
Sepeninggal Aurel dari dalam ruang kerjanya David akhirnya dapat menghembuskan nafas leganya karena memang berhadapan dengan Aurel hanya akan membuat dirinya tekanan darah dan emosi yang meluap.
Sebenarnya mengidam apa sih ibu Aurel itu ketika mengandungnya dulu hingga bisa mendapatkan anak seperti itu yang kemana-mana hanya dapat membuat masalah untuk orang lain.
Pulang kerja nanti pasti akan ada drama lagi dirumah David dengan dirinya yang akan mendapatkan beberapa pertanyaan dari sang ayah atas perilakunya kepada Aurel tadi.
David sangat benci itu, bisa-bisanya Aurel melibatkan orang tuanya dalam pekerjaan yang mereka jalani, dasar anak manja dan tida tau diri. Sebenarnya Aurel itu tidak cocok untuk menjadi Artis namun lebih cocoknya berdiam diri saja dirumah dan berfoya-foya menghamburkan uang milik orang tuanya itu.
Atau mungkin Aurel itu lebih cocok untuk kembali kuliah bagian psikologi agar dia dapat mengontrol jiwa iri dan dengki dalam dirinya sendiri.
Sepeninggal Aurel, David kembali melakukan aktivitas yang sedari tadi ia pikirkan terlebih dahulu baru akan ia lakukan. Karena padatnya jadwal beberapa hari belakangan ini membuat David jadi melupakan sesuatu yang sangat penting ini.
Jadwal yang padat ataukah dirinya yang sekarang lebih fokus kepada seorang wanita lain yakni Rose yang baru hadir dihidupnya belakangan ini.
David lalu menuliskan setiap kata demi kata ke selembar kertas yang nanti akan ia kirimkan kesebuah alamat. Iya, David sedang menuliskan surat balasan untuk Rose yang sudah beberapa hari ini terbengkalai karena dirinya yang bisa-bisanya melupakan untuk membalas surat dari sang kekasih hati yang selama ini sudah menemaninya.
Sedangkan ditempat lain Rose kembali melanjutkan jadwal pemotretannya yang hari ini memang sudah dijadwalkan.
Setelah melakukan proses pemotretan Rose, Jessica beserta Alex kembali keruangan khusus mereka dengan Alex yang bersiaga di depan pintu.
"Setelah ini apakah aku masih memiliki jadwal lagi??" tanya Rose kepada Jessica dengan dirinya yang masih menatap pantulan diri sendiri didepan cermin miliknya sembari menghapus sisa make up sehabis pemotretan tadi.
"Em.. sepertinya tidak ada lagi, hanya jadwal kau yang akan membintangi acara saja nanti malam" terang Jessica sembari memainkan tablet miliknya yang bergambar buah yang telah digigit sedikit oleh putri salju.
Rose nampak manggut-manggut mendengar jawaban Jessica tanpa menyahutinya.
Keduanya nampak hening dengan kegiatan mereka masing-masing, dan Rose juga sepertinya terlihat melamun sembari menggosokkan sepotong kapas diwajah mulusnya itu.
"Kak??.." panggil Rose kepada Jessica yang berada disampingnya masih sibuk dengan tablet miliknya itu.
Jessica mendongakkan wajahnya melihat ke arah Rose. "Ada apa??.." tanya Jessica.
Jessica dapat melihat dari raut wajah Rose jika adiknya tersebut seperti tengah memikirkan sesuatu dan terlihat bimbang ingin membaginya apa tidak dengan sang Kakak.
"Katakanlah, Kakak siap mendengarkan" ucap Jessica dengan menyimpan benda persegi yang sedari dari ia pegang.
Sekarang Jessica menarik kursi Rose dan memindahkannya menghadap ke arah dirinya, dan sekarang kedua Kakak beradik itu sudah saling berhadapan satu sama lain.
"Aku bingung Kak" tutur Rose dengan pandangan yang menunduk.
"Apa yang kau bingung kan sayang, berbagilah kepada Kakak mu ini" Jessica berusaha membujuk Rose agar membagi beban yang sedang ia hadapi kepada dirinya.
