SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 021


__ADS_3

Jack tak bisa berkata apapun, saat melihat Winson yang terus melihat tubuh molek Kim. Jack hanya bisa diam dan merasa kasihan pada Winson.


“Astaga. Dia sangat menyedihkan. Dia sama saja seperti Si Mesum yang ada di kosku,” gumam Jack dalam hatinya.


Jack mengabaikan hal itu, lalu kembali menatap layarnya. Beberapa saat kemudian,


“Halo semuanya! Astaga. Aku minta maaf.” Mike baru saja datang dan menyapa semua karyawannya.


Dia membawa kantong plastik yang penuh dengan makanan dan camilan ringan.


“Apa kau sudah sadar, Pak? Kau sehat?” tanya Kim yang berdiri dan menyeduh kopi.


“Apa Pak Wil sudah pergi?” tanya Mike pada Kim.


“Ya. Dia sudah pergi beberapa saat yang lalu. Kau sengaja datang terlambat, bukan?” ucap Kim.


Mike hanya diam dan tersenyum kecil.


“Baiklah, semuanya! Ayo kita makan burger.” Mike meletakkan kantong plastik itu ke meja tengah dan semua orang pun mulai beranjak dari kursinya.


“Wah! Tiba-tiba saja? Dalam rangka apa kau membawa ini?” ucap Kim yang membuka isi plastik lebih dulu.


“Burger? Apa perutmu baik-baik saja, Pak?” sahut Nick.


Semua orang pun berkumpul di meja tengah dan mulai mengambil makanan satu persatu.


“Apa yang dikatakan Reporter Wil?” tanya Mike. “Entahlah. Dia mencarimu tadi,” jawab Nick. “Pagi-pagi dia datang, membuat gaduh suasana, lalu pergi begitu saja, saat melihat kau tak ada disini,” sahut Kim.


“Astaga. Sepertinya ini Enak. Mari kita makan!” ucap Kim yang sudah tak sabar.


Mereka semua duduk melingkari meja bundar, lalu menikmati makanan yang dibawa Mike.


***


Tepat pukul setengah lima sore, tiga puluh menit sebelum jam pulang para karyawan.


Jack kembali mengalami kesulitan saat tugasnya hampir selesai. Lagi-lagi dia mengeluh dan sangat enggan bertanya ke Winson, yang hanya membuatnya emosi.


“Astaga. Jika aku bertanya padanya, dia pasti akan mengomeliku lagi. Tak apa. Ini hampir selesai. Aku hanya perlu bersabar,” gumam Jack dalam hati.


“Permisi, Pak Winson. Maaf, Pak, bisakah kau membantuku sebentar saja?” ucap Jack.


Winson menoleh, melihat ke layar komputer Jack dan,

__ADS_1


“Kau hanya perlu menerapkan apa yang telah kukatakan tadi. Apa kau masih tak paham? Astaga. Pakailah otakmu saat kau bekerja. Jangan sembrono. Bahkan anak SD lebih pintar darimu.”


“Lihat itu?” Winson menunjuk layar Jack. “Kenapa angkanya muncul seperti itu? Apa kau tak memakai rumus saat memasukkan angka dan menghitungnya?”Sungguh? Astaga. Kau bahkan tak tahu dasarnya.”


“Jika seperti itu masalahnya, saat jumlah angkanya berubah, kau harus menggantinya satu persatu. Kalau kau menggunakan VLOOKUP, semuanya akan cepat selesai, hanya dengan satu rumus saja.”


“Sial! Dasar, Babi Hutan. Apa kau tak bisa diam? Apa kau memaksaku untuk meninjumu saat ini?” ucap Jack dalam hatinya.


Winson terus ngedumel yang membuat Jack langsung emosi saat itu. Dia mengepalkan tangannya, seperti akan memukul Winson saat itu juga.


Jack hanya diam sambil menahan emosinya, berharap emosinya tak meledak saat itu.


“Kau bisa mencari rumus itu di internet atau apapun itu. Hei, Anak Magang! Sedang apa kau? Apa kau tak mendengarkanku?”


“Oh. Maafkan aku, Pak,” ucap Jack setelah melamun karena menahan emosinya.


“Astaga. Kau sedang bekerja, tapi pikiranmu melayang kemana-mana. Kalau kau terus seperti ini, kau bukannya tidak bisa, tapi kau juga tak mau belajar.”


Winson terus memaki Jack dengan nada tinggi.


