
Jessica dengan langkah cepat mengejar Rose yang sudah pergi mendahului dirinya, sedangkan Alex masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Tidak biasanya bagi Alex melihat Rose dan Jessica yang berpisah, entah apa yang barusan terjadi didalam ruangan itu sehingga ketika keluar mereka jadi seperti ini.
Dengan langkah seribu akhirnya Jessica sudah bisa menyusul Rose yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam lift, beruntung Alex masih bisa menghentikan lift tersebut menggunakan tangannya agar pintu lift tidak tertutup.
Masuklah Jessica dengan disusul Alex di belakangnya, nafas Jessica masih ngos-ngosan akibat berlari tadi hingga saat ini Jessica belum bisa membuka suaranya, dirinya masih terfokus untuk mengembalikan pasokan oksigen yang sempat hilang tadi akibat berlari.
"Kamu kenapa sih main tinggal Kakak begitu aja??" tanya Jessica setelah ia rasa sudah mempunyai tenaga untuk berbicara.
Sorot mata Rose menatap tajam kearah depan yaitu pintu lift yang masih tertutup tanda bahwa mereka belum sampai ke lantai tujuan.
"Aku hanya jengkel dengan laki-laki itu, aku muak terlalu lama berada di dekatnya.." sahut Rose tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari pintu lift.
Jessica tersenyum. "Eh kamu ngga boleh kaya gitu loh, cinta itu kebanyakan di awali dari benci dulu.." goda Jessica kepada Rose untuk memadamkan hati Rose yang sekarang sedang berkobar api peperangan antar dirinya dan David.
"Tidak mungkin, aku bisa menjamin itu" sahut Rose singkat.
"Wah benarkah, tapi Kakak rasa sepertinya tidak seperti itu" Jessica masih berusaha menggoda Rose.
"Terserah lah, aku malas untuk berdebat sekarang Kak.." sahut Rose lagi.
Jessica hanya bisa tersenyum setelah itu terdiam diri karena tidak ingin lagi mengganggu adiknya yang sepertinya sekarang sedang benar-benar marah, tidak seperti biasanya yang marah hanyalah memerlukan waktu yang sebentar.
"Dasar laki-laki tidak tau di untung, meminta bantuan ku tapi malah menghina ku setelah itu dan apa tadi kata Kak Jessi cinta, cihh aku tidak akan membuat diriku mencintainya. Jika pun akan ada cinta diantara kami nantinya maka akan aku pastikan bahwa dia yang akan aku buat jatuh cinta kepada ku.."
Pandangan mata Rose langsung menangkap ketika pintu lift terbuka, dengan cepat dirinya mengayunkan kedua kakinya untuk melangkah meninggalkan lift dan gedung Agensinya.
Sesampai mereka di basemen parkir Alex dengan sigap membukakan pintu mobil Van mereka untuk Jessica dan Rose yang diikuti kedua perempuan itu dengan memasukkan dirinya kedalam mobil.
Alex mengemudikan mobil menjauh dari gedung Brawijaya Entertainment Group menuju ke kediaman Jessica dan Rose karena memang setelah ini kedua perempuan itu tidak memiliki jadwal pekerjaan lagi.
"Alex, setelah kamu mengantarkan kami berdua ke rumah tidak usah ikut masuk, aku minta tolong kepadamu untuk mengambilkan barang ku disuatu tempat nanti akan aku kirimkan alamatnya.." perintah Jessica dengan Alex yang terlihat fokus dalam mengemudi.
"Baik Nona.." jawaban singkat dari Alex dengan melirik kearah spion atas mobil untuk melihat kearah Jessica yang memberikan perintah kepada dirinya.
Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi di dalam mobil hanya keheningan dan kesunyian yang menemani jalan mereka menuju ke rumah.
*
*
*
Setelah mengantarkan Jessica dan Rose dengan selamat sampai kerumah mereka, Alex langsung saja menuju tempat yang tadi Jessica perintahkan kepada dirinya.
Sebelumnya Alex juga sudah membaca isi pesan dari Jessica berupa alamat tempat yang akan ia tuju.
(Potret Alex)
Memakan waktu yang lumayan lama untuk Alex menuju tempat yang diperintahkan oleh Jessica tadi, namun ketika sampai ditempat tersebut Alex tercengang sekaligus bingung.