__ADS_1
"Kakak tau kan kalau aku menyukai Steve sejak dulu hingga sekarang" ucap Rose.
Jessica mengangguk. "Iya tentu saja Kakak mu ini tau sayang, lantas memangnya kenapa? apa ada yang salah dengan itu?" tanya Jessica kepada Rose dengan wajah yang menyiratkan berbagai macam tanda tanya.
Rose nampak bingung, bagaimana caranya untuk mengatakan kepada Kakaknya tentang apa yang ia rasakan saat ini.
"Kira-kira menurut Kakak apakah salah jika disaat aku masih menyukai Steve namun berbarengan juga aku sepertinya menyukai orang lain" Rose berusaha mengeluarkan apa yang ia rasakan saat ini.
Rose tidak tau apakah ini perasaan suka atau bagaimana, namun yang Rose tau saat ini adalah ia merasakan suatu kenyamanan berada di dekat orang tersebut.
Jessica terkejut mendengar penuturan dari adiknya barusan, ia tidak menyangka setelah berbelas tahun hanya menyukai satu orang saja namun akhirnya hati adiknya itu bisa membuka untuk orang lain.
Apakah ini sebuah keajaiban atau musibah??
Jessica juga tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, yang jelas apa yang sudah terjadi lebih baik di jalani saja dahulu dan kalau memang jodoh maka tak akan lari kemanapun.
Jessica tersenyum sembari mengelus puncak kepala Rose. "Kakak kan sudah pernah bilang alangkah lebih baik jika kamu membuka hati untuk orang lain yang lebih nyata dari pada harus selalu menunggu ketidakpastian itu" Jessica ingat jika dirinya pernah berkata kepada Rose agar mencoba untuk membuka hati kepada pria lain yang lebih nyata dari pada harus bersatu dengan sebuah hayalan yang tidak pasti.
"Tapi Kak, aku merasa menjadi perempuan yang jahat jika menyukai dua laki-laki sekaligus, aku seperti telah mengkhianati Steve" Rose merasa dirinya telah melakukan sebuah perbuatan yang tidak baik.
Dibalik sifat dingin dan tatapan yang tajam milik Rose, ternyata perempuan itu hanyalah seorang perempuan biasa dengan sifat polosnya. Bahkan untuk hal seperti ini saja Rose tidak mengerti sama sekali apakah yang sedang ia perbuat ini adalah sebuah kesalahan atau tidak.
"Tidak sayang, kamu tidak melakukan kejahatan apapun. Hanya saja sepertinya hatimu telah lelah menunggu kedatangan seseorang yang tidak pernah kunjung ada" jawab Jessica sembari memberikan masukan untuk sang adik yang terlihat tidak mengerti sekarang harus bagaimana mengambil sikap.
"Begini saja, coba kau katakan nanti kepada Steve jika sudah menerima balasan surat darinya" ucap Jessica seperti memberikan sebuah ide kepada Rose.
Rose mendongak dan menatap tepat mata Jessica seperti menyiratkan sebuah pertanyaan.
"Katakan apa Kak? aku tidak tau apa yang harus aku katakan kepada Steve??" Rose menjadi lebih bingung.
Bagaimana bisa dirinya mengatakan kepada Steve jika saat ini perlahan hatinya mulai di curi oleh seseorang yang sepertinya orang tersebut tidak akan membalas perasaannya itu.
Dapat Rose lihat ketika bersama dengan laki-laki itu yang mereka lakukan hanyalah bertengkar saja. Sebenarnya Rose melakukan itu hanya agar menutupi sedikit keanehan yang mulai terjadi kepada dirinya saat ini.
Dan hingga saat ini keanehan yang ada didalam dirinya semakin menjadi hingga Rose menafsirkan jika dirinya mulai menyukai laki-laki itu.
"Katakan saja kalau kamu sudah mulai menyukai orang lain" Jessica begitu enteng berbicara seperti itu sedangkan Rose saat ini malah melototkan matanya akibat terkejut ucapan Jessica tadi.
"Bagiamana Kakak bisa memberikan ide seperti itu, aku tidak mau menyakiti hati Steve karena bagaimanapun dirinya sudah menemani ku selama bertahun-tahun lamanya" terang Rose.
