
Di tempat lain, terlihat Wil yang sudah berada di tempat itu, suatu tempat yang telah diberikan Si Autis kepadanya. Sebuah taman yang kosong dan sudah lama tak terpakai.
Wil berada di dalam mobil dan menunggu kedatangan Si Autis untuk menerima bukti darinya. Wil membuka kaca jendela mobil, lalu menyalakan sebatang rokok.
Beberapa saat kemudian, Si Autis datang menggunakan mobil pick up berukuran sedang ke tempat itu.
Si Autis turun dari mobil cekikikan dan berjalan mendekati mobil Wil. Dia membawa kotak makanan yang akan diberikan pada Wil saat itu.
“Apa kau membawanya?” tanya Wil. “Astaga. Kau benar-benar tidak sabaran, Pak Reporter. Xixixixixi.”
“Aku harus mengambil barang yang kuminta dulu, lalu aku akan memberikanmu ini.” Si Autis mengangkat kotak makanan.
Wil kesal dan langsung memberikan Si Autis dua unit ponsel baru yang masih tersegel di dalam kardus. “Ini, ambilah!”
“Xixixixi. Terimakasih, Pak Reporter.” Si Autis cekikikan kesenangan dan mengambil pemberian dari Wil.
“Ini dia!” Si Autis memberikan kotak makanan itu pada Wil.
“Apa ini?” Wil langsung membuka kotak makanan itu dan melihat hanya terdapat satu flashdisk yang berada di dalamnya.”
“Wah, hanya ada satu flashdisk, tapi kau meletakkannya di tempat sebesar ini.” Wil mengambil flashdisk dan membuang kotak itu ke jok belakang mobilnya.
“Apa kau yakin dengan ini?” tanya Wil yang mulai memasangkan flashdisk ke dalam laptop.
__ADS_1
“Tentu saja. Kira-kira, kapan artikel atau beritanya akan rilis?” tanya Si Autis.
“Mungkin akan keluar malam ini juga. Setelah ini rilis, aku yakin pasti akan sukses besar, karena banyak pembaca yang akan melihatnya.”
“Xixixixixi. Setelah artikelnya rilis, aku akan menulis komentar di kolom yang ada.”
“Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa, Pak Reporter!” Si Autis berjalan pergi.
“Ya,” jawab Wil singkat.
Setelah Si Autis pergi, Wil langsung menulis artikel tentang pembunuhan berantai yang terjadi di SALOKA RESIDENT.
Sesekali dia mendengarkan rekaman dan melihat video dari flashdisk, lalu menulisnya sedetail mungkin.
Wil tak peduli bahwa flashdisk itu bisa menjadi barang bukti yang cukup kuat untuk masalah itu. Dia hanya mementingkan uang yang akan didapat setelah merilis berita.
Saat Wil sedang menulis, Rocky kembali datang. Dia mengendap-endap mendekati mobil Wil.
Dari luar jendela mobil yang terbuka, Rocky hanya memandangi apa yang sedang ditulis oleh Wil, dan Wil pun belum menyadari kedatangan Rocky, karena dia fokus.
“Kau pasti suka pembunuh berantai?” ucap Rocky.
Wil terkejut dan menoleh melihat Rocky.
__ADS_1
Sebelum sempat Wil mengucapkan kata, Rocky lebih dahulu menusuk leher Wil dengan pisau.
Pisau itu menembus leher Wil yang membuat Wil terlihat seperti ayam yang sedang sekarat.
“Hhhh. Aku tahu kau sangat menyukai pembunuh berantai.” Rocky tersenyum dan mencabut pisau dari leher Wil.
Darah mengucur dengan deras membasahi jok dan laptop Wil.
Rocky mengambil laptop beserta flashdisknya, lalu pergi meninggalkan Wil yang sekarat.
Di tempat telepon umum yang kosong di lokasi yang tak jauh,. Rocky menuju ke tempat itu dan menelpon panggilan darurat untuk melaporkan hal yang telah terjadi.
“Halo, Pak Polisi. Wah, ada masalah besar disini. Aku menemukan mayat yang berada di dalam mobil.”
“Disini. Di taman kosong area pintu masuk taman. Aku tidak tahu persis alamatnya, karena sangat terpencil.”
“Astaga. Sulit dipercaya ini terjadi di lingkungan tenang seperti ini. Cepatlah datang, Pak. Aku sangat takut.”
Rocky mematikan telepon lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Setelah itu, Rocky pun langsung pergi meninggalkan tempat dengan mobilnya.
Beberapa saat setelah Rocky pergi, beberapa petugas kepolisian datang untuk memeriksa, termasuk dengan Rose.
Rose turun dari mobil patroli dan langsung memeriksa keadaan Wil yang sudah tak tertolong lagi.
__ADS_1
Beberapa detektif lain dan atasan Rose pun juga datang ke TKP itu untuk penyelidikan lebih lanjut.
Kali ini Rose hanya dapat berasumsi dan curiga pada Rocky, dokter langganannya sendiri, sebagai tersangka utama, setelah dia pergi dan mendapatkan beberapa bukti dari badan forensik.