingin bertamu tapi hanya bertanya sebuah alamat, iyakan Ren, Alex?? dengan pintarnya David melemparkan pertanyaan itu kepada Sekertaris Ren dan Alex.


"Iya benar Nona Rose tadi hanya seseorang yang sedang bertanya sebuah alamat dan kami jawab kalau kami pun tidak tau karena kami juga baru pindah kesini" jawab Alex meyakinkan hingga membuat Rose terdiam dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, ayo masuk, makan siang sudah siap" ucap Rose dan berjalan lebih dulu meninggalkan ketiga laki-laki itu.


Sepeninggal Rose dengan berbagai macam pertanyaan mengerikannya tadi membuat ketiganya menghembuskan nafas lega.


Segera David dan Sekertaris Ren menghadap ke arah Alex.


"Cepat bereskan kiriman yang tidak berguna tadi, aku tidak ingin mereka menjadi trauma akan kiriman seperti tadi" perintah David dengan berjalan meninggalkan Sekertaris Ren dan Alex.


"Baik Tuan" sahut Alex.


"Baiklah, sepertinya kita menemukan musuh yang cukup bagus untuk membuat kita bersenang-senang" ucap Sekertaris Ren kepada Alex sepeninggal David barusan.


"Iya tuan Ren, saya juga merasa begitu dan sekarang saya merasa tertantang akan kejadian ini" sahut Alex dan terlihat jelas senyuman mengerikan terlukis diwajah Sekertaris Ren dan Alex.


* * *

__ADS_1


Ketiga laki-laki itu sekarang sudah duduk di meja makan dengan berbagai jenis makanan yang sudah selesai Jessica dan Rose buat.


Masakan itu terlihat sangat menggugah selera dan membuat perut ketiga laki-laki itu semakin lapar karena memang sekarang sudah memasuki waktu makan siang.






Kedua perempuan itu sangat bisa sekali memasak, bahkan tampilan makanan itupun sangat rapi.


Setelah kelima orang tersebut sudah mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan yang sudah terdapat piring masing-masing didepan mereka.


Semuanya sudah siap untuk mengambil makanan yang ingin mereka santap.


"Udang ini terlihat sangat enak, sayang sekali Pak David tidak suka dengan udang" ucap Sekertaris Ren kepada semua penghuni meja makan itu.


"Benarkah, wah sayang sekali padahal Rose yang sudah membuatnya dan saya jamin makanan buatan Rose itu selalu enak" puji Jessica.


Wajah David seketika berubah mendengar penuturan Sekertaris Ren dan Jessica seakan mereka berdua ingin membuat Rose lebih membenci dirinya lagi.


"Kena anda Pak David, sekarang apa yang akan anda lakukan"


Seringai jahil nampak terlukis tipis diwajah tampan nan imut milik Sekertaris Ren, sepertinya dirinya sangat suka untuk menjahili bosnya sendiri.


Bahkan setelah mendengar percakapan itu David memberanikan diri untuk menatap Rose yang berada tepat di depannya sekarang.


Lihatlah betapa mengerikannya tatapan wanita dingin itu, seakan memiliki aura kepemimpinan saja mengalahkan David yang jelas-jelas seorang Pimpinan Perusahaan terkenal dan ternama.


"Ren, kau itu jangan mengada-ada, kapan aku pernah bilang tidak suka makan udang" David lantas langsung membawa piring yang berisikan udang tersebut ke dekat dirinya untuk memudahkannya memindahkan udang tersebut ke piring makan dirinya.


"Tidak usah dimakan jika tidak suka, aku juga tidak memaksa dirimu" ucap Rose sambil memasukkan suapan nasi kedalam mulutnya.


"Tidak, mana mungkin. Aku sangat suka udang, Ren saja yang tidak mengingat makanan kesukaan ku" sahut David cepat dan langsung saja memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya.


"Kenapa juga aku harus mengatakan aku menyukai makanan seperti ini, ah sudahlah lebih baik aku makan saja"


David memejamkan matanya ketika mengunyah udang tersebut namun setelah beberapa saat mata itu membuka lebar dan mencerna rasa makanan tersebut.


Enak sekali. Mungkin itu yang terpikir didalam kepala David. Bahkan tanpa malu-malu David dengan lahap memakan makanan tersebut tanpa memperdulikan orang sekitarnya lagi.


"Sepertinya anda sudah menemukan makanan yang sesuai dengan lidah anda selain masakan ibu anda Pak David"


Sekertaris Ren tersenyum samar melihat bosnya itu makan dengan lahap tidak terkecuali Rose yang juga sesekali melirik kearah depannya dimana David memakan masakannya dengan lahap.


* * * * * * *


Promosikan dong novel author kepada teman-teman kalian siapa tau mereka juga suka 🤭😁😁


Jangan lupa ya untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang untuk novel author ini 😘😘😘


Jangan bosan ya dan semoga selalu suka sama kelanjutan ceritanya.


Terimakasih 🙏🙏🙏


Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️


Dan jangan lupa juga untuk follow ig author ya 😁😁😁

__ADS_1


@muniy7


__ADS_2