SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 34


__ADS_3

Suasana ruang kerja David hening sebentar, sepertinya ketiga pria tampan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing atau lebih tepatnya bingung bagaimana cara mencari jalan keluar untuk masalah ini.


"Alex, apakah sudah kamu cek CCTV disekitar lokasi atau di dalam gedung tersebut??" Sekertaris Ren bertanya kepada Alex yang juga David ikut melihat kearah Alex sepertinya David juga sedang menunggu jawaban dari mulut Alex.


Alex menganggukkan kepalanya tanda sudah mengerjakan hal yang baru saja Sekertaris Ren itu ucapkan. "Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk meretas CCTV gedung tersebut dan hasilnya nihil. Didalam CCTV itu yang tertangkap gambar hanyalah kurir pengantar bunga tersebut yang terlihat tidak mencurigakan sama sekali" jawab Alex menjelaskan perihal tersebut karena memang dirinya tidak menemukan siapa pelaku dari pengiriman bunga tersebut.


"Shit..." David mengumpat.


"Lalu apakah kau juga sudah mengecek dari pengantaran barang mana bunga ini dikirimkan" tanya Sekertaris Ren lagi.


"Tidak Pak, kurir tersebut tidak menggunakan baju atau jaket yang berlambang tempat kerjanya, anak buah saya juga sedang menyelidiki dan mencari kurir tersebut. Kalau kita sudah mendapatkan kurir itu, maka langkah selanjutnya akan lebih mudah" Alex membeberkan rencana yang sudah ia perintahkan kepada anak buahnya.


"Baguslah, sekarang tugasmu adalah memastikan agar Nona Rose dan Nona Jessica selalu dalam keadaan aman" perintah Sekertaris Ren.


"Baik Pak. Kalau begitu saya pamit undur diri karena saya harus mengawal Nona Rose dan Nona Jessica lagi, sepertinya mereka akan selesai pemotretan sebentar lagi".


Alex pun pamit kepada Sekertaris Ren dan David dengan menundukkan kepalanya terlebih dahulu tanda memberi hormat setelah itu dirinya berjalan pergi meninggalkan ruangan mewah milik Tuannya tersebut.


Sepeninggal Alex, David dan Sekertaris Ren seperti memikirkan sesuatu apalagi setelah mendengar kabar dari Alex barusan yang menambah kekhawatiran David saat ini.


David tidak akan tenang meninggalkan Rose sendirian, ya meskipun Rose saat ini sedang ditemani Jessica dan Alex namun hal itu tidak serta merta membuat David tenang. Wajar saja dirinya mengkhawatirkan Rose karena sekarang posisi orang yang ia sayang dan cintai itu sedang dalam bahaya.


Meskipun sekarang memang belum terjadi apa-apa kepada mereka namun tidak menampik jika kemudian hari akan terjadi hal yang demikian dan diluar kendali David.


"Bagaimana Pak, apakah Bapak tidak mau jujur saja kepada Nona Rose agar hubungan anda berdua berdua bisa semakin dekat dan dapat semakin melindungi Nona Rose dari bahaya" Sekertaris Ren kembali memberikan saran kepada David demi kebaikan mereka berdua juga tentunya.


"Tidak Ren, aku akan kembali ke rencana awal saja yang memang sudah aku pikirkan sebelumnya. Kamu tolong telpon Alex dan katakan padanya jika Rose sudah selesai dengan pemotretannya dan jadwal yang lain, suruh Rose keruangan ku" perintah David.


"Baik Pak".


Sekertaris Ren pun menelpon Alex dan menyampaikan apa yang baru saja di perintahkan oleh David kepada dirinya barusan.


"Sudah Pak, lalu langkah apalagi selanjutnya yang harus saya lakukan??" tanya Sekertaris Ren.


"Tidak ada, kita hanya perlu menunggu kedatangan Rose saja saat ini setelah itu baru rencana selanjutnya akan kita laksanakan" ucap David memberitahukan.


Sekertaris Ren pun menganggukkan kepalanya tanda menurut akan perintah David. Dari pada hanya menunggu, Sekertaris Ren pun membawa pekerjaan miliknya keruangan David dan mengerjakan beberapa berkas di sofa yang berada diruang kerja David.


*


*


*


Sementara di tempat pemotretan terlihat Jessica yang senantiasa selalu berada di manapun Rose berada karena memang pada hakikatnya Jessica adalah Manager untuk Rose.


