SAHABAT PENA

SAHABAT PENA
SP 30


__ADS_3

David berlari menuju kamar tidurnya untuk mengambil handphone dan menghubungi sekertarisnya yaitu Ren. Nama kontak Sekertaris Ren sudah di temukan namun ibu jari David belum menyentuh tombol ikon telpon, entah apa yang ia pikirkan sekarang.


David bimbang, apakah ia akan meminta bantuan Sekertaris Ren untuk menemukan Vero, tapi dirinya dulu sudah menolak mentah-mentah tawaran bantuan dari anak buahnya itu.


Bagaimana sekarang, apakah David rela menjatuhkan harga dirinya untuk meminta bantuan kepada Sekertaris Ren.


David kembali melemparkan handphonenya tersebut keatas kasurnya, ia masih bingung ingin melakukannya atau tidak.


"Kalau seperti ini terus aku bisa gila. Apakah aku tidak usah saja meminta bantuan dengan Sekertaris Ren dan menemukan Vero dengan usaha ku sendiri. Tapi kalau dalam waktu dekat ini aku masih tidak bisa menemukan Vero maka dia yang akan meninggalkan ku, apalagi aku sudah berjanji akan menemukannya dalam waktu dekat ini. Arggghhh"


David menjambak rambutnya sendiri saking frustasinya akan pilihan yang akan dia ambil untuk masa depan dan harga dirinya.


Mengambil kembali handphone yang sudah ia lempar keatas kasur tadi, David memutuskan untuk meminta bantuan Sekertaris Ren dalam menemukan Vero karena ia tau dalam hal mencari dan menyelidiki seperti ini Sekertaris Ren adalah ahlinya. Biarlah untuk kali ini David menurunkan harga dirinya demi seorang wanita yang sangat ia cintai sedari dulu.


Setelah menekan tombol telpon yang ada di layar handphone tipisnya itu, David meletakkan benda tersebut di telinga sebelah kanannya. Beberapa deringan masih belum di jawab oleh Sekertaris Ren yang tentu saja membuat gusar si penelepon.


Tak terelak lagi sedari tadi David mondar-mandir menunggu telponnya itu diangkat, bahkan baru beberapa deringan saja David hendak memutuskan sambungan telpon tersebut. Namun hati kecilnya kembali berkata untuk meneruskan langkah tersebut.


"Halo, selamat malam Pak, ada yang bisa saya bantu??"


Sekertaris Ren menjawab telpon tersebut dengan langsung berbicara intinya karena ia sangat tau jika David menelpon hanya akan membahas urusan penting apalagi di jam malam seperti ini.


"Begini.. Aku ingin meminta bantuanmu" David nampak masih ragu ingin mengutarakan niatnya menelpon Sekertaris Ren.


"Bantuan seperti apa yang maksud??"


David belum menjawab pertanyaan Sekertaris Ren dari sambungan telpon sana hingga membuat orang tersebut kembali bersuara.


"Halo.. Pak.. Apakah anda masih disana??" Sekertaris Ren bertanya karena sudah beberapa puluh detik tidak ada suara sahutan dari telpon miliknya.


"Aku ingin meminta bantuanmu untuk mencari seseorang" David langsung saja mengucapkan maksud hati dirinya menelpon.


Di ujung telpon sana Sekertaris Ren tersenyum, dia sangat tau siapa yang sedang di maksud oleh atasannya itu. Karena kebetulan Sekertaris Ren juga habis menonton acara yang sedang dibintangi oleh Rose tadi.


"Siapa orang yang ingin Bapak cari, saya akan berusaha untuk menemukannya"


Sekarang wajah Sekertaris Ren di hiasi oleh tawa mengejek atasannya, untuk saja sekarang mereka tidak sedang bertatap muka jikalau bertatap muka maka sudah habis Sekertaris Ren kena amuk oleh David.


Bagaiman Sekertaris Ren tidak tertawa mengejek atasannya sendiri karena sekarang apa yang dilakukan David sungguh ingin membuatmu tertawa. Dulu saja ketika Sekertaris Ren menawarkan bantuan untuk menemuka Vero di tolak mentah-mentah oleh David.


