
Sekertaris Ren menahan tawanya ketika melihat atasannya yang sepertinya sangat takut akan senyum licik yang terbingkai jelas diwajah dingin namun cantik yang dimiliki oleh Rose.
Sedangkan Jessica hanya berdiam diri sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik yang sudah dapat ia tebak kalau adiknya itu akan mempunyai sebuah rencana yang sepertinya menarik untuk dirinya sendiri.
Entahlah apa yang sekarang sedang bersarang didalam kepala Rose namun yang perlu diperjelas adalah Rose akan membuat suatu kejutan disana yang jelas dapat diketahui dari kata-kata yang barusan Rose ucapkan kepada David.
Jessica tidak kesal dengan perilaku adiknya malah terkadang dirinya akan tertawa melihat bagaimana ketika wajah adiknya itu sedang merencanakan sesuatu.
Sambil tersenyum Jessica tanpa sengaja mengalihkan pandangannya dari arah Rose hingga bertabrakan dengan arah pandangan Sekertaris Ren yang juga sedang tertuju kepadanya. Pandangan mata yang penuh arti itu saling mengunci satu sama lain namun dapat dilihat jika memang Sekertaris Ren adalah tipikal laki-laki yang dingin hingga dari tatapannya saja Jessica sudah menduga bagaimana akhirnya.
Dan benar saja Sekertaris Ren terlihat biasa saja ketika berpandangan dengan Jessica, berbeda sekali dengan Jessica yang merasakan jika detak jantungnya terpompa semakin cepat.
Untuk menutupi rasa gugupnya, Jessica memberikan sebuah senyuman terbaik yang ia miliki kepada Sekertaris Ren setelah keduanya memutuskan untuk menghentikan tatapan saling mengunci tadi.
"Mengapa dia tersenyum seperti itu, untung saja senyuman itu ia tunjukkan kepada diriku. Bagaimana jika senyuman itu ia tunjukkan kepada laki-laki lain pasti akan membuat mereka senang bukan main"
Entah apa yang dirasa Sekertaris Ren sekarang, haruskah dirinya senang ketika mendapat sebuah senyuman manis dari seorang wanita cantik ataukah dirinya harus mengumpat wanita tersebut karena berani secara terang-terangan merayu dirinya.
"Lihatlah dirinya, aku memberikan senyuman sedangkan dia memberikan tatapan seperti hendak membunuh. Dasar laki-laki menyebalkan"
Tidak hanya Sekertaris Ren, Jessica juga sedang kesal akibat Sekertaris Ren yang entah sengaja atau tidak karena baru saja mengabaikan dirinya tadi.
Jessica langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Rose dan David yang terlihat sedang membahas sedikit akan acara yang akan ia bintangi nanti malam sebagai seorang bintang tamu.
"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu kami berdua permisi terlebih dahulu" Rose berpamitan kepada David dan Sekertaris Ren.
Sangat jarang sekali jika dirinya yang mengucapkan kata-kata untuk mengakhiri sebuah pertemuan karena memang biasanya yang banyak bicara adalah Kakaknya yaitu Jessica selaku Managernya Rose.
Kedua wanita itupun menundukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat kepada atasan dan berlalu meninggalkan David dan Sekertaris Ren.
Dan disini Jessica terlihat tidak memandang sedikitpun kearah Sekertaris Ren setelah mengucapkan salam yang membuat Sekertaris Ren mengerutkan keningnya karena bingung.
"Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba menjadi wanita dingin seperti Nona Rose. Apa ini efek dari terlalu lama bersama hingga kebiasaan mereka pun jadi menular"
Sekertaris Ren hanya bisa menggelengkan kepala saja karena begitu sangat tidak memahami tentang makhluk yang namanya wanita. Bahkan ibunya sendiri dia juga tidak bisa menebak apa yang diinginkan ibunya kecuali sang ibu berterus terang kepada dirinya langsung.
"Hei kau kenapa, apa kau sakit??" tanya David ketika melihat sekertarisnya itu sedang menggelengkan kepalanya seperti orang yang sedang merasakan sakit atau pusing dikepalanya.
"Ah tidak Pak, saya baik-baik saja" Sekertaris Ren langsung menjawab pertanyaan dari atasannya itu sebelum masalah yang tidak jelas ini cepat selesai.
"Baguslah kalau begitu"
David berjalan kembali menuju kursi kebesaran dirinya diikuti oleh Sekertaris Ren yang memberi sebuah dokumen yang perlu di tandatangani oleh David.
* * *
Setelah selesai urusan dengan David dan Sekertaris Ren kini Jessica dan Rose berjalan kembali menuju ruangan mereka yang berada tepat satu lantai dibawah lantai khusus Pimpinan tersebut.
