
Perasaan berbunga-bunga telah menghinggapi hati kedua orang yang sedang dilanda asmara saat ini. Iya mereka adalah Sekertaris Ren dan Jessica yang terlihat jika Jessica masih malu-malu padahal sudah melakukan adegan ciuman tadi bahkan beberapa kali namun tidak bisa ia balas dan hanya merasakan saja ketika Sekertaris Ren mencium bibirnya dan memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Jessica untuk mengabsen apa saja yang berada didalam sana.
Namun tidak menampik kemungkinan tadi Jessica di buat sangat terbuai akan ciuman dari Sekertaris Ren, dan kalau boleh jujur rasa bibir Sekertaris Ren sangat manis ketika mereka berciuman tadi.
Astaga sekarang Jessica sudah mulai berpikiran mesum sehabis berciuman tadi.
Lain halnya dengan ruangan sebelah yang saat ini sedang berbahagia, ruangan David masih saja di selimuti rasa was-was meskipun Rose sudah mau menerima kesepakatan dari dirinya namun David masih saja belum bisa tenang sebelum sebuah ikatan yang tidak mudah terlepas mengikat mereka.
Iya, mungkin secepatnya David harus membuat Rose berada selalu di dalam genggamannya dan dalam jarak panjang yang dekat dengan dirinya. Secara tidak langsung David ingin Rose selalu berada di sisi dirinya yang dengan demikian David bisa melindungi Rose dari bahaya yang sedang mengancam wanitanya saat ini.
(Potret David)
"Hari minggu ini Ibu ku akan keluar dari rumah sakit, bisakah kamu menemani ku untuk menemui beliau.." David masih menyusun rencana untuk ke langkah selanjutnya yaitu mendekatkan Ibunya dan Rose agar rencananya dapat berjalan lancar dan sebagaimana seharusnya.
"Aku rasa hari minggu ini kebetulan aku juga sedang tidak ada pekerjaan, sepertinya aku bisa menemanimu untuk menjemput Ibu mu dari rumah sakit" sahut Rose setelah dirinya sempat berpikir akan jadwal kerjanya yang sangat padat beberapa hari belakangan ini.
"Baguslah kalau begitu, nanti aku akan menjemput.."
"Eh jangan" tolak Rose cepat.
"Kenapa??" tanya David terkejut sekaligus bingung mengapa Rose menolak untuk dirinya menawarkan jemputan.
"Tidak apa-apa hanya saja.." Rose tidak melanjutkan ucapannya, bagaimana dirinya mengatakan kepada David kalau dia tidak enak kepada Jessica.
Bagaimana juga Rose mengatakan kepada Jessica kalau mulai saat ini dirinya dan David telah mempunyai hubungan sebagai sepasang kekasih meskipun dalam konteks bohongan.
"Lalu kenapa, katakanlah biar aku mengetahuinya" kata-kata David seperti paksaan yang harus Rose turuti.
"Em begini, kalau kamu menjemputku bagaimana cara aku mengatakannya kepada Kak Jessi, tidak mungkinkan aku mengatakan kalau kamu menjemputku karena masalah pekerjaan"
Rose sebenarnya merasa tidak enak untuk mengatakannya kepada David, namun mau bagaimana lagi karena dirinya juga bingung harus bersikap bagaimana di hadapan Jessica nanti.
David tersenyum, rupanya itu yang sedari tadi Rose pikirkan hingga membuat dirinya merasa seperti serba salah.
"Tinggal katakan saja jika sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih.." jawab David enteng.
"Tidak bisa seperti itu, kita kan hanya sepasang kekasih bohongan tidak perlu diumbar segala apalagi terhadap Kak Jessi, aku tidak ingin membohonginya.." Rose menundukkan pandangannya, entahlah sepertinya sekarang dirinya merasa sangat tidak nyaman akan situasi ini.
David berjalan semakin mendekati Rose, sekarang mereka sudah duduk bersebelahan dengan tatapan menawan David yang semenjak tadi tidak ia biarkan melepas wajah cantik nan dingin milik Rose.