__ADS_1


(Potret Jessica)


Alex terlihat sudah kembali ketempat dimana seharusnya ia berada yaitu berada didekat Rose dan Jessica agar dapat selalu memantau keadaan mereka berdua.


Terlihat sekarang Jessica tengah berbicara kepada seorang fotografer yang tengah memotret Rose adiknya, sepertinya Jessica sedikit memberi arahan kepada sang fotografer tersebut agar foto tentang Rose masih meninggalkan kesan naturalnya.


Dapat Alex lihat juga kalau Jessica sangat sayang kepada Rose bahkan hal detail tentang Rose pun ia tahu, lebih dari seorang saudara kandung. Memang darah lebih kental dari pada air, namun disini Jessica membuktikan jika meskipun tidak ada hubungan darah sedikitpun diantara dirinya dan Rose namun hal itu tidak membuat rasa cinta dan sayangnya kepada Rose berkurang walau sesaat.


Jessica langsung berjalan kearah Rose ketika sesi pemotretan sedang jeda sebentar. Jessica dengan sigap memberikan minuman kepada adiknya itu karena Jessica yakin saat ini Rose pasti sedang kehausan.


"Apakah kamu capek??" tanya Jessica sembari mengusap kening Rose yang sedang berkeringat kecil.


Rose belum menjawab karena mulutnya masih sibuk menyedot minuman yang baru saja Jessica berikan.


Senyuman manis Rose berikan kepada Jessica. "Tidak, tenang saja, Kakak tau kan adik mu ini sangat kuat dan tahan banting" sahut Rose bercanda.


Jessica lantas saja menyentil pelan kening Rose karena disaat dirinya mengkhawatirkan kondisi adiknya itu yang ada hanyalah candaan yang Rose keluarkan.


"Kamu ini, Kakak serius. Kalau kamu capek biar beberapa agenda kedepannya yang belum berjalan Kakak batalkan saja. Karena sudah beberapa minggu ini jadwal mu sangat padat, Kakak takut kamu kecapean nanti dan sakit.." Jessica selalu tidak lupa untuk mementingkan kesehatan sang adik di atas dirinya, karena hati Jessica akan lebih sakit dan merasa bersalah jika melihat adiknya itu sakit.


Rose menggeleng. "Tidak usah Kak, mungkin untuk minggu ini Kakak terima saja semua jadwal yang ada baru kita lihat minggu depannya. Kalau memang kondisi Rose kelelahan maka Rose akan bilang sama Kakak" Rose memberikan sarannya.


"Baiklah, tapi kalau capek bilang ya jangan di pendam sendiri.."


"Baik Kak Jessi.."


Sementara Jessica kembali ke tempat duduknya sembari membuka tab miliknya dan melihat susunan jadwal untuk Rose beberapa hari kedepan.


Alex berjalan menghampiri Jessica atau lebih tepatnya berjalan agak lebih mendekat.


"Nona Jessica, tadi saya mendapat telpon dari Sekertaris Ren jika sudah selesai dengan jadwal pemotretan ini, anda berdua disuruh untuk pergi keruangan Tuan David" Alex menyampaikan perintah dari Sekertaris Ren yang baru saja menelpon dirinya tadi.


"Ada urusan apa??.." tanya Jessica yang matanya masih tidak beralih dari layar tab yang berada ditangannya.


"Saya kurang tau Nona karena saya hanya disuruh menyampaikan saja, lebih jelasnya anda berdua nanti dapat menemui Sekertaris Ren dan Tuan David diruanganya".


"Baiklah, terima kasih.."


Alex kembali memberi jarak terhadap dirinya dan Jessica setelah selesai menyampaikan pesan yang diberikan Sekertaris Ren kepada dirinya, lebih tepatnya Alex mundur beberapa langkah dari Jessica namun juga tidak terlalu jauh. Alex hanya ingin memberi ruang pribadi kepada Jessica saat ini agar Jessica merasa nyaman meskipun ada dirinya yang sedang menjaga mereka.


Setelah beberapa saat akhirnya pemotretan Rose pun telah selesai, Rose berjalan menghampiri Jessica yang tengah menunggunya dengan senyuman khas seorang Kakak kepada adiknya.


