
Kini tidak hanya Alex saja yang tengah mengemudikan kendaraannya menuju tempat pertemuan mereka namun Sekertaris Ren juga begitu, sekarang dirinya juga sudah berada didalam mobil yang ia kendarakan sendiri menuju tempat pertemuan dirinya dan Alex.
Setelah melalui perjalanan yang tidak seberapa lama namun padatnya ibukota yang membuat semua aktivitas menjadi terlambat dan hanya menghabiskan waktu di jalanan saja hingga membuat Sekertaris Ren lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan barulah sampai ke tempat tujuannya.
Untung saja meskipun banyak menghabiskan waktu di jalanan namun Sekertaris Ren masih tetap menjadi yang pertama sampai karena jaraknya yang memang tidak terlalu jauh, berbeda dari Alex yang harus ketempat pertemuan dari posisi dirinya berada yaitu di panti asuhan yang tempatnya agak jauh dari hingar bingar ibukota.
Sekertaris Ren masuk kedalam tempat tujuan mereka sembari menunggu Alex datang, dirinya dengan santai melangkahkan kaki nya masuk kesana. Setelah menekan beberapa digit angka pintu apartemen pun terbuka dengan kaki Sekertaris Ren yang melangkah masuk dan menutup kembali pintu tersebut setelah badannya sudah berada didalam.
Jika kalian bertanya mengapa tempat pertemuan mereka adalah sebuah apartemen karena menurut mereka ketika membicarakan sesuatu disini maka informasinya tidak akan bocor keluar. Karena apartemen ini dilengkapi dengan sistem keamanan yang tinggi dan lagi pula gedung apartemen yang menjulang tinggi ini adalah milik bos mereka yaitu David jadi mereka tidak perlu memusingkan apapun jika sedang membahas hal yang mereka anggap rahasia disini.
Ceklek..
Suara pintu dibuka dengan sudah pasti adalah Alex yang datang, dan benar saja memang Alex yang datang ketika Sekertaris Ren sedikit menengok kearah pintu masuk karena sekarang posisi dirinya sedang berada di dapur untuk membuat minuman tentunya untuk mereka berdua.
"Kau sudah datang..??" tanya Sekertaris Ren tanpa mengalihkan pandangannya dari gelas kopi yang sedang ia aduk.
"Hei cepatlah kesini, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggumu.." ucap Alex dengan nada kesalnya karena merasa telah dipermainkan selama ini.
"Tunggu sebentar, minuman ku sudah hampir siap" sahut Sekertaris Ren masih serius dengan kopi miliknya.
"Kau jangan pelit, bikinkan untuk ku juga. Aku capek setelah berjalan jauh hingga sampai kesini".
"Kau itu memakai mobil bagaimana bisa capek, jangan banyak alasan. Sudah bikin saja sendiri.." sahut Sekertaris Ren dengan menahan tawanya yang masih setia untuk membuat salah satu sahabatnya itu menjadi semakin kesal.
Sekertaris Ren tentunya tidak tega untuk membiarkan sahabatnya itu kehausan makanya sedari awal ia sudah menyiapkan dua buah cangkir untuk mereka berdua.
Alex memberengut. "Yasudahlah tidak jadi, aku bisa beli saja nanti.." sahut Alex ketus karena Sekertaris Ren yang semakin membuat dirinya naik darah.
Tidak ada sahutan dari Sekertaris Ren yang semakin membuat Alex dongkol.
"Aku tau kan tidak akan tega membuat teman mu ini mati hanya karena kehausan.."
Alex tau di balik sifat dingin dan cuek yang Sekertaris Ren miliki didalamnya terdapat sebuah sifat yang hangat dan sangat peduli terhadap orang lain apalagi orang terdekatnya hingga membuat Alex tidak pernah bosan berteman dengannya meskipun mereka akan bersikap profesional jika sedang berada di luaran yaitu dunia kerja mereka masing-masing.
Tidak seberapa lama Sekertaris Ren berjalan menghampiri Alex yang sudah lebih dulu duduk di sofa ruang tamu, ditangannya Sekertaris Ren membawa dua buah cangkir yang berisikan kopi, tentu saja satu kopi tersebut untuk Alex.
"Sudah ku duga kau tidak akan begitu jahat kepada ku.." cengir Alex sembari menerima uluran kopi yang diserahkan Sekertaris Ren kepadanya.
Sekertaris Ren duduk disamping Alex namun berbeda sofa, karena sofa yang di duduki Sekertaris Ren sekarang ialah sofa tunggal berbeda dengan Alex yang menduduki sofa memanjang.
Setelah puas menyeruput kopi yang dibuatkan Sekertaris Ren, Alex pun membuka kembali pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Cepat kau jelaskan ini, secara singkat padat dan jelas karena aku tidak mempunyai banyak waktu sekarang.." ucap Alex dengan melemparkan pelan amplop yang telah ia terima dari Ibu Risma tadi bahkan Alex sendiri tidak tau apa isi dari amplop tersebut.
Masih dengan santainya Sekertaris Ren meminum kopinya sembari melirik amplop yang sudah tergeletak di atas meja depan dirinya.