Dengan bangganya David berkata di hadapan Sekertaris Ren bahwa dirinya bisa mencari gadis pujaan hatinya itu seorang diri tanpa meminta bantuan orang lain. Tapi lihatlah sekarang, atasannya itu sungguh konyol dan membuat Sekertaris Ren menahan tawanya dengan susah payah.


"Ren, apakah kau sedang menertawakan ku sekarang" David mendengar suara seperti seseorang yang sedang menahan tawa di sebrang telpon sana.


Dengan cepat Sekertaris Ren menetralkan kondisinya dan berpura-pura untuk kembali tegas dan bersikap biasa.

__ADS_1


"Tidak Pak, saya tidak sedang tertawa"


"Kau jangan membodohi ku Ren..!!"


David geram, ingin rasanya ia menghajar Sekertarisnya itu seandainya Ren sedang berada di hadapannya saat ini.


"Saya tidak sedang membodohi Bapak, sudahlah Pak lebih baik kita kembali kepada pokok permasalahan awal. Bantuan seperti apa yang Bapak inginkan dari saya??"


Hebat, Sekertaris Ren sangat ahli dalam mengalihkan pembicaraan. Tentu saja dirinya mencari aman dari amukan atasannya itu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


David menghembuskan nafasnya kasar, untuk saat ini Sekertaris Ren selamat karena sekarang posisinya David sedang membutuhkan bantuan sekertarisnya tersebut.


"Aku ingin kau menemukan Vero secepatnya karena aku sudah berjanji kepada Vero bahwa akan menemukan dirinya dalam waktu dekat ini" ucap David dari sambungan telpon tersebut.


"Bukankah dulu Bapak pernah berkata jika ingin menemukan Vero tanpa bantuan saya"


Sekertaris Ren kembali memancing emosi atasannya, sungguh David seperti dipermainkan sekarang oleh anak buahnya sendiri.


"Tahan David.. Tarik nafas, hembuskan perlahan. Kau harus bisa mengontrol emosimu saat ini jika ingin menemukan Vero secepatnya" David berucap dalam hati sembari dadanya naik turun karena sedang menarik dan menghembuskan nafas untuk menghilangkan emosi yang saat ini sedang berkobar di dalam sana.


"Sekarang aku sudah berubah pikiran dan yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah menuruti perintahku tanpa banyak bertanya lagi dan aku mau semua informasi yang ku inginkan tersebut sudah ada besok pagi. Kau paham" sentak David dengan nada bicara tegasnya.


"Baik Pak"


David langsung saja mematikan sambungan telpon tersebut sebelum Sekertaris Ren kembali melancarkan mulutnya untuk berucap dan bertanya yang tidak-tidak sehingga membuat harga diri David menjadi turun.


Setelah memindai sidik jari dan menekan password brankas tersebut terbuka dengan sendirinya. Sekertaris Ren sengaja menggunakan brankas yang memiliki dua tutup ganda agar membuat dirinya merasa aman karena meninggalkan sebuah benda penting disana.


Tangan Sekertaris Ren terulur memasuki brankas miliknya tersebut dan keluar dengan mengambil sebuah amplop coklat berukuran besar, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi dari balik amplop tersebut.


Sekertaris Ren tersenyum sembari membuka lilitan benang dari amplop itu.


"Aku sudah menduganya jika nanti Pak David akan meminta bantuan diriku untuk menemukan Vero, dan untuk berjaga-jaga aku telah memiliki semua informasi mengenai siapa Vero sebenarnya"


Sekertaris Ren kembali menertawakan atasannya itu karena sangat lucu jual digoda dalam keadaan dirinya sedang meminta bantuan kepada Sekertaris Ren.


*


*


*


Setelah acara yang di bintangi Rose barusan selesai, Rose pun berjalan menuju belakang panggung untuk menemui Kakaknya yaitu Jessica yang sedang menunggu dirinya.


__ADS_1


(Potret Jessica)


Rose berjalan dan sampai menuju ruangan tempat dimana Jessica berada yang juga saat itu Alex berada didepan pintu ruangan tersebut. Alex menundukkan kepalanya sedikit tanda memberi hormat kepada Rose yang baru saja datang.