Semua orang hanya mengabaikan hal itu, karena seperti itu adalah hal yang biasa terjadi di kantor, selain itu, mereka juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“Baiklah. Sudah waktunya kalian untuk pulang, sampai jumpa esok hari,” ucap Mike yang memulangkan para karyawan untuk pulang lebih awal.


Tidak dengan Jack yang masih tetap duduk dan hanya merapikan mejanya dengan santai.


“Kau akan pulang?” tanya Winson pada Jack. “Ya?” sahut Jack ling lung. “Jika aku menjadi kau, aku akan tinggal disini dan belajar lebih banyak. Sebagai manusia, kau harus bekerja untuk mencari makan.”


Winson pun segera pergi dari ruangan itu setelah mengomeli Jack.


“Sampai jumpa, Jack. Aku pulang dahulu,” Kim melambaikan tangannya pada Jack.


“Baik, Kak. Hati-hati di jalan,” ucap Jack pada Kim yang berjalan keluar.


Kini tinggal hanya Jack sendirian di kantor itu. Karena merasa terhina dengan perkataan Winson, Jack memutuskan untuk tinggal di kantor lebih lama dan belajar hal baru yang belum diketahuinya.


Tak lupa juga baginya untuk menghubungi Jane. Mengatakan padanya bahwa ia tak bisa bertemu dengannya hari itu.


“Maafkan aku, Jane. Sepertinya hari ini aku harus lembur, jadi, kita bertemu di akhir pekan saja. Kau tak keberatan, bukan?”


Begitu isi pesan Jack yang telah dikirim melalui Whatsapp.


Beberapa detik kemudian, Jack mendapat balasan pesan dari Jane.

__ADS_1


“Hmm. Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu. Tak ada pilihan lagi, kau harus menelponku sepulang kerja.”


“Baiklah, aku akan menelponmu nanti malam.”


Jack mematikan ponselnya, lalu mulai mempelajari hal baru yang sama sekali belum dipahaminya.


Dia mencari dari semua sumber dan sesekali melihat video tutorial dari YouTube untuk itu.


***


Malam hari pun tiba. Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan Jack kini sudah berada di depan gedung kos dan memarkirkan motornya. Dia sangat lelah setelah belajar banyak hal dengan sendirinya.


Sebelum masuk ke dalam gedung, Jack pergi ke TOSERBA terdekat dan mencoba menelpon Jane.


Akan tetapi, sepertinya Jane tak menjawab panggilan Jane, karena mungkin Jane pun sudah tertidur saat itu.


Jack membeli beberapa cemilan ringan dari TOSERBA, dia segera kembali untuk beristirahat.


“Sepertinya kau baru pulang bekerja, Anak Muda.”  Jack kembali bertemu Paman ramah penjaga kasir.


“Benar, Paman.” Jack tersenyum. Mengambil kembalian, lalu pergi meninggalkan TOSERBA.


Di tengah-tengah perjalanannya ke gedung, Jack melihat Si kembar yang sedang membawa sesuatu dengan karung yang cukup besar.


“Bukankah itu Si kembar? Sedang apa mereka tengah malam begini?” gumam Jack.


Setelah melangkah dan mencoba mengabaikannya, Jack kembali berhenti dan melihat sesuatu yang mencurigakan.


“Apa yang mereka bawa? Bukankah itu karung?” Jack melihat mereka dari kejauhan.


Karena penasaran, Jack mengendap-endap, mengikuti mereka dari sisi jalan lain. Tembok dan beberapa tanaman di pot bunga menjadi tempat Jack untuk bersembunyi.


Perlahan Jack terus berjalan mengendap-endap dan mengikuti kemana Si Kembar itu pergi membawa karung.


Jack berhenti dan berjongkok di balik tiang dan pagar pembatas jalan, lalu mengintai mereka berdua dari balik tiang.


Saat Jack mengintip,


“Apa yang kau lakukan?” ucap Rocky yang tiba-tiba muncul dari belakang Jack. “Bukankah itu Si Kembar?” Rocky melihat ke arah Si Kembar yang sedang mengangkat sebuah karung.


“Aku sedang lewat tadi, lalu melihat Si Kembar membawa karung. Aku mengikutinya karena mereka sangat mencurigakan,” ucap Jack dengan nafas terengal-engal.


Dia sangat terkejut melihat Rocky yang tiba-tiba datang dan menyapanya.

__ADS_1


Rocky berjalan keluar dari jalan seberang, lalu memanggil Si Kembar.


__ADS_2