"Kalau begitu kita jadi kekasih sungguhan saja, selesaikan masalahnya" lagi-lagi David dengan segampangnya memberi jawaban kepada Rose.
Sontak saja Rose mengangkat wajahnya dan memberi tatapan tajam kepada David yang saat ini sudah berada didekatnya yaitu disamping dirinya.
Tangan Rose dengan ringan mencubit pinggang David.
"Kamu ini, bisa ngga sih serius sedikit, dari tadi memberi jawaban seenaknya aja" Rose bersungut-sungut menghadap kearah David.
David refleks saja tertawa melihat wajah imut Rose yang sedang memarahi dirinya, apalagi saat ini mereka dalam jarak yang bisa dikatakan sangat dekat. David sengaja duduk disamping Rose tanpa memberikan celah sedikitpun.
Bahkan tangan mereka saja sampai bersentuhan saking David yang duduk sangat dekat dengan Rose.
__ADS_1
"Itu jawaban serius, memangnya wajah ku saat ini terlihat sedang bercanda" sahut David tidak terima.
Karena memang benar dirinya ketika memberi saran kepada Rose adalah murni dari hatinya yang memang menginginkan dirinya dengan Rose memiliki sebuah ikatan yang sesungguhnya.
"Apanya yang serius, barusan aja kamu tertawa" elak Rose.
"Aku tertawa bukan karena jawaban yang aku berikan tidak serius tapi karena wajahmu yang sangat imut jika sedang marah. Bahkan aku hampir mencium kedua pipi mu tadi kalau saja tidak mengingat situasi kau yang sedang marah-marah" David kembali tertawa mengingat bagaimana cetakan wajah Rose didalam ingatannya saat ini.
"Apa..!!" jerit Rose tidak terima, dengan sigap tangannya melindungi kedua pipi miliknya sebelum apa yang diucapkan David barusan benar-benar akan ia lakukan.
Hahahaha.....
David lagi-lagi tertawa kencang, respon Rose yang seperti itu sangat dia sukai. Rose yang lugu dan polos telah keluar, tidak ada lagi Rose yang dingin. David sangat menyukainya, semua yang ada pada Rose dia sangat menyukainya.
Bagaimana bisa seorang perempuan dapat memiliki begitu banyak karakter dan wajah yang berbeda. Rose yang selama ini di kenal publik adalah seorang Artis yang sangat dingin dan bertindak sesuai keinginan hatinya namun masih dalam lingkup kebaikan tanpa menimbulkan perpecahan, namu orang-orang tertentu menganggap Rose sebagai batu sandungan untuk mereka.
Namun sekarang Rose yang saat ini berada didepan David adalah seorang perempuan apa adanya, lugu dan polos apalagi dalam hal percintaan. Dapat David lihat dengan jelas jika memang Rose tidak memiliki pengalaman apa-apa dalam hal tersebut.
"Tidak usah berpura-pura terkejut begitu, seperti tidak pernah di cium saja pipi mu itu.." pancing David dengan wajah yang ia buat terkesan datar.
"Memang tidak pernah!!" sahut Rose ketus.
Iya, tidak pernah secara pribadi tapi kalau dalam main film itu sudah sering karena memang adegannya harus seperti itu. Kalau adegan dalam film kan tidak masuk hitungan, begitu pikir Rose.
"Lalu yang selama ini aku lihat difilm itu apa, bukannya pipi mu ini sudah sering di cium oleh laki-laki lain" David semakin melancarkan aksinya untuk memancing Rose.
"Hei itu tidak masuk hitungan, itu hanyalah sebuah adegan di film yang mau tidak mau harus aku lakukan tapi kalau secara pribadi dan perasaan aku tidak pernah melakukannya.." sahut Rose yang juga tidak mau kalah.
"Benarkah, aku masih tidak percaya".
"Aku mengatakan yang sesungguhnya, untuk apa juga aku berbohong.."