Alex membantu Rose dengan membukakan pintu tersebut lalu Rose masuk kedalamnya, ia menepuk bahu Jessica untuk memberi tanda kedatangan dirinya.


"Bagaimana penampilan ku tadi, apakah bagus??" tanya Rose sembari memperbaiki kembali tatanan rambut miliknya dan membersihkan make up yang lumayan tebal dari wajah cantiknya itu.


Jessica memberikan kedua jempol jari kearah Rose sembari tersenyum. "Tentu saja penampilan mu tadi sangat bagus dan aku yakin sekarang Aurel tengah memaki dirimu".


Kedua Kakak beradik itu pun tertawa bersama, mereka sangat senang mengerjai Aurel karena perempuan itu sangat merasa berkuasa di dunia entertainment tersebut.


Alex yang berada didepan pintu hanya bisa mendengar suara tawa dari Rose dan Jessica tanpa dapat ikut menimbrung pembicaraan kedua wanita tersebut.


Tidak seberapa lama datanglah seseorang dengan membawakan buket bunga kearah ruangan Rose namun ketika orang tersebut ingin membuka pintu ruangan itu, Alex merentangkan tangannya tanda tidak memperbolehkan seseorang masuk kedalamnya.


Alex mengamati orang yang membawa buket bunga tersebut yang juga seorang perempuan, dilihat dari ujung kepala hingga kaki tidak ada yang mencurigakan menurut Alex.


"Ada yang bisa saya bantu??" tanya Alex kepada perempuan pembawa bunga tersebut yang jika diamati sepertinya perempuan tersebut adalah tim kreatif perusahaan televisi ini karena Alex dapat melihat hal tersebut dari baju yang perempuan itu kenakan sekarang.


"Saya hanya ingin memberikan bunga ini kepada Nona Rose" sahut perempuan tersebut agak takut karena Alex menatap dirinya dengan tajam.


Alex kembali memperhatikan bunga tersebut yang secara tidak langsung bunga itu terlihat biasa saja.


"Dari mana kau dapat bunga ini??" tanya Alex kembali.


"Saya mendapatkannya dari resepsionis dan mereka mengatakan jika ada seorang kurir barang yang mengantarkan bunga ini kesini untuk Nona Rose" jawab perempuan itu lagi.


"Baiklah, kau bisa memberikannya kepadaku nanti akan aku berikan kepada Nona Rose" ucap Alex.


Perempuan tersebut lantas menganggukkan kepalanya dan menyerahkan bunga tersebut kepada Alex dan dirinya pun berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah di rasa perempuan tersebut sudah tidak terlihat lagi dan sekarang suasana sekitar sedang sepi karena sedari tadi hanya ada satu dua orang saja yang lewat didepan ruangan yang sedang Alex jaga saat ini.


Sebelum memberikan bunga tersebut kepada Rose, Alex terlebih dahulu mengecek apakah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam buket bunga besar yang berada ditangannya saat ini.


Setelah Alex geledah, ternyata benar bahwa ada sebuah amplop kecil yang berisi sebuah surat di dalam buket bunga tersebut, sepertinya yang mengirim bunga ini adalah seseorang yang ahli karena ia dengan sangat pintar menaruh amplop tersebut agar tidak mudah ditemukan oleh orang lain.


Untung saja Alex mencarinya dengan begitu teliti hingga dapat menemukan surat tersebut dan dengan cepat Alex membuka amplop surat tersebut. Membaca kata demi kata yang tertuliskan disurat tersebut hingga membuat Alex geram. Dengan segara Alex memasukkan surat itu kembali ke dalam amplopnya dan menyembunyikan amplop tersebut di dalam saku jas miliknya.


* * * * * **


Kira-kira siapa ya pengirim bunga tersebut 🤔🤔🤔


Jangan lupa untuk selalu menekan Like setelah selesai membaca dan meninggalkan komentar berupa dukungan positif kepada author, lalu memberikan Vote sebagai dukungan untuk novel ini. Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


(Jangan lupa kalau ini hanya sekedar novel dimana jalan cerita tersebut hanyalah sekedar karangan dan khayalan tinggi author, jadi kalau tidak suka silahkan jangan dibaca dari pada hanya meninggalkan Komentar yang menyakitkan)


__ADS_2