SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 36


__ADS_3

David di buat gugup oleh jawaban Rose yang sedari tadi hanya berkata aku saja namun tidak ada kelanjutannya, ayolah sekarang jantung David sedang berdetak tak tentu arah. Sepertinya menunggu jawaban dari Rose lebih membuat dirinya gugup dan sempat akan kehilangan akal sehat.


Menunggu menemukan Rose saja sudah bertahun-tahun masa iya menunggu jawaban saja memerlukan waktu yang lama, bisa jadi perjaka tua nanti David.


Dapat David lihat memang jika Rose terlihat gugup seperti dirinya juga saat ini, kedua tangan Rose terlihat saling menggenggam untuk menghilangkan kegugupan yang sedang melanda dirinya. Bahkan peluh mulai terlihat di pelipis Rose padahal ruangan David sudah dilengkapi dengan pendingin tapi tetap saja hawa panas di dalam tubuh Rose tidak dapat di dinginkan.


"Aku..." Rose kembali melanjutkan ucapannya namun lagi-lagi hanya sampai itu, tidak ada kata tambahan.


Sepertinya David memang harus memancing perempuan ini.


"Yasudah kalau anda memang tidak bisa membantu saya, biarlah saya cari jalan keluarnya sendiri, semoga saja Ibu saya akan baik-baik saja nanti ketika mendengar kabar dari saya.."


"Jangan..!!!!" teriak Rose spontan.


David mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban Rose yang begitu cepat dan keras.


"Kenapa?.. Bukankah anda tidak bisa membantu saya jadi untuk apa lagi, lebih baik saya berterus terang saja kepada Ibu saya nanti. Semoga saja penyakitnya tidak tambah parah ketika mendengar kejujuran saya nantinya.."


David berbicara dengan nada sedihnya namun matanya masih sempat melirik kearah Rose untuk melihat bagaimana ekspresi wanita itu ketika David menyebutkan tentang Ibunya. Terlihat saat ini raut wajah Rose menjadi serba salah dan itu membuat David mengambil kesempatan.


David memulai kembali aktingnya.


"Bagaimana kalau ibu..." David tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali berpura-pura bersedih.


Dari balik sela-sela jarinya David kembali mengintip apa yang sedang Rose lakukan dan ekspresi apa yang sedang Rose perlihatkan saat ini.


Dan benar saja Rose terlihat semakin bersalah dan tanpa terduga lagi Rose mendekat kearah tempat duduk David yang memang sekarang berada tepat didepan Rose yang hanya terpisah meja saja.


Perlahan Rose bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengitari meja tersebut untuk sampai ke tempat David berada. Rose mendudukkan tubuhnya disamping David dan lagi-lagi hal tak terduga bagi David terjadi.


Rose mengambil kedua tangan David yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi wajahnya, perlahan Rose memegang tangan tersebut dan menurunkannya. Sejenak mereka berdua saling pandang hingga Rose yang terlebih dahulu memutuskan pandangan mata mereka.


"Baiklah, saya akan membantu anda untuk bersandiwara didepan Ibu anda sampai Ibu anda sehat kembali.." ucap Rose kepada David yang saat ini masih saja terfokus untuk menatap wajahnya.


David terbengong.


"Pak David.." Rose melambaikan tangan kearah depan wajah David.


"Ah maaf.." David menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal untuk mengurangi rasa malu dan canggungnya. "Terima kasih banyak karena anda berkenan membantu saya sekaligus Ibu saya" ucap David dengan wajah sumringah.


Entahlah antara bahagia atau kah apa, yang pastinya saat ini hatinya sangat senang bukan main karena rencana yang satu sudah berhasil yaitu meyakinkan Rose untuk mau menjadi pacar pura-puranya. Setelah itu David akan lebih mudah masuk ke dunia milik Rose tanpa halangan lagi.


David akan membuat Rose menyukai dirinya. Iya, dirinya yaitu David bukan Steve seperti selama ini yang pernah terjadi.


"Sekarang apa yang harus saya lakukan Pak??" tanya Rose bingung karena memang saat ini dirinya bingung harus menempatkan dirinya pada bagian apa meskipun Rose juga tau mulai saat ini dia sudah berstatus sebagai kekasih dari pemilik Agensinya sendiri namun kan itu semua hanya kepalsuan.


David terlihat berpikir sejenak sementara Rose memandangi dirinya seperti tidak sabar akan apa yang menjadi ucapan David nantinya.


