SALOKA RESIDENT

SALOKA RESIDENT
CHAPTER 051


__ADS_3

“Astaga, dia sama sekali tak mempercayai omongan orang lain,” ucap Si Autis.


Jack langsung mengobrak-abrik kamar Si Mesum, tanpa memperdulikan kondisi kamar yang sudah berantakan.


Membuka laci, mengangkat kasur dari ranjang, memeriksa setiap pakaian yang ada, dan mencari di tumpukan kertas dan foto wanita telanjang milik Si Mesum.


Jack mencari dengan gegabah dan malah membuat kamar Si Mesum lebih berantakan lagi.


Yohan pun langsung masuk ke dalam kamar Si Mesum untuk menghentikan Jack, kearena Jack sudah terbawa emosi saat itu.


“Tenanglah, Jack. Tenanglah dahulu.” Yohan berusaha menghentikan Jack dan menarik tubuhnya keluar dari kamar.


“Lepaskan aku!” Jack masih ngeyel dan ingin mencarinya. “Hentikan itu, Jack!” Yohan masih berusaha untuk menarik Jack keluar dari dalam kamar.


“Jack, mintalah pacarmu untuk membelikan obat herbal. Saat kau lelah dan tubuhmu lemah, kau akan sering dan lebih mudah berhalusinasi,” sahut Eli di luar kamar.


“Hei!” Jack menatap Si Mesum. “Lepaskan itu! Lepaskan bajumu!” “Apa maksudmu? Apa kau sudah gila?” Si Mesum tersenyum dan melihat Jack yang menggebu-gebu memaksa melepaskan bajunya.


“Dasar Brengsek! Beraninya kau menyuruhku,” lanjut Si Mesum. “Apa kau ingin aku melakukannya? Kau yakin, kau ingin aku melepasnya?” tanya Jack.


Jack mengambil sebuah gunting milik Si Mesum, lalu mematahkan gunting itu menjadi dua bagian.


“Jack! Hentikan itu, Jack!” Yohan kembali menahan Jack saat Jack menodongkan gunting itu ke leher Si Mesum.


“Kubilang, lepaskan sekarang juga. Kau tak mendengarkanku? Lepas atau aku akan menusuk lehermu menggunakan gunting ini.” Jack berkata serius dan menyentuh leher Si Mesum dengan guntingnya.


Si Mesum hanya tertawa melihat kelakuan Jack. Dia sama sekali tak takut sedikitpun saat Jack menodongkan gunting di lehernya.


Dia tahu bahwa Jack tak akan pernah menemukan pisau, karena Si Autis telah membawa pisau itu, saat dia menggeledah kamar.


Karena Jack terus memaksanya, Si Mesum malah melepas celana pendek yang sedang dipakainya. Hal itu membuat Eli dan Si Autis tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Mereka berdua terus tertawa, melihat Jack yang masih gegabah dengan Si Mesum yang malah membuka celananya.


“SIAL! Dasar gila!” Karena tak mendapatkan bukti, Jack pun segera pergi dari kamar Si Mesum dan kembali ke kamarnya.


Begitupun dengan semua penghuni yang bubar dan kembali ke kamarnya masing-masing.


Di dalam kamarnya, Jack masih tak menyangka, karena dia tak dapat menemukan pisau di kamar Si Mesum. Dia terduduk termenung dan membayangkan kembali semuanya.


“Tidak mungkin aku salah lihat,” gumamnya dalam hati.


Sebelum tidur, Jack kembali memastikan bahwa kamarnya sudah terkunci. Jack juga meletakkan pisau dapur kecilnya di bawah bantal untuk berjaga-jaga.


Setelah semuanya selesai, Jack pun akhirnya dapat tertidur pulas.


***


Keesokan harinya. Hari itu tepat hari senin, tanda akhir pekan telah berakhir dan Jack pun harus kembali bekerja.


Jack berjalan dengan lesu ke dalam kantor menuju ke meja kerjanya.


“Jack, tak biasanya kau datang terlambat,” ucap Nick yang melihat Jack.


“Astaga, tampaknya kau juga sangat sibuk saat akhir pekan, Jack,” sahut Kim yang juga melihat Jack.


Jack hanya diam dan langsung duduk di tempatnya.


“Sekarang dia benar-benar sudah gila. Pasti tidak ada keinginan lagi baginya untuk bekerja,” ucap Winson.


Jack menoleh dan menatap Winson dengan serius.


“Kenapa? Kau ingin memukulku?” lanjut Winson. Jack hanya diam dan tak menghiraukan Winson.

__ADS_1


“Tampaknya, kau sudah mulai tak disiplin, Jack,” ucap Mike yang keluar dari ruangannya.


Jack sedikit menoleh. Dia teringat kejadian kemarin, saat melihat Mike bersama Jana turun dari mobilnya. Dia masih bertanya-tanya, apa yang dilakukan Mike dengan Jane tanpa sepengetahuannya.


“Hei, Jack. Apa kau sedang sakit? Kenapa kau tak meminta Jane untuk merawatmu. Bukankah dia sangat memperhatikanmu dengan baik?”


Jack semakin emosi mendengar celotehan dari Mike itu.


“Tutup mulutmu, Brengsek, atau aku akan membunuhmu,” gumam Jack dalam hati.


“Astaga. Andai aku punya pacar, aku akan menyuruhnya untuk merawatku saat aku sakit. Baiklah, semuanya! Mari kita bersemangat hari ini.” Mike pun kembali ke ruangan kecilnya.


Kesal dengan perkataan Mike, Jack pun pergi ke toilet untuk mencuci muka dan menenangkan diri.


Di dalam toilet kantor, Jack berdiri di depan kaca wastafel dan membasuh mukanya dengan air. Mendiamkannya sejenak, lalu mengusap air dengan tisu.


Saat Jack akan kembali, tiba-tiba Winson datang dan berdiri menghalangi jalannya.


“Orang-orang yang diluar tersenyum manis, seolah dia baik dan lugu, tapi di belakang memaki dan mengabaikan orang lain. Kau pikir aku tidak tahu, orang seperti apa kau sebenarnya?”


Winson langsung mengomel menunjuk-nunjuk Jack di toilet itu. Saat itu Jack sengaja memalingkan wajah, agar amarahnya tak meledak.


“Untuk kedepannya, aku juga sama sekali tidak berpikir untuk akrab dengan orang brengsek sepertimu. Jangan pernah berbicara padaku secara pribadi. Apa kau paham?”


“Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan keluar dahulu dari kantor ini.”


Karena Winson terus menerocos, seketika Jack emosi. Dia berbalik badan dan berjalan perlahan mendekati Winson. Jack menatap Winson dengan serius dan mengepalkan tangan kirinya.


“Apa kau? Cepat kembali bekerja!” ucap Winson yang ketakutan dan langsung pergi dari toilet.


“Hhh. Dasar, Babi Guling!” ucap Jack.

__ADS_1


__ADS_2