__ADS_1
"Apa benar ini tempat yang dimaksud".."
Alex pun merogoh kembali ponsel miliknya yang berada didalam jas, kembali membuka pesan atas nama Jessica setelah itu mengalihkan kembali pandangannya dari ponsel kearah tempat yang baru saja ia tuju tersebut.
"Benar, ini temalt yang dimaksud. Tapi barang apa yang ada dite Pat seperti ini apalagi untuk sekelas Nona Jessica tidak mungkinkan dirinya membeli barang dari tempat seperti ini, lagian juga ini bukan tempat orang jual beli.."
Alex yang masih dilanda kebingungan mau tidak mau membawa langkah kakinya memasuki tempat tersebut.
Kedatangan Alex rupanya menarik perhatian anak kecil yang sedang bermain di halaman panti asuhan yang luas itu.
Iya, Alex sekarang berada di sebuah panti asuhan yang lumayan besar dengan banyak anak kecil sedang bermain dengan riang gembira bersama teman-temannya.
"Kakak mau nyari siapa??" tanya seorang anak kecil laki-laki yang datang menghampiri Alex.
Alex pun menundukkan pandangannya karena posturnya yang terlalu tinggi hingga membuat anak yang berusia sekitar enam tahunan itu terlihat kecil sekali.
"Siapa nama mu??" tanya Alex sembari menjongkokkan tubuhnya untuk menyamakan tinggi badan mereka.
"Nama ku Ryan Kak, nama Kakak siapa??" tanya balik anak kecil yang bernama Ryan tadi.
"Nama Kakak Alex" sahut Alex sembari mengacak-acak rambut Ryan karena gemas di buatnya.
Ryan pun bukannya marah karena rambutnya di acak-acak namun malah senang, Ryan merasa jika seseorang mengelus dan mengacak-acak rambutnya adalah tanda sayang seseorang kepada dirinya.
Alex pun ikut tersenyum melihat anak kecil polos didepannya saat ini.
"Oh iya, Kakak mau nyari Ibu Risma untuk mengambil barang temannya Kakak" ucap Alex memberitahukan maksud kedatangannya ke panti asuhan ini.
Ryan membawa Alex masuk kedalam panti asuhan yang tadi hanya Alex lihat dari luar halaman saja, ternyata didalam panti asuhan ini sangatlah luas dan tertata rapi. Terlihat semua fasilitas yang terdapat didalamnya sangat memadai untuk tumbuh kembang anak-anak di panti tersebut.
Alex berdecak kagum, meskipun ia tidak tinggal disini namun sepertinya Alex sangat berterimakasih kepada para donatur yang telah banyak menyumbang untuk panti asuhan yang sekarang ia datangi.
Terbesit di pikiran Alex untuk menjadi salah satu donatur di panti asuhan ini, melihat tawa bahagia dari penghuni panti yang di dominasi oleh anak-anak tersebut sangat membuat Alex ikut merasakan kebahagiaan di dalamnya. Alex pun tau bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua dan tidak bisa merasakan kasih sayang orang tua, beruntung keluarga Brawijaya menolong dirinya dulu dari kerasnya kehidupan di jalanan hingga membuat Alex dengan suka rela mengabdikan hidupnya untuk keluarga Brawijaya.
"Ada yang bisa saya bantu??" suara seseorang membuyarkan pandangan Alex yang tengah mengamati setiap detail ruangan didalam panti tersebut.
Alex pun membalikkan tubuhnya menghadap kearah sumber suara tadi, terlihat perempuan paruh baya sedang menatap kearah dirinya juga dengan jarak mereka yang tidak terlalu jauh hanya berjarak beberapa langkah saja.
"Iya Bu begini, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk menemui Ibu Risma" ucap Alex memberitahukan perihal kedatangannya.
"Kebetulan saya sendiri Ibu Risma, seseorang yang anda cari. Kalau boleh tau ada urusan apa anda mencari saya??" tanya Ibu Risma kepada Alex.
"Syukurlah. Kedatangan saya kesini disuruh oleh majikan saya Nona Jessica untuk mengambil sebuah barang" sahut Alex.
