
Malam harinya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Terlihat Jack yang sedang duduk menyendiri di sebuah gang kecil dengan botol alkohol di tangannya.
Jack sangat stress dan tak tahu harus kemana. Di satu sisi dia tak ingin kembali ke gedung neraka itu, dan saat ingin menghubungi Jane, dia tak ingin membuat Jane semakin marah lagi.
Jack sangat stres dan terus meminum alkohol sebanyak-banyaknya.
*KRIING!!!
Jack sangat senang saat melihat panggilan yang berasal dari Jane. Dia pun langsung mengangkat panggilan itu.
“Jane?” panggil Jack lega.
“Sayang… Tolong aku!” Suara Jane terbata-bata dengan penuh ketakutan.
“Jane! Ada apa denganmu? Apa kau baik baik saja?” Jack berdiri dan sangat khawatir.
“Ini aku,” ucap Rocky terdengar.
“Hei, Brengsek! Kenapa kau bersama Jane?” tanya Jack.
“Pacarmu ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin menyampaikannya,” ucap Rocky tenang.
Jack menghela nafas panjang dan, “Aku mohon padamu, tolong jangan sentuh Jane. Aku sungguh mohon.”
“Ah, aku tidak yakin. Sepertinya aku memiliki pemikiran lain,” jawab Rocky.
“Jangan bilang, jika Jane adalah korbanmu berikutnya.”
“Hmm, kau benar. Seperti apa yang kau pikirkan. Aku tidak begitu membutuhkan wanita ini.”
“Dasar gila! Kau sentuh Jane sehelai rambutnya saja, aku akan mengirimmu ke neraka. Kau mengerti?” Emosi Jack kembali memuncak seketika.
“Bagaimana ini? Pacarmu juga memintamu agar bersamanya, seperti penghuni kamar 307, Yohan. Apa yang harus kulakukan? Apa kali ini kau juga akan lari sama seperti kau meninggalkan Yohan?”
“DASAR BAJINGAN!!!” ucap Jack kencang. “Hei, dimana kau? Katakan dan aku akan membunuhmu sekarang juga!”
“Hhhh. Aku akan menunggumu di kamarmu sendiri Jack.” Rocky langsung mematikan sambungan telepon itu.
Jack berlari kencang menuju jalan raya, dan mencari taksi untuk pergi menyelamatkan Jane.
***
__ADS_1
Setibanya Jack di SALOKA RESIDENT, dia turun dari taksi dan berlari menaiki gedung.
Setibanya di lorong, dia sudah melihat Jane yang terikat. Jane terduduk di atas kursi dengan mulut yang disumpal.
“Wah, kau datang, Jack?” Rocky berdiri di belakang Jane dengan celurit panjang yang disandarkan ke leher Jane.
Jane hanya menangis mengalami kejadian itu. Dia merasa sangat menyesal karena tak mempercayai perkataan Jack.
“Tenanglah, Jane! Tenang, kau akan baik-baik saja,” ucap Jack menenangkan Jane.
Perlahan Jack melangkah mendekati Jane.
“Satu langkah saja kau beranjak dari tempatmu, kepalanya akan terlepas dari leher,” ancam Rocky.
“Baiklah.” Jack berdiri dan mengangkat kedua tangannya.
“Apa maumu? Jika aku yang kau inginkan, maka lepaskan dia.”
“Wah, lihatlah! Pacarmu sangat mengkhawatirkanmu, tapi, kau tak pernah sama sekali ingin mendengar ceritanya. Sungguh menyedihkan.”
Jane hanya menangis dan menggeleng-geleng, menyuruh Jack agar segera pergi saja dari sana.
Jarak antara Jack berdiri dengan Jane yang sedang ditahan tak cukup jauh, mungkin membutuhkan empat sampai lima langkah saja. Jack terus mencari kesempatan agar dia bisa menyelamatkan Jane.
“Hei, kemarilah!” Rocky berbalik dan memanggil Si Autis.
Saat itulah Jack menggunakan kesempatan itu. Dia mengeluarkan pisau dan melangkah dengan cepat, lalu menerkam leher Rocky dengan pisau, sebelum Rocky berbalik kepadanya.
“Mati kau, BANGSAT!!!!”
Rocky tersungkur dengan pisau yang masih menancap di lehernya. Si Autis tercengang melihat kejadian itu.
Jack membuka kain yang menyumpal Jane dan langsung memeluknya.
“Jane, kau tak apa? Tenanglah. Kau tak perlu menangis lagi.”
“Sayang, maafkan aku!” ucap Jane masih menangis.
“Ssttt. Sudah Jane. Kau tak perlu menangis. Kita bicara nanti.”
Jack kembali mendatangi Rocky yang tersungkur, lalu menikamnya dengan beberapa kali tikaman.
__ADS_1
“Tamat riwayatmu, Brengsek!”
Jack mencabik-cabik wajah pucat Rocky dengan pisau. Dia terus menusuk mata, pipi, mulut dan lehernya berkali-kali, hingga Rocky tewas saat itu juga.
Kali ini Jack melampiaskan semua amarahnya kepada Rocky.
“Sudah Jack. Hentikan. Sudah cukup!” Jane ketakutan saat melihat Jack yang membabi buta dan terus menikan Rocky.
Melihat Jane menangis, Jack menghentikan itu.
Jack berdiri dan menatap Si Autis. “Apa yang kau lihat? Apa kau ingin menjadi sepertinya?”
Si Autis hanya diam dan tak berani mengatakan apapun.
*DOR!!!
“Angkat tangan!” Rose datang saat itu dan menembakkan pistolnya ke atap gedung.
Rose datang dengan beberapa detektif dan rekan-rekannya, melihat Jack membawa pisau dan berlumur dengan darah.
“Letakkan pisau itu, Jack!” ucap Rose.
Jack pun meletakkan pisau itu dan mengakat tangannya.
Beberapa detektif dan petugas kepolisian lainnya pun langsung melepas Jane yang terikat dan membekuk Jane untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
***
Keesokan harinya di pagi yang cerah. Jack dan Jane berada di kantor polisi. Jack dinyatakan tidak bersalah atas pembunuhan yang dilakukannya pada Rocky.
Rose membantunya dan menganggap itu hanyalah sebuah pembelaan.
Eli, Si Mesum, dan Si Autis pun, kini berada di dalam sel, karena melakukan tindak kejahatan secara berkomplot.
Begitupun dengan semua korban yang masih hidup di SALOKA RESIDENT. Yohan dan Wick masih dapat diselamatkan walau kondisinya sudah cacat.
Pihak kepolisian pusat mencatat kasus itu sebagai pembunuhan berantai yang masuk ke dalam sejarah kota New York.
Setelah selesai mengurus semua masalahnya, Jack dan Jane pun pergi dari kantor polisi.
Setelah kejadian itu, mereka berdua memutuskan untuk menyewa apartemen dan tinggal bersama di apartemen itu.
__ADS_1
Dan mereka berdua pun dapat melanjutkan hidup dengan berbahagia.
TAMAT