"Setelah ini apalagi jadwal kita Kak??.." tanya Rose yang posisinya sekarang sudah duduk disamping Jessica dengan meminum minuman miliknya yang telah Jessica sediakan.


"Kita akan keruangan Pak David dan Sekertaris Ren dulu, sepertinya ada yang mau mereka bicarakan kepada kita berdua" sahut Jessica memberitahukan perihal pesan dari Alex tadi.


"Mengapa mereka berdua sangat senang sekali menyuruh kita keruangannya, aku perhatikan mereka sangat sering memanggil kita berdua berbeda dengan para Artis yang berada di sini yang sangat jarang bertatap muka dengan kedua Pimpinan tertinggi itu.."

__ADS_1


Rose merasa heran mengapa mereka selalu sering di panggil oleh David dan Sekertaris Ren, padahal ketika bertatap muka nanti tidak ada pembahasan yang serius sama sekali Buang-buang waktu saja pikir Rose, tapi mau bagaimana lagi jika Pimpinan Agensi tempat mereka bernaung sudah memanggil maka mereka harus selalu sedia kapanpun.


"Entahlah, Kakak juga tidak tau apa yang akan mereka bahas nanti, Alex yang memberi kabar pun juga tidak tau" ujar Jessica lagi.


"Yasudah ayo kita kesana, mumpung sekarang urusan pemotretan juga telah selesai.." ucap Rose berdiri dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki meninggalkan studio tempat dirinya melakukan proses pengambilan gambar tadi.


"Ayo.." Jessica berjalan menghampiri Rose yang tadi sempat tertinggal karena adiknya itu malah melangkah lebih dulu dari pada dirinya.


Berjalan menuju lift dan memasukinya, kini mereka bertiga sudah di jalan untuk menghampiri David dan juga Sekertaris Ren.


Sampailah mereka bertiga di lantai tertinggi gedung Brawijaya Entertainment Group yang di huni oleh ruangan David, Sekertaris Ren dan hanya beberapa bawahan mereka disana. Karena memang tidak mudah untuk bisa melangkah masuk ke lantai tersebut tanpa seijin David ataupun Sekertaris Ren sebagai tangan kanan David.


Alex mengetuk pintu ruangan David setelah mendengar sahutan dari dalam, Alex pun membukakan pintu untuk kedua Nona nya yaitu Rose dan Jessica.


Terlihat disana sudah ada David dan Sekertaris Ren yang terlihat sedang serius mengerjakan sesuatu.


"Silahkan duduk Nona Rose dan Nona Jessica.." ucap Sekertaris Ren yang kemudian David dan Sekertaris Ren menyusul kedua perempuan itu untuk duduk juga di sofa tamu tersebut.


"Baiklah, karena waktu saya tidak banyak apa yang ingin anda bicarakan kepada kami berdua Bapak David.." ucap Rose yang sangat menekankan kata Bapak.


"Apa-apaan kata-katanya barusan, Bapak.. memangnya aku setua itu apa..!!"


"Tenang saja, saya juga tidak akan menyita waktu berharga anda Nona Rose.." sahut David.


Rose nampak melihat kearah David dengan wajah dingin tanpa sedikitpun tersirat cinta di bola matanya. Apakah Rose memang tidak pernah mencintai dirinya, ah salah maksudnya mencintai Steve.


"Saya ingin mengatakan suatu kebenaran terutama kepada anda Nona Rose" kini wajah David terlihat begitu serius, pancaran matanya ketika menatap Rose terlihat berbeda dan sangat menakutkan untuk Rose lihat.


Deg...


*


*


*


*


*


Nah loh apa yang mau David katakan pada Rose ya, apakah David akan membongkar kenyataan bahwa dirinya adalah Steve 🤔🤔


Oke jangan lupa setelah selesai membaca selalu tekan Like ya, tinggalkan juga Komentar dan Vote untuk dukungan buat author dan novel ini ya 😘😘😘


Terimakasih bagi yang masih setia untuk membaca cerita ini dan semoga kalian suka sama kelanjutan ceritanya.


Selalu author ingatkan, kalau ini hanyalah sebuah novel di mana ceritanya hanyalah khayalan author yang terlalu tinggi. Jika berkenan alangkah lebih baiknya jangan meninggalkan komentar yang buruk ya, kalau memang tidak suka silahkan untuk tidak dilanjutkan membaca cerita ini. Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2