"Ah iya tadi nak Jessica juga sudah menelpon saya katanya akan ada seseorang kesini untuk mengambil barang miliknya" ujar Ibu Risma menjelaskan kepada Alex.
"Kalau begitu nak.."
"Alex Bu" sahut Alex yang lupa untuk memperkenalkan dirinya tadi hingga membuat Ibu Risma jadi bingung untuk memanggilnya dengan sebutan apa.
"Ah iya, kalau begitu nak Alex tunggu sebentar diruang tamu sembari saya kedalam untuk mengambilkan barangnya".
__ADS_1
Ibu Risma membawa Alex berjalan kearah ruang tamu panti asuhan, disana Alex kembali kagum dengan dekorasi dan isinya yang nampak sangat elegan dan berkelas.
"Apa benar ini panti asuhan, tapi mengapa sangat tertata sekali semua yang ada didalamnya bukan seperti panti asuhan pada umumnya.."
Ibu Risma pun meninggalkan Alex diruang tamu sendirian dengan dirinya kembali kearah dalam untuk mengambilkan barang yang mereka maksud, sedangkan Ryan bocah kecil tadi entah sudah pergi kemanakah dirinya. Mungkin ia sudah kembali kepada barisan bermain teman-temannya di halaman panti asuhan ini. Entahlah, Alex juga tidak memikirkannya lagi.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Alex melihat ibu Risma datang dengan membawa nampan ditangannya yang berisi segelas minuman yang sudah pasti untuk Alex.
Alex mengerutkan keningnya karena melihat ibu Risma yang hanya membawa minuman untuk dirinya, lalu mana benda yang katanya akan dia ambil tadi.
"Silahkan di minum nak Alex" ibu Risma memberikan secangkir teh kehadapan Alex setelah menurunkan gelas teh tersebut dari nampan miliknya.
"Maaf seadanya" lanjut Ibu Risma lagi.
"Tidak apa-apa Bu, ini sudah lebih dari cukup" sahut Alex sambil mengambil gelas teh dan meminum isinya sedikit lalu kembali meletakkan minuman tersebut keatas meja didepannya.
"Maaf Bu, kira-kira mana barang.." ucapan Alex terpotong oleh suara Ibu Risma yang seketika menyadari kesalahannya karena lupa.
"Astaga maafkan Ibu nak Alex karena sampai melupakan tujuan awal mu datang kesini" sahut ibu Risma cepat sembari menepuk keningnya akibat penyakit lupa yang biasa di dera oleh orang lanjut usia seperti dirinya.
Ibu Risma pun terlihat merogoh kantong dari sweater yang sedang ia pakai.
Deg..
Mata Alex membulat ketika melihat apa yang Ibu Risma keluarkan dari kantong sweater miliknya.
Sebuah surat. Iya hanya sebuah surat yang terlihat biasa bagi kebanyakan orang namun jika di teliti lebih detail lagi itu bukan surat sembarangan karena terdapat sebuah logo di amplop surat tersebut.
Sebuah logo yang hanya di miliki oleh keluarga itu saja, bahkan logo itu sudah memiliki hak paten yang dimana hanya mereka saja yang boleh menggunakannya karena memang mereka lah pemilik dan pencipta logo tersebut.
Bagaimana bisa seorang Ibu pemilik panti asuhan menerima sebuah surat dengan logo tersebut, ah bukan cuma Ibu Risma tapi Jessica. Bagaimana bisa perempuan itu mendapatkan surat dengan logo langka seperti itu.
Karena yang Alex tau surat yang diberikan dengan logo tersebut hanyalah surat-surat yang sifatnya sangat penting dan rahasia, tidak banyak orang yang bisa menerima surat dengan logo tersebut. Dan bagi kaum awam mungkin mereka tidak sadar jika logo tersebut sangatlah berarti.
*
*
*
*
*
Wah kira-kira apa ya isi suratnya sampai Alex sebagai ketua Geng besar saja terkejut melihat sebuah surat dengan sebuah logo terkenal berada ditangan orang biasa. Pantengin terus ya kelanjutannya 😁😁😁
Jangan lupa untuk selalu Like, komen dan vote setelah selesai membaca sebagai dukungan buat author 😘😘😘
Semoga suka sama kelanjutannya dan terimakasih 🙏🙏🙏
Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️
__ADS_1