
Setelah proses makan siang, Jessica di ajak ibunda Sekertaris Ren untuk tidur siang di kamar miliknya bersama ibu juga tentunya.
Jessica yang awalnya sempat menolak mau tidak mau menuruti permintaan ibunya Sekertaris Ren karena merasa tidak enak.
Jessica memasuki kamar itu dengan pelan dan takut karena baru pertama kali ini memasuki kamar seseorang yang bukan siapa-siapa dirinya.
"Ayo sayang masuklah, jangan malu kamu sudah Tante anggap sebagai anak sendiri" ajak Adinda ibunya Sekertaris Ren yang sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
Adinda tidak lupa juga menepuk samping tempat tidur yang sedang dia duduki pertanda menyuruh Jessica untuk duduk disampingnya.
Melangkah pelan menuju kearah yang disuruh dan mendudukkan tubuhnya disana, sungguh Jessica tidak berpengalaman dalam mengambil hati seorang ibu, padahal tanpa perlu bersusah payah Jessica memang sudah mendapatkan hati Adinda dengan segala apa yang ada pada dirinya.
Kepolosan, kebaikan hati, kesopanan serta kecantikan sebagai nilai tambah dalam dirinya membuat siapa saja akan dengan senang membuat Jessica menjadi seorang menantu di keluarga mereka tidak terkecuali Adinda.
"Sayang, boleh Tante bertanya sesuatu kepadamu??" Adinda ingin mengorek sedikit tentang Jessica tanpa sepengetahuan anaknya.
"Iya Tante silahkan" jawab Jessica sopan.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan sayang" Adinda harus bisa membuat anaknya bersatu dengan perempuan yang sekarang berada disampingnya itu.
Jessica menggeleng "Belum Tante, Jessica belum mempunyainya" Jessica memberikan jawabannya seadanya namun jujur.
Tidak dapat dipungkiri lagi, Adinda sangat senang mendengarnya. "Benarkah sayang, kalau begitu bagaimana dengan anak Tante, dia juga sekarang belum mempunyai pasangan" Adinda langsung saja ke inti perbincangan mereka.
Lihatlah akibat yang di lakukan oleh Adinda membuat Jessica malu, wajahnya sampai merona seperti itu. Padahal hanya Adinda yang berucap seperti itu belum Sekertaris Ren yang menembaknya namun sudah membuat jantung Jessica berdegup kencang.
"Maksud Tante bagiamana ya, Jessica sedikit kurang paham" Jessica seperti orang bodoh sekarang.
Adinda menggenggam tangan Jessica seperti menyalurkan keyakinan kepada dirinya untuk wanita muda nan cantik disampingnya itu.
"Maksud Tante bagaimana jika kamu mencoba berhubungan dengan anak Tante, tidak ada salahnya kan di coba dahulu bukankah kalian juga sama-sama sendiri sekarang" Adinda menjelaskannya maksudnya lagi.
"Tapi Tante.."
"Tante mohon kamu mau ya, bantu Tante untuk membuat anak itu sadar jika hidup itu tidak bisa dilakukan sendiri terus, karena pada hakikatnya semua harus mempunyai pasangan untuk saling melengkapi" bujuk rayu Adinda keluarkan.
Jessica menggeleng. "Bukan masalah itu Tante, tapi kita tidak bisa memaksa Sekertaris Ren untuk menerima saya karena saya tidak ingin karena hal ini nantinya membuat kami dalam masalah"
"Tidak sayang, Ren pasti akan menerima kamu juga, tidak mungkin dia akan menolak seorang perempuan cantik seperti kamu ini" terang Adinda meyakinkan Jessica.
"Bahkan selama ini dia sudah menolak diriku lewat sikapnya yang sangat acuh itu, bahkan untuk melihat ke arah aku saja sangat sulit dan kami hanya bertemu jika menyangkut pekerjaan. Bagaimana bisa Sekertaris Ren mau menerima diriku ini, bahkan aku sendiri saja tidak percaya diri" Jessica kembali menelisik ingatan beberapa hari sejak pertemuan pertamanya dengan Sekertaris Ren yang sangat dingin itu.
"Tidak perlu di paksa Tante, jika memang kami berjodoh pasti akan bersatu suatu saat nanti, yang perlu kamu berdua lakukan sekarang hanyalah menjalani hari-hari seperti biasanya" Jessica tidak ingin memberikan harapan palsu kepada ibunya Sekertaris Ren yang sangat baik sekali kepadanya.
Sosok seorang ibu yang sangat ia nantikan kedatangannya dari dulu, dekapan hangat Adinda tadi dapat seketika membuat Jessica nyaman hingga melupakan kejadian yang sedang ia alami. Sungguh Jessica memang memerlukan seseorang yang dapat menjadi sandaran dirinya sekarang, begitu banyak waktu ia lalui hanya bersama Rose dan saling menguatkan satu sama lain.
Sekarang Jessica harus mengubah pemikiran itu dengan cara mereka berdua harus mencari pasangan hidup, seseorang yang dapat menemani mereka hingga tua dan menutup usia nanti.
