
“Hei! Kau tak boleh melakukan itu.” Jack melotot pada Yohan. “Ya, tentu. Aku mengerti. Aku tak akan melakukan itu,” ucap Yohan kembali menuangkan whiskey ke dalam gelasnya.
“Jangan pernah masuk ke dalam lantai itu, aku bicara serius.” Jack sepertinya benar-benar serius dan tak ingin Yohan melakukan hal bodoh.
“Baiklah, Jack. Aku tak akan melakukannya.”
Jack menghela nafas sejenak, kembali meminta segelas whiskey pada Yohan.
“Jadi, sampai kapan kau akan tinggal di SALOKA RESIDENT?” tanya Jack.
“Aku harus tinggal sampai aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu dan mengumpulkan banyak uang. Tampaknya, aku akan tinggal disana selama enam bulan, mungkin.”
“Astaga, kau sama menyedihkannya denganku.” Jack menegak satu gelas whiskey sekali tegukan.
Begitupun dengan Yohan yang sudah mulai teler dan masih terus ingin berbicara.
“Hal seperti ini sudah biasa terjadi saat kita muda, Jack. Kita terus melewati hari-hari yang sulit, tapi aku yakin kesulitan itu akan segera berlalu. Seperti pepatah mengatakan, BADAI PASTI BERLALU.”
“Omong-omong, apa aku boleh meminta tolong padamu?” “Apa itu? Katakan saja, Jack.”
“Jika ada orang yang mencoba masuk ke kamarku, atau membuka pintu kamarku, bisakah kau memotretnya?”
“Jika pintumu benar-benar terkunci, mungkinkah ada yang memaksa untuk masuk ke dalam?”
“Nyonya Eli bilang tidak mungkin penghuni lain melakukan itu, tapi pikirkan saja, jika dia ternyata juga bersekongkol dengan penghuni lain.”
“Jika benar begitu, maka penghuni lain bisa membuka pintu kamarku dengan kunci cadangan.”
Yohan mengangguk mengerti.
“Pokoknya, tiap kali aku masuk ke dalam gedung, aku merasa sangat aneh. Aku merasa amarahku menggebu-gebu dan selalu berpikir negatif,” jelas Jack mulai sedikit mabuk.
“Baiklah. Kalau begitu, jika ada yang tampak aneh dan terasa mencurigakan, aku akan langsung memotret semuanya.”
“Ah. Terima kasih banyak, Yohan.”
“Tak masalah, Jack.”
“Bagaimanapun juga, Yohan. Kau dan aku harus berpikir, bagaimana caranya untuk keluar dari SALOKA RESIDENT dulu. Tampaknya itu adalah cara bertahan hidup yang lebih baik, tanpa beban pikiran apapun.”
“Astaga. Tidak, Jack. Kita harus mempunyai uang dahulu, baru kita bisa keluar dari tempat itu.”
“Uang, sialan! Kau benar. Kita tidak punya uang yang cukup,” umpat Jack kesal.
Tak terasa percakapan mereka berlangsung cukup lama. Hari itu sudah sore menjelang petang.
Dan botol-botol bir dan soda pun telah habis tak tersisa. Saatnya mereka untuk kembali pulang.
“Terimakasih sudah mentraktirku, Yohan. Lain kali, aku yang akan mentraktirmu.”
__ADS_1
“Hmmm. Tak apa, Jack. Aku pasti akan sukses dan mentraktirmu lebih banyak lagi daripada ini. Kau tak perlu khawatir, Jack.”
“Ya, tentu. Aku yakin kau akan sukses.” Jack berdiri dan menepuk pundah Yohan.
“Baiklah, Yohan. Aku akan pergi dulu.” Yohan ikut berdiri dan bertanya balik, “Mau pergi kemana, Jack?” “Sepertinya aku harus bertemu dengan pacarku.”
“Astaga, rupanya kau juga punya pacar. Lagi-lagi aku iri padamu.”
“Apa kau akan langsung pulang ke SALOKA RESIDENT?” tanya Jack.
“Ya, sepertinya aku akan langsung pulang. Aku sangat ingin merebahkan diriku di kamar.” Yohan mulai pusing karena mabuk.
“Kau yakin bisa pulang sendirian? Lihatlah, kau sudah mabuk.”
“Tak apa. Jarak gedung itu juga tak jauh dari sini. Aku bisa berjalan kaki.”
“Baiklah, kalau begitu. Jangan lupa untuk mengunci pintu kamarmu, kau mengerti?” Jack terus menekankan Yohan untuk mengunci pintu kamarnya dan tak berbuat macam-macam.