"Iya, aku tau kamu tidak sedang berbohong karena apapun yang kamu katakan aku akan selalu mempercayainya.."
"Jaman sekarang pergaulan itu semakin mengerikan, apalagi di usia mu yang sudah pantas untuk menikah. Jangankan untuk ciuman di pipi, bisa saja selama ini kau telah melakukan hal yang lebih, kita kan tidak tau.." David berbicara dengan mengedikkan bahunya seakan acuh dan tidak tahu apa yang dikatakan Rose adalah benar atau tidak.
"Kamu jangan bicara yang tidak-tidak ya, meskipun aku hidup dijaman seperti ini tapi aku masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Aku bukan anak kecil yang mudah diperdaya oleh orang lain" sahut Rose dengan cepat menyangkal apa yang baru saja David ucapkan.
"Benarkah??"
"Iya.."
"Coba buktikan.." tantang David dengan sebuah ucapan yang penuh maksud didalamnya.
"Buktikan apa??" Rose masih tidak mengerti, ini sebenarnya Rose yang bodoh atau bagaimana.
"Buktikan kalau kamu memang tidak pernah melakukan adegan ciuman diluar pekerjaan mu dan tidak mudah di perdaya oleh orang lain" ucap David.
Rose nampak memikirkannya dengan wajah yang masih bingung. "Bagaimana caranya??" tanya Rose lagi.
"Cium aku, maka kau bisa membuktikan semuanya" sahut David dengan jari telunjuknya yang sudah mengarah ke salah satu pipinya, yang otomatis David menyuruh untuk Rose mencium dirinya di bagian yang ia tunjuk.
"Apakah bisa seperti itu??"
__ADS_1
"Tentu saja.."
Rose pun nampak menimang apa yang baru saja David ucapkan, dirinya masih bingung namun dirinya juga ingin membuktikan kepada David kalau apa yang ia katakan tadi adalah kebenaran.
"Tutuplah mata mu terlebih dahulu.." perintah Rose yang dengan cepat di balas anggukan oleh David setelah itu di susul dengan kedua kelopak mata David yang tertutup secara perlahan.
Rose pun mendekatkan wajahnya kearah wajah David.
Perlahan dan perlahan, sehingga David saat ini sudah dapat merasakan hembusan nafas Rose di bagian wajahnya.
"Sepertinya akan berhasil, lumayan dapat ciuman gratis.."
David cekikikan sendiri di dalam hatinya karena sudah berhasil menipu Rose yang sangat lugu dan polos tersebut.
Rose melihat senyuman dibibir David, meskipun tidak terlalu jelas namun Rose dapat melihat jika David sedang tersenyum.
Puk..
"Hei, kau ingin membodohi ku ya..!!" teriak Rose kencang di telinga David setelah dirinya sudah terlebih dahulu mendaratkan tangannya ke salah satu bahu David untuk memberikan pukulan kepada laki-laki tersebut.
Sontak saja David langsung membuka matanya karena terkejut akan tindakan yang baru saja Rose lakukan.
Hahahaha....
Bukannya marah, David malah tertawa melihat respon Rose saat ini.
"Ih lucu banget sih, sedikit lagi udah kena tipu kamu.." ledek David yang membuat Rose semakin geram dan kembali memberikan pukulan kepada dirinya.
"Ngga lucu ya.." sahut Rose yang masih memukul-mukul dada bidang David dengan kedua tangannya.
David yang masih tertawa pun berusaha menangkap kedua tangan Rose untuk menghentikan pukulan yang perempuan itu berikan kepadanya.
Kedua pasangan mata mereka saling bertatapan seakan ada magnet yang membuat mata mereka masih sama-sama terfokus satu sama lain.
Hingga sebuah gerakan membuat salah satu diantaranya menjadi terkejut.
Cup...
*
*
*
*
*
Wah siapa tuh yang main sosor aja wkwk 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu Like, Komen dan Vote ya 😘😘😁
Semoga suka sama kelanjutannya dan terimakasih buat yang selalu setia membaca novel ini..
__ADS_1