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Jessica dan Adinda memutuskan untuk tidur siang bersama dengan Adinda yang saat ini memeluk Jessica seperti anaknya sendiri tanpa ada kecanggungan didalamnya. Begitupun Jessica yang menerima dengan senang hati pelukan Adinda yang sangat hangat dan nyaman tersebut hingga tanpa sadar membuat dirinya terbuai ke alam mimpi.
Tanpa sepengetahuan Jessica dan Adinda, ternyata sedari tadi Sekertaris Ren ikut mendengarkan pembicaraan mereka berdua lewat pintu kamar yang tidak terkunci rapat. Mungkin karena kegugupan Jessica tadi hingga membuatnya lupa untuk menutup rapat pintu kamar tersebut.
Tidak Sekertaris Ren pungkiri juga tentang apa yang ada dalam dirinya, ada suatu perasaan aneh jika berada di dekat Jessica namun Sekertaris Ren tidak ingin menarik kesimpulan langsung dengan mengatakan jika dirinya menyukai perempuan itu.
__ADS_1
Biarlah waktu yang menjawabnya dengan mereka yang hanya perlu mengikuti alurnya.
* * *
Di lain tempat dan kesempatan, sekarang Rose juga sedang berada diruang keluarga bersama David dan kedua orangtuanya yaitu Dimas dan Sinta. Setelah menghabiskan makan siang tadi mereka berempat menuju ruang keluarga hanya untuk sekedar bercengkrama.
Dimas yang awalnya juga dikagetkan oleh kehadiran seorang perempuan cantik dirumahnya ketika dirinya sedang pulang saat jam istirahat makan siang hingga sang istri memberikan penjelasan kepadanya yang mengatakan jika David anak merekalah yang membawa Rose kerumah mereka.
Sungguh sesuatu yang sangat tidak mungkin di lakukan oleh seorang David menurut Dimas yang selaku orangtuanya.
David hanya diam saja melihat interaksi kedua orangtuanya kepada Rose, dapat David lihat binar kebahagiaan terpancar di jelas dikedua pasang mata orangtuanya. Apakah ini yang selama ini ayah dan ibunya cari, seorang wanita yang akan menjadi menantu di keluarganya dan menemani ibunya di rumah sebagai ibu rumah tangga.
"Dia tidak akan mau melepas karirnya yang cemerlang itu hanya untuk menjadi ibu rumah tangga, aku berani bertaruh. Semua perempuan sama saja yang akan lebih memilih karir dari pada keluarganya sendiri"
David meyakini jika Rose juga akan sama seperti perempuan karir pada umumnya yang tidak akan mungkin mau melepas karirnya begitu mereka menikah nanti.
Menikah?? sungguh konyol. Bagaimana David bisa memikirkan suatu pernikahan apalagi dengan Rose seorang perempuan yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
* * *
Ketika malam tiba David mengantarkan Rose pulang, namun terlebih dahulu ia menelpon Sekertaris Ren untuk mengantarkan Jessica pulang serta menghubungi Alex untuk bertemu dirumah Rose nantinya.
Sesampainya disana David dan Rose berjalan ke arah pintu rumah mereka dan disana sudah terlihat Alex, Jessica maupun Sekertaris Ren yang sepertinya mereka sudah sampai lebih dulu dibandingkan Rose dan David.
Rumah bergaya minimalis itu sangat bagus dipandang meskipun menurut David itu tidak cocok untuk seorang Artis terkenal seperti Rose.
(Hanya ilustrasi)
Meskipun menjadi Artis terkenal tidak membuat Rose dan Jessica menjadi lupa diri akan asal usul mereka, dari pada menghamburkan uang untuk kemewahan gaya hidup. Mereka berdua lebih suka membangun sebuah panti asuhan dan memberikan dana disana setiap bulannya sebagai donatur tetap.
Karena mereka sangat tau bagaimana rasanya panti asuhan yang tidak memiliki donatur tetap, mereka akan merasakan kelaparan pada saat tidak adanya sumbangan yang diberikan kepada panti asuhan tersebut.
Rose dan Jessica pun mempersilahkan masuk kepada ketiga pria tamban itu yang diikuti oleh ketiga tanpa suara sedikitpun.
"Astaga mereka bertiga sangat cocok jika berkumpul. Sama-sama pendiam dan tidak banyak bicara"
Rose memperhatikan ketiga pria yang sudah duduk di kursi tamu mereka, namun ketiga pria itu tidak nampak akan berbicara sedikitpun. Jessica membawa nampan berisi minuman kepada para tamunya.
"Silahkan diminum, maaf seadanya" ucap Jessica sopan dan kembali duduk disamping Rose.
Ketiganya mengangguk dan mengambil gelas minuman itu dan lagi-lagi tanpa bicara sedikitpun. Meneguk beberapa kali dan kembali meletakkan gelas tersebut David diikuti Sekertaris Ren dan Alex. Sungguh pemandangan lucu untuk Rose dan Jessica yang seperti melihat robot tampan sedang minum didepan mereka.