Ketika mereka bertiga sedang menunggu lift untuk membawa tubuh mereka bertiga kelantai bawah, mereka dikejutkan dengan seseorang yang keluar dari lift yang sedari tadi mereka tunggu.
Iya benar, karena yang keluar dari lift tersebut adalah Aurel dan Managernya yaitu Dion.
__ADS_1
Aurel pun juga ikut kaget melihat Rose berdiri tepat didepan dirinya namun tidak membuat Aurel dengan segera beranjak meninggalkan lift yang sempat ia tumpangi tadi. Sedangkan Dion langsung menundukkan tubuhnya untuk memberi salam yang terkesan hormat kepada Rose dan Jessica yang berada tepat didepan dirinya.
Rose dan Jessica juga sudah tau bagaimana watak Aurel yang memang tidak pernah mau membungkukkan badannya barang sedikit untuk menghormati orang lain, berbeda halnya dengan Managernya yaitu Dion yang memang terkenal sebagai laki-laki yang baik dan selalu bertutur kata yang lembut.
Bahkan Jessica dan Rose saja sampai saat ini masih tidak percaya jika dion masih betah bekerja bersama Aurel yang sangat menyebalkan itu, berada disamping Aurel selama waktu yang lama mungkin bisa membuat Rose mati ditempat karena sikap menyebalkan yang Aurel miliki, belum terhitung dengan kemunafikan yang ada pada dirinya lagi.
(Ilustrasi Rose dan Jessica didepan lift)
"Apa yang kau lakukan disini, jangan-jangan kau habis merayu David ya supaya bisa Nyonya Brawijaya" Aurel tanpa basa basi langsung saja menghina Rose tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Rose tersebut miring menanggapi cemoohan Aurel yang memang tidak ada manfaatnya.
"Maaf, aku bukan seorang wanita murahan yang dengan mudahnya menjatuhkan harga diriku hanya untuk sebuah kekayaan" balas Rose.
Oh ayolah, Rose bukan seorang Artis yang mudah untuk ditindas apalagi dia memang sangat tidak menyukai Aurel maka Rose akan dengan senang hati menampakkan wajah tidak sukanya kepada Aurel tanpa mau bersusah payah memasang wajah bak malaikatnya karena dirinya tidak suka berbohong bahkan untuk dirinya sendiri.
Wajah Aurel berubah menjadi merah, sepertinya perempuan itu akan siap untuk mengeluarkan amarahnya.
"Kau menyebutku wanita murahan, hah??" teriak Aurel begitu lantangnya.
"Aku tidak pernah menyebutmu wanita murahan, aku hanya menyebutkan seorang wanita. Apakah dirimu merasa tersindir" Rose menjawab setiap perkataan Aurel dengan tenang tanpa ikut tersulut oleh emosi sedikitpun.
"Kau tidak usaha berlagak so suci disini, bukankah tujuanmu masuk Agensi ini hanya untuk mendapatkan pemiliknya. Aku tau betul bahwa Artis sepertimu yang tidak mempunyai asal usul yang jelas pasti akan menggunakan segala macam cara untuk berdiri dipuncak"
Aurel yang semakin gencar untuk memancing amarah Rose.
Makanya Jessica tidak pernah mau mengambil projek yang sama dengan Aurel untuk menghindari hal semacam ini. Karena memang Jessica tau bagaimana Rose yang tidak akan mau terlihat lemah dihadapan siapapun.
"Rose sudah, jangan seperti ini" Jessica berusaha meredam amarah Rose untuk tidak menanggapi berbagai macam perkataan yang keluar dari mulut Aurel.
Aurel tertawa mengejek melihat Jessica yang menenangkan Rose.
"Hei kau juga sama, Manager tanpa asal usul. Ah apa harus aku katakan jika kalian berdua sangat cocok menjadi pasangan Artis dan Manager yang sama-sama tidak memiliki asal usul yang jelas"
Tidak hanya menghina Rose saja namun Jessica pun ia ikutkan dalam masalah ini.
"Biarlah kami tidak mempunyai asal usul yang jelas seperti dirimu, tetapi kami masih mempunyai hati nurani yang bisa dikatakan sebagai manusia tidak seperti dirimu manusia tapi berperilaku tidak lebih dari seekor binatang". Sepertinya Jessica terpancing emosi akan Aurel yang menghina mereka tadi.
"Apa kau bilang..!!!!" teriak Aurel yang tidak terima dirinya disamakan dengan binatang.
Aurel maju melangkahkan kearah Jessica seperti siap untuk menerkam wanita itu.