"Oh itu yang mau kau tanyakan" ucap Sekertaris Ren berpura-pura tidak tau.
"Hei ayolah, aku tidak bodoh hingga kau berpikir untuk bisa menipuku, kau pasti sudah tau dari awal apa alasan ku untuk mengajakmu bertemu sekarang".
"Kau memang tidak bisa di bohongi".
Keduanya pun tertawa bersama menertawakan kebodohan masing-masing.
"Kembali ke topik permasalahan" sahut Alex cepat setelah ia dengan segera menghentikan tawanya.
"Baiklah akan aku jelaskan tapi sebelum itu aku ingin bertanya apa kau sudah mengetahui isinya??" tanya Sekertaris Ren menyelidik.
"Hei kalau aku tau maka aku tidak perlu repot-repot untuk bertemu dengan mu sekarang" sanggah Alex cepat.
"Baiklah akan aku ceritakan semuanya.." sahut Sekertaris Ren.
Sekertaris Ren pun menceritakan perihal amplop yang di terima Alex tersebut adalah berisikan sebuah surat dari David untuk sahabat penanya sekaligus perempuan yang ia cintai dari dulu hingga sekarang.
Hal itu juga yang membuat David tidak pernah mempunyai kekasih hingga sekarang karena David ingin memiliki kekasih yaitu sahabat penanya itu saja tidak ingin orang lain.
Sebenarnya Sekertaris Ren memang sudah mengetahui dari awal siapa sahabat pena David namun ia hanya menyimpannya saja kalau di kemudian hari David menginginkan informasi terkait hal tersebut, dan benar saja ketika David meminta tolong maka dengan cepat Sekertaris Ren memberikan informasi tersebut.
Alex nampak manggut-manggut mendengarkan penjelasan Sekertaris Ren yang panjang lebar itu. Entah apa dia mengerti atau tidak, tapi secara garis besar yang Alex tanggap dari cerita Sekertaris Ren tadi adalah bahwa David telah menemukan sosok sahabat penanya itu namun sahabat penanya itu masih tidak mengetahui sosok David.
"Jadi sahabat pena tuan David adalah Nona Jessica.." ucap Alex ditengah-tengah pembicaraan mereka.
(Potret Jessica)
Sekertaris Ren yang sedang meminum kembali kopi miliknya langsung saja menyemburkan kopi tersebut tepat kearah depan, untung saja Alex sempat menghindar.
"Hei kau sungguh jorok, minum pun sampai menyembur seperti itu" sahut Alex dengan mengibaskan baju bagian depannya untuk membersihkan sisa semprotan kopi dari mulut Sekertaris Ren tadi.
"Maaf tidak sengaja, lagian kau juga kenapa bisa menyimpulkan cerita ku seperti itu, padahal tadi aku tidak memberitahukan siapa sosok sahabat penanya Pak David" ucap Sekertaris Ren.
"Tanpa perlu kau beritahu juga aku akan tau, karena yang menyuruh ku untuk mengambil surat ini adalah Nona Jessica maka dari itu aku menyimpulkannya seperti itu.." sahut Alex berbangga diri karena merasa tebakannya sangat benar.
__ADS_1
"Gila, kalau sampai Jessica yang jadi sahabat penanya Pak David maka aku tidak akan berani menyatakan cinta dengannya tadi, dasar manusia gila seenaknya aja dia menyimpulkan seperti itu.."
"Tapi sahabat pena Pak David bukanlah nona Jessica.." sahut Sekertaris Ren lagi.
"Bagaimana mungkin??" tanya Alex bingung.
"Semuanya memang mungkin terjadi".
Perasaan memang Jessica lah yang memerintahkan dirinya untuk mengambil surat tersebut jadi bagaimana bisa bukan Jessica yang menjadi sahabat pena dari David.
Sungguh kehidupan David membuat Alex pusing memikirkannya, kenapa juga mereka masih menggunakan surat di jaman modern seperti ini pikir Alex dan juga kalau mau menemukannya kenapa tidak bertemu langsung saja pasti urusannya akan cepat selesai.
Dasar bagaimana sih pikiran mereka berdua itu hingga membuat hidup yang mudah menjadi sulit dan berbelit.
"Lalu kalau bukan Nona Jessica lantas siapa sahabat pena tuan David??" tanya Alex penasaran.
"Nona Rose.." sahut Sekertaris Ren lugas.
"What...!!!!!!" teriak Alex spontan.
Tunggu, apa tadi katanya. Rose, jadi sahabat pena David adalah Rose yang sekaligus juga orang yang sangat di sukai David semenjak dahulu kala.
Bagaimana bisa??
Ketika bertemu saja kerjaan mereka hanyalah bertengkar bahkan untuk sesuatu yang tidak penting, lalu kenapa bisa jadi seperti ini. Ah sudahlah mungkin mereka memang jodoh, buktinya saja mereka dipertemukan lewat pekerjaan semacam ini.
*
*
*
*
*
Wah akhirnya terbongkar tuh sama Alex siapa sosok sahabat penanya David, gimana ya kelanjutannya 😁😁😁
Selalu dukung author dengan cara Like, komen dan vote ya 😘😘
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
Semoga suka sama kelanjutan ceritanya.