"Saya ingin membuat kesepakatan disini dan memerlukan ijin kalian berdua" ucap David setelah beberapa saat terdiam setelah meletakkan gelas minumannya tadi.
"Kesepakatannya apa kalau kami boleh tau??" tanya Jessica menatap David serius.
"Cih, aku bahkan tidak suka melihatnya menatap laki-laki lain, apa-apaan ini" Sekertaris Ren menatap penuh keseriusan kepada atasannya dan Jessica.
"Begini biar saya jelaskan. Karena Perusahaan tidak ingin terjadi apa-apa kepada para Artis yang berada dibawah naungannya, jadi saya mengusulkan untuk Alex selaku supir sekaligus bodyguard untuk menjaga kalian selama 24 jam dan jika kalian berkenan Alex akan tinggal disini bersama kalian. Bagaimana??"
Jessica dan Rose saling memandang dengan maksud untuk saling meminta jawaban.
__ADS_1
David yang melihat kebingungan di wajah kedua perempuan itu pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Kalian tenang saja, ini hanya sementara sampai kami menemukan siapa dalang di balik pengiriman tadi siang. Kami hanya tidak ingin berita ini sampai ke telinga media dan menjadi konsumsi publik" lanjut David.
"Baiklah, jika itu memang yang terbaik untuk kami dan Perusahaan" sahut Jessica.
"Baguslah kalau begitu, apa disini ada kamar kosong atau kalau tidak ada Alex bisa tidur dimana pun" ucap David seenaknya sendiri.
"Tidur dimana pun, apa jika mereka menyuruh ku tidur di teras rumah, kalian ada mengiyakannya saja" Alex bersungut-sungut didalam hati mendengar penuturan bosnya itu.
"Tenang saja, kami mempunyai satu kamar kosong dirumah ini dan Alex bisa tidur disana" Mana tega Jessica membiarkan seseorang yang akan melindungi mereka malah harus tidur disembarang tempat.
"Nona Jessica memang yang terbaik, tidak seperti bos ku" Alex lagi-lagi mengumpat kepada David lewat hatinya karena mana berani ia berbicara secara langsung.
"Itu lebih baik dan apakah Alex sudah bisa menempati kamar itu malam ini??" tanya David lagi.
"Tentu saja, kamar itu tidak pernah dipakai dan selalu kami bersihkan jadi bisa digunakan kapanpun" tutur Jessica menjelaskan.
Setelah negosiasi berhasil dan Alex sudah berada dikamar yang telah tersedia untuknya dengan merapikan barang-barang yang telah ia bawa terlebih dahulu sejak tadi.
Sekarang tersisa mereka berempat saja disana dan sepertinya suasana kembali tegang dan hening.
"Untuk beberapa hari kedepan kalian tidak perlu pergi ke Perusahaan, tenangkan lah diri kalian dahulu sebelum kembali beraktivitas" perintah David.
"Tapi bagaimana dengan beberapa jadwal pemotretan dan syuting iklan yang sudah ditetapkan" tanya Rose.
Akhirnya sedari tadi Rose angkat bicara setelah terdiam cukup lama dan hanya membiarkan Jessica mengatasi semuanya.
"Kalian tidak perlu khawatir, Perusahaan yang akan mengatur ulang jadwal tersebut. Karena yang terpenting sekarang adalah kesehatan kalian" tutur David lagi.
"Baiklah, kami akan mengambil libur beberapa hari kedepan" sahut Rose.
Setelah di rasa cukup untuk membahas kesepakatan itu, David beserta Sekertaris Ren pun undur diri untuk pulang berbarengan dengan Alex yang terlihat keluar dari kamar barunya itu. Sepertinya Alex sudah selesai membereskan semua perlengkapannya.
"Baiklah kalau begitu kami permisi, jaga diri kalian baik-baik" ucap David.
"Kalau ada apa-apa kalian bisa langsung hubungi kami" sambung Sekertaris Ren.
"Apa-apaan mereka berdua tidak seperti biasanya, kekhawatiran yang terpancar di bola mata kalian sangat berbanding terbalik dengan wajah datar dan dingin kalian. Sungguh menggelikan"
Alex kembali menertawakan kebodohan dari sikap kedua atasannya itu yakni David dan Sekertaris Ren. Dia paham betul apa makna dari tatapan kedua pria itu.
David dan Sekertaris Ren pun menuju mobilnya masing-masing dan berkendara meninggalkan kediaman Rose dan Jessica setelah selesai berpamitan tadi.
* * * * * * *
Semoga suka sama kelanjutan ceritanya dan jangan sampai bosan ya teman-teman 😁😁
Jangan lupa untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang untuk author sebagai dukungan ya 😘😘😘
Terima kasih untuk yang masih setia membaca novel author yang belum berpengalaman ini 🤭🤭🤣🤣🤣
Selamat membaca Readers ♥️😘♥️
__ADS_1
Jangan lupa untuk follow ig author ya 😁😁
@muniy7