Namun dengan cepat Rose melindungi Jessica dengan berdiri didepan Jessica dan menantang tajam kearah Aurel.
Aurel tidak takut dengan Rose yang melindungi Jessica, Aurel melangkahkan kakinya terus kearah Rose dan dalam sekali tendangan dibagikan kaki Aurel langsung kelantai tanpa pertahanan apapun.
"Nona Aurel" teriak Dion yang melangkah menghampiri Aurel yang terdampar dilantai akibat tendangan dari Rose yang tepat mengenai kakinya barusan.
Rose berjalan mendekat kearah Aurel dan berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuh mereka agar sejajar.
__ADS_1
Rose mendekatkan wajahnya kearah wajah Aurel tepatnya kesamping dan berbicara tepat dengan ditelinga Aurel.
"Jangan macam-macam dengan ku jika kau tidak ingin karirmu hancur. Aku memang tidak mempunyai latar belakang yang kuat seperti dirimu tapi aku akan menghancurkan siapa saja yang berani mengusik diriku maupun orang terdekatku. Kau camkan itu"
Rose memberikan senyuman miringnya kepada Aurel dan beranjak berdiri meninggalkan Aurel yang masih terdampar dilantai. Rose memasuki lift dengan diikuti oleh Jessica dan Alex tepat sebelum pintu lift tertutup Aurel dan Rose sama-sama saling memandang dengan Rose yang memasang wajah dinginnya sedangkan Aurel sangat geram akan kekalahannya terhadap Rose.
"Aarrrggggghhhh....." teriak Aurel ketika lift yang ditumpangi oleh Rose dan yang lainnya telah meninggalkan dirinya dan kekalahan.
Sedangkan sekarang Rose bersama Jessica dan Alex yang sedang berada didalam lift sedang tertawa mengingat bagaimana wajah kesal dan marah Aurel ketika dirinya kalah beradu argumen dengan Rose.
"Apa Kakak lihat bagaimana wajah Aurel tadi, aku sangat menyukainya" tawa Rose sangat bahagia atas kemenangan yang baru saja ia dapatkan.
"Kamu kenapa sih suka banget meladeni Aurel, dia kan memang kaya gitu dan ngga bakal pernah berubah" Jessica hanya tidak tau bagaimana jalan pikiran Rose yang sangat menyukai perdebatan antara dirinya dan Aurel.
"Aku hanya tidak suka dia menindas kita Kak, meskipun kita tidak memiliki orang tua yang kaya raya dan berpengaruh namun itu tidak bisa dia jadikan sebagai alat untuk menindas kita. Aku tidak suka jika diriku dipandang rendah dan lemah oleh orang lain" Rose memberikan jawabannya kepada Jessica yang membuat Kakaknya itu menjadi merasakan apa yang sedang adiknya itu rasakan.
Rose yang melihat perubahan diwajah Jessica menjadi mengerti apa yang sedang Kakaknya itu rasakan.
"Hei ayolah, aku tidak apa-apa Kak, kau tau kan kalau adikmu ini adalah seorang perempuan yang kuat dan tahan banting" canda Rose kepada Jessica untuk mencairkan suasana.
Jessica langsung saja memeluk Rose dan Rose yang juga membalas pelukan dari Kakak satu-satunya itu.
"Maafkan Kakak sampai saat ini masih tidak bisa menjaga dan melindungi mu"
"Hei Kak aku tidak apa-apa, sudahlah jangan lebay seperti ini"
"Dasar anak nakal, Kakakmu sendiri kau bilang lebay"
Jessica memukul pelan punggung Rose yang setelah itu ia usap kembali sembari memeluk adiknya itu.
"Kau sangat curang Kak setelah memukul ku kau mengusapnya lagi sebelum aku memprotesmu" canda Rose kepada Jessica.
Jessica tersenyum didalam pelukan mereka. "Itulah hebatnya Kakakmu ini yang sedang mencari aman" balas Jessica menggoda Rose.
Kedua Kakak beradik itu hanya memerlukan sebuah candaan untuk memecah suasana tegang diantara mereka, pertalian tanpa ikatan darah tidak membuat hubungan mereka yang saling menyayangi itu menjadi surut bahkan mereka selalu berusaha untuk saling ada satu sama lain.
* * * * * * *
Promosikan dong novel author kepada teman-teman kalian siapa tau mereka juga suka 🤭😁😁
Jangan lupa ya untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang untuk novel author ini 😘😘😘
Jangan bosan ya dan semoga selalu suka sama kelanjutan ceritanya.
Terimakasih 🙏🙏🙏
Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️
Dan jangan lupa juga untuk follow ig author ya 😁😁😁
@muniy7
__ADS_1