SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 031


__ADS_3

Si Mesum tertawa. Dia berjalan melewati Jack dan menyenggol tubuhnya. Jack pun menarik kaos tipis Si Mesum dan menahannya.


Matanya melotot dan tangan kanannya sudah mengepal, siap untuk menghantam Si Mesum.


“Mau kemana kau, Bajingan. Kau sudah masuk ke kamarku.” Jack menahan Si Mesum dengan menarik kaosnya dengan erat.


Si Mesum sebenarnya takut saat Jack melakukan itu padanya. Tubuh Jack yang cukup berisi dan tinggi badan yang mencapai 180 cm. Sangat Jauh berbeda dengan Si Mesum yang hanya memiliki tinggi 165 cm.


“Astaga, hentikan itu Jack! Jangan begitu!” Eli berusaha melerai Jack yang sudah sangat emosi.


“Kau masuk, kan? Jawab aku!” Jack masih tak melepas tangannya dari kaos Si Mesum.


“Apa kau mau mati? Benar kau mati? Katakan saja, kalau kau ingin mati cepat. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” Si Mesum akhirnya membuka mulut dan balik mengancam Jack.


Jack melepaskan tangannya dari kaos Si Mesum, lalu memukulnya perlahan dengan sedikit mendorong Si Mesum.


“Jadi, kau tak mau mengakuinya?” Jack mendorong Si Mesum lagi. “Kau tak mau mengaku telah masuk ke kamarku?” Jack terus mendorong Si Mesum dengan memukul dadanya hingga Si Mesum terpojok.


Jack sangat ingin memukuli Si Mesum hingga babak belur, tapi dia masih sedikit bersabar dan menunggu Si Mesum mengakui hal itu.


Si Mesum pun tak berani melawan Jack dan hanya berdiri menatap balik Jack dengan sinis. Begitupun dengan Eli, dia hanya diam karena tak mampu lagi memisahkan mereka berdua.


“Ada apa ini? Apa ada masalah?” Rocky keluar dari kamarnya dan melihat kejadian itu.


Jack menoleh ke belakang dan melihat Rocky dan Si Kembar yang juga berdiri di belakang Rocky.


“Tenanglah, Jack. Apa kau baik-baik saja?” lanjut Rocky.


Rocky hanya berdiri dan berbicara dengan tenang. Bertanya pada Jack.


Semua penghuni kos itu berada di lorong dan menatap Jack dengan sinis, termasuk Eli yang tersenyum kecil padanya.

__ADS_1


Jack menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali.


“Wah, sepertinya aku baru menyadari satu hal, kenapa Paman Preman itu sangat bergetar saat dia melihat semua penghuni menatapnya disini. Kejadian ini persis dengan kejadian yang dialaminya saat itu.”


“Semua penghuni menatapku dengan tatapan anehnya masing-masing. Sangat mengerikan. Mereka terus menatapku dengan tersenyum saat ini. Benar-benar mengerikan.”


Jack bergumam dalam hatinya dan melihat setiap orang yang menatapnya di lorong itu.


“Sial! Hari ini kau sangat beruntung, Mesum Bodoh!” ucap Jack yang pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu kamarnya dengan kencang, lalu menguncinya.


Jack berdiri dan mengatur nafasnya yang tak karuan akibat amarah yang menguasainya.


“Baiklah. Aku harus tenang. Kau harus tenang, Jack. Rileks. Sadarlah, Jack!”


Jack mengelus-elus dada dan berusaha meredam amarahnya sendiri.


Dari dalam kamar Jack, terdengar Rocky yang membubarkan semua orang dan menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya masing-masing.


*TOK TOK TOK!!


Seseorang mengetuk pintu kamar Jack. Setelah dirasa tenang, Jack pun langsung membuka pintu kamarnya.


Ternyata Rocky lah orang yang mengetuk pintu kamar Jack. Dia berdiri di depan kamar Jack dan menatap Jack.


“Bisakah kita berbicara sebentar?” ucap Rocky dengan nada yang sangat halus dan tenang.


Jack mengangguk dan menjawab, “Ya, tentu.”


“Baiklah. Mari kita pergi ke atap. Sepertinya, akan lebih tenang jika kita pergi kesana, ditambah dengan pemandangan langit yang indah malam ini.”


Jack pun langsung keluar dan mengikuti Rocky yang sudah berjalan lebih dulu, menuju lantai atap.

__ADS_1


Di atap gedung, mereka berdua berdiri di balik pagar pembatas dan melihat pemandangan malam yang indah dari tempat itu.


Rocky mengeluarkan ponselnya, lalu mengambil beberapa foto dan video dari langit.


“Wah!! Pemandangan di atap sangatlah bagus dan mengesankan. Omong-omong, Jack. Kenapa kau berbuat seperti itu tadi? Kau tidak tampak seperti orang pemarah, tapi ternyata kau sangatlah emosional.”


“Apa kau tidak pernah mengalami hal sepertiku? Tidak pernahkah ada orang yang seenaknya masuk ke dalam kamarmu? Bahkan, penghuni sebelumnya juga pernah berkelahi karena kejadian yang sama,” ucap Jack.


Rocky masih diam dan terus mengambil beberapa foto dan video. Melihat Jack yang masih belum tenang, Rocky mengarahkan kamera ponselnya kepada Jack. Dia mengambil foto dan video Jack.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau memotretku?” ucap Jack yang menutupi wajahnya karena Rocky melakukan itu tepat disebelahnya.


“Tidak. Aku hanya ingin saja, karena hanya kau yang tampan dari semua penghuni di gedung ini.”


Rocky mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku celana.


“Dari yang kudengar dari Bibi Eli, kamera CCTV tak merekam kejadian saat dia masuk ke dalam kamarmu, benar begitu?”


Jack menghela nafas dan, “Saat itu rekamannya tiba-tiba blur dan berhenti tepat sebelum dia masuk. Aku sangat yakin bahwa dia telah masuk ke dalam kamarku.”


“Kau mungkin benar, Jack. Semua penghuni disini sangatlah eksentrik,” ucap Rocky.


“Sebenarnya ada beberapa hal yang membuatku sangat yakin. Belakangan ini, aku merasa sangat curiga, jadi, aku menaruh beberapa tanda dan debu di atas laptopku.”


“Dengan begitu, saat seseorang membuka laptopnya, debunya akan terbang dan tandanya akan menghilang. Saat itu aku langsung yakin, bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamarku.”


Kesalahan terbesar bagi Jack yang telah dilakukannya. Dia malah menceritakan secara jujur pada Rocky, tanpa mengetahui bahwa semua penghuni di tempat itu telah bersekongkol dan takut kepadanya.


“Dan hari ini, setelah aku kembali dan membuka laptopku, debu dan tanda yang telah kuberi sudah menghilang. Begitupun dengan laptopnya yang menyala, padahal aku yakin sudah mematikannya sebelum aku pergi.”


Jack bercerita dengan menggebu-gebu mengatakannya dengan jujur kepada Rocky.

__ADS_1


__ADS_2