Jack sangat peduli pada teman yang baru dikenalnya itu.
“Tentu, Jack. Kau tak perlu khawatir.”
Mereka berdua pun berjalan keluar dari kedai makanan.
“Aku sangat beruntung karena kau mendengar ceritaku, Yohan. Bahkan semua orang terdekatku sangat muak saat mendengar ceritaku.” Jack menunduk lesu.
Jack menghela nafas panjang dan, “Baiklah, aku pergi dulu. Sampai bertemu di gedung!”
“Selamat berkencan, Jack.”
Mereka berdua pun berpisah di depan kedai makanan.
***
Di apartemen tempat Jane tinggal, terlihat Jack yang sudah berada di dekat gedung apartemen untuk bertemu dengan Jane.
Jack memarkirkan motornya di seberang jalan dan mencoba untuk menghubungi Jane dari ponselnya.
Karena hari kemarin mereka berdua sedang bertengkar, kali ini Jack menurunkan egonya dan menyelesaikan masalahnya.
Saat itu jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Jack merasa bahwa Jane belum tidur saat itu.
“Sepertinya dia belum tidur,” gumam Jack menatap nomor Jane di ponselnya.
“Apa kau sudah tidur, Jane?”
Akhirnya Jane memutuskan untuk mengiriminya pesan via whatsapp, karena dia takut mengganggu, jika Jane telah tertidur.
Beberapa menit setelah pesan terkirim, sebuah mobil SUV berwarna hitam datang dan berhenti di depan gedung apartemen, tempat tinggal Jane.
__ADS_1
Jack sangat terkejut saat melihat Jane dan Mike yang keluar dari dalam mobil. Dia bersembunyi di balik pohon dan terus memperhatikan Mike dan Jane yang baru turun dari mobilnya.
Jane merasa sedikit kesal dan marah. Dia juga bertanya-tanya kenapa Mike bersama Jane malam itu.
Setelah Jane masuk ke dalam gedung, Mike pun pergi dengan mobil SUV miliknya.
*TING!!!
Notif pesan masuk dari whatsapp Jack. Pesan itu dari Yohan yang mengirimkan sebuah foto, Si Mesum yang sedang berdiri di depan kamar Jack.
“Sial! Kenapa Si Mesum ini terus berada di depan kamarku?” gumam Jack melihat foto itu.
*TINGGG!!!
“Aku mau tidur, Sayang. Ada apa?” Notif pesan dari Jane muncul saat Jack melihat foto dari Yohan.
Jack pun bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat itu. Apa dia akan bertemu dengan Jane dan menanyakan, kenapa dia bersama Mike, atau dia akan kembali ke SALOKA RESIDENT.
Notif pesan dari Yohan kembali muncul. Kali ini dia mengirimkan foto Si Mesum yang sedang menatapnya dari luar kamar.
Sepertinya Yohan ketahuan saat dia sedang mengambil foto Si Mesum. Seketika Jack panik dan khawatir pada Yohan.
Dia sangat takut jika Si Mesum akan melukainya atau berbuat hal gila lainnya.
Jack mengirim pesan dengan spam kepada Yohan, bertanya tentang kabarnya.
*KRIING!!!!
Ponsel Jack berdering. Kali ini Jane-lah yang menelponnya. Jack pun mengabaikan panggilan dari Jane, lalu memilih untuk kembali ke SALOKA RESIDENT, karena Yohan tak kunjung membalas pesannya.
Di dalam perjalannya, Jack menggunakan ponsel, saat ia sedang mengemudi motor. Dia terus mencoba untuk menghubungi Yohan.
“Astaga. Kenapa dia tak menjawab teleponku?”
Jack menggunakan helm untuk menjepit ponselnya agar menempel di kuping, saat ia sedang berkendara.
Setelah 3 kali mencoba, Yohan pun akhirnya mengangkat panggilan telepon dari Jack.
“Halo, Jack?” sapa Yohan.
“Hei, Dasar kau! Kenapa kau tak menjawab teleponku?” Jack berteriak membentak Yohan karena membuatnya khawatir.
“Astaga. Kau pasti sangat terkejut, Jack.” “Apa yang terjadi disana?” tanya Jack.
“Aku merekamnya diam-diam, tapi dia mendadak berbalik dan melihatku sedang merekamnya. Hahahaha. Astaga, aku cukup terkejut tadinya, saat dia tiba-tiba berbalik.”
Yohan malah tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu, apa kau ketahuan? Kau baik-baik saja?” tanya Jack yang masih khawatir dengan Yohan.
__ADS_1