"Mari kita mulai dari hal sederhana yaitu mengubah panggilan kita satu sama lain yaitu jangan memakai bahasa formal lagi, namun kita ganti dengan aku kamu. Bagaimana??" tanya David meminta saran apakah Rose mau menerima saran yang barusan ia ucapkan.


"Baiklah Pak"


"Pak???"

__ADS_1


"Ah maksud aku baiklah David.."


Rose terasa masih sangat canggung dengan bahasa informal mereka sekarang apalagi saat ini hanya ada mereka berdua didalam ruangan besar ini yang membuat Rose semakin canggung.


"Apakah kamu tidak keberatan nanti jika didepan Ibu, saya akan memanggil kamu dengan sebutan sayang dan menggandeng tangan kamu.." ucap David memberitahukan terlebih dahulu rencana dirinya.


Bukannya menjawab, Rose malah melototkan matanya kaget akan ucapan David barusan.


Sayang???


Bergandengan tangan???


Kedua hal tersebut belum pernah sekalipun Rose lakukan bersama kekasihnya, ya tentu saja karena selama ini Rose memang belum pernah pacaran sekalipun.


Rose hanya pernah berangan-angan kalau seandainya ia pacaran maka Steve yang akan menjadi kekasihnya nanti dan sekarang hal yang tidak terduga terjadi. Yang akan menjadi kekasihnya adalah David seorang laki-laki idaman berbagai macam wanita dari semua kalangan.


Tidak sedikit David menjadi pacar, kekasih dan suami idaman semua wanita sampai saat ini. Hal itu tentu saja terjadi karena David sangatlah tampan dan berbadan atletis belum lagi kekayaan keluarganya yang bahkan tidak akan habis lebih dari tujuh turunan. Siapa yang tidak mau menjadi kekasih dari seorang Steven David Brawijaya yaitu pewaris tunggal Brawijaya Group yang merupakan Perusahaan besar terkenal hingga mancanegara.


Bolehkah saat ini Rose senang menjadi kekasih dari seseorang yang sangat di idamkan olah banyak wanita meskipun Rose sangat tau ia hanya akan menjadi kekasih bohongan saja.


Entahlah, bagi Rose yang sekarang harus ia lakukan adalah menjalani semua ini dengan baik dan lancar agar rencana mereka sebagai kekasih bohongan ini segera berakhir dan sekaligus Rose tidak akan merasa bersalah dengan Ibunda David yang juga sudah sangat baik kepada dirinya kemarin.


"Kamu tidak usah terkejut seperti itu, aku hanya akan melakukan semua hal itu dihadapan Ibu ku dan ayah agar mereka berdua percaya kalau memang kita adalah sepasang kekasih.." David berusaha menjelaskan sebelum Rose melakukan protesnya.


David dapat melihat ketika Rose melototkan matanya tadi akibat keterkejutan malah semakin membuat aura dinginnya terpancar. Ah David selalu saja kalah kalau sudah berhadapan dengan aura dingin yang dimiliki oleh Rose.


"Yang dia katakan ada benarnya, aku sempat berpikir hal yang tidak-tidak barusan.."


Rose kembali memikirkan ucapan David yang sepersekian detik kemudian menganggukkan kepalanya yang artinya ia menyetujui saran yang diucapkan David.


"Berjalan lancar, lanjut ketahap berikutnya.."


David begitu senang Rose mau saja mengikuti permainan yang sedang ia susun secara rapi ini dan David hanya dapat berdoa semoga kedepannya rencana ia akan berjalan mulus dengan bahagia sebagai garis akhirnya.



(Potret Rose)


"Ibuku akan keluar dari rumah sakit beberapa hari lagi, apakah kamu mau menemaniku untuk menjenguk Ibuku ketika dia sudah pulang dari rumah sakit nanti..??" tanya David kembali.


David harus secepatnya mempertemukan Ibunya dengan Rose, kalau tidak Ibunya itu akan menjodohkan dirinya dengan anak teman Ibunya.


David tidak mau hal itu terjadi, ia tidak ingin menikah dengan siapapun selain Rose yang sejak dulu ia cintai.


"Em baiklah, aku akan menemani untuk bertemu Ibu mu nanti" sahut Rose yang menyetujui permintaan David.


Kemudian kesunyian mengambil alih suasana diantara mereka berdua.