Rose tidak bisa menjadi perempuan jahat yang hanya mementingkan perasaannya sendiri saja tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain ketika mendengar apa yang barusan Jessica ucapkan.
"Hei tenang dulu. Malah rencana Kakak ini terbilang bagus loh" seringai Jessica.
__ADS_1
Rose mendelik aneh melihat ekspresi Jessica itu.
"Bagus dari mananya Kak, yang ada kau hanya menyakiti perasaan orang saja" balas Rose.
Jessica menggeleng. "Coba kau katakan itu kepada Steve dan lihat bagaimana reaksinya nanti, apakah dia masih akan memohon kepada dirimu seperti biasanya atau akan langsung mengambil tindakan dengan mencari dirimu secepat mungkin" Jessica berusaha menerangkan maksud perkataan dan rencananya kepada Rose.
Rose hanya diam saja tanpa memberikan tanggapan, dirinya juga masih bingung hingga sekarang apakah mungkin dirinya menyukai laki-laki itu karena pada dasarnya mereka baru kenal beberapa minggu dan itu terbilang waktu yang sebentar.
Apakah hati Rose sangat mudah didapatkan hingga dalam waktu singkat dirinya sudah menyukai orang lain. Namun yang lebih aneh lagi ketika berada didekat laki-laki itu Rose selalu merasa kalau yang berada didekatnya sekarang adalah Steve.
Suatu perasaan nyaman yang hanya Rose dapatkan dengan Steve dan sekarang bisa Rose dapatkan dengan laki-laki lain.
Oh apakah mungkin karena Rose merasa jika laki-laki itu seperti Steve makanya dirinya merasa nyaman. Ah mungkin saja seperti itu.
"Baiklah nanti aku coba bicarakan dengan Steve setelah aku mendapatkan balasan surat darinya" sahut Rose yang kini sudah memantapkan hatinya untuk berterus terang kepada Steve dan melihat bagaimana reaksi Steve nanti kepadanya.
Balasan surat, ah Rose baru menyadari jika sudah lebih dari seminggu ini Steve tidak ada membalas surat darinya.
Apakah Steve sedang sibuk dengan kehidupan pribadinya dan tidak ingat untuk membalas surat dari Rose, namun hal itu sangat tidak mungkin. Selama bertahun-tahun mereka berkiriman surat, Steve tidak pernah seperti ini. Paling lambat Steve membalas surat darinya hanya sampai tiga hari dan sekarang sudah satu minggu lebih namun belum ada tanda-tanda balasan darinya.
"Kak, apakah Kakak mendapat pemberitahuan jika Steve sudah mengirimkan suratnya untukku??" tanya Rose kepada Jessica.
Jessica menggeleng. "Tidak, Steve mu itu belum ada membalas surat dari mu yang sudah seminggu lebih kau kirimkan. Sepertinya Steve sekarang semakin menjauh ya" goda Jessica kepada Rose.
Lihatlah wajah Rose langsung berubah jadi mendung seketika.
"Kakak, kau jangan berkata seperti itu. Selama ini kami tidak pernah ada masalah, mungkin saja Steve sedang sibuk dengan pekerjaannya sekarang" bela Rose karena tidak mau kalau Steve seperti yang di bilang oleh Jessica jika sekarang ia telah mulai menjauh.
Jessica hanya mengedikkan kedua bahunya tanpa menjawab sepatah kata pun namun ekspresi wajah itu sangat jelas meyakinkan jika Jessica masih berpikir seperti itu kepada Steve.
* * * * * * *
Promosikan dong novel author kepada teman-teman kalian siapa tau mereka juga suka 🤭😁😁
Jangan lupa ya untuk selalu Like, Komen, Vote dan beri 5 bintang untuk novel author ini 😘😘😘
Jangan bosan ya dan semoga selalu suka sama kelanjutan ceritanya.
Terimakasih 🙏🙏🙏
Selamat membaca Readers ♥️♥️♥️
Dan jangan lupa juga untuk follow ig author ya 😁😁😁
__ADS_1
@muniy7