Rose juga merasa bimbang, apakah keputusan yang ia ambil tadi adalah keputusan yang tepat. Namun di sisi lain Rose juga tidak ingin membuat perempuan paruh baya yang sangat baik kepadanya kemarin harus menanggung sakit kalau seandainya dirinya tidak mengiyakan ajakan David saat ini.


Ibu David tentu sangat berarti bagi Rose karena perempuan paruh baya itu sangat baik atau bahkan terlalu baik untuk Rose yang pada saat itu mereka berdua bahkan baru mengenal satu sama lain, namun Ibunda David dengan tangan terbuka, senyuman yang menawan serta pelukan yang hangat dalam menyambut Rose.


Sungguh jika bisa di ulang, Rose ingin sekali lagi merasakan pelukan hangat dari Ibunda David itu, seandainya hanya seandainya jika dia memiliki Ibu seperti itu juga maka Rose akan sangat sangat bersyukur atas karunia tersebut.

__ADS_1


Namun hal itu harus Rose hilangkan dari pikirannya karena memang hal tersebut sangat tidak mungkin.


Ah Rose menemukan sebuah ide agar khayalannya itu menjadi kenyataan yaitu dengan David dan dirinya menikah yang otomatis Ibunya David akan menjadi Ibunya juga.


"Bodohnya aku, mengapa sampai memikirkan hal sejauh itu, tidak mungkin aku dan David akan menikah, lalu bagaimana dengan Steve karena aku tidak mungkin akan mengkhianati dirinya. Tapi di sisi lain aku juga memerlukan sebuah kepastian.."


Saat ini sepertinya Rose sedang berperang batin sendiri.


"Em apakah aku boleh bertanya sesuatu..??" tanya Rose memecahkan kesunyian diantara mereka.


"Silahkan.."


"Mengapa kamu malah memperkenalkan aku sebagai kekasih mu karena kalau dipikirkan bagaimanapun tidak mungkin kamu yang seperti ini tidak memiliki kekasih..??"


Pertanyaan Rose barusan sontak saja membuat David tertawa keras, dia menertawakan kepolosan Rose yang entah mengapa dirinya sangat suka itu.


"Kenapa malah tertawa, perasaan ngga ada yang lucu" tanya Rose bingung namun dengan wajah yang cemberut.


"Astaga kamu lucu banget sih kalau lagi cemberut gitu.." David mencubit kedua pipi Rose yang sengaja Rose kembungkan karena cemberut tadi.


Rose langsung saja mencoba melepaskan kedua tangan David dari pipinya yang saat ini menjadi bahan cubitan David. "Ih apaan sih, sakit tau.." kesal Rose yang sekarang mengelus kedua pipinya yang saat ini sepertinya akan memerah karena cubitan David barusan.


"Yasudah sini" ucap David yang kemudian mengelus kedua pipi Rose.


Blush...


Entah karena cubitan atau karena hal lain, yang pastinya Rose saat ini sedang merasa malu karena baru saja untuk pertama kalinya ada seorang pria yang mengelus wajahnya dengan lembut.


David seketika tertawa kembali karena melihat wajah Rose yang merona.


"Wah muka kamu merah.." goda David dengan masih menertawakan Rose.


Rose langsung saja memukul-mukul David. "Ih jahil banget sih.." Rose masih tidak berhenti memukul-mukul David namun David bukannya merasa sakit namun malah masih tertawa dengan kepolosan yang baru pertama kali Rose tunjukkan kepada dirinya.


*


*


*


*


*


Si David bisa aja ya menggoda Rose sampai malu gitu, kan merah jadinya wkwk 🤣🤣🤣


Oke, selalu author ingatkan untuk menekan Like setelah selesai membaca dan selalu dukung author lewat Komentar dan Vote untuk novel ini ya 😘😘😘


Terimakasih kepada kalian yang masih mau menyempatkan untuk membaca novel author yang sangat biasa ini dan semoga kalian akan selalu suka dan menantikan setiap episodenya 😁😁😁


Novel ini hanyalah karangan semata dan yang pastinya khayalannya sangat tinggi, jadi bagi yang merasa tidak suka akan lebih baik berhenti membacanya dari pada memberikan komentar yang hanya membuat author down ketika membacanya.


Author hanya ingin mengingatkan karena di novel author yang satunya pernah terjadi hal yang seperti itu dan untuk novel ini author harap tidak terjadi lagi.

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏🙏


__ADS_2